Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 25



POV : Neil


"What? Menikah?" Pekik Neil tak dapat menahan keterkejutannya saat Maura, adiknya mengatakan ia ingin menikah dengan kekasihnya.


"Sstt...pelankan suaramu!" Sentak Maura berbisik sambil melihat ke sekeliling cafe dan mendapati beberapa pasang mata menatap ke arah mereka.


"Kenapa kau senang sekali membuatku terkejut?" Omel Neil sambi melipat tangannya di dada.


Beberapa hari lalu Maura datang tiba-tiba tanpa memberi kabar setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Lalu sekarang Maura mengajaknya  bertemu di cafe dan dengan santainya ia mengatakan mau menikah.


Maura menghela nafas. "Pacarku juga baru mengatakannya kemarin, Neil. Makanya aku ingin segera bertemu denganmu hari ini,"


"Pria labil mana yang mengajak seorang wanita menikah secara mendadak?"


"Kami sudah berpacaran dua tahun!"


Neil mendengus. Sungguh Maura penuh kejutan. Dia tidak pernah bercerita sekalipun bahwa ia memilki pacar. Bagainana Neil tidak emosi sebagai kakak.


"Siapa pacarmu? Berapa umurnya? Apa seumuran denganku? Apa dia pria baik-baik?" Cecar Neil.


"Dia seniorku saat di akademi. Lulusan terbaik dan jabatannya jauh lebih tinggi dariku dan...."


Neil mengangkat alisnya menunggu kalimat Maura.


"Ayahnya jendral bintang empat," ucap Maura pelan.


"What? Jendral?" Kali ini Neil kembali berteriak karena ternyata kekasih Maura bukan orang biasa melainkan anak petinggi negara.


Maura sontak menutup mulut Neil dengan tangannya. Sungguh kalau bukan kakaknya Maura tidak segan-segan menghajar Neil.


"Sorry sorry. Aku hanya benar-benar terkejut," sesal Neil.


Ia lalu menyeruput hot americanonya lalu terdiam sejenak. Neil masih mencoba menyadarkan dirinya bahwa Maura memang sudah dewasa dan masuk usia menikah. Tidak ada yang salah sebenarnya. Hanya lubuk hati Neil yang terdalam ia belum rela adik semata wayangnya dimiliki pria lain selain dirinya. Ia yang menjaga Maura sejak kecil karena ibu mereka menitipkan dua beradik itu ke panti asuhan karena harus menjadi tenaga kerja di Arab Saudi dan tak pernah kembali karena kecelakaan merenggut nyawanya saat diperjalanan bersama majikannya. Sementara ayah mereka meninggal karena penyakit jantung yang tak diobati. Himpitan ekonomi membuat sang ayah memilih merahasiakan penyakit tersebut hingga akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir saat akan berangkat kerja. Ini lah alasan Neil kenapa ia mati-matian menjadi dokter spesialis jantung. Meski tak dapat membuat ayahnya kembali, setidaknya ia dapat menyelamatkan nyawa orang lain dengan penyakit yang sama. Neil yakin ayahnya bangga melihat ia dari atas sana.


"Kapan kalian berencana akan menikah?" Tanya Neil setelah hening sejenak.


"Dua bulan lagi,"


"Secepat itu? Apa yang membuat kalian begitu tergesa?"


"Dia akan dipindah tugaskan ke luar kota dan ingin membawaku. Tentunya kami harus menikah agar bisa bersama," jelas Maura.


"Artinya kau akan pergi setelah menikah?"


Maura mengangguk lemah.


Neil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Dadanya terasa bergemuruh mendengar penjelasan Maura. Adiknya sebentar lagi menikah dan akan tinggal jauh darinya. Sementara Maura adalah satu-satunya keluarganya. Jika Maura pergi ia tidak memiliki siapapun di sini. Ia yakin Maura akan baik-baik saja dengan suaminya kelak. Tapi bagaimana kalau Neil yang tidak baik-baik saja? Selama ini ia tetap merasa dekat dengan Maura karena mereka tinggal di kota yang sama. Ia masih bisa mengirimkan makanan ke asrama Maura. Kalau adiknya itu pindah tentu Neil akan sangat merasa kehilangan.


"Neil...." panggil Maura pelan. Ia menyadari ada perubahan dari wajah kakaknya itu.


"Ah, ya. Aku hanya...rasanya belum siap melepasmu," ungkap Neil jujur.


