
Alezo, Neil dan Albar terdiam dan saling berpandangan mendengar Jemima berkata kasar di ujung videonya. Jemima yang mereka kenal lembut dan melankolis ternyata mampu mengumpat Kalina sang CEO culas. Neil kemudian menerima ponselnya dari Jemima setelah gadis itu selesai mengunggah video yang barusan ia rekam ke instagramnya.
"Apa aku terlalu kasar?" Tanya Jemima yang ternyata menyesal berkata demkian.
"Tidak sama sekali!" Seru mereka bertiga sambil mengibaskan kedua tangan.
"Malah kau kurang kasar," cetus Albar kemudian yang langsung dipelototi oleh Alezo.
"Apa polisi masih lama? Aku khawatir kawanan mereka datang," ujar Alezo sambil melirik arlojinya yang sedikit retak karena bertarung dengan penculik.
"Harusnya tidak akan lama," jawab Neil.
Sejurus kemudian terdengar deru suara sirine mobil polisi mendekat. Mereka serentak menarik nafas lega. Selang beberapa saat para polisi muncul dengan dipimpin langsung oleh Maura.
"Tangkap dan bawa ke mobil," perintah Maura.
Para polisi pun langsung menangkap dua penculik yang tergeletak di lantai. Dalam hati Alezo merasa puas melihat mereka yang beringas kini tak berdaya saat diringkus polisi.
"Terimakasih atas kerjasama kalian dengan kepolisian," tukas Maura yang membuat Alezo dan lainnya terpana.
"Apa kau harus bicara formal seperti ini saat bertugas meskipun denganku?" Bisik Neil.
Maura mencebikkan bibir. "Aku harus menjaga wibawa di depan anggota timku," balasnya.
"Amazing. Kau sungguh berbeda dengan Maura yang dulu...cengeng," goda Alezo yang sangat mengenal Maura karena Neil sering mengajak adiknya itu bersama mereka.
Maura tertawa kecil. Kecantikan berbalut kewibawaan seragam polisi yang ia kenakan menjadi satu membuatnya terlihat begitu menawan.
"Ah ya. Aku ingat kau pernah menangis di pinggir jalan karena diputuskan oleh pacarmu. Lalu kau memaksaku untuk pura-pura menjadi pacar barumu dan lewat di depan rumahnya dengan motor baruku," timpal Albar yang memang cukup akrab dengan Maura.
"Aku menembak kepalamu," geram Maura sambil berpura meraih pistolnya. "Kau berjanji untuk merahasiakannya seumur hidupmu, kenapa membongkarnya sekarang?!"
"Ups!" Cetus Albar sambil menutup mulutnya.
"Ah ya, aku harus menyampaikan ini. Kalian akan dimintai keterangan atas kasus ini sebagai saksi dan korban. Nanti akan ada pemanggilan," jelas Maura lagi.
Alezo dan lainnya mengangguk pertanda mereka memahami dan bersedia. Maura kemudian berlalu untuk kembali bersama anggota polisi lainnya membawa tersangka penculikan.
"Ayo kita pergi," ajak Alezo.
Mereka lalu bersama-sama berjalan menuju mobil Neil untuk segera meninggalkan tempat itu.
Dewi fortuna berpihak pada mereka, karena selang sepuluh menit mereka pergi, Frans dan komplotannya tiba. Pria itu pun mengamuk karena tak menemukan Jemima dan Alezo di sana.
***
Jemima memilih pulang ke apartemen dan menolak untuk ke rumah sakit. Rasanya ia tidak perlu diperiksa karena tak merasakan sakit yang berarti. Merebahkan diri di tempat tidur empuk dan berselubung dengan selimut lembut adalah satu-satunya yang ia inginkan saat ini.
