
POV : Najla
Najla menatap selembar undangan konser Magnolia Family yang ia pegang. Besok adalah acara tahunan dimana seluruh artis Magnolia akan konser. Tentu saja konser ini begitu dinantikan karena Magnolia adalah gudangnya para artis besar. Tiket konser bahkan sudah sold sejak satu bulan lalu.
Para artis Magnolia boleh memberikan undangan pada keluarga atau kerabat untuk hadir menyaksikan langsung. Setiap tahun Najla selalu mengirimkan undangan kepada kedua orangtuanya, namun mereka tidak pernah hadir. Tidak berguna, kata mereka. Sementara Najla tidak memiliki teman selain rekan-rekan sesama artisnya atau staff Magnolia.
Najla menghela nafas panjang. Setiap tahun tidak ada seseorang yang secara spesial datang untuk menonton konsernya. Tidak ada yang akan menyambutnya di belakang panggung dengan pelukan hangat dan ucapan bangga. Ia dan Jemima, sahabatnya yang bernasib sama seperti biasa mereka akan saling menguatkan dan memuji penampilan masing-masing lalu berakhir dengan menginap dan menangis bersama Kemudian Calla dan Brie akan bergabung untuk menghibur. Lucunya mereka berdua juga akan ikut menangis tersedu-sedu.
Najla memasukkan undangan yang ia pegang ke dalam tas. Ia tak akan mengirimkan kepada orangtuanya. Toh percuma. Najla hanya akan menerima penolakan dan hinaan. Sepertinya ia memang sudah tak dianggap oleh keluarganya. Prestasi dan karya-karyanya tak mampu menjebol benteng yang dibangun kedua orangtuanya. Di mata mereka Najla tetap anak bodoh.
Najla melangkah keluar dari apartemennya. Hari ini ia akan melakukan gladi resik untuk persiapan konser. Najla akan menjadi pembuka lalu berduet dengan Jemima membawakan lagunya, sehingga sahabatnya itu benar-benar berlatih keras untuk menarikan koreografinya.
Najla tiba di Flanco Park bersamaan dengan Jemima. Mereka berdua lalu berlari kecil saling mengampiri dan berpelukan, lalu melompat kecil beberapa kali, persis anak kecil yang bertemu temannya. Sementara manager mereka hanya saling memandang dan menggelengkan kepala. Dasar anak PAUD, kira-kira begitu isi kepala mereka.
"Penggemarmu pasti akan terkejut melihat kau menyanyikan laguku!" Seru Najla riang sambil menguncir rambutnya.
Ia lalu mengenakan kacamata hitam karena matahari bersinar terik sehingga suasana panggung sangat menyilaukan.
"Aku harap mareka tidak menertawakanku menari," sahut Jemima.
"You look good while dancing. Aku kira kau perlu membuat sebuah lagu dimana kau akan menari," saran Najla yang disambut gelengan kepala oleh Jemima.
"No, thankyou,"
Najla lebih dulu berjalan menuju panggung untuk melakukan pengecekan sound. Para dancer yang akan tampil dengannya sudah bersiap di atas panggung. Najla baru akan mencoba microphonenya, tiba-tiba dihampiri oleh Bian, stage manager.
"So sorry Najla, kau batal menjadi opening," ujar Bian yang membuat Najla terperanjat.
"What? Are you kidding me? Hey aku sudah berlatih dengan konsep opening! What happen?" Seru Najla menggebu-gebu.
"I know...but...Blossom will take this," jelas Bian lagi.
"Maksudmu Blossom yang akan jadi opening? Lalu bagaimana dengan Jemima yang akan duet denganku? Bukankah penampilan kami berdua adalah kejutan?"
"Kau dan Jemima tampil setelah Blossom. That's all,"
Bian berlalu setelah berkata demikian meninggalkan Najla yang berkacak pinggang.
"Yang benar saja!" Umpat Najla geram lalu meletakkan microphone yang ia pegang.
Tanpa sengaja ia berpapasan dengan para member Blossom yang usia mereka jauh di bawahnya, namun tak memberikan salam atau sekedar senyuman.
