
POV : Najla
Najla menekan tombol kunci unit apartemennya. Ia masih agak lemas setelah sadar dari pingsan. Dengan langkah gontai ia menuju dapur untuk mengambil air minum dan obat anemianya. Setelah minum obat, ia lalu kembali ke sofa dan menghempaskan badannya. Ini sudah ke tiga kalinya ia pingsan dalam seminggu terakhir. Dua kali ia pingsan saat setelah perform, dan kali ini ia pingsan di koridor apartemen. Ia memang kelelahan karena baru pindah ke apartemen setelah kontrak rumahnya berakhir. Najla memilih membeli apartemen agar lebih privat dan tidak terlalu luas karena ia tinggal sendirian.
Gadis itu menepuk jidatnya karena merasa malu mengingat bagaimana ia di tolong oleh tetangga unitnya yang untungnya seorang dokter. Dan bukannya berterimakasih, ia malah curiga saat bangun dari pingsannya. Padahal tetangganya itu sudah sangat baik menolongnya. Najla bisa saja tergeletak di koridor dalam waktu lama jika ia tidak bertemu pria itu.
Najla meraih ponselnya untuk menghubungi Jemima. Sahabatnya itu tadi menelepon dan menangis tersedu-sedu. Najla yang panik langsung bersiap-siap mengganti pakaian untuk segera datang ke apartemen Jemima. Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk meski Jemima belum sempat menceritakan apa yang terjadi karena ia terus menangis. Sayangnya ia malah pingsan. Najla masih ingin ke sana tapi tubunhnya masih terasa lemas.
"Jemi..." ucap Najla ketika Jemima menjawab panggilannya.
"Sorry aku tadinya mau ke apartemenmu. Tapi aku tiba-tiba pingsan karena pusing,"
"Apa? Kau pingsan? Astaga. Lalu bagaimana keadaanmu?!"
Najla menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara Jemima yang nyaring. Dalam hati ia lega karena Jemima sudah tidak menangis. Setidaknya sang sahabat sudah lebih baik.
"Sekarang aku sudah baik-baik saja. Tapi sepertinya aku tidak sanggup menyetir," tukas Najla lagi.
"Istirahatlah! Atau aku yang ke apartemen barumu. Bagaimana?"
"Tidak perlu. Kau juga harus istirahat. Kita bertemu besok saja,"
Najla mendengar Jemima menghela nafas di ujung sana. Ia tau Jemima pasti khawatir dengan keadaannya. Padahal Najla sendiri cemas dengan apa sedang di alami Jemima sampai ia menangis. Ia lalu meletakkan ponselnya ke meja setelah sambungan terputus.
Najla menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Matanya menerawang membayangkan pencapaiannya sekarang. Ia adalah penyanyi dan juga rapper wanita nomor satu saat ini. Queen of swag, julukan dari para penggemarnya. Ia bahkan disebut menyamai Lisa Blackpink karena kemampuan dancenya pun luar biasa. Najla mendapatkan banyak cinta dan puja dari para penggemar. Setiap karya dan penampilannya selalu dinanti dan tidak pernah gagal di terima oleh netizen. Lagu-lagunya selalu viral dan banyak yang mengcover dancenya. Bahkan saat Magnolia membuatkan kompetisi resmi, ratusan peserta mendaftar sehingga mereka kewalahan untuk menilai. Najla salah satu bukti tangan dingin Magnolia dalam menciptakan penyanyi bertalenta sepertinya. Harusnya ia bangga dan bahagia. Harusnya ia dapat menikmati hasil kerja kerasnya dengan suka cita. Nyatanya tidak.
Dada Najla selalu merasa sesak jika mengingat perjalanan karirnya. Di tengah popularitas yang luar bisa, sejatinya Najla berdiri sendiri tanpa sandaran. Kakinya mau tidak mau harus kuat dan tak tergoyahkan. Atau ia akan jatuh menggenaskan. Orang-orang memandangnya sebagai superstar, namun Najla tetaplah seorang perempuan biasa yang tidak selamanya kuat. Najla tinggal sebatang kara tanpa keluarga. Orangtua dan dua kakaknya masih berada di dunia yang sama, namun mereka tak lagi berbagi cinta.
Sepuluh tahun yang lalu...
"Bagaimana kau begitu bodoh, Najla?! Nilai rapormu selalu rendah!" Hardik Sabri, ayahnya ketika melihat deretang angka enam yang tertera di rapor Najla.
