Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 42



"Oh my God..." ujar Najla cemas saat melihat berita tentang Jemima.


Ia menggelengkan kepala membayangkan bagaimana sahabatnya itu akan menerima sanksi dari Magnolia. Apalagi Kalina yang sangat anti dengan skandal dan sensitif pada Jemima. Habislah anak itu, pikir Najla.


Ia tak akan bisa berbuat apapun untuk membantu Jemima. Namun setidaknya ia harus melakukan sesuatu untuk menghibur Jemima yang pasti bersedih.


Najla menghubungi Calla dan Brie untuk mengajak mereka berdua ke apartemen Jemima. Beruntung dua temannya itu sedang free sehingga mereka bisa segera menuju apartemen Jemima dari rumah masing-masing saat itu juga.


Najla keluar apartemen dan tanpa sengaja bertemu Neil di depan lift. Tentu wajah Najla seketika cerah dan langsung menyapa pria itu.


"Hey!" Sapa Najla riang. Dalam hati ia terpana melihat Neil yang tumben sekali mengenakan jas rapi. Neil terlihat begitu berkharisma.


"Hey. Aku kira kau tidak akan kemana-mana," sahut Neil tersenyum.


"Tadinya begitu. Tapi aku harus ke apartemen Jemima,"


"Ada apa dengan Jemima?"


"Kau belum tau beritanya? Dia sungguh dalam masalah sekarang," jawab Najla sambil menggandeng tangan Neil saat akan masuk ke dalam lift.


Najla lalu memperlihatkan Neil berita tentang Jemima di ponselnya. Neil lalu membacanya sambil mengernyitkan dahi.


"Sean? Aku mengenalnya. Dia teman Alezo dan aku pernah bertemu dengannya beberapa kali," tukas  Neil.


Najla terkejut. Ia menutup mulutnya dengan tangan.


"Alezo pasti melihat berita ini. Kira-kira bagaimana reaksinya?," tanya Najla penasaran.


Neil mengangkat kedua bahu pertanda ia pun tak dapat menebaknya.


"Apa kau tahu Jemima mengenal Sean?" Neil balik bertanya.


"Tidak. Padahal kami pernah membahas Sean. Tapi dia tidak bilang kalau mereka saling mengenal," jawab Najla.


"Anyway, kenapa kau rapi sekali?"


"Aku akan menghadiri seminar," jawab Neil. "Apa kau sudah di apartemen malam nanti?"


"Hm...belum tahu. Akan kuberi tahu nanti, oke?"


Neil menggangguk sambil tersenyum. Ia lalu mengusap pucuk kepala Najla.


Pintu lift terbuka dan Najla pun keluar. Najla sudah ditunggu oleh supirnya di depan lobby, sementara Neil harus ke basement untuk mengambil mobilnya.


"See you," ucap Najla sebelum pintu lift menutup dan memisahkannya dengan Neil.


***


Najla, Brie dan Calla tiba bersamaan di apartemen Jemima. Tiga dara itu terlihat seperti trio gadis mafia karena sama-sama memakai kacamata hitam dengan rambut panjang tergerai. Apalagi secara kebetulan mereka sama-sama mengenakan kaos crop dan jelana jeans yang sempurna membalut kaki jenjang mereka.


"Kenapa kita seperti anak kembar?" Tukas Najla saat mereka berada di dalam lift.


Tidak ada yang menjawab karena dua temannya juga sibuk memperhatikan refleksi mereka di pintu lift.


"Kita seperti abege yang baru boleh mengenakan baju seperti ini," timpal Calla sambil membenarkan letak kacamata dihidungnya


"Sudahlah. Yang penting tidak ada yang mengenal kita," pungkas Brie.


Mereka bertiga lalu keluar begitu lift terbuka dan segera menuju unit Jemima. Najla menekan bel beberapa kali karena Jemima tak kunjung membukakan pintu. Ketika Brie ingin mengambil alih menekan bel, tiba-tiba pintu terbuka dan Jemima muncul dengan rambut acak-acakan dan mata bengkak.


"Oh Tuhan, Jemima!" Seru mereka bersamaan kemudian berebutan masuk lebih dulu.