"What?!" Ketus Najla sambil berbalik memperhatikan mereka yang berjalan bak peragawati.
Najla bergegas mencari Jemima. Hatinya terasa panas karena penampilannya digantikan oleh Blossom secara mendadak. Apalagi juniornya itu bersikap tidak sopan. Padahal dulu saat masih awal debut Najla sangat menghormati senior-seniornya. Tak lama kemudian Najla menemukan Jemima yang sedang menikmati mie instan cup pedas di ruang tunggu. Ia lalu duduk di sebelah Jemima dengan muka kesal dan melipat tangannya.
"Hey ada apa?" Tanya Jemima sambil mengunyah. "Kenapa mukamu seperti itu?"
Najla mendengus kesal. "Blossom is suck. ****, I hate them!" Jawab Najla berbisik namun tak dapat menahan umpatannya.
Jemima yang sedang menyeruput kuah mie nya seketika berhenti dan meletakannya di meja.
"Why did they do to you?"
"Kau tahu, mereka tiba-tiba menggantikanku sebagai opening. I know mereka sedang naik daun tapi bukan berarti menggeser penampilanku! Aku sudah berlatih untuk ini!,"
"Dan attitude mereka....astaga. Kenapa mereka bisa sesombong itu?!"
Najla benar-benar emosi. Rasanya ia tak lagi berenergi untuk konser malam nanti. Padahal ia begitu bersemangat karena akhir-akhir ini Magnolia lebih sering mengirimnya ke acara reality show sehingga ia sangat rindu tampil di panggung.
"Apa kau terkejut jika ku katakan bahwa harus menunda albumku karena mereka?"
Najla mendelik mendengar ucapan Jemima. Ia tahu betul album Jemima akan launching empat bulan lagi. Seluruh Magnolia tahu bahwa peluncuran album Jemima adalah proyek besar. Bahkan semua artis termasuk Najla harus menunda proyek apapun sebelum masa promosi Jemima berakhir. Karena pecuma, Jemima akan menguasai seluruh chart. Lalu sekarang Jemima yang menunda albumnya demi Blossom? Ini gila, pikir Najla.
"Keterlaluan. Sepertinya Magnolia benar-benar ingin membesarkan mereka," omel Najla merengut.
***
Najla memilih pulang ke hotel yang disediakan Magnolia setelah gladi resik. Ia harus istirahat untuk mempersiapkan penampilannya nanti malam. Tidur lebih menarik baginya dibandingkan ajakan Jemima untuk pergi ke tempat spa.
Najla merebahkan tubuhnya di tempat tidur begitu masuk ke kamar. Ia lalu meraih ponselnya untuk membuka instagram. Malangnya Najla, setiap hari ia hanya bisa melihat keluarganya dari foto-foto yang mereka unggah. Hatinya begitu teriris karena orangtua dan kakak-kakaknya hidup bahagia tanpa kehadirannya, seolah memang tak pernah ada Najla di kehidupan mereka sebelumnya. Bahkan pesan Najla pun tak pernah dibalas. Sebegitu tak berartikah ia di mata keluarganya sendiri?
Najla membuka profil Najma, kakak pertamanya yang cukup sering menunggah momen di instagram. Betapa terkejutnya Najla ketika mendapati foto yang sang ibu terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang oksigen dan infus yang melingkarinya. Apa yang terjadi pada Ibu, batin Najla tak tenang. Nuraninya sebagai anak memberontak. Ia seolah lupa akan perlakuan ibunya di masa lalu. Tanpa menunggu lama Najla keluar kamar untuk menuju rumah sakit Global Medika, seperti yang tertulis di caption foto yang diunggah kakaknya itu.
Najla tiba di rumah sakit dengan diantar oleh Farel, managernya. Ia bergegas turun begitu Farel menurunkannya di depan lobby rumah sakit. Setelah bertanya pada perawat di nurse station, Najla segera berlari ke arah lift untuk menuju lantai kamar tempat ibunya di rawat.