"Ini juga berat buatku sebenarnya," tukas Maura murung. "Tapi aku mencintainya, Neil..."


Neil tersenyum. "Tentu kau mencintainya. Dan aku senang kau menemukan pria yang tepat. Hanya saja...."


"Aku memikirkan apa keluarga petinggi negara seperti mereka tidak masalah dengan keluarga kita yang hanya ada aku dan kau,"


Akhirnya Neil mengungkapkan pikirannya. Maura hanya memilikinya sebagai kakak. Dulu ibu mereka tidak direstui menikah dengan sang ayah sehingga diusir oleh orangtuanya. Sementara keluarga ayah tak pernah mereka kenali sama sekali. Mereka hanya berdua melawan dunia hingga akhirnya mereka memenangkannya. Lalu sekarang Maura akan menikah dengan kekasihnya yang berasal dari keluarga terpandang. Bisakah mereka menerima Maura?


"Neil...aku sudah membicarakannya pada Habay, kekasihku tentang keluarga kita. Aku pun awalnya sangsi dan merasa tidak pantas untuknya. Namun kau tahu, justru ia yang menasehatiku agar bersyukur karena memiliki kakak yang hebat dan begitu menyayangiku..."


"Bahkan....bahkan ayah dan ibunya berjanji padaku akan menganggapku sebagai anak mereka sendiri sebagai pengganti orangtua kita..."


Maura terisak saat menyelesaikan kalimatnya. Hatinya begitu sakit setiap mengingat ia tak lagi memiliki ayah dan ibu untuk memberinya kasih sayang. Namun Tuhan seolah menghiburnya dengan mengirimkan Habayazi untuk membangun keluarga bersamanya kelak.


Neil menyodorkan tisu pada Maura untuk menghapus air matanya. Dalam hati ia merasa lega jika keluarga calon suami Maura dapat menerima adiknya itu. Maura akan kembali merasakan kasih sayang orangtua yang begitu ia rindukan. Itu sudah cukup bagi Neil.


"Syukurlah..." tukas Neil tersenyum. "Kalau begitu pertemukan aku dengannya,"


Maura mengganguk. Tentu ia dengan senang hati mempertemukan Habayazi dengan kakaknya.


"Aku akan mengatur waktu untuk itu. Dia juga tak sabar ingin bertemu denganmu karena aku hampir setiap hari membicarakanku," ujar Maura terkekeh.


"Kau bergosip tentangku dengan pacarmu?" Selidik Neil menyipitkan mata.


Maura lalu mengibaskan tangannya. "Aku menceritakan betapa pintar dan hebatnya kau hingga kau berhasil menjadi seorang dokter,"


Neil mengangguk. "Kalau begitu lanjutkan," ujarnya narsis.


"Tentu saja aku tambahi dengan keanehanmu dan hobi beryanyimu di kamar mandi,"


Neil menjitak pelan kepala Maura yang tertawa karena mengusilinya. Mereka kemudian larut dalam obrolan hangat sampai akhirnya Neil menerima telepon dari rumah yang sakit yang membuatnya beranjak secepat kilat karena ada pasien darurat.


"Dia benar-benar dokter teladan," gumam Maura sambil menggelengkan kepala lalu tersenyum senang meraih kartu atm milik Neil yang sengaja ditinggalkan untuk membayar.


Neil tentu saja harus bersiap-siap saldonya pasti berkurang drastis.


***


Neil melepaskan jubah operasi berikut sarung tangan dan tutup kepala yang ia kenakan lalu membuangnya ke tempat sampah. Operasi cito yang baru saja selesai ia kerjakan benar-benar menguras tenaganya. Beruntung pasien dapat tertolong dan denyut jantungnya kembali.


Neil berjalan menuju ruangannya untuk berganti pakaian dan mengambil kunci mobil. Saat hampir sampai ia menghentikan langkahnya karena mendapati Zura berdiri di depan pintu. Ada apa lagi dia ke sini, pikir Neil gusar.


"Neil!" Panggil Zura saat ia menyadari kehadiran Neil.


Gadis itu lalu berjalan mendekati Neil yang tiba-tiba merasa tubuhnya membeku.


"Kau baru selesai operasi? Kau pasti lapar, bukan? Aku membawakanmu makanan," ujar Zura menunjukkan kotak makanan yamg ia pegang.


"Aku sudah makan," jawab Neil singkat.


