Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 66



Hai semua. Maaf baru update dan bikin kalian nunggu ya. Jujur moodnya lagi ga bagus banget akhir akhir ini. But I'll try my best untuk nulis cerita ini buat kalian readers setia šŸ¤


Jemima tiba di coffee shop dengan diantar oleh Alezo. Hari ini akan bertemu Najla untuk meluruskan semuanya. Tadi malam Jemima menelepon Najla dan mengajak sahabatnya itu untuk bertemu. Meski responnya dingin, Jemima bersyukur karena Najla bersedia meluangkan waktunya untuk bertemu.


"Kau yakin tak ingin ku temani?" Tanya Alezo saat Jemima melepas sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun.


"Ya. Sepertinya akan lebih nyaman jika kami hanya bertemu berdua. Oh I miss her...rasanya sedih sekali dia melupakan persahabatan kami," jawab Jemima.


Alezo lalu mengusap lembut kepala Jemima, mencoba menenangkan kekasihnya itu.


"Semoga saja ada keajaiban agar ingatan Najla kembali,"


"I hope so. Baiklah, aku akan turun sekarang,"


Jemima baru saja akan membuka pintu mobil saat Alezo menahan lengannya sehingga membuat ia menoleh.


"Give a hug. Then a kiss," pinta Alezo.


Jemima tersenyum. Ia kemudian menghambur ke pelukan Alezo lalu mengecup singkat bibir sang kekasih. Sayangnya Alezo menahan kepala Jemima sehingga bibirnya tertahan beberapa detik.


"Oh my God, Alezo. You ruined my lipstick," ucap Jemima cemberut, sementara Alezo hanya tertawa kecil penuh kemenangan.


Jemima kemudian turun sebelum Alezo kembali menciumnya. Walaupun sebenarnya Jemima masih ingin bercumbu namun ia harus menjalankan misinya bertemu Najla.


Jemima memilih meja yang terletak di pojok ruangan dan menghadap jendela. Beruntung coffee shop tersebut tidak terlalu ramai sehingga ia dan Najla tak akan terganggu. Tak menunggu lama Jemima segera memesan meski Najla belum tiba.


"Aku ingin ice americano, ice coffe milk leas sugar, waffle with maple sause, dan tiramisu brownies," ucap Jemima pada pelayan yang menghampirinya.


Jemima melayangkan pandangan ke arah pinti keluar, menantikan sosok Najla yang belum juga tiba. Sebenarnya Jemima pun gugup karena khawatir pertemuan mereka akan canggung. Padahal Najla adalah sahabatnya, namun kini menjadi orang asing. Tentu hal itu sangat menyedihkan bagi Jemima.


Jeminta sontak mengangkat kepalanya saat terdengar suara seseorang di depannya.


"Maaf aku terlambat,"


Ternyata Najla. Jemima terdiam beberapa detik sampai kemudian ia tersadar dan mepersilahkan Najla duduk.


"Ow...it's OK. Aku juga baru tiba. Duduklah," ucap Jemima.


Najla pun kemudian duduk lalu mengangkat tangannya untuk memesan, namun dengan cepat dicegah oleh Jemima.


"Aku sudah memesankanmu,"


Najla mengerutkan dahi, seolah ragu dengan ucapan Jemima.


"Aku memesan ice coffee milk less sugar dan tiramisu brownies kesukaanmu..." lanjut Jemima.


"How you know that?"


Jemima menarik nafas, mencoba menenangkan diri sebelum menjawab pertanyaan Najla.


"Karena kau sahabatku. Cafe ini tempat favorit kita saat sedang free dan kau selalu memesan menu itu. Tidak pernah berganti sejak dulu," jawab Jemima sambil menatap dalam mata Najla.


Najla terdiam, merasa terhenyak dengan kalimat Jemima. Ia kemudian mengalihkan pandangan lalu merapikan poni, gestur yang selalu Najla tunjukkan saat ia kebingungan.


"Najla...kau pasti kesulitan dengan semua ini. Aku tidak memaksamu untuk mengingat tentang kita. Aku hanya ingin...dekat denganmu meskipun pertemanan kita dimulai dari nol. I'm okay with that asalkan aku bisa terus bersamamu," ujar Jemima yang tak mampu menyembunyikan suaranya yang bergetar.


Obrolan mereka terpotong karena pesanan mereka tiba. Setelah pelayan pergi, Jemima dan Najla sama-sama langsung meraih minuman mereka.


"Aku hanya mengingatmu sebagai rekan di Magnolia. Tentang kita bersahabat aku benar-benar tak mengingatnya," tukas Najla yang semakin membuat mata Jemima perih karena menahan air mata.


"Apa...kita sedekat itu?" Tanya Najla sambil menyuapkan browniesnya.


