Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 39



POV : Alezo


Akal sehat Alezo seketika hilang ketika cumbuan Jemima di bibirnya semakin menggila dan membuatnya tak lagi bisa menahan diri. Ia lalu membawa gadis itu ke pangkuannya dan kini bibir mereka saling bertaut seolah tak ingin melepaskan. Tanpa sadar tangannya menyelusup mengelus punggung Jemima dan tidak ada penolakan. Beruntung Alezo tersadar ketika tangannya mulai berpindah menuju bagian yang harusnya tak boleh ia sentuh.


"Jemima, stop it," cetusnya sambil melepaskan ciuman mareka.


Ia lalu kembali mendudukkan Jemima ke kursi penumpang dan memakaikan safety belt. Alezo mengutuk dirinya yang bisa-bisanya tergoda dengan gadis mabuk, yang tentu saja Jemima tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.


"Damn. Kenapa aku tolol sekali," rutuknya kesal. Ia khawatir Jemima akan semakin membencinya jika ia teringat saat sadar nanti.


Alezo lalu menginjak gas dan perlahan mobilnya merangkak meninggalkan club. Sepanjang perjalanan Alezo berkali-kali melirik ke arah Jemima yang tertidur pulas. Hatinya mencelos membayangkan Jemima yang pasti begitu kalut sehingga ia nekat pergi club dan minum alkohol sendirian. Alezo tahu bahwa Jemima bukanlah penikmat alkohol sehingga ia akan sangat mudah mabuk. Sialnya ada pria mesum yang tega memanfaatkan Jemima yang sedang mabuk sendirian tadi saat di club. Alezo merasa takdir seolah berpihak kepada mereka ketika ia secara kebetulan ada janji dengan temannya untuk ke club. Sayangnya ketika ia tiba di parkiran temannya itu membatalkan pertemuan mereka karena ada urusan mendadak. Kepalang tanggung, Alezo memilih tetap masuk. Matanya langsung menangkap sosok wanitab yang terlihat seperti Jemima. Awalnya Alezo hanya merasa mirip, beruntung rasa penasaran membawanya mendekat saat seorang pria membawa wanita itu ke dance floor. Benar saja ternyata itu Jemima, dan si pria brengsek dengan kurang ajarnya menyentuh Jemima yang sedang mabuk. Alezo begidik ngeri membayangkan apa yang terjadi pada Jemima jika ia tidak datang. Si brengsek pasti sudah melakukan hal yang lebih gila lagi.


***


Alezo menekan bell apartemen Najla beberapa kali sambil membopong Jemima di punggungnya. Ia merasa akan lebih baik Jemima ada yang menemani daripada sendirian saat terbangun besok. Tangan Alezo baru saja akan kembali menekan bel ketika pintu terbuka dan sosok Najla muncul di hadapannya.


"Alezo....oh what?!" Seru Najla ketika menyadari Alezo menggendong Jemima.


Gadis itu lalu membuka lebar pintu dan menyuruh Alezo agar segera masuk dan membawa Jemima ke kamarnya. Alezo lalu membaringkan Jemima ke tempat tidur dan Najla segera membuka sepatu lalu menyelimuti sahabatnya itu.


Alezo lalu keluar kamar setelah Najla mengajaknya keluar. Mereka berdua lalu duduk dan berbicara di sofa.


"Jemima minum sendiri di club? Oh Tuhan, dia bahkan tidak pernah mau jika ku ajak," seru Najla saat mendengarkan cerita Alezo.


"Begitulah," ucap Alezo sambil mengusap wajahnya.


"Dia benar-benar sedang tidak baik-baik saja," tukas Najla. "Untunglah kau ada di sana. Atau dia akan....astaga aku merinding membayangkannya," Najla mengusap kedua lengannya.


"Aku meminta bantuanmu agar Jemima tidak lagi pergi sendiri kesana," ujar Alezo.


"Aku akan mengawasinya," sahut Najla.


Alezo mengangguk. Ia semakin merasa bersalah pada Jemima. Gadis itu dalam bahaya karena kekalutannya yang disebabkan oleh Alezo. Siapa yang menjamin Jemima akan baik-baik saja kedepannya dengan kondisi hatinya yang hancur?


"Apa Neil ada di unitnya?" Tanya Alezo sejurus kemudian. Ia berniat untuk menginap di apartemen Neil agar setidaknya ia dalam jarak dekat denga Jemima.


"I don't know," jawab Najla sambil mengangkat bahu dan memalingkan wajahnya.


Alezo terheran melihat reaksi Najla yang terlihat malas menjawab pertanyaannya.