Najla menatap nanar Jemima yang masih menangis di pelukan Brie. Ia lalu mengusap punggung sahabatnya itu berharap dapat sedikit memberikan ketenangan. Sungguh Najla merasa prihatin pada Jemima yang mengalami kesialan bertubi-tubi. Kisahnya dengan Alezo berakhir tragis, lalu kini ia terlibat skandal kencan dan ketahuan menyetir sendiri karena mengalami kecelakaan.


"Kenapa aku begitu sial," ucap Jemima setelah tangisnya mereda meski masih terisak.


"Hanya karena sedang giliranmu," jawab Calla. "Kesialan itu bak piala bergilir, semua orang akan mengalaminya,"


Najla menoleh kearah Calla. Ucapan Calla ada benarnya. Tidak selamanya orang akan sial, dan tidak ada pula keberuntungan akan selalu melekat. Kali ini mungkin Jemima, lain waktu mungkin mereka yang akan mengalaminya.


"Untungnya kau tidak terluka saat tabrakan," lanjut Calla.


"Tapi tetap saja Kalina keterlaluan. Menahan album dan tidak menerima pekerjaan rasanya berlebihan," omel Brie.


"Ah Kalina. Hidupku tiba-tiba terasa berubah sejak dia menjadi CEO," tukas Calla memutar bola matanya.


Najla menghela nafas. Ia kembali menyodorkan tisu pada Jemima yang ternyata masih berlinang air mata.


"Apa mau ingin makan sesuatu? Aku yakin kau pasti kau membiarkan perutmu kosong," ucap Najla yang tahu betul Jemima tidak akan makan ketika suasana hatinya sedang kacau.


"Tenanglah. Aku sudah memesan sushi dari restoran favorit Jemima," ucap Calla sambil menunjukkan layar ponselnya, dimana ia sedang memesan online.


"Aku tidak berselera makan...." gumam Jemima.


"Kau harus makan!" Seru Najla bersamaan dengan Brie dan Calla, yang membuat Jemima mengerjapkan matanya beberapa kali karena terkejut.


***


Najla pulang lebih dulu dari apartemen Jemima setelah menginap semalam. Untungnya Brie dan Calla tetap tinggal di apartemen Jemima. Sebenarnya Najla masih ingin di sana, namun ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang sejak pagi.


Hari ini adalah ulang tahun ibunya. Setelah bertahun-tahun hanya melihat perayaan ulang tahun sang ibu dari sosial media kakak-kakakny, Najla berencana kali ini datang untuk mengucapkan ulang tahun pada sang ibu. Apalagi ia tau bahwa kondisi sang ibu tak lagi sama seperti dulu setelah operasi jantung. Najla juga ingin keluarganya tau, bahwa ia tidak sedikitpun menyimpan dendam dan masih menyimpan harap untuk memperbaiki hubungan mereka.


"Terimakasih," ucap Najla sumringah setelah menerima papper bag berisi sebuah tas branded mewah yang ia beli sebagai kado untuk ibunya.


Tidak ada keraguan saat pramuniaga menggeseknya kartu debitnya dan mengetik nominal seratus lima puluh juta rupiah. Benaknya hanya memikirkan bagaimana reaksi keluarganya saat ia datang nanti ke rumah orangtuanya. Najla benar-benar berharap ia dapat diterima.


***


"Neil, kau dimana?" Tanya Najla menelepon Neil.


Ia sudah bersiap-siap untuk berangkat namun ia terlalu takut untuk datang sendirian. Bahkan tangannya sudah terasa dingin.


"Aku di rumah sakit dan baru saja selesai operasi. Apa apa?"


Najla terdiam beberapa detik mendengar jawaban Neil. Suara pria itu terdengar begitu lelah, sepertinya tidak memungkinkan ia meminta Neil untuk menemaninya.


"Ah...tadinya aku ingin mengajakmu ke rumah orangtuaku karena ibuku berulang tahun,"


"Ow...aku bisa pulang sekarang," sahut Neil.


"Tidak, tidak. Kau harus istirahat. Aku akan pergi sendiri," potong Jemima cepat.


"Kau yakin?"


Najla pun kemudian memutuskan sambungan dan menyimpan ponselnya di tas. Ia lalu meraih paperbag berisi tas yang sudah ia bungkus dengan kertas kado. Tak menunggu lama Najla pun bergegas menuju lobby karena supirnya sudah menunggu.


Mobil Najla perlahan memasuki pekarangan rumah orangtuanya. Tubuhnya terasa menegang.


