Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 75



Haaaaai I’m back! Maafkan aku menghilang beberapa hari. Aku janji mulai hari akan rutin lagi buat lanjutin Jemima dan Alezo. Soooo happy reading❤️


"Oh Tuhan tiket launching albummu sold out!"


Jemima sontak menutup mulutnya sebagai ekspresi terkejut atas ucapan Tita. Jemima benar-benar tak menyangka tiket peluncuruan albumnya ludes tak tersisa dalam waktu tak sampai dua hari.


"Secepat itu?" Tanya Jemima masih tak percaya.


Tita menaikkan kedua alisnya sebagai jawaban 'iya' untuk pertanyaan Jemima.


"Albummu kali ini benar-benar dinantikan. Aku dengar penggemarmu juga penasaran apa Alezo akan datang menonton,"


"Ah itu...aku juga membaca komentar mereka di instagram. Kenapa mereka seantusias itu pada hubunganku dengan Alezo," ucap Jemima tergelak.


"Shipper kalian berdua memang luar biasa. Mereka gembira karena kapal kalian berlayar," canda Tita.


Tawa Jemima semakin lepas. Ia teringat saat ia dan Alezo masih sebatas rekan kerja. Penggemar menciptakan teori-teori konyol tentangnya dan Alezo. Bahkan foto-foto mereka yang tanpa sengaja bertema serupa atau warna baju yang senada dianggap sebagai 'takdir' bahwa ia dan Alezo memang berjodoh.


Apalagi saat membayangkan kegalauannya karena menyangka rasa sukanya pada Alezo bertepuk sebelah tangan. Jemima selalu merasa malu dan meledek dirinya sendiri. Untung Alezo juga merasakan hal yang sama hingga mereka resmi menjadi kekasih. Jika tidak, Jemima akan mengkasihani dirinya sendiri karena harus gigit jari mencintai Alezo dalam hati.


"Ini vitaminmu, minumlah. Sebentar lagi kita berangkat," tukas Tita membuyarkan pikiran Jemima.


Ia lalu menerima tablet vitamin dan segelas air putih yang disodorkan Tita. Mereka harus segera ke Magnolia untuk berlatih persiapan konser peluncuran albumnya minggu depan.


Jemima terlihat ceria seperti biasa, sampai-sampai Tita tak sadar bahwa ia daritadi tak berhenti memeriksa ponselnya karena hingga petang Alezo tak kunjung membalas pesan atau menelepon. Jemima resah, karena hari ini Alezo berangkat ke Pulau Maloa, sebuah pulau kecil yang menjadi lokasi syutingnya.


Ia tak akan gelisah jika masih mendengar nada tunggu ponsel sang kekasih, bukannya hening pertanda tak nyala.


***


Neil terbangun saat mendengar alarm di ponselnya berbunyi. Ia lalu menggeliat meregangkan tubuhnya yang sudah tertidur selama sepuluh jam sejak ia pulang ke apartemen setelah jaga malam di rumah sakit. Neil tak kuat menahan kantuk dan lelah setelah mengerjakan dua operasi mendadak. Beruntung ia tak ada agenda hari ini hingga ia bisa berhibernasi.


"Astaga kenapa aku masih merasa lelah..." gumam Neil sambil meraih ponselnya di atas nakas.


Ia berniat segera menghubungi Najla karena sudah berjanji pada kekasihnya itu. Rasanya pasti menyenangkan jika mereka menghabiskan senja hingga malam bersama.


Neil baru saja akan menekan nomor ponsel Najla ketika notifikasi instagram muncul, dimana Najla baru saja mengunggah sebuah foto.


"What?! Oh God what is this Najla?! This girl...oh ****!"


Neil sontak berseru karena terkejut melihat foto Najla berbalut pakaian dalam sporty. Walaupun Najla berpose badass namun tetap saja lekuk tubuhnya terpampang nyata. Tak menunggu lama Neil segera turun dari tempat tidur dan bergegas menuju unit Najla.


Pintu terbuka setelah Neil menekan bel berkali-kali. Sosok Najla bahkan belum sempat muncul namun Neil tak ayal segera masuk hingga membuat gadis itu terdorong.


"Hey what's wrong? Apa kau sudah sadar dari hibernasimu?" Tanya Najla yang memegang sekaleng beer.