"Aku kira kalian dekat dan saling memberi kabar," tukasnya.


"Nope," potong Najla cepat.


Alezo pun lalu keluar setelah berpamitan pada Najla. Ia terpaksa pulang ke rumah setelah Neil membalas pesannya dan mengatakan bahwa ia di rumah sakit karena ada pasien darurat. Mau tidak mau Alezo pun memacu mobilnya menuju rumah meski otaknya tak berhenti memikirkan Jemima.


***


"Cut!"


Alezo seketika lega mendengar teriakan sutradara yang menandai berakhirnya syuting. Ia lalu melepaskan genggaman tangannya pada Sera, pasangannya untuk iklan Hollydear, sebuah pusat perbelanjaan terbesar. Ini tahun ke empat ia dan Sera berpasangan sebagai brand ambassador. Mereka berdua bahkan sudah sering diisukan berkencan, namun selalu terbantahkan. Netizen yang sering menjodohkan mereka bahkan oleng setelah Alezo dan Jemima membintangi film. Padahal dulu Sera yang merupakan aktris papan atas begitu dipuja-puja oleh penggemar Alezo.


Alezo langsung duduk di samping sutradara melihat hasil syuting mereka. Seperti biasa Alezo benar-benar seksama memperhatikan penampilannya. Alezo masih serius menatap layar ketika Sera tiba-tiba datang dan duduk di sebelahnya. Tidak akan jadi masalah jika Sera hanya duduk dan sama-sama memperhatikan hasil rekaman, namun gadis itu bersandar pada Alezo. Alezo melirik sebentar pada Sera, namun akhirnya membiarkan gadis itu karena akan menyakitkan bagi Sera jika ia menepis tubuhnya.


"Perfect. Kalian selalu sempurna," puji sang sutradara.


Alezo hanya tersenyum. Ia segera beranjak begitu Sera menarik tubuhnya dari punggungnya.


"Thankyou for today, Sera. You did a great job," ucap Alezo pada Sera sambil tersenyum.


Ia pun kemudian berlalu dan berjalan menuju Tara yang sudah siap dengan iced americano untuknya. Alezo masih menyedot minumannya ketika tiba-tiba Sera datang menghampiri.


"Alezo, apa kau hari ini sibuk?" Tanya Sera yang membuat Alezo keheranan.


Ia dan Sera selama bekerjasama tidak pernah terlibat pembicaraan berdua sebelumnya, kecuali saat sedang take. Bahkan saat Hollydear mengadakan event pun mereka tidak terlibat percakapan walaupun tampil bergandengan tangan dan terlihat begitu serasi sebagai pasangan.


Tara yang berdiri di sebelah Alezo mengerti, ia pun segera menjauh memberikan ruang pada Alezo dan Sera.


"Aku tidak ada jadwal lagi setelah ini. Ada apa?" Alezo balik bertanya.


"Aku...hm...apa kau ada waktu? Ada yang ingin kubicarakan padamu," jawab Sera yang tak dapat menyembunyikan ekspresi malu-malunya.


Alezo menelan ludah. Ada apa gerangan Sera tiba-tiba mengajaknya berbicara sampai harus meminta waktunya.


"Apa tidak bisa dibicarakan di sini?"


Sera menggeleng. Gadis itu menatap wajah Alezo dengan tatapan memohon.


"Apa kau tidak keberatan mengantarku pulang? Setahuku rumah kita searah. Akan kubicarakan saat di perjalanan," tukas Sera lagi.


Alezo semakin bingung. Ia dan Sera benar-benar tidak ada kedekatan secara pribadi. Mereka hanya bertemu saat bekerja dan tidak ada momen lagi setelah itu.


"Baiklah," jawab Alezo sejurus kemudian meski ia masih bertanya-tanya.


Beruntung Tara datang sendiri dengan mobilnya sehingga ia tidak khawatir meninggalkan Tara. Alezo segera menyalakan mesin setelah mereka berdua sudah di dalam mobil. Ia melirik ke arah Sera yang terlihat tegang, seperti memikirkan sesuatu.


Hening masih membelenggu ketika mereka sudah di perjalanan. Alezo bukan orang yang mudah membuka percakapan dengan orang lain, sehingga ia tidak tahu harus memulai obrolan dengan Sera.


"Alezo...." panggil Sera. Alezo seketika menoleh.


"Ya. Apa yang kau ingin bicarakan?"


Sera menghela nafas. Gadis itu tampak seperti mengumpulkan kekuatan.


"Apa kau benar-benar sedingin ini?" Tanya Sera kemudian.


