Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 22



POv : Alezo


Alezo tersenyum geli melihat Jemima yang terlihat tegang setelah ia mengatakan bahwa ia akan membawa Jemima kerumah karena telah menggodanya. Kekasihnya itu berkali-kali merapatkan blazer untuk menutupi perutnya. Jemima juga merapikan rambut panjangnya yang tergerai agar menutupi leher. Sungguh Alezo ingin tau apa yang ada di benak Jemima. Jika gadis itu berpikir Alezo akan menyentuh dan mencumbu tubuhnya, Jemima salah besar. Meski ingin karena ia laki-laki normal, Alezo masih memegang prinsip no *** before marriage.


Alezo kembali meraih tangan Jemima dan tanpa terduga Jemima terperanjat hingga menarik tangannya.


"Hey kenapa? Kau melamun?" Tanya Alezo yang terkejut dengan respon Jemima.


"Ah...ya...aku...melamun. Ya, melamun," jawab Jemima tergagap.


Ekspresi wajah gugupnya sungguh menggemaskan. Alezo tidak tega. Ia harus menepis pikiran Jemima yang mungkin sama dengannya.


"Aku membawamu ke rumahku karena ingin mengajakmu makan malam dengan keluargaku," jelas Alezo.


Jemima menoleh. "Makan malam keluarga? Maksudmu dengan orangtuamu?"


"Dan adikku. Albar," koreksi Alezo.


Alezo melirik Jemima yang memasang wajah kebingungan. Tentu gadis itu terkejut karena Alezo tidak memberi tahunya terlebih dahulu.


"Orangtuaku akan berkunjung. Dan mereka mengatakan kau boleh bergabung," lanjut Alezo lagi.


"Apa tidak masalah?" Tanya Jemima.


Alezo mengernyitkan dah. "Maksudmu?


Jemima tak menjawab. Ia menunduk melihat perutnya yang terbuka karena kaos crop yang ia kenakan. Alezo yang mengikuti arah pandang Jemima tak kuasa menahan tawa.


"Sebenarnya orangtuaku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi jika kau tidak nyaman, kau bisa berganti pakaian,"


"Aku tidak membawanya," keluh Jemima. "Dan aku tentu saja malu dengan orangtuamu. Antarkan aku ke butik langgananku. Untungnya itu searah dengan rumahmu," sahut Jemima.


Alezo mengiyakan. Ia memacu mobilnya lebih cepat agar segera sampai. Dua puluh menit kemudian mereka tiba di butik yang di maksud Jemima. Alezo menunggu di parkiran selama dua puluh menit sampai akhirnya Jemima mengetuk jendela mobilnya. Gadis itu ternyata langsung memakai baju yang ia beli. Kini Jemima mengenakan atasan putih dengan model sabrina yang membuat penampilannya terlihat lebih sederhana namun mencerminkan aura wanita dewasa.


Alezo terpana selama beberapa detik karena Jemima terlihat begitu menawan. Kulit seputih susu milik Jemima seolah memantulkan cahaya. Sungguh Alezo merasa beruntung ia memiliki Jemima.


"Bagaimana penampilanku?" Tanya Jemima yang membuyarkan lamunan Alezo.


"Ah...hm...good. You look so pretty. Warna putih ternyata sangat cocok untukmu," ucap Alezo tidak dapat menahan pujiannya.


Alezo kembali menyalakan mesin mobil dan memacunya menuju rumah. Kamila dan Reno mengatakan mereka akan tiba dalam satu jam, sehingga Alezo harus bergegas untuk sekedar merapikan rumah dan menata meja makan.


***


"Begitulah ceritanya. Aku begitu panik hingga takut untuk menghubungi atau menjawab teleponmu," ujar Jemima saat mereka selesai menata meja makan di rumah Alezo. Kini dua sejoli itu duduk di kursi taman belakang yang asri.


Alezo tertegun mendengar cerita Jemima tentang pertemuannya dengan Kalina CEO agensinya kemarin. Ia terhenyak mengetahui fakta Ibra rela membayar Spill The Tea dengan uang pribadinya agar tak mengusik Jemima. Ternyata beliau kepedulian beliau pada Jemima tidak main-main. Sayangnya hal itu tidak disukai oleh Kalina yang merasa Jemima memiliki hubungan khusus. Tak tanggung-tanggung ia langsung mencegat Jemima dengan membatalkan pekerjaannya di luar negeri, menarik Gery bodyguardnya dan melarangnya berkencan.


