Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 60



Mahen menggebrak mejanya setelah mendengar laporan Farel tentang pelaku yang mencelakai Najla. Nafasnya memburu menahan emosi yang sebentar lagi akan meledak. Farel pun sama terkejutnya saat Neil menelepon dan memberitahu bahwa ia menemukan orang yang mencelakai Najla. Apalagi orang tersebut ternyata juga meneror Jemima atas suruhan Tanaya yang bekerjasama dengan Kalina.


"Brengsek. Aku kira Kalina menganakemaskan Blossom karena debut yang sukses dan ingin membesarkan mereka. Aku tidak menyangka ia juga bekerjasama untuk melakukan hal kotor seperti ini," ujar Mahen menahan amarah.


"Aku penasaran hubungan seperti apa yang terjalin di antara mereka berdua," timpal Farel.


"Tidak ada ampun. Aku tidak sudi Magnolia menaungi penjahat. Persetan dengan kesuksesan Blossom. Aku akan mendepak mereka," ujar Mahen sambil menggertakkan gigi sangking geramnya.


Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu dan seseorang muncul di baliknya dengan wajah sumringah. Tanaya berjalan dengan percaya diri mendekati Mahen dan Farel.


"Ada apa kau memanggilku, Mahen? Sungguh aku harus memundurkan jadwal pemotretan demi bertemu dengan bis boss," ujarnya tersenyum manis yang terlihat memuakkan bagi Mahen.


'Bagaimana gadis muda ini begitu tega menyuruh orang untuk menener dan mencelakai seniornya di Magnolia?' Batin Mahen.


"Aku hanya penasaran...apa kau  menganggap rekanmu sesama artis di sini sebagai saingan?" Tanya Mahen sambil menatap Tanaya.


Dari ekspresi wajahnya gadis itu menunjukkan kebingungan atas pertanyaan Mahen.


"Saingan? Owh...pemikiran apa itu? Bukankah di sini kita keluarga? Untuk apa bersaing," jawab Tanaya begitu yakin.


Mahen tersenyum sinis. Ia kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Tanaya.


"Jika ucapan manismu benar, kenapa kau meneror Jemima dan mencelakai Najla, dua seniormu?" Tanya Mahen menatap tajam mata Tanaya.


Gadis itu terdiam. Ia seketika terlihat pucat pasi dan menelan ludah.


"Apa...apa maksudmu, Mahen?"


"Berlagak bodoh, hah? Sayangnya orang suruhanmu sudah mengaku di bayar olehmu dan Kalina tau soal itu. Aku penasaran apa kau anak haram Kalina atau bagaimana karena kalian sama-sama seperti ular," Mahen semakin sengit mengintimidasi Tanaya yang tak berkutik.


"Aku...aku tidak mungkin melakukan itu!" Elak Tanaya yang merasa terdesak.


"Bela dirimu sendiri di kantor polisi," ucap Mahen.


Beberapa detik kemudian polisi masuk dan langsung menangkap Tanaya. Tentu saja gadis itu berteriak histeris minta dilepaskan. Mahen memang sudah merencanakan hal ini saat Farel memberitahunya. Ia ingin memberi gadis itu pelajaran dan menyerahkannya ke polisi.


***


Jemima baru saja selesai mandi dan masih mengenakan bathrobe. Ia lalu berjalan menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya. Jemima terperanjat saat mendengar ponselnya berbunyi. Lagi-lagi Alezo, padahal ia sudah sejak pagi menolak panggilan pria itu. Saat di Australia, Alezo mengambil ponsel Jemima lalu menelepon ponselnya hingga ia mengetahui nomor baru Jemima.


Jemima membiarkan ponselnya berdering, tak ingin menjawab panggilan Alezo. Ia masih ragu akan hubungannya dengan Alezo meski mengakui bahwa ia mencintai pria itu. Perasaannya masih sama sejak awal mereka bersama. Cinta itu masih menggebu-gebu meski ia berusaha setengah mati membunuhnya. Pergi jauh ia kira akan membantunya melupakan Alezo, namun justru pria itu menemukannya hingga pertahanan yang ia bangun rubuh seketika. Jemima merasa bersalah pada ibunya di surga karena mencintai Alezo, anak sahabatnya yang berkhianat. Rasanya tak logis jika ia malah memadu kasih, bukannya membalaskan sakit hati sang ibu yang ia bawa mati.


