
Jemima membuka pintu menuju balkon kamar hotel begitu terbangun dan mengumpulkan nyawa. Ia menyapukan pandangan pada pemandangan laut yang begitu indah memanjakan matanya. Pulau Whitsundays, Australia menjadi pilihan Jemima untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk kehidupan yang membuatnya lelah. Ia memilih sebuah resort mewah yang menghadap langsung pantai Whitehaven yang konon pantai terbersih di dunia. Jemima tersenyum kecil, tak sabar ingin menginjakkan kaki di pasir putih dan membiarkan tubuhnya basah diterpa air laut yang biru.
"Ah...aku membutuhkan spa," ujar Jemima yang masih merasa pegal setelah perjalanannya kemarin.
Ia lalu bergegas berganti pakaian untuk menuju spa hotel. Membayangkan tubuhnya di pijat membuat Jemima tak sabar hingga ia mempercepat langkahnya.
Benar saja. Spa hotel tersebut menghadap langsung ke pantai. Sungguh menenangkan dipijat sambil menikmati pemandangan pantai yang begitu indah.
Jemima tertidur saat terapis spa melakukan menicure dan pedicure untuk kuku kaki tangannya. Sang terapis tersenyum karena sejak tadi ia mengagumi wajah cantik Jemima. Ia sebenarnya penasaran dari negara Jemima berasal, namun urung ia tanyakan karena gadis itu terlihat tak ingin banyak bicara.
Jemima terbangun tepat saat sang terapis memberikan sentuhan terakhir pada kukunya.
"Finish," ujar sang terapis setelah selesai.
"Thankyou," ucap Jemima sambil tersenyum.
Ia pun beranjak untuk menuju ruang ganti dan membayar
"You're so beautuful," ucap sang terapis yang akhirnya tak kuasa menahan pujiannya saat Jemima sudah selesai berganti pakaian dan akan meninggalkan spa.
"Ow...thankyou. So you are," balas Jemima ramah.
Jemima kemudian berlalu sambil bersenandung dalam hati. Ia tak sabar untuk menikmati pantai, apalagi ia punya banyak waktu tanpa ada yang mengganggu.
***
Break dari pekerjaan akhirnya Alezo rasakan. Syuting iklan terakhirnya sudah selesai mesi harus tertunda karena penculikan yang ia alami. Seluruh kontraknya pun sudah ia tunaikan sehingga mewanti-wanti Tara dan Samuel, CEOnya bahwa ia ingin istirahat.
"Kau akan berlibur?" Tanya Tara penasaran.
Alezo menaikkan bahunya, menandakan ia sebenarnya belum punya rencana.
"Pergilah nikmati waktumu. Kau sudah bekerja keras,"
"Aku ingin pergi ke suatu tempat. Tapi aku tidak tahu dimana," jawab Alezo asal.
Tara mengernyitkan dahi tanda tak mengerti. "What do you mean?"
"Ah entahlah. Yang jelas sekarang aku bisa beristirahat," elak Alezo.
Ia kemudian beranjak dan berpamitan pada Tara.
"See you," ucapnya yang dibalas lambaian tangan oleh Tara.
Sepeninggal Alezo, notifikasi ponselnnya berdenting. Setelah memeriksanya Tara sontak terperangah karena menerima transfer sebesar seratus juta dari Alezo. Ia baru saja akan mengejar Alezo namun ternyata mobil sang aktor sudah merangkak keluar dari pekarangan kantor Hexagon.
"Oh Tuhan Alezo..." gumamnya.
***
Neil berjalan cepat menuju lobby Global Medika setelah memarkirkan mobil. Ia tak sabar untuk melihat kondisi Najla yang menurut info dari Farel masih belum sadarkan diri.
Neil yang kemarin terpaksa pulang benar-benar tak bisa tidur karena rasa khawatir yang besar pada Najla. Ia hanya terlelap sekejap, kemudian tersentak. Terus begitu hingga pagi menjelang.
Hingga akhirnya Neil sadar. Perasaannya ternyata sudah mendalam pada Najla. Bukan sekedar suka sebagai lawan jenis, namun ia benar-benar jatuh cinta. Hatinya yang tertutup sejak hubungannya dengan Zura berakhir kini kembali bergairah. Sudahlah, ia tak akan menyangkal lagi. Ia mencintai Najla dan ingin mereka terus bersama. Neil bertekad akan memperbaiki hubungannya dengan Najla apapun caranya, asalkan ia dapat kembali merebut hati gadis itu.
Pintu lift terbuka dan Neil segera melangkah keluar. Sesekali ia membalas sapaan perawat dan rekan dokter yang kebetulan berpapasan dengannya. Neil membuka pintu ruang rawat Najla langsung disambut oleh Farel, sang manager.
"Syukurlah kau datang tepat waktu," ucap Farel.
"Kenapa?"
"Aku harus ke Magnolia. Para direksi benar-benar terkejut mendengar kabar Najla. Kasus Jemima baru saja berakhir lalu kini terjadi pada Najla..." jelas Farel.
Neil terdiam. Benar juga. Kejadian yang menimpa Najla tepat setelah penculikan Jemima berakhir.
"Pergilah. Aku akan berjaga di sini,"
"Apa kau tidak bekerja?"
"Aku sedang cuti," balas Neil.
Farel mengangguk. Ia kemudian meraih tasnya dan berjalan menuju pintu keluar. Tepat sebelum kakinya melangkah tiba-tiba Farel berbalik.