Alezo mengggenggam tangan Jemima ketika gadis itu mulai menangis. Ia dapat merasakan kekecewaan Jemima. Sungguh Kalina keterlaluan. Alezo yakin sang CEO tidak profesional dengan Jemima karena ia mencampuri urusan perasaan. Toh Jemima tidak melakukan kesalahan apapun yang mencoreng nama agensi.


"Entah bagaimana nasibku selama ia menjadi CEO," isak Jemima sambil menyeka air matanya.


Alezo tak menjawab. Ia pun sebenarnya khawatir akan hal itu. Akan susah bagi Jemima jika sudah ada konflik pribadi dengan petinggi agensi.


"Tenanglah. Aku yakin tidak akan ada hal buruk bagimu," hibur Alezo.


"Lalu bagaimana dengan kita?" Tanya Jemima. "Aku tidak mau jika berpisah denganmu karena ini,"


Alezo menghela nafas. Sungguh ia pun takut jika ia tidak bisa melanjutkan hubunganya dengan Jemima. Ia tidak rela melepas Jemima, namun ia tidak ingin menjadi batu terjal yang menghalangi karir Jemima.


"Tidak akan," cetus Alezo. "Kita tidak akan berpisah,"


Suara Alezo bergetar pertanda ia pun menyimpan ketakutan. Ia lalu memeluk Jemima erat berusaha menenangkan gadis itu dan tentu dirinya sendiri. Alezo lalu merah pipi dan memagut bibir Jemima begitu pelukan mereka terlepas. Bibir Jemima terlalu indah dan ia tidak bisa menahan diri untuk mencumbunya. Alezo bersorak dalam hati ketika Jemima mulai membalas menggerakkan bibirnya. Ciuman mereka semakin panas ketika Jemima melingkarkan tangannya di leher Alezo. Sementara Alezo sebagai pria normal hasratnya menginginkan lebih. Ia semakin merekatkan tubuhnya dengan Jemima hingga tak ada jarak bagi mereka. Tangan Alezo hampir menyentuh bagian sensitif Jemima yang begitu terasa menekan namum beruntung sang kekasih lebih dulu menghentikan aktivitas intim mereka. Good for you, Alezo, batinya. Ia tidak mau kebablasan, namun tidak juga yakin melawan hasratnya.


"Jam berapa makanannya datang?" Tanya Jemima salah tingkah. Ia merapikan rambutnya yang acak-acakan.


"Ah, ya. Biar ku telepon. Harusnya datang sebentar lagi," tukas Alezo tak kalah gugup.


Ia meninggalkan Jemima dan berjalan menuju dapur karena takut Jemima mengetahui niatnya. Alezo memukul pelan jidat dan mengutuk dirinya yang terbuai suasana. Untung saja tidak terjadi. Bisa-bisa Jemima menampar dan mencapnya cabul.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti. Alezo dan Jemima berjalan bersama menuju pintu masuk untuk memastikan siapa yang datang.


"Hai kakak-kakakku!"


Suara Albar seketika menggema begitu mereka membuka pintu sehingga membuat Alezo memelototinya. Albar si trouble maker entah kenapa selalu norak dengan kelakuan ajaibnya.


"Sepertinya aku harus membiasakan diri melihat kakak Jemima secara dekat seperti ini," ucap Albar pada Jemima saat mereka masuk ke dalam rumah.


"Dan Jemima harus terbiasa dengan kelakuan absurdmu," timpal Alezo.


"Kau cukup memanggilku Jemima. Tidak perlu menggunakan 'kakak'," pinta Jemima pada Albar.


"Apa tidak masalah? Aku hanya ingin sopan padamu," tukas Albar memastikan.


"Kau memanggilku dengan nama. Lalu memanggil 'kakak' pada Jemima yang seumuran denganmu?" Timpal Alezo gemas.


Albar tertawa. "Baiklah, baiklah. Jemima. Astaga, namamu indah sekali,"


Tidak lama kemudian menu makan malam yang Alezo pesan datang. Albar berinisiatif untuk menatanya di meja makan. Naluri seorang chef memang mengalir dalam darahnya. Sementara Jemima membantu menyiapkan gelas dan air.


