
Neil membereskan meja kerjanya sambil bersiul. Ia bersuka cita karena pengajuan cutinya di terima oleh manager HRD rumah sakit. Sejak menjadi dokter spesialis ia belum pernah cuti. Beruntung antrian operasi pasiennya sudah selesai dan tidak lagi dirawat sehingga ia akan tenang karena tidak ada panggilan darurat dari rumah sakit saat cuti selama satu minggu.
Neil baru saja akan keluar ruangan ketika ponselnya berbunyi. Ia lalu segera menjawabnya setelah membaca nama Alezo tertera di layar.
"Yo, bro," jawab Neil sambil membuka pintu dan melangkah keluar.
"Kau dimana? Ada yang ingin ku sampaikan," tanya Alezo di ujung sana.
"Markas avenger. Tapi aku akan segera pergi bertemu Maura," canda Neil.
"Siapa Maura? Kekasihmu?"
"Adikku, bodoh. Bagaimana kau bisa lupa,"
"Ah ya...Maura. Dia sekarang pramugari, bukan?"
"Polisi, jerk. Hah kau memang tidak tahu apa-apa tentang keluargaku! Sahabat macam apa kau!" Omel Neil yang hampir tiba di parkiran.
"Polisi? Wow. Apa dia selalu membawa pistol di saku belakang celananya?"
"Ya! Akan ku pinjam nanti untuk menembak kepalamu!" Seru Neil kesal lalu memutuskan sambungan.
"Alezo brengsek. Bagaimana dia lupa soal adikku padahal dulu mereka sering bertemu. Aku saja masih ingat adiknya Albar seorang koki!" Gerutu Neil.
Neil kemudian menelepon Maura untuk memberi tahu bahwa ia akan segera menjemput.
"Aku akan menjemputmu sekarang," ucap Neil pada Maura di ujung telepon.
Ia ingin sering meluangkan waktu untuk sekedar makan bersama dengan Maura sebelum adiknya itu menikah. Neil segera mengendarai mobilnya menuju asrama Maura. Di perjalan ia menyalakan radio untuk mengusir keheningan. Neil menikmati lagu hingga akhirnya lagu milik Najla diputar. Tiba-tiba ia merasakan jantungnya berdebar, teringat akan apa yang baru saja terjadi pada mereka dua hari lalu yang membuatnya menepuk jidat.
Ia tidak dapat menahan diri untuk menyentuh Najla yang memberi kesempatan padanya. Neil yang begitu lega karena ternyata gadis itu tidak berkencan, entah kenapa merasa sangat gembira seolah Najla adalah miliknya. Hingga ia berani-beraninya mencumbu Najla. Ia tidak menyalahkan Najla yang mempersilahkannya, namun mengutuk dirinya yang tidak bisa menahan diri. Apalagi saat terbangun ia mendapati dirinya bertelanjang dada dimana Najla tertidur pulas di dalam pelukannya dan hanya mengenakan tanktop. Saat Neil masih berusaha mengingat apa yang mereka lakukan, Najla terbangun dan gadis itu tersentak.
"Oh my God!" Pekik Najla saat menyadari bahwa ia berada dalam kungkungan tubuh Neil.
Gadis itu serta merta bangkit dan meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Neil..." ucap Najla meminta penjelasan.
"Najla...calm down. Kita tidak melakukan 'itu'. Kita hanya beciuman...dan berpelukan," jelas Neil tak kalah panik sambil mencari kausnya yang tidak kelihatan
"Lalu kenapa kita tidak memakai baju?"
Neil terdiam. Otaknya dengan mengingat apa yang terjadi. Cumbuan mereka semakin liat saat pindah ke kamar dan tanpa sadar melucuti pakaian satu sama lain. Beruntung hanya sampai disitu karena Najla kemudian terlelap di dalam pelukan Neil.
"Ah...itu...terjadi begitu saja," ucap Neil ragu-ragu.
"Ini salahku," tukas Najla kemudian.
"No! No, aku yang salah. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud melakukan ini padamu," potong Neil. Ia tidak tega melihat Najla yang terlihat begitu gusar.
"Aku yang mengajakmu ke sini,"
Neil menggeleng. Ia lalu berjalan mendekati Najla setelah mengenakan kausnya. Sayangnya Najla justru menjauh, tidak mau berdekatan dengan Neil. Tentu saja sikap Najla membuat Neil tertegun. Najla benar-benar menyesali apa yang terjadi. Artinya gadis itu tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan, tidak seperti Neil yang terbawa perasaan. Neil pun pulang ke unitnya dengan sejuta penyesalan.