Neil tersenyum mendengar pertanyaan Farel. "Just Neil. Kecuali kau jadi pasienku,"
"Oh, no. Aku tidak akan pernah mau menjadi pasienmu," tukas Farel sambil mengelus dadanya.
Sepeninggal Farel, Neil duduk di samping ranjang Najla. Perban yang membalut kepalanya membuat Neil meringis membayangkan kesakitan yang Najla alami saat ia diserang. Sayangnya tak ada CCTV di area jogging track yang dilalui Najla karena memang ia sedikit keluar dari area. Sungguh Neil akan menghajar orang yang menyerang Najla jika ketahuan dan tertangkap.
Neil meraih tangan Najla dan menggenggamnya. Otaknya seketika memutar memori saat pertemuan awal mereka hingga saat ini. Ternyata masih belum lama. Namun entah kenapa Neil merasa ia telah lama mengenal Najla. Apalagi mengetahui kisahnya yang tragis dimana ia menceritakannya pada Neil saat mereka minum bersama di bar. Tak ada yang Neil inginkan saat ini selain memberikan Najla tempat berlindung yang nyaman dan penuh cinta untuk menyembuhkan luka dari perlakuan orangtuanya. Ia ingin menjadi rumah bagi Najla untuk tempat gadis itu bersandar dan mengadu.
"Najla...Mungkin aku terdengar seperti remaja yang menggombali kekasihnya. Tapi perasaanku padamu sudah sedalam ini. Aku menyesal membuatmu kecewa sehingga kau menjauh dariku. Beri aku kesempatan, Najla. Aku...aku akan kembali terluka seperti di masa lalu jika kau tak bersamaku..."
Neil menarik nafas dalam. Bayangan bagaimana hidupnya berantakan saat ditinggal Zura membuat tubuhnya begidik. Sungguh Neil tak ingin lagi mengalaminya. Kali ini ia bertekad sekuat tenaga untuk mempertahankan Najla, apapun yang akan dihadapinya.
Neil yang tertunduk tak menyadari bahwa kelopak mata Najla bergerak dan beberapa detik kemudian terbuka. Neil baru tersadar saat mendengar helaan nafas Najla lalu mengangkat kepalanya.
"Najla..." ucap Neil saat mendapati Najla terjaga.
Tak ada jawaban. Najla masih mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia terlihat kebingungan lalu meringis kesakitan.
"Aw...kepalaku..." cetus Najla pelan.
Neil kemudian menekan nurse bell untuk memanggil perawat. Tak lama kemudian perawat tiba bersama Evan, dokter yang menangani Najla.
"Selamat siang, Nona Najla. Bagaimana perasaanmu saat ini?" Sapa Evan lalu memeriksa Najla dengan stetoskopnya.
"Kepalaku...sakit sekali," ucap Najla.
Evan mengangguk. Ia lalu menjelaskan pada Najla bahwa luka bekas operasinya memang akan terasa sakit namun akan tertasi dengan obat pereda nyeri. Evan juga memastikan operasi Najla berjalan lancar hingga tak ada yang perlu dikhawatirkan selain masa pemulihan yang memakan waktu. Sementara Neil memilih mundur saat Evan berbicara pada Najla. Dalam ia hati ia pun turut lega karena kondisi Najla dalam keadaan stabil.
Sepeninggal Evan dan perawat, Neil kembali mendekati ranjang Najla. Ia lalu memberikan minum pada gadis itu. Ternyata Najla kehausan.
"Terimakasih, Dokter," ucap Najla yang membuat Neil terhenyak.
"Dokter?" Ulang Neil.
"Anda juga dokter yang merawatku, bukan?"
Tubuh Neil menegang. Jangan katakan bahwa Najla kehilangan ingatanya. 'Tuhan, aku mohon,' seru Neil dalam hat.
"Apa aku benar akan baik-baik saja, Dokter?"
Neil tak mampu menjawab. Ia mundur beberapa langkah, tertampar dengan kenyataan Najla yang tidak mengingatnya.
Neil bergegas keluar lalu berlari mencari Evan untuk meminta penjelasan. Beruntung Evan masih berada di nurse station.
"Dokter, ada yang harus kukatakan," ucap Neil.
Ia lalu mengajak Evan untuk berbicara di tempat lain.
"Ada apa?"
"Najla...Najla tidak mengenalku. Apa ingatannya terganggu?" Tanya Neil dengan nafas memburu.
Evan terdiam. Prediksinya benar. Najla kemungkinan akan mengalami amnesia setelah cedera kepala berat dan operasi yang ia jalani.
"Amnesia retrograde," ucap Evan. "Pasien dengan cedera kepala berat dan menjalani operasi besar kemungkinan mengalaminya,"
"Dia kesulitan mengingat peristiwa di masa lalu?" Ucap Neil memastikan.
Evan mengangguk pelan membenarkan ucapan Neil.
"Oh God..." keluh Neil mengusap wajahnya lalu berbalik membelakangi Evan dan melepas kacamatanya.
'Najla melupakanku, artinya dia juga tidak ingat dengan hubungan yang pernah kami jalani. Aku orang asing baginya,' batin Neil sesak.
Bagaimana ia akan memperbaiki hubungan mereka jika Najla bahkan tak ingat namanya.
Evan lalu menepuk bahu Neil. "Apa dia kekasihmu?"
Neil tak menjawab. Bibirnya terasa kaku untuk berbicara. Ia lalu memilih pergi meninggalkan Evan yang menatapnya iba.
***