Lift terbuka dan Najla segera keluar. Matanya awas memperhatikan nomor kamar VVIP yang berjejer. Langkahnya kemudian berhenti setelah menemukan nomor kamar sang ibu. Najla menarik nafas panjang. Ia lalu membuka masker dan kacamata hitamnya. Meski tangannya terasa dingin karena takut, ia harus memberanikan diri membuka pintu dan masuk ke dalam untuk bertemu ibunya.
Najla mengetuk pintu dua kali lalu mendorongnya. Perlahan ia melangkahkan kaki ke dalam kamar. Najla dapat merasakan tubuhnya bergetar dan jantungnya berdebar kencang begitu ia berdiri di depan pintu dan mendapati ayah dan kedua kakaknya sedang menatap ke arahnya. Ekspresi mereka semua tampak terkejut dengan kemunculan Najla.
"Aku...aku datang untuk melihat Ibu," ujar Najla tergagap. Matanya menatap ke arah Widy, ibunya yang terbaring memejamkan mata.
"Apa yang terjadi pada ibu?" Tanya Najla pada siapapun yang bersedia menjawab pertanyaannya.
Najla lalu berjalan mendekat. Sungguh Najla benar-benar merindukan keluarganya . Saat ini betapa inginnya Najla dipeluk oleh kakak-kakak dan ayahnya. Sumpah mati tidak ada dendam di hati Najla. Ia tulus ingin kembali bersama orangtuanya, tanpa sedikitpun perasaan sakit hati. Sayang harapan Najla tak direstui semesta.
"Mau apa kau ke sini?" Sentak Sabri sang ayah.
Najla meremas kedua tangannya, berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Darimana kau tahu ibu di sini?" Kali ini Najma yang bersuara.
Najla terdiam. Ia melihat postingan Najma dengan akun palsu karena mereka semua memblokir akun Najla.
"Ak tidak masalah artis terkenal sepertimu berkeliaran di sini?" Sindir Najwa, kakak keduanya.
"Apa yang terjadi pada ibu?" Najla mengulang pertanyaannya. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Widy.
"Bukan urusanmu. Kau bukan siapa-siapa," sentak Sabri yang langsung menghujam sanubari Najla.
Mata Najla mulai terasa panas mendengar ucapan Sabri. Bagaimana mungkin ayahnya dapat dengan mudah mengatakan hal menyakitkan itu pada darah dagingnya sendiri?
Sekuat tenaga Najla semakin mendekatkan jaraknya dengan ranjang Widy. Ia menatap nanar wajah sang ibu yang begitu pucat. Betapa inginnya Najla memeluk Widy karena tak tega melihat kondisinya. Tangannya baru saja akan menyentuh tangan Widy ketika Najma tiba-tiba menarik tangannya kencang.
"Seharusnya kau tidak lupa bahwa kau bukan lagi bagian keluarga ini," sentak Najma sengit dengan tatapan menyakitkan.
"Kenapa kalian masih saja membenciku? Apa salahku sebenarnya sehingga kalian menendangku?" Pekik Najla menahan sesak.
"Menendangmu? Kau yang memilih pergi!"
Najla terdiam. Benar memang dia yang memilih pergi. Namun itu karena ia tak tahan lagi dengan makian kedua orangtuanya. Di tambah Najma dan Najwa tidak pernah membelanya sedikitpun.
"Setidaknya biarkan aku melihat Ibu kali ini. Bagaimanapun aku tetap anaknya," ujar Najla sambil mengusap air matanya yang tanpa tertahankan mengalir membahasi pipinya.
"Pergilah!"
Tubuh Najla tersentak mendengar bentakan Sabri padanya. Ia menatap Sabri yang memandang sinis padanya. Hati Najla benar-benar hancur. Ia diperlakukan bak orang asing nan jahat oleh keluarganya sendiri.
"Ayah...sampai kapan ayah akan membenciku? Apa ayah akan senang jika aku mati? Apa aku benar-benar hina di mata ayah? Hah?!" Jerit Najla tak kuasa menahan emosinya.
"Diam, kau!"
Najla baru saja akan menjawab ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka.
