Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 78



Alezo menggandeng tangan Jemima berjalan menuju ballroom hotel tempat resepsi pernikahan Albar dilakukan. Ia tak dapat memungkiri bahwa hari ini Jemima terlihat begitu cantik dengan gaun berwarna peach dan rambut yang di sanggul. Biasanya rambut indah Jemima selalu tergerai, dan penampilannya kali ini benar-benar membuat Alezo terpesona.


“Sweetheart, kau cantik sekali,” bisik Alezo.


“Come on, kau sudah mengatakannya berkali-kali sejak menjemputku,” ucap Jemima mengibaskan tangannya.


“The babies pasti senang sekali berada di perut ibu yang sangat cantik,” lanjut Alezo yang membuat Jemima tersipu.


Mereka lalu tiba di ballroom mewah yang sudah dipenuhi para undangan. Tentu saja mereka bukan orang biasa karena Louisa adalah anak konglomerat. Pejabat negara, pengusaha hingga para selebriti tampak berada di meja yang sudah disediakan.


Kehadiran Alezo dan Jemima sontak menarik perhatian. Semua mata memandang ke arah mereka yang bergandengan dan tersenyum ramah menyapa.


“Alezo!” tiba-tiba sebuah suara memanggil Alezo.


“Hey,” balas Alezo pada Marten, rekannya sesama aktor yang menyapanya.


“Kalian bisa bergabung di sini,” ucap Marten menawarkan agar Alezo dapat duduk bersama di mejanya.


“Ah aku harus duduk di sana,” balas Alezo menunjuk meja yang berada di depan.


Usai berkata demikian ia pun melanjutkan langkahnya dan masih sempat mendengar bisikan teman-temannya yang memuji kecantikan sang kekasih. Dalam hati ia merasa bangga karena memiliki Jemima.


Tak lama kemudian tiba saatnya pengantin perempuan berjalan di atas altar menuju Albar, sang pengantin laki-laki yang menunggunya. Alezo tersenyum haru melihat sang adik berbalut tuxedo yang tersenyum memandang Louisa yang tampak menawan dengan gaun pengantin putih nan mewah.


‘Adik kecilku menikah,’ batin Alezo, berusaha menahan desakan air mata yang berkumpul di pelupuk netranya. Tak menyangka Albar yang sang adik yang selalu usil dan kekanakan akan menjadi seorang suami, bahkan mendahuluinya.


Tiba saatnya MC memanggil kakak mempelai pria untuk memberikan pidato pernikahan. Alezo pun lalu bangkit dan berjalan menuju panggung. Seketika para undangan terpana karena tak menyangka.


“Alezo? Jadi, dia adalah kakak Albar? Arsitek hebat itu?”


“What? Aku baru tahu Alezo memiliki seorang adik,”


“So kini Alezo menjadi bagian keluarga Wiyatmo? Luar biasa!”


“Wow menjadi ipar seorang konglomerat. Good for his family,”


“Keluarga Alezo juga bukan sembarangan. Ayahnya pemilik rumah sakit Global Medika!”


Bisik-bisik terus terdengar hingga pidato Alezo selesai. Tentu banyak yang tak menduga karena memang Alezo tak pernah terbuka tentang keluarganya di depan media. Ia kemudian kembali ke meja dan disambut oleh Jemima, serta Neil dan Najla yang bergabung di meja mereka.


Seusai resepsi, Alezo segera mengajak Jemima pulang karena khawatir sang kekasih kelelahan. Dalam benaknya selalu terngiang kini tubuh Jemima tak sendiri, ada dua calon bayi mereka yang berdiam di perutnya.


“Kau pasti lelah,” ucap Alezo setelah mereka berada di perjalanan.


“Tidak juga. Aku senang berada di suasana pesta,” tukas Jemima tersenyum.


“Kau tidak mual atau semacamnya? Setahuku ibu hamil mengalaminya saat awal kehamilan,”


Jemima menggeleng, pertanda ia tak merasakan apa yang Alezo katakan.


