
POV : Alezo
Alezo sudah berkali-kali berganti posisi tidur namun matanya tak kunjung terpejam padahal hari sudah larut. Pikirannya yang sedang kalut seolah mengenyahkan rasa kantuk. Otaknya terus-terusan memutar kembali percakapannya kemarin dengan Kamila membahas Jemima tadi pagi.
"Apa maksudnya Jemima masuk rumah sakit karena mama?" Tanya Kamila terheran dengan ucapan Alezo.
"Dinar Saria. Mama familiar dengan nama itu?" Alezo bertanya balik pada ibunya.
Raut wajah Kamila seketika berubah saat Alezo menyebut nama itu. Alezo menyadari wajah sang ibu mendadak pias, seperti benar-benar terkejut akan sesuatu.
"Kau...bagaimana kau tahu nama itu?"
Alezo memalingkan dan mengusap wajahnya.
"Dia sahabat mama, bukan?" Desak Alezo.
Kamila tak menjawab. Tiba-tiba merasa jantungnya berdebar kencang nafasnya menjadi lebih cepat.
"Apa yang mama lakukan padanya di masa lalu?" Alezo semakin mendesak Kamila untuk menjawab pertanyaannya.
"Apa mama tidak dihantui rasa bersalah setelah merampas sesuatu dari hidupnya hingga ia akhirnya menderita di akhir hayatnya?"
Kamila semakin tercekat. Otaknya seketika memutar memori puluhan tahun seolah ia dapat melihatnya bagaikan sebuah film. Kisah cinta segitiga dimana ia memenangkannya. Namun persaingan cinta dengan sahabat sendiri sejatinya tidak melahirkan seorang pemenang, melainkan pengkhianat. Lalu Alezo menyebut akhir hayat. Sungguh kaki Kamila sontak gemetar. Dinar sang sahabat, tak lagi di dunia ini?
"Pantas mama tidak pernah menceritakan bagaimana bertemu papa. Ternyata kisah kalian bermula dari pengkhianatan," cetus Alezo dingin.
Alezo tak bereaksi apapun melihat Kamila yang syok dan mulai mengeluarkan air mata. Ia hanya membayangkan bagaimana sang ibu yang di matanya begitu sempurna ternyata pernah begitu jahat di masa lalu hingga akibatnya sebuah keluarga terluka dan hancur. Sementara mereka hidup bahagia, ada Jemima yang menjadi korban atas semuanya.
"Apa mama tau dia di bunuh suaminya karena ketahuan masih mencintai kekasihnya yang mama rebut?"
"Oh Tuhan...Oh...Astaga..." seru Kamila menutup mulutnya. Ia benar-benar terguncang dengan ucapan Alezo.
"Lalu penjara tempat suaminya ditahan terbakar dan menewaskannya,"
"Dan mereka meninggalkan seorang anak yang harus menelan pahitnya kehidupan orangtuanya," Alezo tanpa ampum membeberkan semuanya pada Kamila, seolah abai dengan ibunya yang gemetar ketakutan.
Kamila tak sanggup menopang tubuhnya lalu terduduk di lantai. Ia mengubur memori persahabatannya dengan Dinar begitu menikah dengan Reno. Tidak satupun kabar yang ia dengar tentang Dinar. Siapa sangka ia akan mendengarnya setelah berpuluh tahun kemudian? Ironisnya kabar yang ia dapatkan begitu menggenaskan.
"Alezo...bagaimana...bagaimana kau mengetahui itu semua?"
Alezo berlutut untuk mensejajarkan posisinya dengan Kamila.
"Jemima...Jemima adalah anak sahabat yang mama khianati itu,"
Usai berkata demikian, Alezo berdiri dan berlalu, meninggalkan Kamila yang jatuh tak sadarkan diri. Ia menutup telinga akan teriakan Albar yang memanggilnya. Alezo terus berjalan dan keluar menuju mobil, lalu mengemudi tanpa tau tujuan.
***
Alezo baru tidur selama tiga jam saat ia merasa silau dengan sinar matahari yang mengintip dari tirai jendela. Dengan terpaksa ia pun membuka mata dan bangun dari tidurnya. Padahal ia sengaja tidak menyalakan alarm agar tidurnya tak terganggu. Apalagi seingatnya jadwal pemotretannya siang.
Alezo lalu meraih ponselnya dari atas nakas. Ternyata masih pukul delapan pagi. Ia lalu membuka pesan dari Tara, managernya yang mengingatkan waktu pemotretan hari ini sambil mengucek mata. Sejurus kemudian Alezo terbelalak karena teringat bahwa pemotretan hari ini bersama Jemima. Bagaimana bisa ia melakukan pemotretan bersama setelah apa yang terjadi di antara mereka? Ia bahkan masih belum berani menghubungi Jemima sangking takutnya. Beruntung Tita berbaik hati memberinya kabar bahwa Jemima sudah pulang dari rumah sakit dan dalam keadaan baik.