Najla yang masih SMA saat itu hanya bisa diam menahan tangis. Sabri memaksanya masuk kelas IPA, sementara otaknya tidak mampu mencerna pelajaran yang terasa begitu sulit baginya.
"Kau hanya bisa menari! Tidak ada gunanya bisa menari jika kau bodoh dalam pelajaran sekolah," kali ini Widy, ibunya ikut menimpali.
Air mata Najla perlahan mengalir. Ia memang senang menari dan selalu menjuarai kompetisi menari. Ia menyumbang banyak piala untuk sekolah dari kemenangannya. Namun hal itu tak pernah membuat kedua orang tuanya bangga. Bahkan mereka tak memajang piala Najla di rumah karena dianggap tak berguna. Hanya piala Najma dan Najwa, kakaknya yang menjuarai olimpiade yang mereka pajang di lemari kaca.
"Kau tidak akan bisa kuliah kedokteran seperti kakak-kakakmu dengan nilai jelek seperti ini," hardik Sabri membanting rapor Najla yang membuat ia terkesiap.
"Kau mau jadi apa, Najla? Kau tidak akan punya masa depan kalau mau malas belajar!"
Saat itu Najla tidak tahan lagi. Dadanya terlalu sesak karena terus dibandingkan dengan kedua kakaknya.
"Aku memang bodoh! Aku tidak suka pelajaran IPA! Ayah dan Ibu yang memaksaku. Aku menyukai seni tapi kalian tidak pernah mengizinkanku. Aku menari untuk membanggakan kalian tapi kalian tidak pernah mendukungku. Apa nilai sekolah begitu penting bagi kalian?"
Plak!!
Tamparan keras Sabri mendarat di pipi Najla.
"Anak kurang ajar. Menari tidak ada gunanya untuk masa depanmu. Harusnya kau jadi kami gugurkan sejak dalam kandungan jika tau kau akan membangkang seperti ini!"
Najla terhenyak. Ia merasa begitu tertusuk mendengar kata-kata Sabri. Orangtuanya bahkan tidak mengharapkan kehadirannya di dunia. Sejak dalam kandungan ia sudah direncanakan untuk digugurkan. Najla menatap ke arah Ibunya mengharapkan pembelaan atau meralat ucapan ayahnya yang begitu jahat. Namun ternyata Widy hanya melengos dengan tatapan sinis.
Najla merasakan tubuhnya bergetar. Ternyata benar adanya ia tak diharapkan. Pantas dari dulu ia diperlakukan berbeda. Najla menggenggam tangannya mengumpulkan kekuatan.
"Baiklah. Jika aku terlalu membani ayah dan ibu, aku akan pergi dari hadapan kalian selamanya," ucap Najla dengan suara terbata
"Pergilah! Membesarkan anak sepertimu adalah penyesalan bagi kami!," teriak Sabri lantang.
Najla bergidik. Ia seperti melihat monster di dalam diri Sabri. Tak menunggu lama Najla berlari menuju kamar dan mengemas baju-bajunya. Ia lalu meraih celengan ayam untuk bekalnya selama tinggal di luar. Sesungguhnya Najla tidak tahu harus pergi kemana. Yang jelas rumah ini tak lagi bisa ia tinggali dengan orangtua yang begitu membencinya. Najla menatap nanar deretan piala yang berjejer rapi di meja belajarnya. Piala-piala berharga yang menjadi saksi bagaimana Najla menari dengan indahnya. Najla mengelus satu persatu piala itu sebelum akhirnya keluar kamar meninggal segala kenangannya.
"Lihatlah anak ini. Berani keluar rumah seperti sudah hebat," ketus Sabri berkacak pinggang.
"Sekali kau keluar dari rumah ini jangan harap akan kembali," timpal Widy.
Najla menarik nafas. Orangtuanya bahkan tak mencegahnya pergi namun justru memberikan ancaman.
"Aku tidak akan kembali ke neraka ini," sahut Najla dingin.
Ia melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke arah Sabri yang berteriak menghardiknya. Najla terus berjalan tanpa tujuan. Tangannya menenteng sebungkus teh manis yang ia beli di pinggir jalan. Matanya yang bengkak dan pipinya yang merah bekas tamparan tentu menjadi perhatian orang yang melihatnya.
Najla lalu tiba di depan sebuah gedung mewah yang sedang dipadati banyak orang mengantre. Ia membaca nama gedung yang terpampang megah di puncaknya.
