
Seminggu setelah lamaran Alezo pada Jemima media masih terus mengabarkan berita tersebut. Sampai-sampai Alezo sendiri merasa bosan melihat wajahnya muncul di televisi, berita online dan media sosial. Sepertinya memang sebuah berita yang membahagiakan bagi penggemarnya dan Jemima.
"Jadi...kapan kalian akan menikah?" Tanya Neil sambil menyuapkan pasta carbonara ke mulutnya.
Alezo sengaja mendatangi rumah sakit untuk bertemu Neil karena sahabatnya itu hampir tak punya waktu untuk bertemu di luar. Padahal ia kadang butuh teman cerita, dan satu-satunya yang ia miliki adalah Neil.
"Hmm...entahlah," jawab Alezo.
"Apa maksudmu 'entahlah', brengsek? Kau melamar Jemima namun tidak tau kapan akan menikahinya?" Cecar Neil.
"Bukan seperti itu maksudku," sahut Alezo refleks mengibaskan kedua tangannya.
"Aku bahkan ingin besok bisa menikah dengannya. Tapi aku harus menunggu kesiapan Jemima. Kau tau karirnya sedang cemerlang. Aku tidak ingin menghalanginya,"
Neil mengangguk, memahami kalimat Alezo.
"Ah ya. Albumnya benar-benar meledak. Ku dengar dari Najla dia sekarang sibuk promo. Benarkah?"
Alezo mengangguk. "Ya, dia pergi ke beberapa kota. Pasti sangat melelahkan namun ia tidak pernah mengeluh lelah,"
"She lives her own dream. Dia sangat menikmatinya,"
Mereka berdua lalu melanjutkan makan siang sambil berbincang dan sesekali tertawa lepas. Dua sahabat itu tak menyadari semua orang di cafe rumah sakit mencuri pandang. Siapa yang tak tahan menoleh pada dua pria tampan dengan titel luar biasa, aktor terkenal dan CEO rumah sakit. Tentu saja sekedar mengagumi tak mengapa, namun jangan berharap lebih karena mata dan hati mereka sudah takluk pada pasangan masing-masing.
"Kau di sini ternyata,"
Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi obrolan Alezo dan Neil. Mereka sama-sama terkejut saat mendapati Najla sudah berdiri di samping meja.
"Hey, Najla," sapa Alezo yang di balas dengan senyuman oleh Najla.
"Kenapa kau ada di sini? Bagaimana kau tau aku di sini?" Neil keheranan karena Najla tak memberitahu akan ke rumah sakit.
"Ah aku baru konsultasi cedera kepalaku dengan dokter dan ingin membeli kopi. Ternyata ada kalian," jawab Najla.
"Lalu apa kata dokter?" Tanya Neil tak sabar.
"Luka bekas operasi sudah hampir sembuh, tidak ada yang perlu dikhawatirkan kecuali...ingatanku,"
Alezo melirik Neil usai mendengar ucapan Najla. Ia paham betul kondisi Najla sempat menghancurkan perasaan Neil. Tapi tampaknya sekarang hubungan mereka membaik, dan ia turut senang akan hal itu.
"By the way, selamat atas lamaranmu dengan Jemima. I'm so happy for you both," ujar Najla pada Alezo.
"Thanks, Najla,"
"Memoriku dengan Jemima memang belum kembali sepenuhnya. Namun aku menangis tersedu-sedu karena perasaan haru dan sedih. Aku merasa takut kehilangan Jemima karena kelak akan menikah denganmu,"
Alezo tersenyum. Tentu ia tak akan membuat Jemima meninggalkan sahabatnya itu. Apalagi Jemima sangat menyayangi Najla. Mustahil jika kekasihnya itu meninggalkan atau melupakan Najla jika suatu hari mereka menikah.
"Mungkin alam bawah sadarmu yang memunculkan perasaan itu. Tenanglah. Kau dan Jemima akan terus bersama-sama," ucap Alezo tulus.
"Aku harap ingatanku bisa kembali suatu saat. Apakah itu memungkinkan?"
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Najla. Bahkan dokter pun percaya ada kekuatan lain selain tindakan medis, yaitu mukjizat atau keajaiban," jawab Neil optimis.
"Agree," sahut Alezo.
Najla tertawa kecil mendengar ucapan dua pria itu. Dalam hati ia pun turut mengaminkan.