"Kita sudah bekerja bersama-sama selama empat tahun. Tapi kau tidak pernah mengajakku berbicara lebih dulu. Kau bisa menatap dalam mataku dan begitu hangat saat berada di depan kamera. Lalu setelahnya kau kembali seperti orang asing," ujar Sera panjang lebar.


Alezo masih membisu, masih belum memamahi arah ucapan Sera.


"Apa kau sama sekali tidak memiliki rasa seperti yang aku rasakan padamu?"


Kali ini Sera menoleh ke arah Alezo, sungguh-sungguh meminta jawaban darinya.


Alezo menelan ludah dan menggaruk telinganya pertanda ia sedang salah tingkah.


"Aku menyukaimu, Alezo. Aku menahan perasaanku selama empat tahun dari sejak awal kita bertemu," aku Sera yang membuat darah Alezo berdesir.


Ia sungguh tak menyangka Sera akan mengungkapkan perasaannya. Alezo tentu saja tidak merasakan hal yang sama. Selama ini setiap ia berpasangan dengan artis perempuan, Alezo selalu profesional tak terbawa perasaan. Kecuali pada Jemima. Itu pun karena Jemima benar-benar mencuri hatinya.


"Aku selalu berharap kita bertemu lagi agar aku bisa dekat denganmu. Aku bekerja keras untuk mendapatkan peran sebagai pasanganmu di film Salju Pertama Desember. Sayangnya aku ditolak karena Jemima mendapatkannya lebih dulu,"


Sungguh, Alezo baru tahu Sera mengikuti casting untuk filmnya dengan Jemima.


"Aku rasanya gila ketika mendengar kau dan Jemima berkencan. Aku cemburu. Aku cemburu padahal aku bukan siapa-siapa bagimu," ucap Sera dengan suara bergetar.


"Sera...hm...aku bingung harus bagaimana," ujar Alezo jujur.


"Aku kurang apa, Alezo? Aku cantik, aku terkenal, aku bisa menjadi pacar yang baik untukmu. Kenapa kau sedingin ini padaku?" Desak Sera yang semakin membuat Alezo kebingungan.


Di mata Alezo, Sera memang sempurna. Ia bahkan kagum dengan Sera yang berhasil menjadi aktris papan atas di usia muda. Apalagi kemampuan akting Sera sudah tidak diragukan. Gadis itu bahkan beberapa kali tampil sebagai cameo di film Hollywood. Alezo hanya sekedar mengagumi, bukan menyukai secara pribadi. Lalu sekarang bagaimana caranya ia mengatakannya pada Sera jika lidahnya terasa kelu? Apalagi hatinya sudah dimiliki oleh Jemima. Alezo tak lagi bisa jatuh hati pada gadis lain.


"Sera. I adore you so much. Aku senang bisa bekerjasama denganmu. But that's all. Hanya itu," jawab Alezo hati-hati. Takut menyakiti Sera. Apalagi gadis itu terlihat sedang menyeka air matanya.


"Kau tidak pernah memandangku sebagai seorang wanita yang ingin kau jadikan kekasih?"


Alezo menghela nafas, memilih tak menjawab daripada Sera semakin terluka.


"Ternyata aku membuang waktuku menyukaimu selama ini. Kau ternyata hanya sebuah tokoh di layar kaca yang tak bisa menjadi nyata buatku," tukas Sera lagi.


***


Alezo tiba di rumah dan langsung berniat menuju kamarnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika mendapati Kamila dan Reno yang duduk di sofa. Kedua orangtuanya sontak berdiri begitu melihat kedatangan Alezo. Alezo tak bereaksi. Dia hanya diam namun tak urung mendekati mereka.


"Ada yang perlu kita bicarakan," ucap Reno setelah mereka duduk bersama.


"Go ahead," ucap Alezo datar.


Dulu ia benar-benar mengagumi kisah cinta kedua orangtuanya yang begitu penuh cinta. Bagaimana Reno yang selalu memperlakukan Kamila bak ratu serta Kamila yang selalu melayani Reno bak raja. Namun setelah mengetahui bagaimana kisah cinta mereka bermula, kekaguman itu memudar. Ia diajarkan untuk setia pada wanita namun ternyata apa yang orangtuanya lakukan berbanding terbalik dengan nasehatnya.


"Bagaimana keadaan Jemima?" Tanya Kamila sejurus kemudian.


"I hope she's fine. Aku tidak bisa menghubunginya. Hubungan kami berakhir," jawab Alezo dingin.


Reno dan Kamila saling berpandangan, prihatin dengan hubungan Alezo dengan Jemima yang baru saja mekar, namun harus kandas.


