
Update tipis tipis ya guys maafin aku lagi sakit huhu.
Najla terbangun saat merasakan tubuhnya disentuh oleh seseorang. Ia membuka mata dan mendapati seorang suster sedang mengelap tubuhnya dengan kain basah untuk membersihkannya.
"Anda sudah bangun?" Sapa sang suster ramah.
Najla tak menjawab. Ia hanya berusaha menyunggingkan sebuah senyuman, dan membiarkan suster itu mengelap seluruh tubuh dan mengganti pakaiannya.
"Terimakasih, suster," ucap Najla setelah sang suster selesai.
"Sama-sama. Istirahatlah. Ini sarapan untuk Anda. Jangan lupa dimakan, oke?"
Najla mengangguk dan tersenyum. Suster itu pun berlalu meninggalkannya. Najla meringis saat ia bangkit dan duduk karena kepalanya terasa pusing tiap digerakkan. Ia bahkan tak sanggup untuk meraih sendok untuk menyuapkan makanan padahal perutnya terasa lapar.
"Aw...sakit..." lirih Najla.
Sejurus kemudian ia mendengar suara pintu terbuka dan seseorang masuk menghampirinya.
"Apa kau kesakitan?"
Najla mengangkat kepala dan mendapati Neil sudah berdiri di sampingnya dengan mengenakan jas putih. Ia mengangguk lemah. Neil kemudian duduk di samping Najla dan meraih makanan untuk menyuapi Najla.
"Aku ingat kau pasti akan kesulitan makan sendiri karena Farel belum datang," ucap Neil.
Najla tak menjawab namun tak urung menerima suapan Neil. Sesungguhnya Najla merasa canggung karena ia tak ingat siapa Neil dan bagaimana mereka bisa berteman karena Najla tidak mudan menjalin pertemanan, apalagi dengan lawan jenis. Sepertinya hubungannya dengan Neil akrab karena pria itu tak ragu untuk berkunjung sepagi ini.
"Dokter...ah, uhm. Maksudku, Neil...," panggil Najla
"Hm?"
"Bagaimana aku dan kau bisa berteman?" Tanya Najla penasaran.
Neil terdiam. Dia meletakkan sendok yang ia pegang ke piring. Dari wajahnya terlihat pria itu sedang memikirkan sesuatu.
"Ceritanya panjang. Kita bertemu secara kebetulan karena unit kita berdekatan," jawab Neil.
Najla bersumpah melihat mata Neil menerawang.
"Apa hubungan kita memang dekat?"
Neil menatap mata Najla hingga ia menjadi salah tingkah.
"Ya. Begitulah," jawab Neil terkesan sekenanya.
"Ah begitu. Aku hanya tidak menyangka aku memiliki teman baik," tukas Najla. "Sayangnya...aku tidak mengingatmu..."
Neil tersenyum. "Tidak masalah,"
Ia kembali menyuapi Najla. Namun setelah beberapa suap Najla menyudahi makannya karena sudah merasa kenyang.
"Kapan aku bisa pulang?" Tanya Najla saat Neil akan bersiap untuk keluar.
"Jika kondisimu stabil Dokter Evan mengatakan kau bisa pulang dalam dua hari. Namun kau tetap harus mengkonsumsi obat dan kontrol ke rumah sakit,"
Najla mengangguk. Meski bosan ia tak keberatan berada di rumah sakit demi kesembuhannya. Sejujurnya ia cemas akan kondisinya setelah operasi kepala karena memikirkan pekerjaannya. Apa akan berpengaruh nantinya?
"Aku akan praktek hingga jam dua belas siang. Setelahnya aku akan ke sini lagi," tukas Neil sebelum pergi.
Najla dengan cepat menggeleng. "Tidak perlu jika kau sibuk. Farel akan datang nanti,"
"Aku akan tetap ke sini," cetus Neil lalu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
Najla mengernyitkan dahi. Tak habis pikir bagaimana ia bisa berteman dekat dengan pria dingin seperti Neil. Dalam hati ada rasa tak yakin dokter itu memang temannya. Ia perlu bukti, batin Najla.
***
"Aku akan menikah,"
Alezo, Romel dan Kamila kompak tersedak saat Albar mengatakan kalimat tersebut ketika mereka sedang makan malam.
"Apa maksudmu, Albar?" Tanya Kamila sambil meraih air putih di sampingnya.
"Apa kurang jelas? Aku bilang aku akan menikah,"
"Kau baru minggu lalu mengatakan berpacaran dengan Louisa. Bagaimana kau akan menikahinya secepat itu!" Seru Alezo gemas.
"Aku memang baru resmi berpacaran dengannya minggu lalu. Tapi kami sudah dekat selama dua bulan," kilah Albar.
"Tetap saja dua bulan itu masih terlalu singkat,"
"Kekasihmu bukan orang sembarangan. Apa putri konglomerat seperti Louisa tidak masalah memiliki pasangan dari keluarga biasa seperti kita?" Ucap Reno sambil kembali menikmati makan malamnya.
Albar menghela nafas. "Justru labelku sebagai 'orang biasa' yang membuat orangtuanya menyuruh kami segera menikah," ucapnya yang kembali membuat orangua dan kakakknya terperangah.
"Jadi...orangtuanya yang meminta kau segera menikahi Louisa?" Ulang Alezo.
Albar mengangguk dengan mulut penuh makanan. Sungguh melihat kelakuan adiknya itu Alezo tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan serius menikahi anak perempuan orang lain.
