
Jaga malam kali ini sama sekali tak membuat Neil mengeluh. Ia justru senang karena ia dapat menemai Najla lebih lama. Sejak Najla mengalami hal buruk yang membuatnya celaka, Neil tak ingin jauh dari gadis itu. Meskipun hatinya hancur karena Najla bersikap canggung karena tak mengingat Neil.
Neil baru saja akan membuka pintu namun urung karena ia mendengar Najla sedang berbicara dengan seseorang yang ia tebak adalah Farel.
"Apa dokter itu benar-benar temanku?" Terdengar suara Najla bertanya.
"Ya. Bahkan kau mengundangnya saat konser Magnolia dan kau pulang bersamanya," jawab Farel.
"Benarkah? Sungguh aku tak mengingatnya sama sekali. Bagaimana aku bisa berteman dengan dokter pendiam sepertinya?"
Neil menelan ludah mendengar pertanyaan Najla yang ternyata meragukan hubungan mereka.
"Rasanya benar-benar canggung saat dia menjenguk dan bersikap baik padaku. Aku melihatnya sebagai orang asing,"
Neil tertampar. Benar, saat ini ia hanyalah orang asing di mata Najla. Bukan teman apalagi kekasih. Tunggu, apa mereka benar-benar menjalin hubungan? Atau lebih tepat disebut sebagai pendekatan? 'Ah tapi kalian berciuman dan berpelukan,' jerit batin Neil.
"Tenanglah. Dia memang baik. Apalagi kalian bertetangga di apartemen. Setidaknya setelah kau pulang dia bisa menjagamu sesekali," tukas Farel.
"Tidak perlu. Aku tidak bisa menerima orang asing di unitku,"
'Bahkan aku sudah berada di tempat tidurmu, Najla!' Lagi-lagi batin Neil meronta.
Neil akhirnya membatalkan niatnya menjenguk Najla. Ia berjalan menuju ruangannya dengan perasaan tak menentu. Neil benar-benar memulai dari nol jika ingin memperbaiki hubungannya dengan Najla, dimana belum tentu akan berakhir sama dengan sebelumnya.
***
Neil terbangun saat alarmnya berbunyi. Ia terkejut ketika mendapati dirinya ternyata tertidur di depan komputer. Sepertinya tadi malam tidak ada pasien darurat karena tak ada yang membangunkannya.
"Astaga pegal sekali," keluh Neil sambil meregangkan tubuhnya.
Ia kemudian bangkit dan bersiap untuk pulang. Beruntung hari ini jadwal prakteknya kosong sehingga ia bisa bersantai. Setelah mencuci muka ia pun keluar ruangan lalu menguncinya.p
Neil menimbang-nimbang untuk menjenguk Najla. Ia sudah tiba di lantai tempat ruang perawatan Najla namun tiba-tiba hatinya terasa bimbang mengingat Najla yang tak nyaman dengannya. Neil pun kemudian kembali masuk lift dan menekan tombol basement untuk menuju parkiran.
Neil tiba di apartemen dan langsung menuju unitnya. Ia baru saja akan menekan sandi kunci pintunya ketika matanya menangkap seseorang berdiri di depan pintu unit Najla. Neil memperhatikan dengan seksama sosok perempuan yang menekan bel berkali-kali. Tentu saja pintu tidak akan terbuka karena tak ada orang di sana.
"Permisi. Anda mencari Najla? Dia sedang tidak ada di dalam," ucap Neil.
Perempuan itu lalu berbalik. Neil seketika merasa familiar dengan sosok di hadapannya. Namun siapa dan dimana mereka bertemu?
"Dokter Neil?"
Neil mengangkat alis. 'Dia mengenalku,' batinnya.
"Saya...saya pasien Anda. Saya...ibu Najla,"
Neil tercekat mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Ia pun langsung mengingat dengan baik sosok tersebut. Otaknya pun langsung memutar memori bagaimana ia dan keluarganya memperlakukan Najla.
