
Ayo bacanya pas sahur atau pas udah buka ya!
Neil buru-buru mengakhiri jam prakteknya setelah pasien terakhir keluar. Ia melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. Hari sudah menunjukkan pukul delapan malam, artinya ia sudah terlambat untuk menemui Najla selama satu jam. Neil merasa tidak enak hati karena membuat Najla menunggu, padahal ia yang membuat janji. Padahal pertemuan mereka kali ini sangat penting bagi Neil karena ia ingin membuat Najla kembali jatuh cinta padanya sesuai permintaan gadis itu.
Dengan tergesa Neil menyalakan mesin mobil lalu menginjak gas. Ia semakin tidak tenang karena nomor Najla tidak aktif. Walau ragu Najla masih berada di restoran tempat mereka janjian, Neil tetap melajukan mobilnya ke sana, berharap Najla masih menunggunya. Jika tidak, Neil bersumpah akan mencarinya kemanapun.
Butuh dua puluh menit bagi Neil untuk tiba di restoran. Saat masuk ia segera menyapukan pandangannya mencari sosok Najla. Neil hampir saja bersorak karena ia melihat Najla yang termenung menatap jendela. Ia lalu mempercepat langkahnya untuk menghampiri Najla.
"Najla...I'm sorry. Aku terlambat. Maaf membuatmu menunggu..." ucap Neil dengan rasa bersalah yang terasa menghantam dadanya.
"Ow...hai. Kau datang. Aku hampir menyerah menunggu karena mengira kau tidak bisa meninggalkan pekerjaan," tukas Najla tersenyum.
"Ah, ya. Pasienku cukup banyak hari ini. Maafkan aku. Apa kau lelah? Kau ingin pulang?"
Najla menggeleng. "Tidak. Kau sudah mengajakku ke sini,"
"Ehm...baiklah kalau begitu. Kita tak akan lama di sini agar kau bisa segera beristirahat,"
Neil kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan. Meski terlihat tenang, sebenarnya Neil sedang menahan gejolak dalam dirinya. Ia merasa gamang karena ditantang untuk membuat Najla kembali mencintainya. Neil benar-benar memulai dari nol, dan tak ada yang bisa ia andalkan selain dirinya sendiri untuk membuat Najla jatuh hati.
"Neil...apa kita sering makan bersama seperti ini?" Tanya Najla.
Neil menelan ludah. Ia baru menyadari bahwa mereka jarang menghabiskan waktu berdua bahkan saat masih bersama. Selain karena kesibukan, Najla tentu tak bebas untuk berkencan karena Spill The Tea bisa setiap saat menangkap fotonya. Beruntung sekarang Magnolia tak lagi melarang artisnya berkencan, sehingga sekalipun ada yang memotret mereka tentu tak akan jadi masalah besar bagi Najla.
"Sejujurnya tidak. Kita lebih sering bertemu di apartemen," jawab Neil sambil menunggu reaksi Najla.
"Ah...begitu rupanya. Pantas saja ada hoodiemu yang tertinggal," tukas Najla.
Neil mengangguk sambil membenarkan letak kacamatanya. Sungguh ia mengutuk dirinya yang benar-benar gugup berhadapan dengan Najla.
"Lalu...apa kita pernah tidur bersama?"
Pertanyaan Najla sontak membuat Neil terhenyak. Ia tak menyangka Najla akan menanyakan hal tersebut. Tentu saja mereka belum pernah. Namum berciuman dengan sangat panas terjadi beberapa kali. 'Apa aku menyebutkannya?' batin Neil.
"Tidak. Sumpah demi Tuhan tidak pernah," jawab Neil tanpa sadar membentuk angka dua dengan jarinya sehingga membuat Najla mengerjapkan mata beberapa kali karena terkejut dengan reaksi Neil.
"Ow...good..." tukas Najla sekenanya.
Tak lama kemudian makanan pesanan mereka datang. Sebenarnya Neil merasa lapar, namun selera makannya mendadak hilang karena perasaannya tak tenang. Padahal aroma steik wagyu medium pesanannya sungguh menggoda.
"Neil...aku sudah mengetahui tentang keluargaku dari Jemima. Ternyata aku salah mengiramu mengarang cerita," ucap Najla di tengah-tengah makan.