"Ya. Kita bahkan sering mandi telanjang bersama," jawab Jemima dengan air mata bercucuran.


Mendengar ucapan Jemima sontak membuat Najla tersedak dan terbatuk.


"Kau selalu mengatakan dadaku kecil dan harus mengoleskan minyak ajaib," lanjut Jemima.


"Aku...aku berkata begitu?"


Jemima mengangguk lemah. Padahal itu adalah ejekan wajib Najla padanya dan menjadi candaan bagi mereka. Tak rela rasanya Najla melupakannya.


"Kita bahkan berencana pensiun bersama di usia empat puluh tahun dan berjanji akan terus bersama meski kita kelak akan menikah. Ah ya. Kita sudah membayar yang muka rumah bersama Brie dan Calla. Rumah kita berderetan..." jelas Jemima walau ia yakin pasti Najla tidak akan mengingatnya.


Kala itu mereka berempat melewati sebuah perumahan mewah dan Calla mengajak mereka untuk sekedar melihat-lihat. Ternyata masih ada lahan yang akan dibangun. Hanya butuh lima menit bagi mereka berempat untuk membayar uang muka, dan akan melunasinya setelah rumah itu selesai di bangun.


"Brie dan Calla? Anak konglomerat yang menjadi artis hanya untuk menghindar dari mengurus perusahaan masing-masing? Kita...berteman dengan mereka?" Tanya Najla semakin bingung.


"Ya. Kita akrab sejak trainee karena hampir debut sebagai girl grup. Sedih sekali kau tak ingat...hiks..."


Jemima menghapus air matanya yang terus-terusan mengalir. Oh Tuhan, Brie dan Calla bisa-bisa menangis sepertinya jika tahu Najla tidak mengingat mereka. Apalagi yang Najla ingat hanya mereka adalah sepupu dan berasal dari keluarga jet set, dimana hal itu sangat dibenci oleh mereka berdua. Faktanya Brie dan Calla memang berbakat dan layak menjadi penyanyi, terbukti mereka lolos audisi Magnolia yang selalu ketat dan tak sembarangan bisa ditembus.


"Maafkan aku..." ucap Najla penuh rasa bersalah.


Jemima menggeleng cepat. "No no, aku tidak menyalahkanmu. Tidak perlu minta maaf," ucapnya tersenyum dengan mata sembab.


"Kita bisa memulai dari awal, seperti kataku,"


Najla tersenyum mendengar ucapan Jemima.


"Well...ehm...karena katamu kita bersahabat, apa kau tau tentang keluargaku?"


Jemima tercekat. Ia tak memprediksi Najla akan bertanya tentang keluarganya. Kini Jemima dilema apa ia akan menceritakan yang sebenarnya atau malah menutupinya. Namun akal sehat Jemima masihĀ  berfungsi. Ia di sini untuk membantu Najla, jadi mau tidak mau ia harus memberi tahu sahabatnya itu fakta tentang keluarganya.


"Najla...persahabatan kita bahkan bermula karena cerita keluarga yang sama-sama menyedihkan. Kita berdua berada di Magnolia benar-benar sendirian. Saat audisi, menjadi trainee, bahkan hingga debut dan sampai di titik ini...hanya ada kau dan aku. Tanpa ada satupun kehadiran keluarga," jelas Jemima berusaha untuk kuat untuk bercerita.


"Ini mungkin akan terdengar menyakitkan bagimu tapi I have to tell the truth..."


Jemima kemudian menceritakan bagaimana cerita Najla yang diusir keluarganya hingga hubungan mereka terputus. Orangtua dan kedua kakaknya membenci Najla hanya karena kesalahan yang mereka anggap keterlaluan.


"Dan yang membuatku terharu, kau masih menyimpan cinta untuk mereka. Kau masih berharap kembali pada keluargamu meski akhirnya kau harus kecewa karena penolakan..."


Jemima hampir tak kuat menahan diri untuk memeluk Najla ketika sahabatnya itu mengeluarkan air mata. Nafas Najla terlihat memburu pertanda ia sedang menahan sesak. Jemima buru-buru menyodorkan tisu agar Najka dapat menghapus air matanya.


"Jadi...apa yang diucapkan Neil ternyata benar," ucap Najla dengan suara parau.


Jemima mengerutkan dahi. "Maksudmu, NeilĀ  juga pernah mengatakannya?"


"Ya. Tapi aku tak percaya. Aku bahkan menuduhnya mengarang cerita..."


Jemima menelan ludah. Betapa sulitnya menjadi Najla. Sudah pasti ia tak langsung percaya karena memori yang menyimpan kenangan itu terbongkar habis di otaknya.


"Tidak apa-apa. Itu wajar, Najla. Kau kehilangan ingatanmu pasti kau tak mudah percaya pada orang lain," ucap Jemima menghibur Najla.