Neil kemudian meraih kaleng beer yang dipegang Najla lalu meletakkannya ke meja. Ia berusaha tetap tenang setelah nenyadari Najla hanya mengenakan tanktop dan hotpants. Tatapan bingung gadis itu membuatnya semakin menggemaskan hingga membuat Neil mati-matian menahan hasratnya.


"Sejak kapan kau berani mengunggah foto sexy di instagram?" Tanya Neil sambil menunjukkan foto Najla di ponselnya.


"Wow. Ternyata terlihat lebih bagus dari ponselmu," jawab Najla sambil tersenyum.


Neil menghela nafas. Apa Najla tidak menyadari ia sedang marah?


"I mean...why did you post it? Memamerkan tubuh dan otot indahmu? Just...just why?" Cecar Neil gusar.


"Itu karena aku menjadi brand ambassador. Aku ternyata sudah menandatangani kontraknya sebelum kecelakaan dan baru melakukan pemotretan. Come on, Neil. Nothing wrong with that," balas Najla santai.


Neil tercengang mendengar jawaban Najla. Ternyata sang kekasih menganggap biasa foto sexynya yang mendapat like hampir tiga juta.


"That's my job, Neil," tukas Najla lagi. "Aku senang melakukannya,"


Neil menelan ludah. Benar juga. Najla adalah artis papan atas yang tentu saja harus profesional dengan segala pekerjaannya.


"Mungkin bagimu tak biasa. But yeah, this is my job,"


Neil terdiam. Dalam hati mengaku salah. Harusnya ia mengerti. Bahkan harusnya ia mengucapkan selamat karena Najla menjadi brand ambassador merk internasional, bersanding dengan para artis Hollywood. Najla bukan sekedar memamerkan tubuhnya, namun mempresentasikan brand yang mempercayainya. Neil harus bisa memandang situasinya dari kacamata seni dan entertainment.


"Ehm...I'm sorry. Aku...aku hanya terkejut...tak terbiasa," ucap Neil tergagap.


Najla tersenyum, lalu mendekat dan melingkari tubuh Neil dengan kedua tangannya.


"I know. Dunia pekerjaan kita benar-benar jauh berbeda. Seorang dokter berkencan dengan selebriti. Bagai bumi dan langit, bukan? Tapi kita harus saling mengerti,"


Neil membalas pelukan Najla, menghirup dalam-dalam pucuk kepala Najla lalu mengecup singkat bibir gadis itu.


"Aku selalu suka aroma tubuhmu," ucap Najla yang semakin menyurukkan wajahnya ke dada Neil.


Neil tertawa, merasa geli karena kini hidung mancung Najla berada di lehernya.


"Hey stop it..." gelak Neil "Naughty girl,"


"What? Naughty?!" Seru Najla tak terima.


Ia lalu menjauhkan tubuh dari Neil dan menguncir rambutnya sambil terus menatap tajam Neil.


Neil tak bergerak menunggu apa yang akan di lakukan sang kekasih. Memukulnya? Mencubit seperti biasa? Atau menggelitiknya karena Najla tau ia tak kuat menaham geli.


"Apa yang akan...."


Kalimat Neil menggantung karena Najla tiba-tiba mendorongnya hingga terduduk di sofa. Gadis itu lalu duduk di pangkuan Neil dan melingkarkan tangan di lehernya.


"Kau sudah cukup beristirahat, bukan?" Tanya Najla sambil mengelus lembut pipi Neil.


Neil mengangguk tersenyum, setenang mungkin menahan andrenalinnya yang terpacu.


"I present you the naughty girl," bisik Najla.


"Oh ****..." gumam Neil saat Najla membebaskan tubuh bagian atasnya dari balutan tanktop yang ia kenakan.


Sebuah kejutan di hari petang. Neil meringkuk tak berdaya setelah tenaganya kembali terkuras. Jangan tanya Najla. Ia tertidur pulas bagaikan pingsan setelah berteriak berkali-kali diterpa kenikmatan yang Neil berikan.


***


Jemima menggelengkan kepala saat memikirkan konser peluncuran albumya yang akan berlangsung lusa. Ia tak menyadari betapa hari berjalan begitu cepat, tak menunggu sesiapun. Jemima sudah tiga kali mengeluarkan album namun perasaan berdebar tak karuan jauh lebih terasa kali ini.


Sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Persiapannya sudah sangat matang, bahkan sempurna. Ia menyukai semua lagu barunya dan menyanyikannya dengan sepenuh hati. Tentu semua akan terasa baik-baik saja jika ada Alezo yang membersamainya sesuai janji sang kekasih.


