
Bab 76
Alezo tak mengulur waktu saat menerima kabar bahwa Jemima dilarikan ke rumah sakit usai pingsan di bandara. Hari ini Jemima kembali dari tur promo albumnya dan Alezo terpaksa tak bisa menjemput karena ia ada meeting dengan Hexagon, agensinya. Namun setelah menerima telepon dari Tita, Alezo bergegas pergi. Sudah pasti Jemima kelelahan karena jadwalnya yang begitu padat, dan Alezo merasa kasihan karena wanita itu bekerja terlalu keras.
Alezo langsung membuka pintu kamar VVIP tempat Jemima di rawat dan mendapati Tita yang berdiri di samping ranjang. Wajahnya yang terlihat gusar membuat Alezo semakin khawatir dengan keadaan Jemima.
“What happen?” Tanya Alezo tak sabar.
“Jemima demam tinggi saat perjalanan di pesawat. Kami sudah memberinya penurun namun tak membantu hingga akhirnya ia collaps saat turun dari pesawat,” jelas Tita.
Alezo menghela nafas, miris membayangkan bagaimana Jemima bertahan dengan kondisi tubuh yang lemah. Ia memperhatikan wajah sang kekasih yang terpasang selang oksigen. Jemima tampak begitu pucat dan tak berdaya.
“Aku akan menjaga Jemima di sini,” ujar Alezo pada Tita.
“Baiklah. Aku sudah menyiapkan semua yang diperlukan Jemima. Jadwalnya juga sudah ku kosongkan hingga minggu depan,”
Alezo mengangguk mendengar penjelasan Tita. Tak lama kemudian ia pun berpamitan meniggalkan ruangan.
“Mima…kau bekerja terlalu keras…” gumam Alezo sambil berhati-hati menggenggam tangan Jemima yang dilingkari selang infus.
***
“Aku dimana?
Alezo terperanjat mendengar suara Jemima. Ia segera mendekat dengan sukacita karena Jemima telah sadar.
“Sweetheart…syukurlah kau sudah bangun,” ucap Alezo lega.
“Ada apa denganku?” Tanya Jemima.
“Kau pingsan di bandara, sayang. Sepertinya kau sangat kelelahan,”
Jemima terdiam sejenak, berusaha mengingat apa yang terjadi padanya.
“Ah…ya. Aku demam dan…ohh!!”
Ucapan Jemima terpotong karena mendadak merasa ingin muntah. Ia menutup mulutnya berusaha menahan rasa mual yang dahsyat. Beruntung Alezo dengan sigap mengambil wadah untuk menadahi.
“Alezo aku ingin muntah…hueekk…”
Tak tertahan lagi. Jemima mengeluarkan isi perutnya ke wadah yang dipegang Alezo.
“Astaga maafkan aku. Pasti kau jijik,” ucap Jemima setelah selesai.
Alezo menggeleng, menyangkal ucapan Jemima.
“Aku kuliah kedokteran. So ini adalah hal biasa,”
Jemima tak menjawab. Ia terlalu lemah untuk sekedar berbicara. Rasanya bahkan ia tak sanggup untuk sekedar duduk. Tulang belulangnya terasa diloloskan hingga ia tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
“Kau hanya demam biasa, don’t worry. Kau tak akan lama di sini,” ucap Alezo yang seolah membawa pikiran Jemima bahwa ia tidak suka berada di rumah sakit.
Jemima tersenyum. Mungkin memang sudah saatnya ia istirahat setelah bekerja terus menerus. Jika tak di rumah sakit mungkin Jemima tak akan ada waktu untuk sekedar istirahat. Setidaknya tetap ada Alezo di sampingnya, dan Jemima akan merasa baik-baik saja.
Sejurus kemudian pintu terbuka bersamaan dengan munculnya seorang suster.
“Tuan Alezo. Dokter Ares ingin bicara dengan Anda di ruangannya,” ujar suster tersebut ramah.