"Lalu...apa aku dan Neil berkencan?"


"Kau tidak menceritakannya padaku, tapi Alezo memberitahuku. Itu pun ia tahu tanpa sengaja. Saat kau diserang, Neil begitu gusar dan khawatir. Lalu pengakuannya pada Alezo bahwa ia mencintaimu rasanya cukup untuk mengetahui bahwa ada hubungan spesial di antara kalian,"


Jemima lalu menahan kalimatnya, menunggu reaksi Najla.


"Berarti dia saat ini terluka karena aku melupakannya?"


"But I don't remember...Aku tak ingat bagaimana aku bisa berkencan dengannya..." tukas Najla.


"Kau tidak harus mengingatnya," potong Jemima. "Seperti kataku. Kau bisa memulai sesuatu dari awal, dari ingatanmu saat ini agar kau tak terbebani,"


Najla menarik nafas dalam. Jelas sekali gadis itu terbelenggu kekalutan. Dalam hati Jemima berjanji akan terus mendampingi Najla, hingga ia dapat kembali dekat dengan sahabat yang ia sayangi itu.


***


Najla berjalan menuju lift apartemennya dengan perasaan gembira. Bertemu dengan Jemima seperti memberikan energi baru baginya. Meski tak ingat bagaimana persahabatan mereka berjalan selama ini, Najla tak keberatan untuk kembali akrab dengan Jemima. Aura positif Jemima benar-benar membuatnya nyaman dan tenang. Tentu tak akan sulit bagi Najla untuk menerima Jemima sebagai sahabatnya.


Persetan dengan cerita keluarganya. Sungguh Najla merasa sakit hati dan mengutuk dirinya yang masih saja berharap saat itu. Kini Najla tak akan ambil pusing. Hidupnya sudah terbiasa sendiri saat ini. Meski tak ia pungkiri hatinya terasa hampa saat ibunya yang sudah menyesal dipanggil Tuhan untuk beristirahat selamanya.


Najla baru saja masuk ke lift bersama dengan seorang wanita berpakaian rapi, yang ia tebak berusia sepantaran dengannya. Masker yang Najla kenakan tentu menyamarkan identitasnya sehingga wanita itu tak bereaksi apapun saat wajah mereka bertemu. Ternyata mereka akan turun di lantai yang sama. 'Setidaknya aku tak sendirian,' batin Najla.


Dari ekor matanya Najla dapat melihat wanita itu mengeluarkan ponsel lalu berbicara dengan seseorang.


"Halo, Tuan Neil. Saya sebentar lagi tiba di unit Anda,"


Darah Najla berdesir saat wanita itu menyebut nama Neil. Apa Tuan Neil yang ia maksud adalah Neil-nya? 'Tunggu, apa sekarang aku mengakui bahwa Neil milikku?' pekik Najla dalam hati.


"Ah, ya. Ada beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani. Saya khawatir besok tidak akan sempat karena Anda ke luar kota,"


Pintu lift terbuka dan wanita itu lebih dulu keluar. Suara hak high heels yang ia kenakan seketika menggema di lorong apartemen yang sepi. Najla berjalan mengikuti wanita itu dari belakang, sambil terus memasang telinganya untuk mendengar ucapannya.


"Sebentar lagi kau akan jadi milikku, Neil. Tidak akan kulepaskan lagi"


Najla terhenyak ketika mendengar gumaman wanita itu saat mereka akan berpisah di persimpangan. Apalagi ternyata wanita itu saat ini menekan bel di unit Neil. Ternyata memang benar Neil yang ia bicarakan adalah Neil-nya.


'Lalu apa maksud ucapannya tadi?' pikir Najla. Ia yakin tak salah dengar. Apa wanita itu merencanakan sesuatu?


Najla memperhatikan dari jauh saat wanita itu masuk ke unit Neil. Sungguh perasaannya tak tenang. Apa akan terjadi sesuatu yang buruk pada Neil?


Seketika ia teringat akan ucapan Jemima yang mengatakan bahwa Neil sangat mencintainya dan saat ini terluka karena ia tak mengingat pria itu sebagai kekasihnya. Meski perasaan itu belum Najla rasakam saat ini, namun entah kenapa dorongan hatinya begitu kuat. Setelah berpikir beberapa saat, Najla keluar dari unitnya dan segera menuju unit Neil.


Najla menaham debur jantungnya tak karuan setelah menekan bel.Ā  Tak lama kemudian pintu pun terbuka dan wanita itu yang berdiri di depan pintu.


"Mencari Neil?" Ucap wanita itu pada Najla.


"Ehm...ya. Who are you?"


Wanita itu baru saja akan menjawab saat mata Najla menangkan Neil yang baru muncul dari arah kamarnya.