"Pak, tunggu di sini ya," ujar Najla pada supirnya sambil membuka pintu. Si supir hanya mengangguk karena ia menerima telepon di ponselnya.


Najla melangkah ragu menuju pintu rumah yang terbuka lebar. Ia memperhatikan halaman rumah yang sudah banyak berubah. Bangunan rumahnya pun sudah di renovasi menjadi lebih mewah. Mereka hidup dengan baik tanpaku, batinnya.


"Non Najla! Oh Tuhan benarkah ini kau?" Seru Bi Mina, asisten rumah tangga yang sudah bekerja di rumahnya sejak ia kecil. Najla bahkan terkejut karena Bi Nina masih bekerja di rumah keluarganya.


Najla memeluk Bu Mina menahan haru. Pelukan mereka begitu erat karena saling melepaskan rindu.


"Sudah lama sekali, Non. Bibi selalu teringat padamu sampai bibi jatuh sakit. Bibi baru tenang setelah kau muncul di televisi menjadi artis. Apalagi melihat kau menari...Oh Tuhan...Bibi melihatmu perjuanganmu untuk menari sejak kecil..."


Najla seketika memeluk Bi Mina yang tak kuasa menahan air mata. Ia yang mengasuh Najla sejak bayi karena ibunya sudah terlalu lelah mengurus bayi. Ia pula yang menyaksikan bagaimana diperlakukan tak adil oleh orangtuanya. Bi Mina orang yang paling tersakiti saat Najla angkat kaki namun ia tak dapat berbuat apa-apa dan tak tahu bagaimana mencari Najla.


Najla tersenyum tipis. Sekuat tenaga ia tak membiarkan air matanya keluar. Ia harus tegar karena akan bertemu dengan orangtua dan kakak-kakaknya.


Ia lalu melangkah menuju ruang makan bersama Bi Mina. Ia menggenggam erat tangan wanita tua itu. Sayup-sayup terdengar tepukan dan nyanyian ulang tahun. Lalu sorakan gembira saat lilin ditiup. Semuanya terlihat bersuka cita merayakan ulang tahun Widy, sang ibu. Hingga saat sosok Najla muncul, suasana mendadak hening.


"Selamat malam...." sapa Najla dengan suara bergetar. Sungguh ia seperti akan mati menerima tatapan heran dari semua orang.


Najla bertahan beberapa detik tanpa bersuara hingga akhirnya Najma, kakaknya bersuara.


"Sepertinya ulang tahun ibu cukup kita rayakan sederhana, tanpa perlu mengundang artis terkenal," ujarnya sambil melirik sinis pada Najla.


Ia mengalihkan pandangan dan baru menyadari bahwa Zura juga ada di sana dengan ayah dan ibunya. Najla lalu menatap Widy yang duduk di tengah-tengah meja. Hatinya mencelos karena tak mendapati sorot kerinduan di sana.


"Ibu..." gumammya, berharap sang ibu akan datang menyabutnya.


"Kenapa kau ke sini?" Tanya Sabri, ayahnya.


Najla sontak menoleh. "Aku...aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada ibu," jawab Najla.


"Aku...membawa kado untuk ibu," lanjutnya terbata. Ia memberanikan diri mendekati Widy yang bergeming menatapnya.


"Ibu...selamat ulang tahun..." ucap Najla getir sambil meraih tangan Widy dan menciumnya. Sungguh kepala Najla terasa pening karena harus menahan sesak di dada.


Najla tak dapat menahan diri. Ia memeluk Widy dan tangisnya pecah. Rasa rindu pada wanita yang melahirkannya begitu membuncah. Najla menghirup dalam-dalam aroma Widy yang tak berubah sejak dulu, aroma yang selalu Najla sukai namun tak bisa ia rasakan karena dulu Widy jarang memeluknya. Ia hanya mencuri-curi berdekatan dengan Widy hanya untuk mencium aroma ibunya itu.


"Bu...aku rindu..." lirih Najla. Rasanya ia ingin memohon pada Widy untuk membalas pelukannya karena sang ibu hanya diam.


Najla tiba-tiba merasa tubuhnya ditarik kencang oleh seseorang. Ternyata Najwa. Kakaknya itu lalu dengan kasar mendorong Najla untuk menjauh dari Widy.


"Berani-beraninya kau memeluk ibu. Kau bukan siapa-siapa di sini. Kau orang asing," ketus Najwa dengan tatapan menusuk.