"Cuaca di sini sangat buruk sehingga membuat jadwal syuting mundur..."


"Apa boleh buat..." tukas Jemima lemas.


"Aku pun sangat menyesal. Mima, I'm sorry. I feel bad but I can't do anything..."


Jemima menghela nafas panjang mencoba menepis kekecewaan yang mendalam. Ini adalah kali pertama ia meluncurkan album saat memiliki seseorang yang berarti dalam hidupnya. Jemima bahkan sudah berhayal Alezo akan duduk paling depan dan menikmati alunan merdu suaranya. Nyatanya Alezo malah terjebak di lokasi antah berantah nun jauh di sana untuk bekerja. Lagi-lagi Jemima harus menahan asa.


***


Hari H konser peluncuran album Jemima. Seluruh kursi sudah terisi penuh meski Jemima baru akan tampil tiga puluh menit lagi. Harusnya ada keluarga Jemima yang duduk di kursi VVIP seperti keluarga artis lainnya saat menonton konser anak mereka. Sayang Jemima tak pernah menyiapkan kursi tersebut bagi siapapun selama ini.


Beruntung mental Jemima sekuat baja. Meski hatinya tak tenang teringat Alezo yang kembali tak bisa dihubungi hingga lima menit lalu, Jemima tetap tenang tanpa drama. Ia lalu memotret wajahnya lalu mengirimkan pada Alezo, berharap sang kekasih akan melihatnya.


Aku akan tampil sebentar lagi. Doakan aku. I love you.


Jemima lalu menyerahkan ponselnya pada Tita. Ia kemudian bersiap dan berjalan menuju panggung. Meski berdebar Jemima pun tak sabar. Panggung adalah dunianya dan akan menjadi milik Jemima sepenuhnya saat ia di atas sana.


Setelah menundukkan kepala beberapa detik, Jemima mengeratkan pegangan pada microphone di tangan kanannya, bersiap menyapa semua yang ada dengan melodi indah nada yang berpadu dengan suara emasnya.


Selalu ada applause meriah untuk sang diva, seperti yang sedang menggelegar saat ini. Jemima yang berbalut gaun indah terlihat bagai jelmaan dewi. Tak ada yang tak tersentuh mendengar suara merdunya, bahkan tak sedikit yang meneteskan air mata. Lirik puitis tentang cinta disenandungkan begitu sempurna, mengusik hati sesiapa yang memendam cinta.


Hingga tiba saatnya Jemima menyanyikan lagu baru ciptaannya, yang ia tulis saat jatuh cinta dan tergila-gila pada Alezo. Benak Jemima dipenuhi bayangan sang kekasih dalam setiap bait lagu yang meluncur dari bibirnya.


Asaku ingin berjalan dengan gaunku


Mendekatimu yang menunggu haru


Altar 'kan menjadi akhir perjalanan cinta


Hingga kau dan aku abadi hingga ke surga


Lirik terakhir yang selesai Jemima nyanyikan disambut gemuruh tepuk tangan yanh menggema, melebihi yang sebelumnnya. Kini bahkan terdengar seruan yang memanggil namanya begitu kencang. Jemima tersenyum lebar sambil mengatur nafas yang terengah setelah mengeksekusi nada tinggi lagu gubahannya.


"Terimakasih dari hatiku yang terdalam untuk kalian semua..." ucap Jemima lalu membungkukkan badan.


Jemima merasa heran karena penonton semakin bersorak seperti kegirangan. Ah, mungkin karena mereka memang sudah lama tak menyaksikan penampilanku, batin Jemima dalam hati.


Ia pun lalu melambaikan tangan lalu membalikkan badan, namun seketika tercekat karena mendapati Alezo berdiri tersenyum manis dengan sebuket bunga mawar merah.


"Alezo..." ucap Jemima tercengang bagai melihat hantu.


Riuh suara penonton semakin kencang terdengar, seolah menjadi musik pengiring baginya dan Alezo.


Jemima merasakan tubuhnya membeku sehingga tak mampu bergerak. Ia hanya diam saat Alezo berpindah berdiri di sampingnya.


Tiba-tiba lampu panggung meredup, menyisakan sorot cahaya yang mengarah pada Jemima dan Alezo. Denting piano terdengar mengalunkan nada lembut, membuat Jemima merasa berada di suasana tak nyata. Terlalu indah, terlalu syahdu, terlalu haru.