"Perfect!" Seru Albar ketika ia selesai menata makanan di meja.


Jemima bertepuk tangan. "Ini terlihat mewah," pujinya yang direspon Albar dengan mengangkat kerah poloshirt yang ia kenakan.


Sejurus kemudian terdengar suara pintu yang terbuka. Ternyata Kamila dan Reno sudah tiba.


"Hai kids," sapa Reno begitu Alezo, Albar dan Jemima menyambut mereka.


"Terimakasih sudah mengajakku makan malam di sini," ujar Jemima.


Mereka lalu bersama-sama menuju meja makan. Hari sudah menunjukkan pukul tujuh malam yang berarti sudah waktunya mereka makan. Alezo menarik kursi untuk Jemima dan mempersilahkannya duduk.


"Sungguh berbeda rasanya melihat kau di televisi dengan melihatmu sedekat ini. Kau jauh lebih cantik," puji Kamila yang benar-benar terpana dengan Jemima.


Jemima tersenyum tersipu. "Terimakasih, tante. Aku begitu tersanjung,"


"Lalu mana kekasihmu, Albar? Bukankah kau baru saja berpacaran?" Tanya Kamila pada anak keduanya.


"Putus," jawab Albar singkat dan padat yang membuat semua orang mengernyitkan dahi.


Dari dulu kisah cinta Albar penuh drama sehingga Kamila sudah tidak heran meski baru dua minggu lalu Albar memperkenalkan pacarnya.


Mereka lalu mulai makan sambil mengobrol ringan. Alezo merasa begitu senang karena kehadiran Jemima di tengah-tengah keluargnya.  Apalagi sikap kedua orangtuanya yang begitu hangat pada Jemima, easanya seperti meyakinkan bahwa Jemima benar-benar miliknya.


"Bagaimana perusahaanmu, Albar?" Tanya Reno setelah mereka selesai makan. "Ku dengar kau sedang menjalankan proyek bersama pemerintah,"


"Yap. Aku akan membangun kantor kementerian baru," jawab Albar sambil menikmati puding strawberry sebagai makanan penutup.


"Setelah itu kerjakanlah gedung baru rumah sakit," titah Reno.


"No!" Tegas Albar sambil membentuk silang dengan garpu dan sendoknya.


"Aku tidak mau orang-orang mengira aku hanya memanfaatkan Papa untuk mendapat proyek,"


"Papa akan membayarmu dengan profesional, anak nakal," geram Reno.


Albar tetap menggeleng. Sama sekali tidak ingin mengerjakan proyek yang ditawarkan Reno karena ia ingin berusaha tanpa membawa embel-embel orangtua. Albar memang terlihat santai dan cenderung konyol. Namun ia memiliki otak yang cerdas. Perusahaannya yang baru berjalan beberapa bulan sudah memiliki nama sehingga banyak yang tertarik menjadi kliennya.


"Jemima, apa kau akan kembali bermain film?" Kali ini Kamila bertanya pada Jemima yang duduk di hadapannya.


"Ah...tidak. Aku akan kembali fokus bernyanyi," jawab Jemima.


"She is a diva. Tentu panggung lebih pantas untuknya," timpal Alezo sambil tersenyum dan menoleh ke arah kekasihnya itu.


"Tentu orangtuamu sangat bangga melihat putri cantiknya ini," tukas Kamila sambil menopang dagunya dengan kedua tangan di atas meja, menatap takjub akan kecantikan Jemima.


"Ah ya, apa kau tinggal bersama orangtuamu atau sendiri?"


Alezo menyimak pertanyaan Kamila. Ia membiarkan ibunya bercengkrama dengan Jemima.


"Aku tinggal sendiri di apartemen, Tante," jawab Jemima.


"Ah, sudah pasti. Anak jaman sekarang sudah tidak mau tinggal dengan orangtua," sindir Kamila sambil melirik kedua anak laki-lakinya yang langsung kompak menggaruk kepala mereka.


"Kapan-kapan tante ingin bertemu dengan orangtuamu untuk berkenalan. Mereka tinggal di luar kota atau...."


"Kedua orangtuaku sudah meninggal, Tante..."