"Aku bahkan merinding membayangkan bagaimana bisa aku hidup dengan orangtua yang membenciku dan tetap berharap kembali pada mereka,"
Neil terdiam. Ia tak mengira Najla bertemu dengan Jemima dan akhirnya mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Entah harus lega atau seperti apa, Neil tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.
"Maaf aku berburuk sangka padamu..."
Neil dengam cepat menggeleng, menyanggah ucapan Najla.
"No. Wajar kau tak langsung percaya padaku. I'm a stranger, right? Tidak mudaj mempercayai orang asing," sahut Neil menahan kepedihan pada kata-kata terakhir.
"Tapi kau...kekasihku...Dan ya, kenapa tak sejak awal kau memberitahu bahwa kita berkencan?"
Neil tercekat. Najla tak ingat hubungan mereka sebenarnya sudah berakhir.
"Itu karena...I know kau pasti tidak mengingatnya. Kau memutuskanku karena aku berdebat dengan ayahmu. Kau marah karena aku membuat hubunganmu dengan mereka memburuk, padahal kau masih menginginkan kembali pada keluargamu," jelas Neil.
Dari raut wajah Najla tergambar jelas gadis itu terkejut. Bahkan ia tanpa sadar menjatuhkan sendok dan garpu yang ia pegang. Matanya dalam menatap Neil.
"I did it? Memutuskanmu demi my evil family?"
"Hey...don't say that..." ucap Neil menenangkan Najla, dimana tanpa sadar ia meraih tangan gadis itu lalu menggenggamnya erat.
"Harusnya aku berterimakasih pada orang yanh menyerangku karena berkatnya aku tak ingat lagi tentang keluargaku," tukas Najla menahan geram.
Ekspresi kemarahan Najla membuat Neil semakin mengeratkan genggamannya untuk menenangkan gadis itu.
"Ssst...No. Tentu jauh lebih baik itu tak terjadi,"
"Apa kau terluka karena aku memutuskanmu?" Tanya Najla lagi.
Neil tak langsung menjawab. Ia menarik nafas panjang seolah mengumpulkan kekuatan
"Duniaku terasa runtuh, Najla. Aku kehilanganmu dan rasanya semakin menggila karena kau bahkan tak ingat akan diriku," jawab Neil.
Ia lalu mengalihkan pandangan karena matanya terasa panas. 'Sial, jangan sampai aku menangis!' seru Neil dalam hati.
Seketika hening membelenggu mereka usai Neil berkata demikian. Mereka sama-sama tak berminat lagi dengan makanan yang masih tersisa banyak karena tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Mereka lalu saling bertatapan seolah berbicara dengan mata. Neil lebih dulu mengalihkan pandangannya karena ia tak merasa tak tahan. Sudah ia duga pertemuan ini tak akan lancar dan akan semakin membuat hubungannya dengan Najla semakin tidak jelas.
"I wanna go home..." ujar Najla kemudian yang langsung diiyakan oleh Neil.
Di perjalanan lagi-lagi mereka tak ada yang bersuara. Neil fokus menyetir sementara Najla memilih melepaskan pandangannya ke arah jendela. Neil tak dapat menebak apa yang akan terjadi selanjutnya pada hubungannya dengan Najla. Ia pasrah, menggantungkan harapannya pada semesta.
Mereka hampir sampai ketika tiba-tiba petir besar menyambar. Kilatannya bahkan terlihat jelas. Neil terperanjat, bahkan Najla sampai berteriak karena terkejut. Beberapa detik kemudian hujan turun dengan deras, memaksa Neil untuk lebih konsentrasi menyetir.
Petir masih menyambar saat mereka tiba di apartemen. Neil menyadari wajah Najla yang terlihat pucat, namun urung bertanya karena ia masih merasa canggung. Dua sejoli itu keluar dari lift begitu tiba di lantai unit mereka. Saat akan berpisah, Najls meraih tangan Neil hingga membuatnya menghentikan langkah.
"Neil...Aku...aku...takut petir," ucap Najla ragu-ragu.
"Mau kah kau menemaniku setidaknya hingga hujan dan petirnya berhenti?"
Neil terdiam beberapa saat mendengar permintaan Najla. Sungguh ia tak akan menolak. Namun dengan suasana canggung begini apa Najla tidak akan risih padanya?
"Baiklah..."
Mereka berdua kemudian masuk ke unit Najla. Neil memilih duduk di sofa sementara Najla berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman. Tak lama kemudian terdengar suara kaca pecah dan teriakan Najla. Neil sontak bergegas menuju dapur dan mendapati Najla sedang memungut pecahan gelas kaca yang terjatuh.