Apalagi Najla kini menghindarinya. Ia tak membalas pesan dan panggilan telepon Neil. Bahkan Najla terlihat canggung saat mereka bertemu di lobby sehingga membuat hati Neil mencelos. Ia baru saja berniat memulai sesuatu dengan Najla, tetapi sepertinya hubungan mereka tidak akan kembali seperti semula.
"Dasar Neil tolol!" Umpatnya pada diri sendiri.
Ternyata ucapan teman-temannya benar bahwa Neil hanya pintar tentang pelajaran, namun soal perempuan ia benar-benar nol besar.
***
"Kau akan kemana selama cuti?" Tanya Maura saat mereka sedang menikmati semangkun ramen di restoran Jepang.
"Hanya di apartemen," jawab Neil setelah menyeruput ramennya.
Maura mendengus. "Jika hanya berdiam diri kenapa harus cuti?!"
"Aku akan menikmati waktu tidur tanpa gangguan," ujar Neil santai.
"Sebegitu pentingkah tidur untukmu?" Omel Maura. "Lalu selama seminggu kau hanya tidur? What a shame,"
Neil meletakkan sumpit lalu melipat tangannya di meja.
"Kau tidak tahu betapa berharganya tidur bagi dokter spesialis dengan banyak pasien sepertiku," cetus Neil geram sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Maura.
Maura tergelak. Ia tahu betul bagaimana Neil selalu terlihat seperti zombie saat ia masih pendidikan dokter.
"Kau sebaiknya mencari pacar. Sudah lama sejak kau putus dengan Zura," ucap Maura kemudian. Kali ini ia menikmati chicken yakiniku kesukaannya.
Neil terdiam. Ucapan Maura mengingatkannya pada Najla.
"Tidak akan ada wanita yang mau dengan dokter yang sibuk sepertiku," jawab Neil asal.
"Tapi uangmu banyak. Semua wanita suka pada pria yang memiliki banyak uang!"
Neil mengetuk kepala Maura dengan sendok. Maura selalu tidak bisa menyaring ucapannya.
"Aku serius, Neil. Aku akan menikah sebentar lagi. Aku tidak akan tenang membayangkan kau sendirian. Jika kau punya pacar, akan ada yang memperhatikanmu,"
Neil menghela nafas. Ternyata Maura sedang khawatir padanya. Maura akan pindah ke luar kota sehingga mereka akan sangat jarang bertemu. Neil pasti akan semakin kesepian.
"Kau berpacaran saja dengan Najla,"
Neil tersedak sampai terbatuk beberapa kali mendengar ucapan Maura. Adiknya itu bahkan membantu mengusap punggung Neil dan orang-orang memperhatikan mereka.
"Kenapa kau begitu terkejut dengan ucapanku?" Tanya Maura setelah Neil berhenti terbatuk.
"Kau selalu asal kalau berbicara," jawab Neil cemberut.
"Aku hanya bercanda. Lagipula dia mengundangmu ke konser. Artinya kalian berteman baik," kilah Maura membela diri.
Neil mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan Maura.
"Sudah, sudah. Habiskan makananmu," titah Neil. "Apa polwan sepertimu selalu makan sebanyak ini?" Neil menunjuk empat porsi makanan yang Maura pesan.
"Ah pekerjaanku melelahkan. Tenang saja, aku selalu membakar kalori setelah makan banyak,"
Neil menggelengkan kepalanya. Ia kembali menyeruput ocha dan lagi-lagi bayangan Najla terlintas di benaknya.
***
Neil tiba di apartemen dan segera menuju lift. Ia baru saja akan menekan tombol ketika pintu lift terbuka dan mendapati sosok perempuan yang mengenakan topi dan masker. Dari matanya Neil dapat mengenali bahwa perempuan itu adalah Najla.
"Najla," panggil Neil.
Sayangnya Najla mengabaikannya dan menyelonong pergi tanpa melihat sedikitpun pada Neil.
Neil tidak tinggal diam. Ia berbalik dan mengejar Najla yang berjalan tergesa-gesar. Neil berhasil meraih pergelangan tangan Najla sehingga mau tidak mau gadis itu berhenti.
"Kita harus bicara," ucap Neil.
Ia tidak melepaskan cengkraman tangamnta meski Najla meronta. Neil lalu menuntun Najla menuju mobilnya agar mereka lebih leluasa.
"Kau mau kemana?" Tanya Neil saat mereka berada di dalam mobil.
"Kau tidak perlu tahu," cetus Najla.
Neil menghela nafas. Ia lalu meraih baju Najla dan membuat gadis itu menghadap ke arahnya.