Jemima kemudian menyalakan televisi  agar tidak terlalu sepi. Ia lalu kembali fokus mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba Jemima menoleh cepat ke arah televisi saat mendengar narasi berita yang begitu mengejutkannya.


Tanaya Rodriga, leader girl grup Blossom di tangkap karena terlibat dalam perencanaan penyerangan Najla Sabitha dan teror pada Jemima Tsamara. Tanaya membayar orang suruhan dan memberi imbalan untuk melalukan teror dan penyerangan pada dua artis tersebut. Yang lebih mengejutkan, ternyata Kalina, mantan CEO Magnolia yang mendekam di penjara mengetahui hal tersebut. Apa hubungan Kalina dengan Tanaya? Apakah Tanaya juga terlibat dalam komplotan penculikan Jemima yang lalu?


"Astaga...Oh Tuhan..." pekik Jemima terkejut, tak menyangka Tanaya yang melakukan teror padanya beberapa waktu lalu.


Layar televisi kemudian menampilkan Tanaya yang digiring dengan mengenakan borgol. Gadis itu tertunduk lesu dan terlihat pasrah di tengah gempuran wartawan. 'Habislah kau, Tanaya,' batin Jemima. Ia kira Tanaya hanya sombong. Namun ternyata ia juga seorang kriminal.


Ponsel Jemima kembali berbunyi. Masih Alezo dan kini ia menjawabnya.


"Halo..." jawab Jemima.


"Apa kau sudah menonton berita?" Tanya Alezo di ujung sana.


"Ya...sudah. I'm...I'm shocked,"


"I know. Kita harus bertemu," tukas Alezo lagi.


"Hm...ya,"


"Aku akan menjemputmu sekarang,"


Usai berkata demikian Alezo langsung memutuskan sambungan. Sementara Jemima terpaku karena Alezo akan segera tiba.


"Aku harus bicara padanya kali ini," gumam Jemima.


***


Moonlight, restoran mewah di pinggir danau menjadi pilihan Jemima dan Alezo untuk berbicara. Tempat yang indah dan eksklusif membuat Jemima langsung setuju saat Alezo menawarinya ke tempat ini. Pengunjung restoran yang rata-rata adalah kalangan jetset pastinya tak akan merecoki Jemima dan Alezo.


"Makanlah yang banyak. Kau terlihat lebih kurus," ucap Alezo saat mereka sedang memilih menu.


Jemima tak menjawab. Ia sebenarnya tak berselera makan karena suasana hati yang tak menentu.


"Aku penasaran seperti apa hubunganmu dengan Tanaya Blossom," ujar Alezo ketika mereka selesai memesan makanan.


Jemima menghela nafas. Rasanya begitu memusingkan mengingat bagaimana ia disingkirkan demi Blossom. Apalagi sikap mereka yang tak sopan, terutama Tanaya.


"I hate her. Dia bersikap seenaknya dan begitu angkuh. Dia berani seperti itu karena Kalina berada di belakangnya. Bahkan albumku harus ditunda demi mereka," ujar Jemima menerawang.


"Sampai seperti itu?"


Jemima mengangguk. "Ya. Ternyata bahkan dia lebih parah karena menerorku dan mencelakai Najla. Karirnya sudah pasti hancur berantakan,"


"Orang suruhannya mengaku padaku," jawab Alezo yang tentu membuat Jemima mengernyitkan dahi.


Alezo pun kemudian menceritakan bagaimana ia dan Neil datang ke apartemennya karena kecurigaan Neil pada pelaku penyerangan Najla. Lalu saat akan ke unit Jemima mereka malah bertemu dengan pria itu dan sebuah kotak berisi bangkai kucing di depan pintu unit Jemima.


"Gila. Benar-benar gila," komentar Jemima tak habis pikir.


"Aku dan Neil mengejar lalu mencecarnya hingga ia mengaku. Neil bahkan menghajarnya hingga pria itu tak sadarkan diri,"


"Wah. Aku tidak menyangka Neil bisa menghajar orang dengan brutal," tukas Jemima sambil mulai makan makanan yang baru saja datang.


"Ya. Dia benar-benar marah karena pria itu membuat Najla celaka hingga amnesia,"


"Such a good friend,"


"No. Mereka lebih dari teman. Neil mencintai Najla dan mereka menjalin hubungan," sela Alezo.


"Ow...really? Aku bahkan tidak tau!" Seru Jemima.