"Lalu kau akan melangkahiku?" Ucap Alezo bergurau.
"I'm sorry brother. Suruh siapa hubunganmu dan Jemima berakhir,"
Albar kemudian tercekat usai berkata demikian. Ia tersadar ada yang salah dengan kata-katanya karena Alezo menatapnya tajam dan orangtuanya seketika terdiam. Bagaimana ia bisa lupa penyebab hancurnya hubungan Alezo dan Jemima. Albar lalu meraih air putih dan menenggaknya habis.
"Aku sudah selesai," ucap Albar sambil beranjak dari kursi dan berlari menuju kamarnya.
Tak lama kemudian Alezo menyusul karena tidak tahan dengan suasana canggung yang tercipta antara ia dan orangtuanya karena ucapan Albar. Apalagi perasaannya langsung tercabik mendengar nama Jemima.
"Albar sialan," gerutu Alezo saat ia sudah berada di kamar.
Alezo lalu berjalan menuju balkon kamar setelah meraih sebuah kaleng bir dari kulkas kecil yang ia letakkan di kamarnya. Ia lalu membuka kaleng minuman tersebut dan menyeruputnya.
Pikirannya melayang memikirkan Jemima. Gadis itu benar-benar telah mengambil alih hatinya. Alezo yang dari dulu sulit membuka hati pada wanita dan selalu bersikap dingin merasa menemukan sesuatu yang ia cari. Jemima benar-benar membuatnya jatuh hati. Wajahnya, senyumnya, matanya, bahkan seluruh tubuhnya begitu sempurna di mata Alezo. Ah ya, tubuh Jemima. Kulitnya benar-benar selembut pualam saat mereka bersentuhan. Badan ramping Jemima seketika terbenam saat berada di bawah kungkungan tubuh kekar Alezo yang dipenuhi otot. Suara lembut Jemima yang memanggil namanya masih terngiang di telinga Alezo.
"Astaga!" Seru Alezo mengusir pikiran nakal yang melintas di kepalanya.
Ia lalu membuka kunci ponselnya dan membuka instagram untuk mengalihkan pikiran. Alezo mengetikkan nama Jemima, namun sayangnya akun gadis itu di non aktifkan. Ia akhirnya membuka akun instagram Albar karena fotonya dengan Louisa muncul di berandanya.
"Dasar love birds," gumam Alezo tersenyum.
Alezo lalu penasaran membuka akun Louisa, yang akan menjadi adik iparnya. Tidak seperti unggahan anak konglomerat pada umumnya, Louisa tidak memamerkan kemewahan. Ia lebih sering menunggah pekerjaannya sebagai seorang CEO start up ketimbang pergaulan atau keluarganya.
Alezo mengklik foto terbaru Louisa dimana ia sedang selfie di pantai bersama teman-temannya. Sebuah foto biasa. Namun tiba-tiba Alezo menangkap seseorang yang tak sengaja ikut tertangkap kamera di belakang mereka. Seorang gadis berambut panjang yang diterpa angin dan memakai kacamata hitam. Alezo memperbesar foto tersebut dan seketika terbelalak.
Alezo bergegas keluar kamar dan menuju kamar Albar.
"Ada apa?" Tanya Albar heran karena Alezo menggedor pintunya beberapa kali.
"Apa Louisa sedang berlibur?" Tanya Alezo.
"Ya. Bagaimana kau tahu?"
Alezo lalu menyodorkan ponselnya memperlihatkan foto Louisa.
"Ini dimana?"
"Pantai Whitehaven, Australia. Ada apa? Kau membuatku takut," jawab Albar.
Alezo mengangguk. "Thanks," ucapnya.
Ia kemudian bergegas kembali ke kamarnya tanpa mempedulikan Albar yang kebingungan.
Dalam beberapa menit Alezo sudah mengantongi tiket menuju Australia. Beruntung tersisa satu kursi business class untuk penerbangan tengah malam nanti. Ia begitu semangat mengepak barang-barangnya ke dalam koper.
"Jemima, I'll see you soon,"
***
Hamparan pantai dengan laut biru dan pasir putih menyambut kedatangan Alezo. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan akhirnya Alezo tiba di Pantai Whitehaven di kepulauan Whitsunday, Australia. Sungguh sebenarnya ia masih merasa lelah karena belum beristirahat dengan maksimal. Namun rasa tidak sabar membuatnya tak ingin menyia-nyiakan waktu untuk segera bertemu Jemima.
Alezo menyapukan pandangannya ke sekitar pantai. Ada rasa nyaman yang merasuki tubuhnya. Udara hangat dan desiran ombak membuatnya merasa tenang. Ia kemudian berjalan mendekati tepi pantai, merasakan sapuan ombak menerpa kakinya. Alezo menarik nafas panjang. Otaknya berpikir keras bagaimana ia bisa menemukan Jemima sementara garis pantai ini begitu panjang dengan banyak resort dan hotel. Tentu ia bukan cenayang yang bisa dengan mudah menebak keberadaan Jemima.
Setelah berdiam diri di tepian pantai, Alezo kemudian beranjak. Ia berencana menyusuri pantai itu untuk menemukan Jemima meski tak yakin. Tubuh lelahnya tak ia pedulikan, sampai akhirnya setelah jauh berjalan matanya menangkap sesosok gadis yang duduk sendirian menghadap lautan.
***