Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 46



"Kita harus cepat menemukan Jemima!" Seru Mahen saat para direksi Magnolia mengadakan meeting darurat setelah kejadian hilangnya Jemima.


"Aku harap polisi benar-benar bergerak cepat. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan Jemima," timpal Gerald, direktur public relation Magnolia tak kalah gusar.


"Apa kita juga perlu mencari Jemima dengan cara kita sendiri?" Tanya Mahen pada Kalina yang sejak tadi tertunduk dengan menopang kepalanya dengan kedua tangan.


Sang CEO pun kemudian mengangkat kepalanya setelah Mahen bertanya.


"Jangan gegabah. Kita sudah menyerahkan semuanya pada polisi. Tindakan kita bisa jadi akan semakim mengancam Jemima," ujar Kalina.


Kalina lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Raut wajahnya menyiratkan kepanikan. Tentu Jemima menjadi tanggung jawabnya karena gadis itu tidak memiliki wali.


"Pengirim surat kaleng itu pasti mengincar Magnolia lalu menjadikan Jemima sebagai umpan," tukas Mahen menganalisa.


"Benar. Kenapa harus meneror kita jika tujuannya uang. Mereka bisa saja merampok Jemima," timpal Gerald.


"Entahlah," sela Kalina. "Rasanya kita tidak memiliki masalah dengan pihak manapun,"


"Jemima...ah gadis itu. Akhir-akhir ini berita tentangnya seolah tidak terputus. Meski membuatku kesal, tapi aku tidak rela hal ini terjadi padanya," lanjut Kalina.


Mahen dan Gerald saling berpandangan lalu kembali menunduk menyelami pikiran masing-masing.


***


"Tidak ada petunjuk apapun," keluh Najla setelah ia berkeliling Serenade Park untuk menemukan tanda-tanda keberadaan Jemima dan Alezo.


"Istirahatlah," ujar Neil sambil menyodorkan sebotol air mineral.


Najla meraihnya lalu menenggak air tersebut hingga tak tersisa. Ia dan Neil lalu duduk di bangku taman yang menghadap ke danau. Matahari yang mulai merangkak menuju peraduan melukiskan semburat oranye yang memanjakan mata. Najla terpana memperhatikan langit senja yang begitu indah. Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum.


"Cantik,"


Najla menoleh ketika mendengar ucapan Neil. Ternyata pria itu pun sedang menengadahkan kepala melihat langit. Bagaimana Najla baru menyadari bahwa garis wajah Neil begitu sempurna meski dari sisi samping. Hidung pria itu membubung tinggi berpadu dengan garis rahang yang tegas. Najla tersipu ntah karena ia mengira ungkapan cantik dari Neil ditujukan untuknya, atau karena terpesona pada Neil.


"Aku selalu suka langit senja," ucap Neil tiba-tiba sehingga membuyarkan lamunan Najla.


"Begitukah," respon Najla yang bingung menanggapinya.


Ia berusaha keras mengingat bahwa hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja dan mereka ada di momen ini semata-mata hanya untuk menemukan sahabat mereka.


"Sayangnya aku sudah jarang sekali melihatnya karena lebih sering terjebak di rumah sakit," ujar Neil lagi.


Najla tak merespon. Padahal dalam hatinya ia bersorak mengetahui Neil yang sama-sama menyukai langit senja sepertinya.


"Najla. Aku paham kau pasti masih kesal padaku. Kau terpaksa menemuiku karena ingin menemukan sahabatmu," ucap Neil sambil menoleh ke arahnya.


Najla menelan ludah. Bagaimana Neil begitu sensitif? Apa ia bisa membaca pikiranku, batin Najla.


"It's OK. Tidak masalah. Aku memang salah dan ya...keterlaluan," tukas Neil sambil tertawa getir.


"Aku bersedia jika kau menginginkan aku untuk minta maaf pada keluargamu. I'll do it. Katakan saja padaku apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu kembali ke keluargamu,"


Kalimat Neil bagaikan jarum yang menusuk kalbu Najla. Entah kenapa terasa begitu sakit mendengar ucapan Neil yang begitu tulus. Bukankah itu artinya Neil merelakan harga dirinya jatuh? Lucunya, justru Najla yang tidak rela.