"Lagipula apa yang bisa kuharapkan jika aku menjadi bagian dari penyebab keluarganya hancur," sinis Alezo menahan debur jantungnya.


"You didn't do anything..." tukas Kamila.


"You both did," ketus Alezo. Ia bergantian menatap Reno dan Kamila dengan tatapan menyalahkan.


"Ya we did it to her mom. Dan mama yang paling jahat," ucap Kamila dengan suara bergetar menahan tangis.


Reno menoleh pada Kamila dan meraih tangan istrinya erat. Dalam hatinya pun sebenarnya ia merasa bersalah setelah mendengar apa yang terjadi pada kekasih lamanya itu meski sudah berlalu berpuluh tahun lalu.


Tiga puluh tahun lalu...


"Kamila, apa kau berjaga malam hari ini?" Tanya Dinar pada Kamila yang baru keluar dari ruang IGD.


Kamila adalah seorang perawat junior sementara Dinar merupakan dokter muda yang sedang menjalani koas di rumah sakit yang sama. Pernah mengalami kejadian mistis bersama saat sedang berjaga malam membuat mereka menjadi dekat karena dua gadis itu menangis dan berpelukan bersama ketika terkurung di kamar mandi. Sejak saat itu mereka menjadi sahabat karib yang selalu menyempatkan untuk menghabiskan waktu bersama di tengah-tengah jadwal pekerjaan yang padat.


"Untungnya tidak. Aku rasanya seperti zombie," jawab Kamila sambil menunjuk lingkaran hitam di matanya.


Dinar terkekeh. Kamila memang selalu kurang tidur.


"Kalau begitu malam ini ikut aku bertemu dengan Reno," ajak Dinar.


"Oh Tuhan. Kenapa kau selalu mengajakku ketika berkencan? Tidak mau. Aku mau tidur," tolak Kamila.


"Ayolah. Reno selalu membosankan ketika berkencan. Aku butuh kau untuk mencairkan suasana," ujar Dinar memaksa.


"Entah kenapa gadis cerewet sepertimu bisa berkencan dengan Reno si dokter magang yang pendiam itu," omel Kamila.


Mereka berdua lalu berjalan bersama keluar dari rumah sakit sambil sesekali bercanda.


Seperti biasa, Dinar selalu mengajak Kamila ketika kekasihnya itu mengajak berkencan. Reno yang tak banyak bicara selalu lebih banyak diam dan sesekali menimpali obrolan Dinar dan Kamila. Dinar tidak menyadari bahwa Reno sebenarnya hanya ingin berdua dengannya. Sayangnya Dinar merasa tidak nyaman karena Reno cenderung diam daripada mengajaknya berbicara. Padahal Reno tulus menyayanginya meski ia tidak bisa menunjukkan dengan sikap romantis yang diharapkan Dinar.


"Aku memutuskan hubungan dengan Reno," ujar Dinar saat ia dan Kamila sedang makan siang di kantin rumah sakit.


"What? Kenapa? Reno pria baik dan sangat mencintaimu?!" Seru Kamila yang tak percaya.


"Tapi dia tidak romantis!" Balas Dinar.


Kamila memutar bola matanya. Ia tahu betul Reno, seniornya saat di fakultas kedokteran dulu benar-benar mencintai Dinar. Reno memang bukan pria romantis. Tapi dia selalu peduli dan dan ada untuk Dinar kapanpun Dinar membutuhkannya.


"Aku tidak tahan dengan sifat dinginnya," ucap Dinar mempertahannya keputusannya.


"Dinar, Reno memang seperti itu. Harusnya kau bisa menerima sifatnya sebagai kekasih,"


Dinar menggeleng. "Aku sudah bertahan selama dua tahun. Rasanya sudah cukup,"


Kamila menghela nafas. Ia tidak dapat berbuat apa-apa selain mendengarkan cerita Dinar yang bahkan sudah kembali dekat dengan seorang pria. Sungguh membuatnya terbelalak.


**


Kamila membuka pintu asramanya ketika ada yang mengetuk. Ia terkesiap ketika mendapati Reno berdiri dengan wajah pias.


"Reno...ada apa?" Tanya Kamila heran.


"Aku butuh bantuanmu," jawab Reno yang terlihat gusar.


Mereka berdua lalu berjalan menuju taman. Ternyata Reno begitu patah hati karena Dinar meninggalkannya. Ia meminta bantuan Kamila agar mereka dapat kembali bersama.


"Aku rasa aku tidak akan bisa melanjutkan hidup tanpanya," ucap Reno yang membuat hati Kamila mencelos.