Alezo mengumpulkan keberanian untuk menelepon Jemima. Sejujurnya saat ini ia sangat ingin bertemu sang kekasih lalu berlutut meminta maaf akan kesalahan ibunya di masa lalu. Ia berjanji akan menebus semua kesedihan yang Jemima alami akan dengan kebahagiaan tiada henti. Namun mengingat sorot mata Jemima yang penuh amarah saat menatapnya dan sumpah serapah yang keluar dari mulutnya membuat Alezo ragu Jemima akan menerimanya.
Alezo menahan nafas ketika panggilannya sudah tersambung, menunggu Jemima menjawab. Sayangnya sudah panggilan kedua Jemima tak kunjung mengangkatnya. Alezo menggantungkan harapannya pada pemotretan nanti siang, setidaknya ia bisa bertemu Jemima dan meminta waktu gadis itu sejenak untuk mendengarkannya.
***
Alezo tiba di lokasi pemotretan lebih awal. Ia tidak sabar menunggu sehingga memutuskan untuk berangkat lebih cepat. Pemotretan kali ini adalah untuk sebuah brand jam tangan yang menjadikannya ia dan Jemima sebagai brand ambassador.
"Are you OK?" Tanya Tara yang menyadari gelagat tidak biasa Alezo saat mereka berada di dalam lift.
Wajah Alezo terlihat lesu dan beberapa kali kedapatan tatapan matanya kosong.
"I'm...I'm fine. Why?" Ujar Alezo tergagap.
Tara menggeleng. "Alezo. Entah ini kekurangan atau kelebihanmu, tapi kau paling tidak bisa menyembunyikan perasaannu," ujar Tara.
"Selalu tergambar jelas di wajahmu," lanjut Tara sambil menunjuk wajah Alezo.
Alezo menelan ludah. Ia mengakui bahwa dirinya adalah orang yang jujur, sehingga perasaannya akan selalu mempengaruhi ekpresi wajahnya. Ia sudah berusaha untuk bersikap biasa saja, namun tidak bisa. Apalagi ia akan bertemu dengan Jemima. Sungguh Alezo tidak bisa membayangkan bagaimana canggungnya mereka saat pemotretan nanti.
"Aku hanya kurang tidur," jawab Alezo asal. Terserah Tara mau percaya atau tidak.
Alezo menyapa kru yang bertugas sekenanya begitu tiba. Tak menunggu lama ia segera menuju ruang make up. Alezo baru saja akan menatap rambutnya dengan hairstylish ketika terdengar suara orang-orang yang menyapa Jemima.
"Haaaaiii..."
"The queen has arrived," ucap Bena, sang make up artist sambil mengulurkan tangan memeluk Jemima.
Alezo melirik ke arah Jemima yang terlihat ceria, seolah melupakan apa yang baru dilaluinya. Jemima yang memamerkan bahu dengan mengenakan baju model sabrina membuat Alezo menelan ludah. Apalagi gadis itu juga menguncir rambutnya.
"Hai Alezo,"
Alezo terkesiap ketika tiba-tiba Jemima menyapanya, bahkan dengan senyum lebar.
"Ow...hai," sahut Alezo tergagap. Bagaimana Jemima bisa sesantai itu menyapanya?
Sudah Alezo duga, pemotretan kali ini akan bertabur kontak fisik antara ia dan Jemima. Yang membuatnya tidak menyangka, Jemima tidak canggung sama sekali dengannya. Ia tetap luwes di depan kamera berpose mesra dengan Alezo. Derai tawa Jemima pun sesekali terdengar, seolah ia benar-benar menikmati pemotretan kali ini tanpa beban. Alezo ingat betul Jemima adalah seorang poker face profesional. Ia ahli menyembunyikan perasaannya. Maka sejatinya Jemima saat ini sedang berpura-pura ceria sehingga tak ada yang bisa membaca isi hatinya.
Alezo sepertinya menjadi satu-satunya orang yang lega ketika pemotretan berakhir. Ia bisa gila jika semakin lama menahan perasaan gusarnya di depan banyak orang. Alezo meminta Tara untuk pulang lebih dulu, sementara ia dengan setia menunggu Jemima berganti pakaian. Ia harus bicara dengan sang kekasih, walau tidak siap dengan hal yang akan terjadi setelahnya.