"Aku tidak ingin membahasnya. Dipikiranku saat ini hanya menemukan Jemima," cetus Najla sejurus kemudian.


Neil tak menjawab. Pria itu memilih kembali menikmati langit senja yang perlahan mulai gelap.


Najla merasa perasaannya berkecamuk. Satu sisi ia masih menyesalkan tindakan Neil, namun di sisi lain ada rasa rindu. Najla tidak tahu mana yang lebih menguasai hatinya.


Najla menunduk berpura memperhatikan ujung sepatunya. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sesuatu yang berkilauan tak jauh dari kakinya. Ia pun lalu menunduk lalu meraih benda itu. Seketika ia terkesiap karena itu adalah anting milik Jemima. Najla yakin karena ia lah yang membelikannya sebagai hadiah ulang tahun untuk sahabatnya itu.


"Ini milik Jemima!" Seru Najla pada Neil.


"Benarkah?" Selidik Neil.


Najla mengangguk. "Anting ini tidak mungkin terlepas begitu saja. Pasti terjadi sesuatu pasa Jemima," ujar Najla merinding membayangkan apa yang dialami Jemima.


***


Neil baru saja berbicara dengan Albar tentang hilangnya Alezo yang bersamaan dengan Jemima melalui telepon. Albar yang masih mengira kakaknya ada pekerjaan seketika terkejut dan panik. Jika tidak diperingatkan oleh Neil, adik sahabatnya itu nekat ingin mencari kakaknya seorang diri. Untunglah Albar menurut dan berjanji tidak akan memberitau orangtua mereka dulu.


Neil mengacak rambutnya frustasi. Ia bertanya-tanya apakah benar Jemima dan Alezo menghilang berkaitan dengan surat kaleng yang Magnolia sampaikan pada media? Jika itu tertuju pada Magnolia, harusnya Alezo tidak dilibatkan. Atau apa mereka berdua sedang bersembunyi? Sungguh Neil tidak dapat menjawa  pertanyaan yang memenuhi pikirannya.


Hari sudah menunjukkan pukul sembilan namun Neil belum berniat beranjak dari cafe yang terletak di lantai dasar apartemennya. Ia sudah menghabiskan dua gelas ice americano sejak menyelesaikan makan malamnya di sana. Neil kembali turun saat tadi ia mengantarkan Najla ke lantai unit mereka. Perasaannya kacau karena ia dan Najla seperti orang asing. Mereka baru saja akan memulai suatu hubungan namun layu sebelum mekar. Neil sendiri tidak menyangka perasaannya ternyata sedalam itu untuk Najla. Ia kira hanya sebuah ketertarikan biasa. Namun ternyata ia patah hati saat gadis itu menjauh.


Neil baru saja akan kembali memanggil pelayan untuk memesan sesuatu ketika seseorang mengambil tempat duduk di hadapannya.


"Zura..." gumam Neil terkejut. Kenapa Zura kerap datang tiba-tiba, pikirnya.


Wajah Zura terlihat memerah dan matanya lekat menatap Neil yang kebingungan.


"Katakan padaku, apa hubunganmu dengan Najla?" Tanya Zura tanpa basa-basi.


Neil mendelik. Ia sudah menyangka Zura pasti akan mempertanyakan hal itu.


"Zura, stop. Aku tidak ingin membicarakan ini denganmu, oke?"


Zura mendengus. "Tidak bisa, Neil. Aku tidak ingin kau bersama anak itu!"


"Apa hak mu melarangku?" Tantang Neil dingin.


Zura terdiam dengan reaksi Neil. Seketika ia merasa ciut memandang wajah Neil yang mengintimidasinya. Namun ego Zura mampu memberi kekuatan pada dirinya.


"Aku masih mencintaimu, Neil. Dan aku yakin kau pun begitu. Jangan pungkiri perasaanmu!" Cerocos Zura.


Neil tersenyum getir. "Kenapa kau yakin begitu?"


"Kau begitu terluka saat aku meninggalkanmu dulu. Aku tau aku salah. Biarkan kali ini aku mengobati luka hatimu dengan kembali bersama, Neil.. "


Zura kemudian meraih tangan Neil namun dengan tegas ia menarik tangannya.