"Oh...ya. Ibu Widy," ucap Neil tersenyum.
"Dokter...apa benar Anda kekasih Najla?" Tanya Widy.
Neil menelan ludah. Salahnya dulu berteriak akan menikahi Najla.
"Hm...sebenarnya..."
"Terimakasih sudah mencintai putriku. Lalu...dimana Najla saat ini, Dokter?" Potong Widy sehingga Neil tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
"Najla...Najla sedang di rawat di rumah sakit," jawab Neil.
Widy terhenyak. Ia menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangan.
"Apa yang terjadi pada Najla, Dokter? Dia sakit?"
'Lebih parah dari itu,' batin Neil. Sebenarnya Neil merasa aneh dengan kehadiran Widy mencari Najla. Apalagi sorot wanita itu menunjukkan kerinduan. Kenapa, ada apa? Ia pun membetulkan letak kacamatanya sebelum memberitahu Widy kondisi Najla.
"Dia...kecelakaan,"
"Astaga...anakku...Najla..."
Kini Widy benar-bener terperanjat. Ia bahkan terduduk di lantai hingga Neil refleks meraih tubuhnya.
"Anda bisa melihatnya di rumah sakit sekarang. Keadaannya sudah membaik," jelas Neil.
Widy pun kemudian dengan susah payah berdiri dan menjaga tubuhnya seimbang.
"Dokter...antarkan saya ke rumah sakit. Saya mohon..."
Neil tak kuasa menolak meski tubuhnya remuk redam. Ia lalu mengajak Widy untuk turun menuju mobilnya.
***
Najla sedang menikmati sebatang coklat sambil membaca buku, meski akhirnya ia menyerah karena kepalanya terasa pusing tiap ia fokus pada sesuatu.
"Astaga...aku benci kondisi ini," keluh Najla sambil memegang kepalanya yang masih diperban lalu menyandarkan tubuhnya.
Ia baru berencana untuk tidur saat pintu kamarnya terbuka dan mendapai Neil masuk bersama seorang wanita.
'Kali ini dia bersama siapa,' batin Najla. Sejujurnya ia pun masih belum bisa bersikap biasa pada Neil.
"Najla...Najla anakku,"
Najla melirik ke arah Neil, namun pria itu hanya diam tak memberi isyarat apapun.
"Najla..." lirih Widy, ibunya, setelah pelukan mereka terlepas.
"Anda...siapa?" Tanya Najla yang tak ingat akan Widy.
Widy terdiam. Ia menatap Najla bingung lalu beralih memandang Neil seolah meminta bantuan.
"Najla mengalami amnesia karena kecelakaan yang menimpanya," jelas Neil singkat lalu mengalihkan pandangannya.
"Oh Tuhan...Najla...Apa kau tidak mengingat ibu?"
Najla menggeleng bingung. Ia tak memiliki bayangan wanita di hadapannya saat ini adalah ibunya. Najla paham ia pasti memiliki seorang ibu. Tapi di memori otaknya sosok ibu baginya sudah meninggal meski ia pun tak tau bagaimana kejadiannya.
"Najla...ini ibu kandungmu, sayang. Ibu memang melakukan kesalahan membiarkanmu pergi lalu menolak kehadiranmu. Semua itu ibu lakukan karena terpaksa, Najla. Ibu mencintaimu dan selama ini ibu pun tersiksa..."
Najla bergeming. Sungguh ia tidak tahu harus merespon apa karena di matanya saat ini wanita yang mengaku ibunya adalah orang asing.
"Aku...aku tidak ingat siapa Anda..."
Tangis Widy semakin kencang mendengar kalimat yang dilontarkan Najla dengan wajah datar. Ia lalu meraih bahu Najla dan mengguncangnya.
"Ibu mohon, Najla. Ingatlah Ibu, Nak. Ibu yang memberimu nama Najla. Ibu yang selalu berdoa untukmu...Jangan begini, Najla. Ibu baru akan memutuskan untuk bersamamu lagi. Kenapa kau melupakan ibu...kenapa..."