"Kau merusak suasana. Pergilan, anak nakal!" Kali ini Najma tak menyerangnya dengan kalimat yang tak kalah menyakitkan.


Najla terdiam. Ia menyeka air matanya dengan kedua tangan.


"Kenapa kalian masih saja membenciku? Apa begitu sulit untuk sekedar menyambutku?" Ucap Najla dengan suara bergetar.


"Aku hanya ingin bertemu ibu saat ulang tahunnya. Apa itu sebuah kesalahan?"


"Ya!" Sentak Sabri. "Kau memilih pergi meninggalkan rumah ini. Sudah ku katakan sekali kau pergi, aku tidak akan menerimamu lagi,"


Rasa sesak di hati Najla tak tertahankan. Entah keberanian dari mana ia membalas ucapan Sabri.


"Ayah. Apa kau masih menganggapku anak bodoh yang memalukan? Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar aku dapat diterima kembali di keluarga ini? Katakan, Ayah!


Plakk!!


Sabri menampar keras pipi Najla hingga gadis itu terhuyung dan nyaris jatuh ke belakang. Najla memegang pipinya yang terasa panas. Perih. Ia yakin bekas telapak tangan Sabri tercetak di pipinya. Namun yang lebih menyakitkan, tidak satupun ada yang membelanya. Bahkan Widy hanya mematung melihat tubuh anak bungsunya itu gemetar.  Najla tak berkutik ketika Najma menarik lenganny untuk menjauh lalu mendorong keras tubuh Najla hingga gadis itu tersungkur.


"Ah...aw..." pekik Najla. Ia baru saja akan bangkit ketika seseorang meraih tubuhnya dan membantunya berdiri.


"Kalian keterlaluan,"


Najla menoleh lalu terbelalak menyadari siapa yang membantunya barusan.


"Neil..." ucap Najla.


Zura yang menyadari kedatangan Neil seketika berdiri karena terkejut. Apalagi Neil justru berada di sisi Najla.


"Dokter Neil?!" Seru Sabri keheranan.


"Neil, kenapa kau di sini?" Zura tak kalah heran. Kedua orangtuanya pun memandanf Neil tak percaya.


Najla tak mampu berkata-kata dengan keadaan saat ini. Hanya saja ia dapat mendengar deru nafas Neil yang memburu seperti menahan emosi.


"Apa harus begini memperlakukan anak kandungmu, Tuan Sabri?" Tanya Neil mengintimidasi.


Sabri terdiam. Raut wajahnya berubah pias.


"Apa kau harus ikut campur urusan pribadi keluarga pasienmu, Dokter?" Tantang Sabri yang tak senang.


Neil tertawa sinis. "Aku di sini bukan sebagai dokter istri Anda. Jadi jangan membahas profesiku," balas Neil.


"Aku tidak percaya orang terhormat sepertimu tega berlaku buruk pada anak kandung. Dimana hati nuranimu sebagai seorang ayah?"


Ucapan Neil sontak membuat Najla terkesiap. "Neil...."


"Dia bukan anakku sejak ia memilih pergi dari rumah ini!" Sergah Sabri. "Anak bodoh itu tak lebih hanya sampah bagi keluarga kami!"


Najla dapat mendengar gigi Neil bergemeletuk dan nafasnya semakin cepat.


"Baik..." ucap Neil. "Aku akan memungut sampah ini dan menjadikannya berlian hingga kalian akan menyesali hari ini seumur hidup,"


Neil kemudian menarik tangan Najla untuk meninggalkan rumah itu.


"Pungutlah! Memangnya apa hakmu atas anak itu, dokter sialan!"


Najla terhenyak. Sungguh ayahnya benar-benar diselubungi emosi yang meluap. Najla begidik melihat Neil yang berbalik dan kembali menyahuti ucapan Sabri.


"I'll marry her!" Seru Neil yang membuat Najla dan semura orang terbelalak tak percaya.


"Kupastikan Najla tidak akan lagi menerima perlakuan buruk kalian setelah dia menjadi istriku,"


Usai berkata demikian Neil kembali menarik tangan Najla. Najla susah payah mengikuti langkah lebar Neil yang tergesa. Ia tak bersuara ketika Neil menuntun tangannya menuju mobil. Pria itu pun bungkam sambil menyalakan mesin mobil lalu menginjak gas meninggalkan pekarangan rumah orangtua Najla.


***