
Jemima meletakkan ponselnya di atas meja setelah memutuskan sambungan dengan Alezo di ujung sana. Ia mengigit bibirnya dan menerawang, menerka-nerka apakah tindakan yang ia lakukan sudah tepat. Alih-alih menyusul Alezo ke New York, ia memilih untuk mengumumkan hubungan mereka pada media yang tentu saja menggemparkan para penggemar. Padahal Jemima sadar betul ia bahkan sudah memutuskan hubungan mereka. Alezo pasti bingung dan bertanya-tanya, namun Jemima sudah siap dengan jawabannya.
"Aku sudah curiga kau memang berkencan dengan Alezo," ucap Mahen saat Jemima meminta izin untuk mempublikasi hubungannya dengan Alezo.
Ia sudah siap jika Mahen memarahinya, namun itu tak akan mengurungkan niat Jemima. Ia ingin menjalin hubungan dengan Alezo tanpa tekanan dan harus sembunyi-sembunyi.
"Ya. Rumor itu benar. I just want to make it clear. Aku tidak ingin membohongi penggemarku," dalih Jemima.
Mahen tertawa. "Jemima...aku sudah berpikir sejak lama untuk menghapus peraturan yang paling memuakkan bagi kalian para artis. Awalnya aku ragu. Namun kali ini keputusanku bulat. Trainee maupun artis yang baru debut atau senior, Magnolia tak akan lagi merecoki urusan pribadi kalian, termasuk berkencan,"
Jemima terperangah mendengar ucapan Mahen. Sungguh suara Mahen terdengar begitu merdu saat mengatakannya.
"Are you serious?" Tanya Jemima tak percaya.
Mahen mengangguk sambil tersenyum.
"Waw. Such a good news," ucap Jemima senang.
Tentu tak hanya Jemima yang akan senang. Semua rekan-rekan artisnya pasti akan merasakan hal yang sama. Terbelenggu agensi tentang urusan pribadi sungguh sama sekali tidak menyenangkan. Dan sekarang mereka terlepas dari ikatan tersebut.
"Mahen, you a deserve the heaven," ucap Jemima yang disambut tawa renyah oleh Mahen.
***
Alezo bersiap turun dari pesawat saat seorang pramugari menghampirinya.
"Permisi, Tuan Alezo. Kapten penerbangan ini ingin meminta waktu Anda untuk foto bersama. Apa Anda berkenan?"
"Oh, sure. My pleasure," jawab Alezo ramah.
Tak lama kemudian sang pilot pun datang menghampiri Alezo dan menyalaminya.
"Nice to meet you, Alezo," ujar pilot tersebut. "Aku salah satu pasien Profesor Romel, ayahmu. Beliau menyelamatkan nyawaku di meja operasi. Sampaikan salamku padanya,"
Alezo tersenyum. "Akan kusampaikan,"
Mereka kemudian berfoto bersama beberapa kali berikut dengan para awak kabin lainnya. Setelah selesai, Alezo di bantu seorang pramugari keluar menuju pintu pesawat
Alezo merasakan badannya remuk redam. Bagaimana tidak. Ia bahkan tidak sampai dua puluh empat jam di New York lalu kembali pulang karena telepon Jemina. Ia bisa saja menunda kepulangannya namun hasratnya tak dapat dibendung. Ia ingin segera bertemu Jemima dan menanyakan semuanya.
"Astaga aku perlu dipijat," keluh Alezo sambil terus berjalan mendorong kopernya menuju pintu keluar bandara.
Alezo baru saja akan memesan taksi ketika ia menangkap sosok gadis berambut panjang yang berdiri melipat tangannya di dada. Meski dari kejauhan m ia dapat melihat jelas bahwa gadis itu adalah Jemima. Jemima berdiri sendirian sambil sesekali melihat ke arah dalam bandara. 'Apa dia sengaja menungguku?' pikir Alezo.
Alezo terus berjalan tanpa mengalihkan pandangannya pada Jemima yang belum menyadari kedatangannya. Hingga saat jarak mereka semakin mendekat, akhirnya Jemima melihat ke arahnya sehingga mata mereka bertemu. Alezo merasakan dadanya bergemuruh namun ia berusaha untuk tetap tenang, sementara Jemima tak bergerak menunggu Alezo yang semakin mendekat.