Alezo kemudian melirik arloji di pergelangan tangan kanannya. Hari sudah menujukkan pukul satu siang, artinya ia harus segera beranjak karena ada jadwal pemotretan brand parfum. Kontraknya diperpanjang karena penjualan mereka yang fantastis sejak menjadikan Alezo sebagai brand ambassador. Tentu saja Alezo dengan senang hati menerimanya. Bukan hanya karena nominal bayaran yang seketika menggendutkan rekeningnya, namun brand parfum tersebut benar-benar ia sukai.
"Aku harus pergi sekarang. See you," pamit Alezo pada Neil dan Najla.
Ia bergegas menuju parkiran karena Tara sang manager sudah menerornya dengan chat yang bertubi-tubi agar ia segera berangkat.
***
Najla memilih menunggu Neil hingga selesai bekerja daripada pulang sendirian. Untungnya Neil bisa pulang lebih awal hingga Najla tak menunggu terlalu lama di cafe.
Senyum Najla merekah saat melihat Neil berjalan mendekat. Ia pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan memangkas jaranya dengan sang kekasih. Andai di cafe tak ada orang, ingin rasanya Najla segera memeluk Neil yang terlihat lebih tampan dan berwibawa dengan jas putihnya.
"Kau pasti lelah dan bosan menungguku," ucap Neil saat mereka berdua sudah berada di mobil.
Najla menggeleng cepat, tak setuju dengan kalimat Neil. Ia melakukannya dengan suka hati, tak keberatan sama sekali.
"Neil, give me a hug," ucap Najla kemudian.
Tak menunggu lama Neil segera meraih tubuh Najla dan membawa gadis itu di dekapannya. Najla memejamkan mata meresapi pelukan Neil yang terasa begitu hangat dan menenangkan. Perasaan nyaman yang menjalar ke seluruh tubuhnya membuat Najla enggan melepaskan pelukan Neil.
"Hey...ada apa?" Tanya Neil saat Najla menolak melepaskan pelukannya.
"Biarkan seperti ini sebentar lagi," pinta Najla yang dituruti oleh Neil.
Najla paham Neil pasti bertanya-tanya. Ia rela menunggu Neil bekerja bukan tanpa alasan. Najla memang menginginkan pelukan sang kekasih. Bibirnya masih terasa kaku untuk mengatakan sesuatu padahal hatinya telah berseru. Entah kenapa kali ini ia kesulitan melawan rasa malu
"Neil..."
"Hmm?"
"Aku...aku mencintaimu," akhirnya hanya itu yang mampu meluncur dari bibir Najla.
Najla lalu perlahan melepaskan pelukannya dengan mata basah.
Najla menggeleng lemah. Ia lalu menarik nafas panjang berusaha menenangkan dirinya sendiri agar ia dapat berbicara dengan lancar.
"Neil...Mungkin ini terdengar konyol bagimu. Tapi...akhir-akhir ini aku seperti ketakutan membayangkan jika kau meninggalkanku," ucap Najla.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu?"
"Entahlah. Padahal aku baru saja kembali jatuh cinta padamu, tapi aku merasa kita sudah sangat lama bersama dan kau adalah bagian dari hidupku..."
"Aku sama sekali tidak sedih kehilangan ingatan tentang keluargaku. Aku lebih menyesal karena tidak mengingat tentang kita dan itu menyiksaku, Neil..." lanjut Najla.
Neil masih membisu mendengar ucapan Najla. Ia bertahan tak bersuara namun tangannya menggenggam tangan Najla yang masih berbicara terbata.
"Aku ingin melanjutkan hidupku denganmu sampai kapanpun. Tapi aku dibelenggu bayangan suatu saat kau akan meninggalkanku, atau sebenarnya kau tidak mencintaiku, bahkan mungkin kau akan mengusirku dari hidupmu lalu kau..."
"Ssst...Najla stop," potong Neil cepat karena merasa ucapan Najla semakin tak masuk akal.
"Aku takut, Neil..."
"Najla...aku tidak terlalu paham tentang ini namun mungkin cedera kepalamu berpengaruh pada pikiranmu. Aku menduga ada trauma kehilangan yang kembali muncul. Kau harus memeriksakannya ke psikiater. Namun satu hal..."