"Jemima, we need to talk," ujar Alezo begitu Jemima keluar dari studio bersama Tita. Ia sudah menunggu selama sepuluh menit.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," cetus Jemima tanpa melihat Alezo lalu melanjutkan langkahnya.
Alezo refleks meraih lengan Jemima dan membuat gadis itu meringis.
"What are you doing?" Gerutu Jemima mencoba menarik lengannya. "Tita help me,"
Alezo melirik ke arah Tita dan memberi kode dengan matanya. Gayung bersambut, Tita pun mengerti dengan maksud Alezo.
"Well, sepertinya ada yang perlu kalian selesaikan. Aku harus pergi," ucap Tita berpamitan, mengabaikan Jemima yang memanggilnya.
"Jemima, please..." ujar Alezo memohon.
Alezo menghela nafas lega setelah akhirnya Jemima bersedia mengikutinya. Mereka pun berdua lalu menuju mobil Alezo.
Di sepanjang perjalanan keheningan membelenggu mereka. Jemima sama sekali tidak bersuara dan melempar pandangannya ke jendela. Sementara Alezo sesekali melirik dengan otak yang bertanya-tanya, apa ia benar-benar sudah tidak dianggap kekasih oleh Jemima?
Mereka tiba di apartemen Jemima hampir malam. Alezo dengan setia berjalan di belakang Jemima menuju unitnya.
"Mima...I know kenyataan ini sungguh berat buatmu. Aku benar-benar minta maaf atas nama orangtuaku," ucap Alezo sungguh-sungguh ketika sudah masuk ke unit Jemima.
Jemima tak menjawab. Ia hanya menghela nafas panjang.
"Jika ada yang bisa kulakukan untuk menebus semuanya...katakan. Aku akan lakukan apapun itu," lanjut Alezo.
Jemima tersenyum kecut yang tampak mengerikan bagi Alezo.
"Apapun yang kau lakukan tidak akan bisa menghidupkan kembali ibuku," sahut Jemima sinis yang membuat Alezo tertegun.
"Aku tidak ingin lagi berurusan denganmu dan keluargamu," cetus Jemima. "Kita berakhir, Alezo,"
"Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada anak pengkhianat ibuku," Jemima mulai terisak.
Hati Alezo selalu terasa sakit melihat Jemima menangis. Apalagi kali ini ia penyebabnya. Alezo berjalan mendekati Jemima. Sayangnya gadis itu seketika mundur, menjauhkan jaraknya dengan Alezo.
"Pergi, Alezo," usir Jemima.
"Pergi...aku menyesal jatuh hati padamu dan membiarkan kau menyentuhku,"
Alezo mengepalkan tangannya mendengar ucapan Jemima yang tepat menusuk kalbunya. Ia menatap nanar mata Jemima yang basah. Lidah Alezo terasa kelu, tak sanggup lagi berkata-kata. Sungguh ia mencintai Jemima dan tak ingin pergi darinya.
Alezo seketika berlutut di depan Jemima. Ia tak lagi memikirkan harga diri demi mendapatkan maaf Jemima, meski sebenarnya ia tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian orangtua mereka di masa lalu.
"Jemima...aku tau apapun yang ku lakukan tidak akan mengembalikan apapun. Tapi aku mohon...biarkan aku tetap di sampingmu, menebus kesalahan orangtuaku. Aku mencintaimu. Aku tidak akan sanggup jika kita berpisah, Jemima. Aku mohon..."
"Stop it, Alezo!" teriak Jemima namun Alezo bergeming.
"Kau tidak tahu betapa menyakitkannya melihat keluargamu hidup bahagia setelah apa yang ibumu lakukan pada ibuku. Ibuku di atas sana akan kecewa karena aku malah mencintai anak sang pengkhianat," pekik Jemima dengan air mata yang berderai.
Alezo semakin menundukkan posisinya. Ia pun merasa sesak dengan kenyataan yang ada. Suara tangis Jemima adalah kelemahannya. Sekuat tenaga ia menahan air matanya. Bukan, bukan karena ia malu. Namun Alezo tidak mau Jemima jadi mengkasihaninya.
"Pergilah. Pergi!!!" Kali ini teriakan Jemima begitu keras hingga Alezo tersentak. Ia lalu bangkit dan berdiri berhadapan dengan Jemima.
Alezo menghela nafas. "Sepertinya kau benar-benar membenciku. Baiklah...aku pergi,"
Usai berkata demikian Alezo balik badan untuk membuka pintu dan keluar dengan hati yang hancur. Ia masih dapat mendengar suara tangis Jemima yang begitu memilukan. Namun ia bisa apa jika gadis itu tak ingin melihat wajahnya?
***