Alezo berhenti saat jarak mereka hanya tersisa dua meter. Ia menarik nafas untuk menenangkan diri.
"Alezo..." panggil Jemima.
Gadis itu kemudian berlari kecil menuju Alezo lalu memeluknya erat. Alezo yang tidak siap hampir saja terdorong namun untungnya ia masih kuat menahan tubuh Jemima.
"Mima..."
"I'm sorry..."
Alezo merasakan pelukan Jemima begitu erat. Orang-orang di sekitar mulai memperhatikan mereka dan Alezo menyadarinya.
"Jangan pergi lagi," ucap Jemima setelah pelukan mereka terlepas.
"I won't. Sekarang kita pulang. Ada banyak yang ingin kutanyakan," ujar Alezo.
Jemima mengangguk. Ia kemudian menarik tangan Alezo untuk menuju mobilnya.
***
Jemima menoleh ke arah Alezo yang tertidur pulas di kursi penumpang. Ia tersenyum melihat wajah Alezo yang terlihat begitu lelah. Ia tahu betul Alezo pasti kelelahan karena pria itu langsung pulang ketika Jemima memintanya. Padahal Jemima tak berharap pria itu benar-benar segera pulang, ia tak masalah harus menunggu beberapa hari. Jemima pun terkejut saat Neil memberitahunya bahwa Alezo sudah memesan tiket untuk pulang. 'Sebegitu besarkah cintamu untukku?' Batin Jemima.
Alezo awalnya memaksa menyetir karena tidak ingin merepotkan Jemima. Untung Jemima bersikeras karena lima belas menit perjalanan Alezo tertidur.
Jemima bersyukur jalanan sedikit macet. Setidaknya Alezo dapat tidur lebih lama di mobil. Satu setengah jam kemudian mereka tiba di apartemen dan Jemima langsung memarkirkan mobil. Sungguh ia tidak tega membangunkan Alezo yang masih terlelap. Namun mau tidak mau Alezo harus terjaga. Ia dapat melanjutkan tidurnya nanti.
"Alezo...wake up. Kita sudah sampai," ucap Jemima mencondongkan tubuhnya mendekati Alezo.
Tak ada respon. Alezo masih memejamkan matanya.
"Alezo...wake up," kali ini Jemima mendaratkan kecupan di pipi Alezo.
"Ow...Apa aku tidur sepanjang perjalanan? Astaga, maafkan aku," ucap Alezo saat membuka mata.
Jemima tertawa. "Tidak masalah. Kau pasti lelah. Ayo turun, lanjutkan tidurmu di kamarku,"
"Kamarmu?" Tanya Alezo. Ia kemudian memperhatikan sekitar dan menyadari mereka berada di basement parkiran apartemen Jemima.
Jemima kemudian membuka pintu dan turun, diikuti oleh Alezo. Mereka berdua lalu berjalan menuju lift. Jemima tersenyum kecil melihat Alezo yang terlihat tegang dan bingung. Pria itu bahkan memilih berjalan di belakang Jemima, bukan di sampingnya. Alezo pasti bingung dengan keputusan yang ia lakukan, dan Jemima berjanji akan menjelaskannya perlahan.
"Kau bisa kembali tidur," ucap Jemima saat mereka masuk ke unitnya.
"Ah...tidak. Tidurku sudah cukup," jawab Alezo sambil meletakkan kopernya di samping sofa.
"Kalau begitu bersantailah. Aku akan mengambilkanmu minum,"
Jemima kemudian berjalan menuju pantry dan kembali dengan dua kaleng minuman soda. Alezo pun langsung menerika saat Jemima menyodorkan minuman itu padanya.
"It's feel weird, right?" Tanya Jemima menyadari suasana canggung yang terjadi di antara mereka.
Alezo mengangguk. "Ya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi,"
"Seperti yang kau lihat. Aku mengumumkan pada media bahwa kita berkencan..."