Najla tak berkutik saat tubuhnya terguncang. Ia lalu sekuat tenaga mencoba mengingat sosok ibunya adalah wanita yang di hadapannya. Namun hasilnya nihil. Tak ada memori yang terputar. Justru kepalanya terasa sakit hingga membuatnya meringis.
"Aw...ah...kepalaku...ah sakit..." keluh Najla sambil terpejam dan memegang kepala dengan kedua tangannya.
"Najla...Najla...kamu kenapa, sayang?" Ujar Widy panik.
Neil kemudian meraih tangan Widy dan mengajaknya keluar untuk meninggalkan Najla setelah menekan nurse bell.
"Kondisi Najla sedang tidak baik. Anda tidak bisa memaksanya untuk mengingat karena itu akan menyiksanya," ujar Neil saat mereka berada di luar.
"Bagaimana saya akan bersamanya jika dia melupakan saya, Dokter?" Isak Widy.
Neil menarik nafas, bingung mencari jawaban atas pertanyaan Widy.
"Apa...apa Najla juga tidak ingat pada Dokter?"
Neil tertegun. Ia benci kenyataan dimana Najla melupakannya.
"Ya. Dia juha tidak mengingatku," jawab Neil getir.
***
Jemima dan Alezo mendarat dengan pesawat pribadi milik pengusaha Australia yang bersahabat baik dengan Alezo. Begitu mendengar kejadian yang menimpa Najla, Jemima menangis histeris dan ingin segera pulang. Sayangnya tak ada penerbangan pagi. Beruntung Alezo teringat akan Paul, sang pengusaha yang biasa berpergian ke luar negeri dengan pesawat pribadi.
Jemima membisu selama perjalanan dari bandara menuju rumah sakit. Siapa yang tak akan terpukul mengetahui sahabat tempatnya berbagi kehidupan mengalami hal naas. Apalagi Alezo mengatakan Najla mengalami amnesia. Sungguh Jemima tidak rela jika Najla melupakannya.
Global Medika tak terlalu ramai ketika Jemima dan Alezo tiba. Dengan bergegas mereka menuju kamar perawatan Najla. Jemima tak mampu menahan diri hingga ia langsung membuka pintu kamar dan berjalan cepat menuju ranjang Najla yang sedang tertidur.
"Najla..." gumam Jemima menahan kesedihan melihat kondisi Najla.
Tak disangka Najla terbangun dan langsung memandang Jemima.
"Jemima...."
"Yes, babe. This is me," ujar Jemima sambil meraih tangan Najla dan menggenggamnya erat.
Jemima terus mengelus tangan Najla hingga akhirnya sahabatnya itu menarik tangannya. Tentu saja Jemima kebingungan.
"Apa...kita sedekat ini?" Tanya Najla yang membuat Jemima tercekat.
"Najla...We are soulmate. Bagaimana kau melupakannya?" Ujar Jemima panik.
Najla menggeleng. Ia hanya hanya ingat Jemima sebagai rekan kerja, dan tak ada kedekatan di antara mereka.
"Sorry but...I can't remember..."
Jemima terisak. Terpukul dengan kenyataan bahwa Najla tak ingat akan cerita mereka.
Alezo lalu mendekat dan merangkul tubuh Jemima.
"Alezo..." gumam Najla.
Alezo mengangguk. "Ya. You remember me," jawab Alezo.
"Bisa kah kalian pergi? Aku lelah. Terlalu banyak hal yang aku pikirkan hingga kepalaku pusing. Tadi seseorang mengaku sebagai ibuku but I can't remember her. It's hard for me now. So...please leave me alone," tukas Najla memohon.
Jemima terdiam dengan air mata yang terus mengalir.
"Oke. Kami akan pergi. Kau beristirahatlah," ujar Alezo lalu mengajak Jemima keluar.
Sementara Najla membalikkan tubuhnya, menghindari tatapan Jemima dan Alezo yang begitu asing baginya.
***