"Neil...Babe..." Najla seketika masuk lalu memeluk Neil yang kebingungan.


"Najla..."


Najla mengecup pipi Neil lalu bergelayut manja di lengan pria itu. Sementara wanita itu terperangah melihat tingkah Najla. Dalam hati Najla merasa puas melihat ekspresi wanita itu yang terlihat kesal.


"Kenapa....kau di sini?" Tanya Neil tergagap, tak terbiasa dengan sikap Najla


"Apa aku tidak boleh berada di unit kekasihku?" Ucap Najla dengan nada manja, tentu saja sambil menahan mual.


Neil terbelalak, tak percaya dengan pendengarannya.


"Anyway. Siapa dia?" Tanya Najla sambil menunjuk wanita itu yang berdiri sejak tadi.


"Ow...Dia...Friska, sekretarisku,"


"Ah...ya. Hai Friska. Nice to meet you. Aku Najla, kekasih Neil. Sepertinya tadi kita bertemu di lift," ucap Najla.


"Oh...Hai, nona Najla. Begitukah? Aku tidak menyadarinya,"


Najla tersenyum sinis melihat Friska yang terlihat gugup dan salah tingkah.


"Sepertinya kalian masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku tidak akan mengganggu," cetus Najla sambil membentuk angka dua dengan jarinya.


"Oh...ehm...itu...aku hanya perlu menandatangi beberapa berkas," jawab Neil.


Najla mengangguk. "Baiklah. Ayo selesaikan,"


Najla menarik tangan Neil untuk membawanya duduk di sofa, dimana berkas yang dimaksud sudah terletak di atas meja. Dahi Najla berkerut ketika mendapati dua gelas kopi juga ada di atas meja. 'Ah ya, tadi wanita itu memang menenteng kopi saat mereka bertemu di lift,' batin Najla.


Najla sengaja tak melepaskan tangannya dari lengan Neil untuk memanas-manasi Friska yang terlihat gelisah. Gelagatnya sungguh mencurigakan. Apalagi ia membawakan Neil minuman. Najla mungkin tak akaĀ  curiga minuman itu dimasuki sesuatu jika tak sengaja wanita itu bergumam bahwa Neil akan menjadi miliknya. Ingin membuat Neil tak sadar lalu kau berpura-pura bahwa kalian bercinta dan lalu meminta tanggung jawab Neil, huh?


"Sudah semua," ucap Neil setelah selesai.


"Oh..ya. Baik, Tuan," tukas Friska lalu membereskan berkas di hadapannya.


"Terimakasih, TuanĀ  Neil. Maaf mengganggu waktu Anda,"


Neil baru saja akan menjawab ketika Najla lebih dulu bersuara.


"Sama-sama, Friska. Maaf jika kekasihku merepotkanmu hingga kau datang semalam ini," ucap Najla sambil tersenyum dan menatap mata Friska yang terlihat gusar.


Tak menunggu lama, Friska pun keluar setelah berpamitan. Najla pun dengan segera melepas tangannya lalu beranjak kembali menjaga jarak, merasa malu dengan apa yang telah ia lakukan.


"Najla...Bisa jelaskan padaku apa yang kau lakukan barusan?" Tanya Neil.


Najla tak menjawab. Ia justru meraih dua gelas kopi yang dibawa Friska lalu berjalan menuju wastafel. Ia membuang kopi tersebut dan hidungnya menangkap aroma aneh dari kopi tersebut. 'Friska brengsek, ternyata dugaanku benar,' batin Najla.


"Hey..."


Najla terperanjat ternyata Neil sudah berdiri di belakangnya.


"Aku butuh penjelasan," desak Neil.


"Aku tidak sengaja bertemu sekretarismu itu di lift. Awalnya aku biasa saja namun tanpa sengaja mendengar ia merencanakan sesuatu. Ia ingin menjadikanmu miliknya,"


Neil tercekat, merasa tak percaya dengan ucapan Najla.


"Aku tidak ada pilihan lain selain bersikap seperti kekasihmu. You know what, kopi yang ia bawa tercium aroma pekat yang tak biasa," jelas Najla lagi.


Najla mundur beberapa langkah saat Neil berjalan semakin mendekatinya.


"Apa...apa ingatanmu kembali? Kau mengingat kita?" Tanya Neil penuh harap.


Najla menggeleng. Ia tak ingat apapun tentang Neil selain dari sejak ia membuka mata pertama kali setelah kecelakaan


"Tidak..."


Neil menghela nafas, seolah menghembuskan kekecewaannya.


"Tapi aku ingin memulai dari awal lagi denganmu..."


"Maksudmu?"


"Aku ingin...aku ingin kau membuatku jatuh cinta lagi padamu..."


***