“Ah ya. Baiklah. Aku akan ke sana,”
“Mima, aku pergi sebentar,”
Jemima tersenyum mempersilahkan Alezo bertemu dokter. Lagi pula ia masih merasa mengantuk dan ingin memejamkan mata untuk beberapa saat.
Di ruangan Dokter Ares, Alezo mematung setelah mendengarkan penjelasan tentang kondisi Jemima. Jantungnya berdebar tak karuan setelah mengetahui Jemima tak mengalami demam biasa.
“Aku yakin Anda pasti terkejut,” ucap Dokter Ares dengan raut wajah datar.
“Ya…Tentu saja. Aku bahkan tak percaya,”
“Hasil pemeriksaan ini nyata, dan kita tidak bisa memungkirinya,”
Alezo mengangguk lemah, tak mampu menampik ucapan salah satu dokter senior di rumah sakitnya itu. Kini yang membebaninya adalah bagaimana menyampaikan hal ini pada Jemima
“Terimakasih, Dokter,”
Usai berkata demikian Alezo pun pamit. Sepanjang lorong menuju ruang rawat Jemima ia tak berhenti memikirkan kondisi sang kekasih. Rasanya seperti mustahil, sungguh di luar bayangannya. Jika Alezo saja berpikir demikian, apalagi Jemima sendiri. Gadis itu akan terkejut setengah mati, dan entah bagaimana ia akan bereaksi.
***
Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi Jemima setelah akhirnya ia pulang dari rumah sakit. Tiga hari dirawat benar-benar membosankan. Beruntung kondisinya membaik dengan cepat sehingga kini ia sudah merasa segar.
“Alezo, aku ingin makan pizza!” Seru Jemima begitu mereka tiba di apartemen.
Alezo mengangguk mengiyakan permintaan Jemima. Ia lalu meraih ponselnya dan memesan pizza kesukaan Jemima.
Jemima lalu membuka kulkas dan meraih kaleng soft drink. Ia baru saja akan membukanya ketika Alezo dengan cepat menyambar kaleng yang ia pegang.
“No. Kau tidak boleh meminum ini,”
“Why?”
Alezo tak menjawab. Ia meletakkan kembali minumam itu ke dalam kulkas tanpa mempedulikan wajah cemberut Jemima.
Jemima beralih ke dapur mencari mie instan cup kesukaannya. Lidahnya rindu makan pedas, dan mie instan akan sempurna untuk menuntaskan seleranya. Namun lagi-lagi Alezo datang dan merampas mie yang ia pegang.
“Hey apa-apaan?!” Serunya.
“Sweetheart. No spicy food for now, ok? Jika kau lapar aku akan memesan makanan lain yang lebih sehat,”
“Kalau begitu aku akan memesan kopi…”
“No. No cafein for you,”
Jemima mendengus. Kali ini ia kesal karena semua yang ia inginkan tak boleh ia dapatkan.
“What’s wrong with you?”
Alezo kemudian mendekat dan meraih baju Jemima.
“Dokter mengatakan mulai sekarang kau harus mengkonsumsi makanan sehat. Kau tidak bisa lagi makan dan minum sembarangan. Ini demi kesehatanmu…”
Jemima terdiam mendengar penjelasan Alezo. Seketika ia memiliki firasat ada sesuatu yang terjadi pada tubuhnya hingga Alezo berkata demikian.
“Mungkin ini berat buatmu namun kau harus benar-benar meninggalkan makanan dan minuman yang tidak baik untuk kesehatanmu…”
“Alezo…apa ini berkaitan dengan kondisi kesehatanku kemarin?” Tanya Jemima.
“Ya…begitulah…”
Jemima seketika merasakan darahnya berdesir dan pikirannya disergap ketakutan.
“Apa aku…mengidap penyakit parah? Apa aku terkena kanker atau semacamnya?” Desak Jemima.