"Bagaimana bisa? I mean...kau memutuskan hubungan kita dan...bagaimana dengan Magnolia lalu orangtua kita...Bagaimana...."
"Ssstt...." potong Jemima. Ia merasa bersalah mendengar ucapan Alezo.
"Aku bertemu ibumu..." ucap Jemima yang membuat Alezo terbelalak.
"What?"
"She told me everything. She explained me the true story. And...ya. Apa yang terjadi bukan sepenuhnya salah ibu dan ayahmu. Ibuku pun tak sepenuhnya terkhianati. Aku memutuskan untuk berdamai dengan itu semua..." jelas Jemima.
Alezo terdiam. Ia tercengang mendengar kalimat Jemima. Gadis itu memilih menyampingkan masalah besar yang menghalangi hubungan mereka, apa artinya hubungan mereka benar akan kembali?
"Dan Magnolia tidak lagi melarang kami untuk berkencan...that's why aku memberitahu media karena tidak ada lagi yang membebaniku..."
"Seriously?" Kali ini Alezo tak dapat menunjukkan rasa terkejutnya.
Jemima tersenyum manis dan mengangguk. Ia kemudian beranjak mendekati Alezo lalu memeluknya erat. Alezo tentu saja membalas pelukan Jemima dengan perasaan yang membuncah. Jemima menghirup dalam-dalam aroma parfum Alezo yang ia rindukan. Sungguh pelukan Alezo selalu memberinya kebahagiaan dan perasaan tenang.
"Aku tidak ingin melepaskanmu tapi aku butuh mandi," ucap Alezo saat pelukan mereka terlepas.
"Hmm...aku akan mandi bersamamu," goda Jemima.
Alezo melotot. "No. Tunggu aku di kamarmu," balas Alezo sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak. Aku tidak mau menunggu," sahut Jemima menggeleng.
Ia lalu melepaskan kancing kemeja Alezo satu persatu.
"Hey stop it," seru Alezo tergelak lalu menepis tangan Jemima, merasa lucu dengan tingkah gadis itu.
"I can't," ucap Jemima lalu menyibakkan kemeja Alezo hingga terlepas.
Jemima kemudian melepas cardigannya dan menyisakan tanktop seksi yang membalut tubuhnya. Ia baru akan melepas tanktopnya ketika Alezo refleks menahan tangannya.
"Let me be," tukas Alezo.
Jemima tak bergerak hingga akhirnya Alezo berhasil melepas tanktopnya. Nafas Jemima terasa berat, pertanda tubuhnya sudah dikuasai hasrat. Ia tidak sadar bahwa pipinya memerah dan Alezo dapat melihatnya jelas. Jemima pasrah ketika Alezo mengangkat tubuhnya lalu berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Sejurus kemudian ia dan Alezo larut menuntaskan hasrat di sela-sela guyuran shower yang membasahi tubuh mereka.
***
Alezo terbangun saat mendengar ponselnya berbunyi. Ia ingin bangkit namun tak dapat bergerak karena Jemima tertidur pulas menindih tangannya. Terpaksa ia mengabaikan panggilan tersebut karena tak ingin Jemima terusik.
Alezo tersenyum sambil mengelus rambut Jemima yang masih agak basah. Ia yakin Jemima pasti kelelahan setelah mereka melepaskan hasrat selama dua jam. Alezo terpana saat Jemima mengambil alih. Ia bakan menyerah duluan karena gadis itu begitu liar. Tentu saja setelah itu Alezo membalasnya hingga Jemima berteriak kencang tak kuat menahan kenikmatan bertubi-tubi.
"Enough...please...enough..." ucap Jemima saat Alezo kembali ingin mengulangnya. Mereka pun berhenti karena Jemima benar-benar tak sanggup lagi.
"You're mine. Forever mine," gumam Alezo sambil terus mengelus punggung Jemima.
Alezo baru saja berencana akan kembali tidur ketika ia teringat akan sesuatu yang membuatnya terhenyak.
Ia dan Jemima tak pernah menggunakan pengaman bahkan sejak pertama kali melakukannya. Bagaimana jika Jemima....hamil?
***