
"Selamat makan," ujar Najla pada Neil sambil tersenyum senang setelah meletakkan masakan terakhirnya di meja.
"Wow...Kau memasak sebanyak ini?" ucap Neil memperhatikan beberapa piring masakan yang terhidang.
Najla mengangguk bangga. Ia lalu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Neil.
"Makanlah. Kau pasti lapar setelah bekerja seharian,"
Neil menurut. Ia baru saja akan mengambil sendok ketika melihat jari telunjuk kiri Najla menggunakan plaster, bahkan bercak darah terlihat di permukaannya.
"Apa kau terluka? Kenapa tanganmu?" Tanya Neil sambil meraih tangan kiri Najla.
"Ah...aku baru pertama kali mengiris bahan makanan dengan pisau dan tidak sengaja mengenai jariku. But it's fine. Sudah tidak sakit," jelas Najla lalu menarik tangannya.
Neil mengangguk lega. Ia kemudian mencicipi beef bulgogi yang dibuat Najla.
"Bagaimana rasanya? Aku belum mencobanya karena ingin mendengar darimu,"
Neil terus mengunyah sebelum menjawab, mencoba menikmati makanan dimulutnya.
"Good. Ini enak. Boleh aku menghabiskannya?"
Mata Najla berbinar mendengar pujian Neil, tak menyangka masakannya enak padahal ini kali pertama ia memasak.
"Sure! Kau boleh menghabiskan semuanya,"
Neil tersenyum. Ia kemudian terus menyuapkan makanan ke mulutnya hingga hidangan di atas meja hampir habis. Sementara Najla hanya menikmati semangkuk salad karena ia memang menghindari makan berat saat malam hari.
"Wow...Kau makan banyak sekali!" Seru Najla takjub.
Najla lalu menuangkan air minum dan memberikannya pada Neil. Neil kemudian menenggak habis air tersebut dan meletakkan kembali gelasnya ke atas meja.
"Terimakasih untuk makanannya,"
Najla mengangguk senang. "Ah senangnya. Aku akan sering memasak untukmu kalau begitu,"
"Ehm...Najla. Aku harus ke belakang sebentar," ujar Neil. Ia lalu beranjak dan berjalan menuju toilet.
"Sepertinya aku bisa menjadi chef," gumam Najla bangga.
Najla kemudian meraih sendok berniat untuk mencoba masakannya yang tersisa sedikit. Alangkah terkejutnya Najla saat merasakan ternyata masakannya begitu asin! Ia mencoba lagi semua masakannya ternyata juga sama. Bahkan udang saus tiram buatannya masih tercium aroma amis. Bagaimana Neil bisa dengan lahap menghabiskannya?
"Neil...Neil..." panggil Najla namun tak ada jawaban. Mustahil Neil tak mendengar karena suaranya cukup kencang.
Najla yang curiga kemudian menyusul Neil ke kamar mandi dan seketika terperanjat mendapati Neil yang tergeletak di lantai kamar mandi.
"Oh Tuhan, Neil!" Seru Najla panik lalu meraih tubuh Neil yang tak sadarkan diri.
"Astaga apa ini?!" Ujar Najla saat menyadari tubuh Neil dipenuhi bintik merah.
"Neil...Do you hear me? Neil..."
Najla putus asa karena Neil tak kunjung menjawabnya. Jantung Najla berdebar kencang karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada pria itu. Satu-satunya yang terlintas di dalam benak Najla adalah membawa Neil ke rumah sakit. Namun bagaimana caranya?
***
Najla terpaku menatap Neil yang tebaring lemah di ranjang kamar rawat inap dengan selang infus dan oksigen yang melingkari tubuhnya. Wajah Neil terlihat begitu pucat. Najla memaki dirinya sendiri saat dokter mengatakan Neil keracunan makanan dan diperparah alergi seafood yang ia miliki. Semua itu karena Neil memakan masakannya yang ternyata tidak enak sama sekali.
Najla merasa bersalah karena Neil pasti memaksakan diri untuk menghabiskan masakannya demi menyenangkan hati Najla tanpa memikirkan dirinya sendiri. Najla bahkan mual mengingat masakannya yang asin dan bau amis, apalagi Neil yang memakannya dalam jumlah banyak.
Najla menoleh saat mendengar suara pintu terbuka dan mendapati Alezo dan Jemima yang mengantarkannya ke rumah sakit. Najla yang panik saat itu hanya terpikirkan Jemima untuk menolongnya. Beruntung ternyata Jemima dan Alezo sedang makan malam di restoran tak jauh dari apartemennya dan secepat kilat datang tak lama ia menelepon.
"Maaf sudah merepotkan kalian," ucap Najla pada Jemima.