“Mima…”
“Oh Tuhan…”
Jemima berjalan menuju sofa dan menjatuhkan badannya. Ia menutup wajahnya gusar. Ekspresi wajah Alezo yang tampak pias meyakinkan dirinya bahwa pria itu memang mengetahui sesuatu yang buruk. Ia masih bergeming saat Alezo kini duduk di sebelahnya.
“Mima…dengarkan aku dulu…”
Jemima menggeleng. “Apa penyakit itu mematikan? Apa yang harus aku lakukan agar bisa sembuh?” cecarnya gusar.
Air mata Jemima semakin mengalir karena ketakutannya. Dulu ia memang berharap terkena penyakit hingga ia bisa pergi meninggalkan dunia yang terlalu keras. Namun kini ia telah merasakan kebahagiaan, ternyata mati adalah hal yang sangat menakutkan. Terlebih ia memiliki seseorang yang ia cintai.
“Hey…kemarilah,” ucap Alezo lalu memutar badan Jemima agar mereka berhadapan.
Jemima tak menolak saat Alezo menangkup kedua pipinya dan menyeka air mata dengan jemarinya.
“I don’t know how to tell you. Aku pun bingung bagaimana memberitahumu…”
“Just tell me now…” balas Jemima terisak, berusaha kuat mendengar ucapan apapun dari Alezo.
“Kau tidak menderita penyakit apapun…”
“Lalu?” Potong Jemima cepat dengan dahi berkerut, tak sabar menunggu kalimat Alezo.
Alezo kemudian menghela mafas dan menggenggam kedua tangan Jemima.
“Kau…hamil,”
“What?! Alezo please don’t kidding me!” Seru Jemima tak percaya.
Alezo kemudian meraih tas dan mengambil sesuatu dari dalamnya.
“Dokter melakukan tes pada urinmu dan…ini hasilnya,”
Jemima meraih benda pipih yang diberikan Alezo. Ia terbelalak melihat dua garis merah yang terpampang nyata.
“Sudah empat minggu…” lanjut Alezo yang kini memberikan sebuah kertas hasil pemeriksaan USG.
“Apa ini?” Tanya Jemima memandang kertas tersebut keheranan.
“Itu hasil USG janin di perutmu…” jawab Alezo.
Jemima terperangah. Ia membaca nama pasien yang tertera di kertas tersebut. Jemima Tsamara, benar namanya. Namun bagaimana mungkin? Ia bahkan dulu divonis tak akan bisa hamil karena masalah pada rahimnya. Lalu kini ia hamil?
“Ini…gambar anakku?” Tanya Jemima lirih sambil menatap Alezo yang juga berkaca-kaca.
“Ya…What a miracle…” tukas Alezo.
Benar, ini sebuah keajaiban. Kuasa Tuhan mampu menyingkirkan vonis dokter.
Jemima kemudian menghambur ke pelukan Alezo. Rasa takut berganti dengan perasaan bahagia yang tak terlukiskan. Jemima dapat merasakan air mata Alezo yang jatuh di bahunya, pertanda perasaan sang kekasih pun sama, haru dan bahagia.
“Are you happy?” Tanya Alezo setelah pelukan mereka terlepas.
Jemima mengangguk cepat, pertanya ia benar-benar bersuka cita.
“But…masih ada satu hal lagi yang harus kau tahu,” ucap Alezo membuat Jemima penasaran.
“Kau lihat dua titik ini?” Tanya Alezo sambil menunjukkan kembali kertas hasil USG pada Jemima.
“Hmm…ya. Apa itu?”
“Ini kantong kehamilan. Ada dua yang artinya…kembar,”
“Haaaah?” Seru Jemima terkejut.
Alezo mengangguk tersenyum, merasa lcuu dengan ekspresi Jemima.
“Jadi..ada dua calon bayi di dalam sini?” Tanya Jemima sambil memandang perutnya yang masih rata.
“Yes,” jawab Alezo.
Mereka berdua kembali berpelukan meluapkan rasa bahagia yang tak terkira. Ternyata benar adanya keajaiban itu nyata.