Tentu ia berdusta. Neil masih belum terbiasa dengan Zura yang tiba-tiba muncul dan bersikap manis padanya. Ia sudah nyaman dengan kehidupannya tanpa Zura setelah mereka berpisah, dan Neil tidak ingin terjebak dengan masa lalu mereka.


"Oh...begitukah," ujar Zura kecewa.


"Maaf. Aku hanya ingin mengambil kunci mobil dan pulang," tukas Neil sambil berlalu menuju ruangannya.


Sejurus kemudian Neil keluar dan ternyata Zura masih berdiri di tempat yang sama.


"Aku memasak ini untukmu. Setidaknya bawalah pulang untuk kau makan di rumah," ucap Zura sendu.


Neil terdiam. Zura memang mahir memasak sejak dulu dan Neil sangat menyukai masakannya.


"Aku...kenyang," ujar Neil. Dalam hati ia mengutuk dirinya yang pasti terlihat sebagai pria brengsek yang menolak pemberian seorang wanita.


Zura mendekat memangkas jarak antara mereka. Ia meraih tangan kanan Neil dan memberikan kotak makanan yang sudah ia siapkan sepenuh hati.


Zura tersenyum setelah mengatakan kalimatnya. Senyum yang masih saja membuat Neil terbius karena manisnya.


"Aku pulang dulu," pamit Zura sambil berlalu dan kemudian menghilang di balik lift.


Neil pun mau tidak mau membawa pulang pemberian Zura walau dengan rasa bersalah karena lupa mengucapkan terimakasih.


***


Neil tiba di apartemen dengan menenteng kotak makanan yang diberikan Zura. Ia melangkah gontai menuju lift dengan orang-orang yang tersenyum melihat ia membawa kotak makanan berwarna pink dengan gambar hati. Neil langsung masuk begitu pintu lift terbuka tanpa memperhatikan seseorang yang ikut masuk bersamanya. Setelah menekan lift Neil mundur agar orang tersebut dapat menekan nomor lantai tujuannya. Namun ternyata orang tersebut tetap diam, berarti mereka turun di lantai yang sama. Beberapa saat akan sampai tiba-tiba orang yang berdiri di belakangnya mendorong Neil tiba-tiba hingga ia hampir menabrak pintu lift.


"Maaf...maaf..."


Suara perempuan, pikir Neil. Ia berbalik lalu mendapati perempuan bermasker dan berkacamata hitam itu terhuyung seperti akan jatuh kembali. Benar saja. Sepersekian detik kemudian ia jatuh pingsan.


"Astaga!," seru Neil yang refleks meraih tubuh perempuan tersebut.


Neil memapah tubuh perempuan itu untuk keluar ketika pintu lift terbuka. Ia lalu menepi untuk membuka masker si perempuan agar ia dapat bernafas dengan lega.


"Dia lagi?" Ucap Neil terkejut.


Ternyata perempuan itu adalah Najla yang beberapa hari lalu juga pingsan saat berpapasan dengannya. Neil baru akan menggendongnya ketika mata Najla terbuka perlahan.


"Hey, kau sudah sadar?" Tanya Neil memastikan. Dari mata Najla ia dapat menebak gadis itu merasa sangat pusing.


"Aku akan mengantar ke unitmu,"


Usai berkata demikian Neil menggendong tubuh Najla yang terasa ringan. Dalam hatinya ia masih sempat menebak-nebak berat badan Najla. Sepertinya tidak lebih dari empat puluh lima kilogram, pikir Neil.


"Turunkan aku," pinta Najla ketika mereka tiba di depan unitnya. Ia lalu menekan tombol kunci pintunya. Setelah terbuka ia langsung masuk dan lalu berbalik menghadap Neil.


"Terimakasih sudah menolongku," ucap Najla lemas sambil perlahan menutup pintu.


Neil refleks menahahan pintu dengan kedua tangannnya. Nalurinya sebagai dokter tidak ingin membiarkan seseorang yang sedang sakit tanpa diperiksa dan diberi pertolongan.


"Aku akan memeriksamu. Tunggulah sebentar,"  ucap Neil lalu masuk ke unit Najla.


Ia lalu meminta Najla untuk menyandarkan tubuhnya di sofa untuk diperiksa.


"Lagi-lagi tensimu rendah sekali," tukas Neil setelah selesai.


Najla menghela nafas dan memijat kepalanya yang terasa berat.


"Lagi-lagi kau menyelamatkanku," ujar Najla yang berusaha tersenyum.


"Apa kau sering pingsan seperti ini?" Tanya Neil sambil melepaskan stetoskop dari telinganya.