Jemima menggeleng. "Tidak sama sekali,"
"Alezo...maafkan aku membuat sahabatmu seperti ini," lanjut Najla lagi sambil menoleh pada Alezo.
"Ow...kau ingat dia sahabatku?" Alezo bertanya balik.
"I told her," sela Jemima yang disambut anggukan kepala oleh Alezo.
"Aku benar-benar merasa bersalah pada Neil. Apa dia akan baik-baik saja?"
"Tenanglah. Kondisinya tidak parah. Neil akan pulih dalam beberapa hari," jawab Alezo.
Najla menghela nafas menatap wajah Neil yang terlihat tenang dalam tidurnya. Bagaimana bisa Neil menyiksa dirinya menghabiskan masakan Najla yang rasanya tak karuan demi membuat Najla tak merasa malu. Apa Neil benar-benar secinta dan setulus itu padanya? Lalu sekarang, apa Najla sudah memiliki rasa sebesar itu pada Neil? Najla tak yakin. Namun ia mengakui ada perasaan takut kehilangan Neil dan rasa khawatir yang amat sangat saat ini.
"Kalian berdua pulang lah. Aku akan menjaga Neil di sini," ujar Alezo tiba-tiba membuyarkan lamunan Najla.
"Tidak. Aku akan tetap di sini," ujar Najla cepat.
Sungguh, rasanya Najla tak ingin meninggalkan Neil, dan sepertinya ia tak akan bisa tidur malam ini.
"Aku akan menemanimu," tukas Jemima kemudian.
Najla menggeleng lalu menatap Jemima yang berdiri di sampingnya.
"Tidak perlu. Kau dan Alezo sebaiknya pulang. Aku baik-baik saja di sini," tolak Najla.
"Ah...baiklah..." jawab Jemima sambil melirik Alezo yang memperhatikan mereka berdua.
Jemima dan Alezo kemudian berpamitan dan bersama-sama berjalan menuju pintu keluar. Namun baru beberapa langkah Jemima berbalik dan kembali mendekati Najla.
"Najla...ehm..kau mungkin tak ingat ini but I have to tell you something," ucap Jemima pada Najla.
"What?" Tanya Najla kebingungan.
Jemima menghela nafas lalu memegang kedua bahu Najla dengan kedua tangannya.
"Listen. Berhentilah mencoba memasak. Kau pernah bersumpah tidak akan memasak. So...I think that's why akhirnya Neil menjadi korban,"
Najla mengerjapkan mata mendengar ucapan Jemima. Tentu saja ia tak mengerti maksud kalimat tersebut.
"Kau hampir membakar apartemenku karena kau lupa mematikan kompor saat mencoba masak mie instan..."
"Kita menghebohkan satu tower apartemenku, Najla..." tukas Jemima lagi sambil mendekatkan wajahnya pada Najla.
Sementara Alezo yang mendekat menggigit bibirnya menahan tawa melihat interaksi dua sahabat itu.
"Aku...tidak ingat,"
"Of course you don't remember that. Ah sudahlah. Aku mengatakan ini agar kau tak lagi memasak, oke? Bye. Call me asap jika kau butuh sesuatu,"
Usai berkata demikian Jemima benar-benar berlalu bersama Alezo meninggalkan Najla yang masih kebingungan dan menggaruk kepalanya.
***
Jemima keluar studio rekaman dengan mata berbinar. Ia baru selesai merekam lagu terakhir untuk albumnya yang sempat tertunda karena Kalina. Beruntung Mahen dan juga Arfan, produsernya segera menggarap lagi albumnya setelah ia memutuskan untuk kembali setelah beristirahat beberapa waktu.
"Ini akan menjadi album fenomenal," begitu ucap Arfan tadi.
Tentu saja Jemima mengamininya. Ia ingin karyanya dapat diterima dan dinikmati para penggemar. Meski tak muluk-muluk akan menjadi fenomenal, tapi pasti dalam hati ada harap untuk itu.
"Oh my God. Aku sangat menyukai konsep albummu. Aku sampai merinding karena begitu bermakna," ucap Tita, sang manager saat mereka menikmati makan siang di cafe Magnolia.
Jemima tersenyum. "Ya, aku pun merasa begitu. Aku bersyukur Arfan benar-benar memikirkan semuanya dengan sempurna. I owe him for everything,"
"Kau akan sangat sibuk beberapa hari ke depan. Latihan, pemotretan, syuting teaser dan video clip. Aku sudah mengatur jadwal dengan Dokter Erlin untuk booster vitamin dan menghubungi nutrisionist untuk mengatur menu makanmu selama persiapan album,"
Jemima mengangguk pertanda ia memahami penjelasan Tita. Meski sebenarnya melelahkan, entah kenapa Jemima merasa ia memiliki banyak energi untuk melakukannya, bahkan ia tak sabar untuk memulai.