"Najla. Dengar. Aku tau kau marah padaku. Aku benar-benar minta maaf. Kau boleh menamparku jika itu membuatmu lega. Aku benar-benar merasa bersalah padamu," ucap Neil memelas. Sungguh ia benar-benar rela menerima apapun yang akan Najla lakukan agar gadis itu bisa melampiaskan emosinya.
"Ini salahku, Neil. Harusnya aku tidak memintamu untuk menemaniku. Aku yang harus meminta maaf karena menggodamu,"
Ucapan Najla sontak membuat darah Neil berdesir. Ada perasaan marah dalam hatinya ketika Najla mengatakan ia yang menggoda Neil malam itu.
"Don't say that. I'm the jerk. Kau tidak salah apapun. Kalau perlu kau bisa melaporkanku ke polisi!" Seru Neil dengan hati panas.
Najla termangu mendengar ucapan Neil. Gadis itu kemudian meraih tangan Neil di bahunya lalu menggenggamnya erat.
"Kalau begitu...mari kita anggap bahwa itu bukan kesalahan," ucap Najla kemudian.
Neil seketika merasa lega mendengar ucapan Najla. Apalagi genggaman tangan Najla memberikan ketenangan tersendiri bagi Neil.
"Ya, itu bukan kesalahan. Hanya kebodohanku yang bisa-bisanya memiliki perasaan padamu yang baru ku kenal hingga tak bisa menahan diri," ungkap Neil.
Usai berkata demikian, Neil tersadar dan melepaskan tangannya dari genggaman Najla. Ia mengusap wajahnya gusar menyesali kalimatnya yang terlu dini untuk diucapkan pada Najla.
"Neil...kau memiliki perasaan untukku?" Tanya Najla pelan namun mampu menciptakan sentakan pada pikiran Neil.
"Apa itu salah?" Neil balik bertanya sambil menoleh ke arah Najla yang sedang menatapnya.
"Kalau itu salah...artinya aku pun bersalah karena perasaanku padamu..." ucap Najla tertunduk.
Gadis itu lalu memutar tubuhnya dan memilih menghadap jendela membelakangi Neil.
Neil tertegun. Ia dapat memastikan telinganya tidak salah dengar. Mendengar Najla juga memiliki perasaan padanya membuat tubuh Neil terasa membeku. Ia bertahan beberapa detik menatap punggung Najla, hingga akhirnya ia kembali membalik tubuh gadis itu menghadapnya.
"Should we?" Ucap Neil sambil menatap mata Najla yang berbinar.
"Sounds good," sahut Najla malu-malu. Ia menunduk menghindari tatapan Neil yang begitu dalam.
Neil mengangguk dan tersenyum. Ia merasa menjadi pria paling bahagia malam ini.
***
Sementara di belahan lain, Alezo terpaku menonton siaran langsung di televisi dimana Jemima tampil dalam sebuah acara talkshow musik bersama para musisi papan atas lainnya. Meski Jemima terlihat ceria dan bersinar karena kecantikannya, Alezo menyadari bahwa beberapa kali tatapan mata Jemima terlihat kosong. Ia dapat merasakan Jemima sedang tidak baik-baik saja dan berusaha menutupinya.
Mendengar cerita Kamila kemarin malam tentang apa yang terjadi sebenarnya di masa lalu mereka sejujurnya membuat Alezo merasa terusik. Jemima pasti tidak akan percaya jika ia menceritakannya pada gadis itu. Jemima pasti mengira orangtuanya hanya mengarang cerita membersihkan nama mereka. Gadis itu tentu lebih mempercayai tulisan tangan ibu yang dikasihinya. Lagipula siapa yang akan percaya dengan cerita tanpa bukti?
Alezo menaikkan volume suara televisi ketika Jemima bernyanyi. Sungguh gadis itu terlihat bagai seorang dewi dengan paras indah dan suara merdunya. Alezo sempat memilikinya, dan tidak akan pernah rela melepasnya. Tunggu, apa Jemima mengingat apa yang mereka lakukan saat gadis itu mabuk? Alezo seketika menepuk jidatnya dan berlari menuju tempat tidur. Ia berselubung di balik selimut, seolah bersembunyi dari kenyataan yang memalukan.
***
Hai readers tersayang. Terimakasih sudah baca karya sederhanaku ini, ya. Rasanya terharu kalian meluangkan waktu untuk sejenak membaca tulisanku.
Aku minta like dari kalian, boleh ya 😊 Aku janji akan terus menyajikan karya terbaik untuk kalian 💛
Salam,
Author.