"Alezo..." lagi-lagi Jemima hanya mampu menggumamkan nama sang lelaki.


Mata Jemima seketika melebar saar Alezo tiba-tiba berlutut. Ia baru sadar ternyata Alezo juga memegang sebuah microphone di tangannya.


"Apa kau bersedia berjalan di atas altar dengan gaun indah menujuku yang menantimu?"


Ucapan Alezo sontak membuat semua orang berseru. Bagaimana tidak. Mereka bagai menyaksikan sebuah drama secara langsung.


Jemima tak menjawab. Ia masih mematung tak tau harus berkata apa meski hatinya telah bersorak.


"Jemima, will you marry me?" Alezo mengulang maksud ucapannya sebelumnya.


Ya, Alezo melamar Jemima di atas panggung yang menjadi kehidupan Jemima selama ini.


"Oh Tuhan...Alezo..." Jemima tak tahan lagi menahan gemuruh di dadanya.


Air matanya tak terbendung. Sementara Alezo masih menatapnya tersenyum, menanti jawaban Jemima.


Setelah mengatur nafasnya, Jemima dengan suara bergetar berusaha mengucapkan kalimat singkat yang sebenarnya tak sulit diucapkan.


"I do. I do, Alezo,"


Usai Jemima berkata demikian Alezo lalu berdiri dan memeluknya erat. Jemima membalas pelukan sang kekasih dengan air mata yang terus mengalir. Dadanya terasa penuh karena kebahagiaan yang membuncah. Riuh tepuk tangan dan seruan semua orang seolah tak terdengar olehnya. Hingga kemudian Alezo mengecup bibirnya singkat setelah pelukan mereka terlepas.


"Bagaimana bisa?" Tanya Jemima yang tentu saja menyimpan rasa penasaran.


"Aku bisa melakukan apapun kalau itu tentangmu,"


"Ini benar-benar mengejutkan..."


"I love you, Jemima," sahut Alezo cepat.


"I love you more,"


***


Alezo yang melamar Jemima tentu saja menjadi berita hangat di seluruh media. Tentu saja, karena dua sejoli itu adalah pasangan selebriti pertama yang terbuka dengan hubungan mereka melakukan lamaran di depan publik. Sebuah sejarah di dunia entertainment yang sangat menggembirakan, baik bagi para selebriti maupun untuk para penggemar. Berkencan bukanlah sebuah skandal karena jatuh cinta adalah hak semua orang.


Jemima terbangun karena mendengar bunyi alarm ponsel. Ia baru saja akan meraih ponselnya di atas nakas ketika tubuhnya tertahan. Jemima menengok ke dalam selimut lalu tersenyum karena baru menyadari tangan Alezo melingkari pinggangnya. Tadi malam mereka tak kuasa berpisah saat setelah Alezo mengantarkan Jemima ke apartemennya. Rasanya sayang sekali melewatkan malam indah tanpa menghabiskan waktu bersama. Apalagi mereka tak bertemu beberawa waktu. Tentu malam tadi adalah waktu yang tepat untuk menuntaskan rindu.


Jemima mengangkat tangan kirinya dan memandang cincin yang disematkan Alezo di jari manisnya semalam. Benda berkilau itu tampak begitu indah dan Jemima bahagia karenanya. Bukan karena harganya yang setara satu unit apartemen, namun cerita dibaliknya yang membuat Jemima tak henti bersyukur memiliki Alezo.


"Hey. Wake up," ucap Jemima di telinga Alezo yang masih terlelap.


Alezo menggeliat, terbangun karena mendengar bisikan Jemima. Namun bukannya bangkit, ia justru semakin menarik Jemima ke pelukannya hingga tubuh polos mereka kembali melekat.


"Please, aku benar-benar tidak sanggup lagi. Kau membuatku lemas semalaman," ucap Jemima cepat karena Alezo mengelus tubuhnya.


"One more time..."


"No! Bangunlah. Aku harus mandi dan membuat sarapan," tegas Jemima.


"Kalau begitu aku juga akan mandi bersamamu,”


Jemima mencubit pelan lengan Alezo, tak peduli sang kekasih meringis kesakitan. Ia bergegas turun dan berlari kecil menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa pegal. Sayangnya Jemima lupa mengunci pintu, hingga akhirnya ia berteriak karena Alezo telah berdiri di belakangnya.


***