"Sayangnya Najla tidak mengingatnya dan hanya menganggap Neil orang asing,"


Jemima terdiam. Pasti tidak mudah bagi Neil. Bagaimana perasaannya saat orang yang ia cintai justru melupakan dirinya dan kisah manis yang mungkin terjalin di antara mereka.


Jemima terus menyuapkan makanan bukan karena lapar. Ia bahkan merasakan dirinya akan muntah. Namun ia menghindari bertatapan dengan Alezo yang selalu membuatnya lemah. Beruntung ia bisa menghabiskan wagyu steaknya suapan terakhir.


"Do you want dessert?" Tanya Alezo.


Jemima mengibaskan tangan. "No space anymore," jawabnya tersenyum.


"Apa kau mau ke atas?" Tawar Alezo.


Jemimma refleks mengangguk. Rooftop restoran ini adalah yang terbaik untuk menikmati malam. Pantulan cahaya bulan di danau benar-benar sebuah pemandangan yang indah.


"Cantik sekali," ujar Jemima terpana saat memandang bulan purnama yang bulat sempurna.


"Ya. Cantik sekali," sahut Alezo sambil melihat ke arah Jemima yang berdiri di sebelahnya.


Jemima menoleh. Pipinya bersemu merah saat matanya dan Alezo bertemu. Apa Alezo mengatakan cantik untuknya? Jemima kemudian dengan cepat memalingkah wajah. 'Tidak, aku tidak boleh lemah kali ini,' batinnya.


"Alezo...ada yang harus kukatakan padamu," ucap Jemima.


"Katakanlah,"


Jemima menarik nafas, mencoba menguatkan hati dan mengumpulkan kekuatan.


"Aku...aku tidak bisa bersamamu," ucapnya. "Mari akhiri perasaan yang kita rasakan karena percuma. Kita baiknya menjalani kehidupan masing-masing seperti sebelum saling mengenal..."


Untaian kalimat yang mengalir dari bibir Jemima tentu langsung menembus sanubari Alezo. Tubuhnya membeku dan lidahnya kelu, hingga ia hanya bisa terdiam terpaku.


"Jemima...."


"Sebuah kesalahan bagiku karena mencintaimu. Aku tidak ingin membuat ibuku di atas sana sedih dan kecewa," lirih Jemima sambil melihat ke atas langit, berharap sang ibu sedang melihatnya dari sana.


Jemima tak berani memandang Alezo. Mata Alezo adalah kelemahannya. Tatapan teduh Alezo bisa dengan mudah merubah pikiran Jemima karena ia tenggelam di dalamnya.


Jemima bergeser menjauh ketika Alezo mendekat memangkas jarak antara mereka.


"Kau akan meninggalkanku lagi kali ini?" Tanya Alezo dengan suara yang terdengar bergetar.


"Lebih tepatnya kita saling meninggalkan, Alezo..." jawab Jemima berusaha tegar.


"Setelah semua yang kita lakukan?"


Jemima terhenyak. Mereka berdua sebenarnya sudah melampaui batas karena cinta yang menggebu. Namun Jemima tak menyesal melakukannya.


"Anggap saja itu tidak pernah terjadi," tukas Jemima yang mengutuk dirinya sendiri dalam hati setelah berkata demikian.


"I have to go. Semoga kau hidup dengan baik. Aku sudah memutuskan hiatus, sehingga mungkin kita tidak bertemu dalam waktu lama,"


Ia kemudian berbalik untuk bersiap pergi meninggalkan Alezo dengan hati yang hancur berkeping-keping. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, dan ia tak mau menangis di depan Alezo.


"Jemima....wait. I can't be fine with this. Aku mohon..." Alezo mencegat pergelengan tangan kanan Jemima.


"You can. Kita akan baik-baik saja,"


Jemima kemudian menarik tangannya dan melangkah pergi meninggalkan Alezo tanpa menoleh lagi untuk terakhir kali.


Sementara Alezo menatap nanar punggung Jemima yang perlahan menjauh dengan menahan sesak di dadanya. Tidak, Alezo tak yakin ia kan baik-baik saja. Membayangkan bagaimana ia menghadapi hari esok saja sudah membuatnya begidik. Bagaimana ia bisa menjalani kehidupan dengan hati yang patah?


"Jemima...why can't I hold you?"


***


Happy reading readers tersayang🤍