"Selamat siang. Saya dokter yang akan menangani Ibu Widy Sanjaya,"
Najla membalikkan badannya dan tanpa sengaja berhadapan dengan sang dokter. Ia terkesiap dan seketika menghapus air matanya dan segera keluar. Bagaimana dia ada di sini, pikir Najla.
Najla lalu berjalan menuju lift setelah dari toilet untuk mencuci mukanya yang terlihat sembab karena menangis. Ia baru akan masuk ke lift ketika mendengar sebuah suara menyapanya.
"Hey. Kau di sini rupanya,"
Najla menoleh dan mendapati Neil ikut masuk bersamanya ke dalam lift. Ia tak menjawab. Neil melihatnya menangis, pasti ia paham ada sesuatu yang terjadi.
"Aku kira kau sedang tidak baik-baik saja," tukas Neil lagi.
"Kau melihatnya," jawab Najla lemah.
"Sebenarnya...aku mendengar semuanya,"
Najla mendelik mendengar ucapan Neil. Jadi Neil mendengar percakapannya saat di kamar rawat tadi?
Sejurus kemudian pintu lift terbuka dan Najla segera keluar. Ia merasa malu pada Neil. Namun teryata Neil tiba-tiba meraih tangannya.
"Apa kau ingin tahu keadaan ibumu?" Tanya Neil.
Najla terdiam. Ia ingin tahu keadaan sang ibu dan kebetulan Neil adalah dokternya.
"Ya. Tentu," jawab Najla.
Ia menurut ketika Neil mengajaknya ke cafetaria rumah sakit. Mereka berdua lalu duduk setelah Neil memesan dua iced americano.
"Ibumu mengalami jantung koroner. Ada penyempitan di pembuluh darah dan harus dioperasi untuk memasang ring. Operasinya akan dilakukan besok pagi, dan aku yang akan melakukannya," jelas Neil.
Najla menghela nafas. "Aku tidak pernah tau ibuku memiliki penyakit jantung,"
"Aku baru saja akan masuk ketika mendengar percakapan kalian. Tadinya aku berpikir untuk menundanya, namun perasaanku tidak enak ketika mendengar teriakan yang ternyata itu adalah suaramu,"
Najla menunduk. Ia tidak pernah menceritakan tentang keluarganya pada orang lain kecuali pada Jemima. Namun Neil secara langsung melihatnya sendiri.
"It was embarrassing," tukas Najla kemudian.
Neil menggeleng. "Tidak. Kau tak perlu malu dengan temanmu. Ah, tetanggamu,"
Najla mengangkat kepalanya menatap Neil yang tersenyum.
"Aku tidak tahu bagaimana menghiburmu. But I promise I'll do my best untuk operasi ibumu besok. Aku akan mengabarimu," lanjut Neil lagi.
Najla tertawa kecil. Ia benar-benar lega bertemu Neil. Setidaknya ia dapat mengetahui kondisi sang ibu tanpa harus melewati kedua kakak dan ayahnya. Dokter yang menangani adalah temannya, Neil.
"Thankyou, Neil. Kau baik sekali," sahut Najla.
Najla lalu mengeluarkan undangan konser Magnolia dari tas lalu memberikannya pada Neil.
"Aku tidak tau bagaimana berterimakasih padamu yang I don't know how bisa selalu ada saat aku kesusahan..."
"Ini, terimaalah. Malam ini konser Magnolia. Kau bisa datang dengan adikmu. Dia penggemarku, bukan?" Ujar Najla sambil menyerahkan undangan pada Neil.
"Wow. Maura akan melompat kegirangan menerima ini," ucap Neil.
Najla tersenyum. "Katakan padanya ia juga mendapat akses ke belakang panggung. Tinggal katakan dia sepupuku,"
"Jadi sebenarnya ini undangan untuk keluarga? Kenapa kau berikan padaku?" Tanya Neil keheranan.
Najla menarik nafas. "Karena setiap ku berikan pada keluargaku selalu berakhir di tempat sampah," jawab Najla yang membuat Neil menelan ludah.
***