***
"Voila!" Seru Ishel, hair stylist Magnolia yang didapuk untuk menangani hair style Jemima untuk album barunya.
"Oh my God..." ucap Jemima menatap cermin dengan mata berbinar.
Ia terkesima dengan rambutnya sendiri yang bahkan membuat aura berbeda pada wajahnya. Seumur hidup rambutnya selalu berwarna hitam dan lurus, tentu melihat rambutnya yang kini berwarna ash brown membuatnya terperangah. Apalagi rambut lurusnya pun dibuat bergelombang di bagian bawah.
"Kau benar-benar terlihat seperti seorang dewi," puji Ishel.
"Ishel...aku terlihat sangat berbeda..."
"Ya. Aku memang membuatmu berbeda kali ini. Begitu mengetahui konsep albummu, aku benar-benar ingin menjadikanmu sosok dewi berhati lembut namun memiliki kekuatan super dengan warna dan model rambut seperti ini. Feelingku benar, kau sangat sempurna,"
"Berhenti memujiku. Ini berkat tangan ajaibmu," tukas Jemima yang disambut tawa oleh Ishel.
"Well. Saat meeting nanti aku tak akan membiarkan satupun menyuruhku untuk mengganti mode dan warna rambutmu. This one is the best,"
Jemima tertawa kecil mendengar ucapan Ishel. Ia yakin semua orang akan menyukainya karena Jemima sendiri merasa auranya berbeda.
Benar saja. Saat meeting persiapan album semua orang terpana memandang Jemima, termasuk Mahen dan Arfan sang produser. Jemima yang lekat dengan image gadis manis hingga dijuluki nation sweetheart kini terlihat lebih anggun dan bijaksana dengan inner beauty yang terpancar nyata.
"So...this is our Goddess," ujar Arfan yang tak mampu mengalihkan pandangannya dari Jemima yang tersenyum manis.
"Goddess..." ulang Mahen, menyebut nama album Jemima yang mereka siapkan.
Ya. Album baru Jemima memang menonjolkan sosoknya sebagai gadis cantik yang berhasil meraih mimpi dengan perjuangan tak mudah hingga ia menjelma menjadi seorang diva yang dipuja dan tetap berdiri tegak meski dihantam kerasnya kehidupan. Kecantikan dan kekuatan, dua hal yang akan digambarkan pada album Jemima.
***
Jemima sudah menduga ponselnya akan diserbu notifikasi setelah mengunggah potret dirinya dengan rambut baru, namun tak menyangka akan sebrutal ini.
'Dayuuum Jemima! Pertanda apa ini?'
'Omg your hair. I think I'm gonnda die now,'
'Yashh my queen!'
'Jemima is too sureal to be true,'
'Apa Jemima sedang menyiapkan kejutan dengan rambut barunya?'
Jemima tersenyum membaca komentar-komentar penggemar yang memuji penampilan barunya. Jemima tau mereka memiliki cinta yang besar padanya, sehingga ia pun bertekad memberikan yang terbaik untuk para Jemiers, penggemarnya.
Jemima baru saja meletakkan ponselnya di atas nakas saat benda itu kembali berdering. Ternyata Alezo yang meneleponnya. Jemima menebak pasti Alezo juga baru melihat unggahan fotonya.
"Yap," jawab Jemima.
"New hair, huh? Why you didn't tell me?"
"Don't like it?"
"Listen. Kau membuatku cemas,"
Dahi Jemima seketika berkerut mendengar ucapan Alezo. Tidak lucu rasanya semua orang menyukai rambut barunya sementara Alezo justru sebaliknya.
"But...why?"
"Kau...kau semakin cantik! Oh Tuhan. Pasti pria di luar sana semakin memujamu. No. It's bad for me,"
Jemima terbahak setelah Alezo menyelesaikan kalimatnya. Ternyata kekasihnya itu cemas karena cemburu banyak pria yang akan terpesona dengan Jemima.
"You are so pretty. Oh my God...I can't...aku masih memandang fotomu. Bisa kita bertemu? I miss you,"
"Hey kenapa kau terdengar seperti anak remaja yang merayu pacarnya?" Ledek Jemima.
"Datanglah. Kita juga sepertinya harus menjenguk Neil bukan?"
Usai berkata demikian Jemima memutuskan sambungan telepon setelah kembali mendengar gombalan Alezo.
Jemima tersenyum geli karena Alezo benar-benar seperti dimabuk cinta padanya.
"So cute," gumam Jemima.
Ia pun bergegas mandi, karena Alezo selalu secepat kilat saat mereka berjanji untuk bertemu.
***