"Tidak. Aku baru pingsan lagi sekarang sejak terakhir kau menolongku,"


Bagaimana bisa sekebetulan itu, pikir Neil. Ia tidak dapat membayangkan jika Najla pingsan seorang diri dan tidak ada yang menolong. Ia bersyukur atas kebetulan yang terjadi karena ia dapat menolong Najla.


"Apa kau sedang berdiet?"


Najla mengganguk. "Aku harus menurunkan berat badanku lima kilogram dalam dua minggu. Jadi aku hanya makan buah dan sayur,"


Jawaban Najla sontak membuat Neil geram. Sungguh Najla sudah terlihat langsing! Lemak mana lagi yang harus dikurangi?


"That's crazy. Berarti kau sering kelaparan? Ah tidak. Apa sekarang kau lapar karena hanya makan buah?" Tanya Neil tak sabar.


"Ya, aku lapar..." jawab Najla dengan puppy eyes.  "Tapi jika aku makan...."


Neil memotong ucapan Najla dengan mengacungkan jari telunjuk dan menggoyangkannya di depan muka gadis itu.


"Kau harus makan,"


Neil lalu mengambil kotak makan dari Zura yang ia letakkan di depan pintu. Ia lalu membukanya untuk diberikan pada Najla agar gadis itu makan.


"Oh Tuhan aromanya enak sekali. Apa tidak apa-apa aku makan ini?" Tanya Najla pada Neil.


"Sure. Makanlah,"


Neil memperhatikan Najla yang makan dengan lahap. Hatinya mencelos membayangkan betapa tersiksanya gadis itu demi menurunkan berat badan. Hanya makan buah dan sayur, katanya. Oh Tuhan, ia sama saja membunuh dirinya perlahan.


"Nikmat sekali," ujar Najla ketika sudah menghabiskan sepuluh suapan. "Aku sudah lama tidak makan makanan rumahan seperti ini,"


Neil tersenyum. Ada hikmahnya ia membawa kotak makanan dari Zura. Neil memperhatikan wajah Najla yang kembali merona setelah ia makan. Jauh berbeda saat pingsan dimana wajahnya begitu pucat.


"Hentikan diet tidak sehatmu itu. Itu akan memperburuk kesehatanmu. Ada banyak metode diet lain yang lebih sehat," nasehat Neil.


"Kau benar-benar seperti dokter,"


Neil mengernyitkan dahi mendengar ucapan Najla.


"Aku benar-benar dokter," protes Neil tak terima. Ia lalu mengeluarkan id cardnya dari dalam saku dan menunjukkan di depan muka Najla.


Najla lalu mendekat dan membaca  id card tersebut dengan seksama.


"Spesialis bedah jantung? Astaga kau pasti pintar sekali!" Seru Najla takjub.


"Ya..setidaknya aku tidak pernah berpikir hanya memakan buah dan sayur," gurau Neil tertawa diikuti Najla.


"I think we can be friend," ucap Najla tiba-tiba yang membuat Neil terpana.


Neil menggangguk. "Sure. Kita bertetangga jadi sudah seharusnya berteman," jawabnya tulus.


Neil lalu tanpa sengaja melihat foto Najla dengan Jemima yang terpajang di atas nakas.


"Kau dan Jemima dari agensi yang sama?" Tanya Neil penasaran. "Kalian terlihat akrab," lanjutnya sambil menunjuk foto yang ia maksud.


"Ah ya. Kami sama-sama di Magnolia. Dia sahabatku," ucap Najla.


"Wow. Lucu sekali. Dan Alezo adalah sahabatku,"


"Alezo?" Ulang Najla tak mengerti kenapa Neil menyebutkan Alezo.


"Ya, kekasih Jemima. Kau bersahabat dengannya dan aku bersahabat dengan dengan kekasihnya. Kebetulan yang lucu sekali, bukan?" Jelas Neil sambil tertawa, tidak menyadari perubahan wajah Najla.


"Jadi Jemima dan Alezo berkencan?"


Neil terkesiap. Jangan bilang Najla belum tahu atau sengaja tidak diberitahu.


"Sejak kapan?!" Pekik Najla. "Kenapa dia tidak memberitahuku? Astaga aku harus meneleponnya!"


Neil menepuk jidatnya. Sepertinya ia salah bicara. Ia menatap gusar pada Najla yang sedang berusaha menelepon Jemima. Habislah aku, pikir Neil panik.