"Ketakutanmu tak akan terjadi. I love you with everything inside of me. Aku hanya akan meninggalkanmu jika aku mungkin tiba-tiba menjadi gila. Aku akan terus bersamamu,"
Najla seketika lega mendengar ucapan Neil. Ia dapat merasakan ketulusan dalam setiap kalimat yang Neil ucapkan. Neil begitu mencintainya dan ia pun sama. Beberapa malam ia memang tak dapat tidur karena bayangan ketakutan akan kehilangan dan kesepian. Najla cemas orang-orang yang kini ada di sekitarnya menghilang. Neil benar, sepertinya ia harus bertemu ke psikiater karena trauma masa kecilnya yang kembali muncul. Sungguh cedera kepala begitu mengganggu dan memuakkan.
"Kalau begitu, aku ingin tinggal bersamamu agar kita bisa bertemu setiap hari," ucap Najla kemudian.
"Tinggal denganku?"
Najla mengangguk cepat. Ia baru terpikirkan hal itu tadi malam. Dari pada ia harus tersiksa karena dihantui bayangan Neil akan meninggalkannya, lebih baik mereka tinggal bersama agar Najla dapat memeluk Neil setiap malam. Ide bagus, bukan? Toh mereka sudah tinggal di apartemen yang sama.
Neil tertawa kecil dan mencubit kedua pipi Najla. Ia lalu menginjak gas dan bergegas meninggalkan parkiran rumah sakit yang sudah sepi.
Di perjalanan Najla resah karena Neil tak menjawab permintaannya agar mereka tinggal bersama. Apa ia terdengar murahan karena meminta hal itu? Bukankah saat ini hal yang wajar jika tinggal seatap dengan kekasih? Toh mereka sudah dewasa.
Mobil terus melaju hingga Najla menyadari mereka tidak berada di jalan menuju apartemen.
"Neil...kita akan kemana?" Tanya Najla.
Sayangnya Neil hanya membalas dengan senyuman, seolah sengaja membuat Najla penasaran. Mobil kemudian berhenti di pinggir sebuah danau indah yang jauh dari keramaian. Pemandangan di sekitar danau membuat Najla takjub karena di kelilingi gedung tinggi dan cahaya lampu. Apalagi malam ini bulan bersinar terang bersanding dengan bintang yang memenuhi langit malam. Najla tidak pernah tahu tempat ini. Bagaimana Neil yang sibuk bekerja menemukan tempat seindah ini?
"Turunlah," ajak Neil.
Mereka berdua lalu turun dari mobil lalu berjalan mendekati tepian danau. Angin malam menerpa tubuh dua sejoli yang kini berdiri menghadap danau.
"Kenapa kita ke sini, Neil?" Tanya Najla penasaran.
Sejak tadi Neil tak mengatakan apapun lalu tiba-tiba membawanya ke tempat ini.
"Apa kau suka tempat ini?" Neil justru balik bertanya.
Najla mengangguk ragu, berharap Neil segera menjelaskan maksudnya.
"Najla...aku bahagia bisa memilikimu. Aku seperti memenangkan sesuatu yang besar saat kau bisa kembali mencintaiku. Namun..."
"What?" Potong Najla tak sabar, berprasangka atas kata 'namun' yang diucapkan Neil.
"Saat kau mengatakan ingin tinggal bersamaku...itu benar-benar mengejutkanku,"
Najla menelan ludah. Sepertinya ia telah salah mengatakan hal itu. Tentu saja itu permintaan konyol bagi Neil yang mungkin tak sepemikiran dengannya.
"Ah...kalau begitu...lupakan," cetus Najla.
Ia menyibukkan pandangannya ke sekitar danau, tak menyadari kini Neil semakin merapatkan jarak di antara mereka.
"Aku merasa kau mencuri start, dan itu cukup membuatku berdebar,"
Najla menoleh, tak mengerti maksud ucapan Neil. "Maksudmu?"
"Aku juga sangat ingin kau tinggal bersamaku. Dari pagi hingga malam aku ingin terus melihatmu. Tapi sebelum itu..."
"Menikahlah denganku,"
Najla terkesiap saat Neil tiba-tiba berlutut lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin. Ia menutup mulutnya yang ternganga karena tak menyangka Neil akan melamarnya. Tunggu, apa ini mimpi?
"Neil..." ucap Najla tertahan.
Tidak, ini bukan mimpi. Neil memang sedang berlutut dan tersenyum menunggu jawabannya.
"Kita akan tinggal bersama selamanya...sebagai pasangan suami istri jika kau bersedia menikah denganku,"
"Of course I do!" Seru Najla tertahan.
Ia pun menurut saat Neil memasangkan cincin di jari manisnya lalu memeluk sang kekasih erat hingga kakinya terangkat.
"Soon to be my wife,"
"I can't wait for that,"
***