Jawbaban Jemima seketika membuat suasana menjadi hening. Alezo tidak dapat menutupi keterkejutannya karena ia pun baru mengetahuinya karena mengira selama ini Jemima tinggal sendiri dan orangtuanya tinggal di rumah terpisah sepertinya. Ia menoleh ke arah Jemima yang terlihat sekali berusaha tegar dengan tetap menyunggingkan senyum.


"Ah...sayang...maafkan Tante," ucap Kamila menyesal. Ia menggenggam kekasih anaknya itu dengan lembut.


Jemima tersenyum. "Tidak apa-apa, Tante. Mereka pergi sudah lama sekali. Lima belas tahun yang lalu,"


Lima belas tahun yang lalu, berarti saat awal Jemima masih remaja, pikir Alezo.


Suasana canggung terselamatkan oleh Albar yang tiba-tiba menjatuhkan sendok dan saat ia mengambilnya di lantai kepalanya justru terbentur meja makan.


"Aw...astaga kepalaku. Sakit sekali. Mama...sepertinya aku gegar otak!"


Semua orang tersentak karena ulah Albar. Kamila langsung beranjak dan mendekati Albar lalu mengusap kepalanya.


"Jangan asal bicara! Kau tidak tau betapa bahayanya gegar otak," omel Kamila sambil menoyor pelan kepala Albar.


Alezo lalu menghabiskan air putih di gelasnya sebelum akhirnya pamit untuk mengantar Jemima pulang.


"Aku harus mengantarkan Jemima pulang karena dia harus istirahat. Jadwalnya hari ini cukup padat," ujar Alezo sambil berdiri sambil meraih tangan Jemima.


Jemima yang kebingungan tak urung mengikuti Alezo dan tak lupa berpamitan pada keluarganya.


Alezo membukakan pintu mobil untuk Jemima dan menutupnya kembali setelah gadis itu masuk. Sejurus kemudian mobilnya perlahan merangkak meninggalkan pekarangan rumah.


"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Tanya Alezo saat mereka di perjalanan.


Jemima menghela nafas. "Tidak ada momen untukku memberitahumu,"


"Aku minta maaf jika pertanyaan Mama menyinggungmu," ucap Alezo merasa bersalah.


"Hey, tidak masalah. Itu pertanyaan wajar. Aku bahkan sudah memprediksinya,"


Alezo menoleh ke arah Jemima. Meski gadis itu tersenyum, matanya tidak bisa menutupi kesedihan yang mendalam. Alezo merasa begitu sakit membayangkan bagaimana Jemima menghadapi kehidupan masa mudanya tanpa kehadiran orang tua. Apa yang terjadi pada orang tua Jemima? Lalu saat orangtuanya meninggal Jemima tinggal bersama siapa? Lalu bagaimana ketika Jemima mengikuti audisi Magnolia sementara orangtuanya sudah tiada? Beribu pertanyaan hinggap di benak Alezo, namun lidahnya terasa kelu untuk bertanya langsung pada Jemima.


"Apa kau kasihan padaku?" Tiba-tiba Jemima bertanya yang sontak membuat Alezo tergagap.


"Oh...hm...aku hanya terkejut. Aku justru salut padamu karena kau mampu bertahan dan mencapai titikmu sekarang walau hatimu mungkin hancur saat ditinggal kedua orangtuamu,"


Alezo melirik ke arah Jemima dan ia mendapati Jemima menghela nafas lalu tersenyum kecut.


"Sampai sekarang hatiku hancur dan tidak akan pernah utuh karena serpihannya di pergi bersama ayah dan ibuku,"


Ucapan Jemima begitu mencabik perasaan Alezo. Tanpa Jemima bercerita ia yakin pasti Jemima remaja sangat terpukul dan terpuruk saat orangtuanya meninggal. Entah bagaimama cara Jemima bertahan saat itu, yang jelas Alezo yakin Tuhan memberinya kekuatan luar biasa hingga gadis itu dapat bangkit, bahkan setinggi langit. Jemima mungkin kehilangan dunianya kala itu, namun kini ia mampu menggenggam dunia.


Aku penasaran sebanyak apa lukamu, seberapa kuat kakimu, dan seteguh apa hatimu, Jemima, batin Alezo gundah.