Bagaimana Dinar tega mencampakkan pria tulus seperti Reno yang justru diidamkan oleh Kamila.


Sejak saat itu Kamila berusaha mempengaruhi Dinar untuk kembali bersama Reno. Ia pun menjadi sering bertemu Reno untuk melaporkan apa yang Dinar katakan. Sayangnya Dinar benar-benar menutup pintu bagi Reno, dan memilih kekasih barunya yang lebih romantis. Bahkan ia jarang bertemu Kamila karena lebih senang menghabiskan waktu dengan kekasihnya itu.


"Sepertinya Dinar memang sudah menutup pintu hatinya untukmu," ucap Kamila saat bertemu Reno.


"Ya...mungkin sudah saatnya aku berhenti mengharapkannya," timpal Reno lesu.


Kamila menatap Reno nanar. Ia iri karena Dinar begitu dicintai dah diharapkan oleh Reno. Kamila menggelengkan kepalanya cepat karena tiba-tiba terbersit perasaan aneh dalam dirinya. Seperti cemburu. Rasa simpati pada Reno sepertinya berganti menjadi perasaan suka karena seringnya mereka bertemu akhir-akhir ini.


Hingga saat Kamila menyelesaikan masa koasnya, Reno secara tiba-tiba menyatakan cinta padanya saat ia baru selesai melakukan sumpah dokter.


"Kau menyembuhkan lukaku saat patah hati. Aku ingin selamanya kelak kau menjadi penyembuh dan teman hidupku,"


Ucapan Reno saat itu bagaikan sebuah kabar gembira dari surga bagi Kamila. Ia tak menunggu lama untuk menerima cinta Reno. Toh Dinar saat ini sudah bahagia bersama pacar barunya. Tidak akan menjadi masalah, bukan, jika ia dan Reno menjadi kekasih?


Sayangnya Kamila bak di sambar petir ketika ia berniat memberitahu Dinar tentangnya dan Reno. Dinar justru lebih dulu mengungkapkan bahwa ia menyesal memutuskan Reno karena kekasihnya saat ini sering kasar padanya. Dinar bahkan meminta bantuan Kamila agar mereka dapat kembali bersama. Kamila tentu tak dapat menjawab. Hingga akhirnya Dinar mengetahui hubungan mereka berdua saat mendapati Kamila dan Reno berada di taman berdua.


"Pengkhianat!" Seru Dinar ketus pada Kamila yang menangis.


Sementara Reno menengahi Dinar yang ingin meraih Kamila.


"Bagaimana kau bisa berkencan dengan mantan kekasihku sementara kau tahu aku ingin kembali padanya!" Sentak Dinar lagi.


"Cukup, Dinar. Kau yang memutuskanku, dan Kamila yang ada untukku saat aku terpuruk!" Bela Reno.


"Kalian pasti sudah bermain api di belakangku saat kita masih bersama," tuduh Dinar. "Bagaimana kalian tega kepadaku?"


Sejak pertemuan itu hubungan Dinar dan Kamila merenggang. Dinar menganggap Kamila bagai musuh bebuyutan, padahal Kamila masih ingin memperbaiki hubungannya dengan Dinar.


Sampai suatu saat Reno mengajak Kamila menikah dan pindah ke luar kota. Kamila yang masih merasa bersalah pada Dinar awalnya menolak dan ingin memutuskan hubungannya dengan Reno.


"Aku tidak ingin merasakan patah hati untuk kedua kali," ucap Reno yang akhirnya membuat Kamila luluh.


Kamila menerjang hujan menuju rumah Dinar malam sebelum ia pindah dan ingin meminta maaf. Sayangnya Dinar sama sekali tidak ingin menemuinya. Kamila pun pulang dalam keadaan basah kuyup dengan mata bengkak. Ia tidak ingin melulai Dinar tapi ia pun mencintai Reno.


"Suatu saat Dinar akan mengerti," ujar Reno saat Kamila menangis meraung menyesali apa yang terjadi dengan Dinar.


Mereka pun lalu menikah dan hidup bahagia, tanpa mengetahui kabar apapun tentang Dinar.


***


"Kalian berharap aku menyampaikan cerita itu pada Jemima?" Sinis Alezo ketika Dinar selesai bercerita.


"Lalu dia akan percaya bahwa ibunya lah yang meninggalkan papa dan kalian tidak berkhianat tanpa bukti? Sounds funny,"


Alezo beranjak setelah berkata demikian, meninggalkan Kamila dan Reno yang menatap nanar punggungnya.


***