"Are you ok? Biarkan aku yang membersihkan,"
Neil kemudian mengambil alih memunguti pecahan kaca tersebut. Sementara Najla berdiri memperhatikan Neil. Neil kemudian membuang kaca tersebut ke tempat sampah, dan Najla menyadari jari Neil berdarah.
"Jarimu terluka. Aku akan mengambilkan obat," ucap Najla.
Ia kemudian berlalu dan kembali dengan sebuah plaster. Neil menurut saat Najla memakaikan plaster di jarinya sambil memperhatikan wajah Najla yang selalu membuatnya terpana. Neil tak dapat menahan diri karena kerinduan yang mendalam untuk mengelus pipi gadis itu. Sayangnya ia seketika tersadar saat Najla mengangkat kepalanya. Neil cepat-cepat menarik tangannya dan berjalan meninggalkan Najla. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba Najla memeluknya dari belakang hingga membuat Neil tercekat.
"Neil...I'm sorry..." lirih Najla.
Neil berbalik menghadap Najla. Mata Najla yang berkaca-kaca membuat Neil merasa nelangsa. Gadis itu harusnya menjadi miliknya, namun ia terjebak pada kondisi rumit yang melelahkan.
"Najla..."
Neil belum sempat melanjutkan kalimatnya saat Najla tiba-tiba mendaratkan bibirnya pada milik Neil hingga membuatnya terbelalak. Neil bahkan merasakan Najla mulai menggerakkan bibir. Neil hampir saja terbuai, namun akal sehatnya masih berfungsi.
"Najla what are you doing?" Tanya Neil lirih sesaat ia menjauhkan wajahnya dari Najla.
"Apa kau marah?"
"No. I mean, why? Apa artinya ini?"
Neil tak sabar menanti jawaban Najla yang menarik nafas panjang.
"Neil. Aku berusaha untuk mencintaimu kembali. Aku mungkin tidak ingat tentang kita dan banyak hal. Tapi aku tidak lupa bahwa aku tidak suka menyakiti orang. Aku tak akan hidup dengan tenang,"
Neil mencerna ucapan Najla dalam otaknya. Apa itu berarti Najla berusaha menyembuhkan luka yang ia torehkan pada Neil?
"Kau ternyata begitu mencintaiku. Dan aku yakin sebelum kecelakaan aku memiliki rasa yang sama denganmu bahkan ketika aku memutuskan hubungan kita, rasa itu tidak mungkin lenyap begitu saja..."
Neil terpaku. Benar-benar tak tau harus berkata apa.
"So...ya. Mari kita mulai lagi dari awal. Sepertinya tak akan sulit untuk menumbuhkan cinta untukmu..."
Neil tak tahan lagi. Ia memeluk erat Najla dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu. Seketika Neil merasa dunianya kembali berwarna. Awan hitam yang membelenggunya selama ini berangsur menghilang.
"I love you, Najla. Cukup...cukup sekali aku kehilanganmu. Please...don't leave me again. I beg you..." racau Neil yang dikuasai perasaan haru dan bahagia.
"I won't," jawab Najla.
Entah siapa yang memulai kini bibir mereka bertemu. Tangan Neil tak berhenti bergerak membelai punggung Najla hingga turun ke bawah sementara Najla meremas brutal rambut Neil.
"Don't stop," gumam Najla di tengah ciuman panas mereka.
Neil yang mendapat lampu hijau lalu mengangkat tubuh Najla hingga gadis itu melingkarkan kakinya di pinggang Neil.
"To my room," lirih Najla dengan mata sayu.
"Are you sure? Aku tidak akan berhenti setelah ini,"
"I said don't stop,"
Entah siapa yang memulai kini Najla berada di bawah kungkungan tubuh kekar Neil. Neil membiarkan Najla melepaskan kancing kemejanya satu per satu hingga kini ia bertelanjang dada. Hujan deras menjadi saksi mereka berdua yang berbagi kehangatan menuntaskan hasrat. Suara deru nafas dan teriakan saat mencapai puncak memenuhi setiap sudut kamar Najla. Hingga akhirnya mereka kelelahan dan Neil ambruk di samping Najla setelah memamerkan staminanya selama tiga jam.
"Neil you're crazy..." gumam Najla yang bahkan sudah tak sanggup membuka mata.
***