"Luka itu telah sembuh tanpa bekas," jawab Neil datar yang membuat Zura terhenyak.


Zura tertawa seolah meledek Neil. "Apa karena Najla?"


Neil tak menjawab. Dalam hati ia menjawab 'ya', karena sejak bertemu Najla sisa perasaannya pada Zura perlahan terkikis. Ia berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Zura.


"Apapun yang menyembuhkanku, rasanya bukan hal penting buatmu,"


"Tentu saja penting, Neil! Aku kehilanganmu karena kebodohanku dulu. Dan aku tidak mau itu terjadi lagi ketika kau ada di depanku!"


Neil menghela nafas mendengar ucapan Zura yang mendesaknya.


"I'm done, Zura. Aku tidak bisa lagi melanjutkan ini. Kita punya kehidupan masing-masing sekarang. Baiknya tidak perlu saling mencampuri,"


Usai berkata demikian Neil beranjak dan segera membayar ke kasir. Baru beberapa langkah keluar dari restoran, tiba-tiba Zura memeluknya dari belakang.


"Zura, stop it!" Tegas Neil sambil berusaha melepaskan tangan Zura yang melingkar di pinggangnya.


"Tidak akan sampai kau mengatakan akan kembali padaku," rengek Zura.


Neil merasa kikuk karena beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Betapa memalukan, pikir Neil.


"Zura, lepaskan. Aku tidak ingin membuatmu malu dengan menepis tanganmu. Orang-orang memperhatikan kita,"


"Katakan kau tidak serius dengan Najla. Katakan hubungan kau dan dia hanya rekayasa,"


Neil terdiam. Ia menggelengkan kepala sebelum melontarkan kalimatnya.


"Tidak. Aku dan Najla saling mencintai," ujar  Neil menahan gejolak perasaannya karena ia berdusta.


Perlahan pelukan Zura melonggar. Neil sesegera mungkin melepaskan tubuhnya dan berbalik menghadap Zura. Tiba-tiba gadis itu dengan keras menamparnya dan membuat Neil tersentak.


"Bisa-bisanya kau mencintai anak yang bahkan dibuang orangtuanya itu, hah?! Tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya selain terkenal. Aku juga bisa terkenal jika aku mau!" Kali ini Zura sungguh tersulut emosi.


Neil baru saja akan berbicara ketika seorang anak keci laki-laki berteriak dan berlari ke arah Zura.


"Mama....mama!" Anak kecil berusia empat tahun itu kemudian memeluk kaki Zura erat.


"Kenapa mama lama sekali? Apa sudah selesai bertemu teman mama?"


Neil terhenyak. Anak kecil itu memanggil Zura mama. Apa itu artinya dia adalah anak Zura?


Neil menatap Zura yang terlihat panik dan salah tingkah. Ia bergantian memandang Neil dan anak laki-laki itu.


"Mama ayo pulang. Aku mengantuk..." anak itu lalu merengek sambil menarik baju Zura.


Beberapa detik kemudian seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam baby sitter datang tergopoh menghampiri mereka.


"Maafkan saya, Nyonya. Andrew tidak sabar dan langsung membuka pintu dan berlari," ujarnya dengan penuh penyesalan.


"Pulanglah. Anakmu sudah lelah," tukas Neil singkat, namun tak urung tersenyum pada anak kecil itu lalu mengusap kepalanya.


"Neil..." panggil Zura yang terdengar lesu karena akhirnya Neil mengetahui ia telah memiliki anak.


"You're a mom. Lebih baik kau fokus pada anakmu daripada memikirkan hal yang sudah berlalu," tukas Neil.


Ia tak ragu lagi berbalik dan berjalan meninggalkan Zura yang masih menatap punggungnya. Kenyataan Zura yang sudah memiliki anak tentu mengejutkan Neil. Siapa dan dimana suaminya, kenapa Zura masih saja mengejarnya jika sudah berkeluarga? Neil penasaran tapi rasanya ia tak ingin membuang tenaga untuk mencari tahu.


"Mama...ayo pergi," Andrew kembali merengek pada Zura sambil memegang tangannya.


Zura menoleh pada bocah itu lalu memandangnya dengan tatapan kesal.


"Menyusahkan!"


***