Jemima masuk ke unitnya dan langsung menuju sofa. Ia menjatuhkan tubuhnya dan seketika menangis kencang. Sudah sejak tadi ia menahan tangis karena mengingat apa yang ia alami. Dadanya begitu sesak menghadapi kenyataan bahwa ia dijadikan pion untuk menutupi kasus politik. Parahnya agensi yang harusnya memberi keamaanan justru menjadi biang keladinya. Jemima tak tahan lagi. Kalina sudah beberapa kali berusaha menjegal karirnya lalu dengan seenaknya menyerahkan Jemima karena keserakahannya akan uang. Meski ia sudah mendengar bahwa Kalina dibawa ke kantor polisi, Jemima masih belum puas. Rasanya ia ingin memaki Kalina tepat di depan wajahnya.
Setelah tenang, Jemima memutuskan untuk mandi. Lagi-lagi ia menangis di bawah guyuruan shower. Perasaannya benar-benar hancur. Permasalahan menimpanya bertubi-tubi seolah semesta ingin mematahkan kakinya untuk dapat terus berdiri.
Jemima lalu mengenakan pakaian setelah mengeringkan tubuhnya. Ia berjalan mendekati meja rias dan memperhatikan pantulan tubuhnya di depan cermin. Alezo benar, harusnya ia tak sendirian malam ini. Namun Jemima bersikeras tidak ingin ditemani oleh siapapun termasuk Najla yang memohon agar dibolehkan menginap di apartemennya.
"Aku baik-baik saja. Aku akan beristirahat,"
Begitu ucapan Jemima pada Najla tadi. Nyatanya sendirian justru membuat pikirannya semakin kacau. Otaknya tanpa diperintah justru memutar memori-memori menyedihkan dalam hidupnya yang tentu membuatnya semakin terpuruk.
"Aaaaaarhhh!!!"
Jemima berteriak menyuarakan perasaannya yang hancur berkeping-keping. Ia merasa sendirian menghadapi dunia yang tak ramah padanya, yang selalu mempermainkannya. Di balik puja puji penggemar padanya sebagai seorang diva, ia sebenarnya tertatih menguatkan diri sendiri di tengah kehampaan hidupnya.
Jemima tersentak mendengar suara bel yang di tekan beberapa kali. Mau tidak mau ia beranjak dan memeriksa siapa gerangan orang yang di balik pintu.
"Alezo..." gumam Jemima saat mendapati pria itu berdiri di hadapannya.
Alezo kemudian masuk ke dalam unit Jemima meski gadis itu belum mempersilahkannya.
Jemima tak menjawab. Tanpa sadar air matanya kembali mengalir. Apa Alezo lupa Jemima pernah memakinya saat ia mengetahui kejadian masa lalu orangtua mereka? Apa Alezo tidak ingat hubungan mereka telah berakhir? Kenyataanya saat ini Alezo lah yang telah menyelamatkan Jemima dari penculikan.
"Hey..." lirih Alezo sambil mendekati Jemima.
Jemima tak menghindar saat Alezo menyeka air matanya. Tangan pria itu lalu menangkup kedua pipi Jemima.
"Mima...yang paling membuat hatiku hancur adalah melihatmu menangis seperti ini," ujar Alezo yang menatap dalam mata Jemima.
Jemima pasrah ketika Alezo lalu memeluknya erat, membawa tubuh Jemima dalam dekapannya. Wajah Jemima terbenam di dada bidang Alezo dan hidungnya menghirup dalam-dalam aroma parfum pria itu yang selalu membuatnya tenang. Jemima bersumpah merasakan tubuh pria itu bergetar, pertanda Alezo pun mengalami gejolak perasaan yang dahsyat. Ragu-ragu Jemima membalas pelukan Alezo dengan melingkarkan kedua tangannya pada tubuh pria itu. Jemima terenyuh karena Alezo terisak dipelukannya. Jemima merasakan butiran hangat yang menetes di bahunya. Sepertinya Alezo tak lagi sanggup menahan perasaannya. Entah apa yang Alezo rasakan, yang jelas Jemima mengerti ia harus mengeratkan pelukannya.