"Magnolia Entertainment," ucap Najla membacanya. Ia seketika merasa terkejut karena tau Magnolia adalah agensi terbesar yang mencetak artis terkenal.
Najla merasakan secercah harapan ketika mendengar dari orang-orang yang lewat mengatakan Magnolia sedang mengadakan audisi. Najla secepat kilat ikut mengantre. Setelah mengantre dan mengisi formulir, Najla bergabung dengan orang-orang yang ingin mengadu nasib dan keberuntungan untuk menjadi entertainer. Beberapa lama kemudian ia dipanggil untuk masuk ke ruang audisi. Najla ingat betul saat itu ia merasa kelaparan karena belum makan. Namun ia sekuat tenaga mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Najla kemudian menampilkan tarian modern yang ia kuasai dengan energik. Tubuh semampainya begitu lentur mengikuti irama lagu yang diputar. Beruntung ia pernah membawakan tarian dengan lagu yang sama hingga mudah bagi Najla untuk menggerakkan tubuhnya menari.
Tak disangka Najla menerima tepuk tangan meriah dari para juri yang menilainya. Ia pun mengucapkan terimakasih dan berharap itu adalah pertanda baik.
"Selamat bergabung di Magnolia,"
Najla meloncat kegirangan saat ia dinyatakan lolos. Ia menangis karena merasa Tuhan langsung menolongnya ketika dia putus asa karena keluar dari rumah dan tidak memiliki tempat tinggal. Najla akhirnya tak perlu tidur di jalanan malam itu karena ia langsung masuk asrama Magnolia sebagai trainee. Di sini lah awal mula ia dan Jemima dapat bersahabat, yakni mereka sama-sama sebatang kara mengadu nasib di Magnolia.
Magnolia menjadikannya sebagai penyanyi hiphop dan rapper dengan dance yang enerjik sesuai keahlian Najla. Sampai akhirnya ia debut dan disambut antusias yang luar biasa. Lagunya meledak dan penjualan albumnya tak terbendung. Video officialnya di youtube tembus seratus juta viewers yang langsung menjadikannya artis papan atas.
Di tengah gemerlap kesuksesannya Najla masih teringat akan orangtuanya. Sebagai anak Najla tetap merindukan kasih sayang kedua orangtuanya. Najla bermimpi hubungan dengan kedua orangtuanya dapat diperbaiki meski selama sepuluh tahun ia tidak dicari. Sayangnya mimpi Najla tak akan terwujud. Orangtuanya ternyata sedikitpun tidak bangga dan mengucapkan selamat dengan kesuksesannya.
"Dunia entertainment tidak berarti apa-apa bagiku. Hanya orang bodoh sepertimulah yang berada di sana. Hiduplah dalam duniamu sendiri," ucap Sabri saat Najla pulang ke rumah orangtuanya.
Tidak ada sambutan apalagi pelukan hangat. Hanya hardikan dan makian Ternyata ia sudah didepak sebagai anak karna ia dianggap bodoh.
***
Najla tersentak mendengar bel nya berbunyi. Ia menggaruk pipinya mengira-ngira siapa yang datang karena ia belum memberitahu teman-temannya nomor unit apartemennya. Ia mengintip melalui lubang door view dan dan terheran mendapati dokter yang tadi menolongnya berdiri di depan pintu. Bagaimana ia bisa mengetahui nomor unit Najla?
Ia lalu perlahan membuka pintu.
"Hai. Syukurlah ini benar unitmu. Kau meninggalkan ini,"
Ujar pria itu sambil menyodorkan topi dan maskernya yang tertinggal.
"Ah, ya. Terimakasih, Dokter," ucap Najla lalu meraih barang miliknya itu.
Pria itu mengangguk lalu berbalik badan.
"Tunggu. Ehm...bagaimana kau tau nomor unitku?" Tanya Najla penasaran.
"Aku...hanya memprediksi dari arah kau berjalan saat kita berpapasan. Ini pintu ke tiga yang ku ketuk,"
Najla tersenyum mendengar penjelasan tetangganya itu.
"Maaf aku merepotkan dokter," tukas Najla merasa tidak enak.
"Just call me Neil. Aku merasa seperti di rumah sakit kalau kau memanggilku dokter,"
"Oh...baiklah, Neil. Aku Najla,"
Neil mengangguk lalu berbalik menuju unitnya. Sementara Najla masih berdiri di depan pintu manatap punggung sang tetangga baik hati.
"Setidaknya ada orang baik yg kukenal di sini," tukasnya kemudian lalu menutup pintu.