"I'm sorry. Harusnya aku tidak begini," ucap Alezo setelah pelukan mereka terlepas sambil mengusap air mata di pipinya.
"It's ok..." jawab Jemima.
"Sebaiknya kau makan, aku membawakanmu makanan,"
Jemima menggeleng. Ia tak berselera makan dan ia memohon agar Alezo tidak memaksanya makan.
"Aku akan tidur," tukas Jemima.
"Baiklah. Aku akan istirahat di sini," ujar Alezo.
Jemima pun berlalu meninggalkan Alezo menuju kamar. Berkali-kali Jemima meyakinkan dirinya bahwa hubungannya dengan Alezo sudah berakhir dan itu adalah keputusannya. Jemima sekuat tenaga menghadirkan perasaan sakit hati pada orangtua Alezo agar ia dengan mudah melupkan pria itu dan tak berandai-andai untuk kembali bersama.
Sayangnya gagal. Jemima tak dapat memejamkan mata karena mengetahui Alezo ada di sini bersamanya. Berkali-kali ia berganti posisi namun tetap saja matanya tak bisa di ajak kerjasama. Jemima akhirnya turun dari tempat tidur dan berjalan menuju sofa untuk menemui Alezo. Ternyata Alezo sudah memejamkan mata. Jemima memandang wajah tenang Alezo yang tertidur dan tanpa sadar tangannya begerak ingin menyentuh pipi pria itu. Namun tiba-tiba mata Alezo terbuka dan membuat Jemima tersentak.
"Mima...ada apa?" Tanya Alezo yang langsung bangkit dari posisinya.
"Ah...ehm...itu...aku..."
"Kau tidak bisa tidur?" Tebak Alezo.
Jemima mengangguk lesu. Alezo lalu berdiri dan mengajak Jemima kembali ke kamar.
"Mungkin karena kau kelelahan. Aku akan mengusap rambutmu agar kau tertidur,"
Jemima terhenyak. Alezo masih mengingat ia pernah mengatakan tentang kebiasaannya jika susah tidur saat kecil dulu. Ibunya akan mengusap rambut Jemima hingga ia pun tertidur.
Jemima langsung merebahkan tubuh di kasur dan memunggungi Alezo. Ia lalu merasakan usapan Alezo di rambutnya. Sayangnya matanya justru semakin tak bisa dipejamkan.
"Ada apa?" Tanya Alezo saat Jemima tiba-tiba duduk dan bersandar.
Jemima mengangkat bahu. "Aku lelah tapi mataku tak bisa terpejam," jawab Jemima sambil menoleh ke arah Alezo di sebelahnya.
"Apa karena ada aku di sini?" Tanya Alezo. "Apa kau terganggu?"
Jemima menggeleng cepat. "Tidak...bukan karena itu,"
Mereka berdua saling memandang satu sama lain. Entah siapa yang memulai kini bibir mereka telah menyatu. Rindu yang menggebu mematahkan akal sehat Jemima. Ia membiarkan tubuhnya terbuai dengan cumbuan Alezo hingga saat ini terkungkung di bawah tubuh pria itu.
"I miss you," lirih Alezo menatap mata Jemima yang sendu.
Jemima meraih kedua pipi Alezo dan mengusapnya lembut.
"I miss you too," balas Jemima.
Alezo kembali mencumbu bibir Jemima. Kali ini terasa lebih mendesak dan memaksa.
"Should I stop it?" Tanya Alezo di tengah ciuman mereka. "Say stop dan aku akan berhenti,"
Nafas Jemima tersengal karena tubuhnya dikuasai hasrat. Ia menggeleng, pertanda tak ingin Alezo berhenti. Hingga akhirnya Alezo tak lagi mengenakan kausnya dan tubuh bagian atas Jemima terekspos karena Alezo melepas piyamanya.
***