“Syukurlah…”


Alezo terus mengemudi membelah jalanan sementara Jemima memilih melemparkan pandangan ke luar jendela. Sesekali Alezo melirik ke arah Jemima yang bersenandung kecil menikmati lagu dari audio. Alezo menarik nafas panjang, seolah mengumpulkan kekuatan sebelum mengeluarkan kalimatnya.


“Mima…”


“Hmm…” sahut Jemima seketika menoleh.


“Ehm…aku…I wanna ask you something,”


“Go ahead,”


Alezo mengigit bibirnya, entah kenapa terlalu sulit baginya untuk sekedar berkata-kata.


“Begini…aku memikirkan kapan kira-kira kau siap untuk menikah?”


Alezo semakin berdebar karena Jemima tak langsung menjawab. Sang kekasih justru mengalihkan pandangan ke depan, seolah sengaja memberi kesempatan bagi Alezo menikmati debur jantungnya yang tak karuan.


“Menikah….” ucap Jemima datar.


“Tentu saja aku ingin menikah denganmu, Alezo. Aku menerima lamaranmu,”


“Ah…ya. But, aku berpikir agar kita segera melaksanakan pernikahan…”


“Segera?” ulang Jemima.


“Apa kau keberatan?”


Lagi-lagi Jemima terdiam, membuat benak Alezo dihinggapi pikiran negatif.


“Hidupku pasti akan berubah setelah menikah denganmu,” ujar Jemima.


‘Tentu, sweetheart. Kita akan menjadi suami istri dan aku sepenuhnya bisa menjaga dan melindungimu,’ jerit batin Alezo.


“I know…karirmu sedang bersinar. Kau sibuk dengan pekerjaan yang sangat kau cintai. Menjadi seorang istri mungkin akan menambah beban pikiranmu…” ucap Alezo lirih, mengutarakan keresahan yang ia rasakan.


Tawa renyah Jemima yang tiba-tiba membuat Alezo bertanya-tanya apa gerangan yang dipikirkan sang kekasih.


“Alezo…kau pasti mengira aku bersenang-senang because I live in my own dream dengan segala yang kudapatkan saat ini,”


“But…impian terbesarku sebenarnya adalah menjadi seorang istri dan ibu,” lanjut Jemima.


“Aku semakin dekat dengan mimpiku. Aku akan menjadi ibu dan istri. Dan aku tak mau menunggu terlalu lama untuk itu,”


Alezo menelan ludah mendengar kalimat Jemima. Seketika ia merasakan hembusan angin segar yang menyejukkan dirinya yang merasa gerah meski digempur AC mobil.


“Jadi…kau bersedia untuk segera menikah denganku?” ulang Alezo untuk meyakinkan dirinya.


Jemima mengangguk tersenyum.


“Bagaimana kalau…tiga bulan lagi?” tanya Alezo. “Apa terlalu cepat?”


Jemima menutup mulutnya dengan tangan dengan ekspresi terkejut.


“Ah, ya. Terlalu cepat. Maafkan aku,”


Jemima menggeleng. Lalu mencondongkan badannya ke arah Alezo.


“Dua bulan,” bisiknya di telinga Alezo.


Kini Alezo yang terperangah karena ternyata Jemima meninginkan pernikahan lebih cepat. Sungguh di luar dugaannya. Tentu ia merasa lega dan bahagia, karena pernikahan membuatnya memiliki Jemima sepenuhnya.


***


“Oh Tuhan, aku pasti melakukan banyak kebajikan di kehidupanku sebelumnya,” ucap Magica, desainer gaun pengantin yang didatangi Jemima untuk membuat desain gaun pernikahannya.


“Aku pernah berhayal kelak gaunku akan dipakai olehmu. Ternyata Tuhan membuatnya menjadi nyata,”


Jemima terkekeh mendengar ucapan sang desainer. Merasa lucu karna Magica rasanya terlalu melebihkan.


“Well, aku percayakan padamu gaunku. Aku ingin gaun yang membuatku terlihat bersinar, jangan terlalu terbuka because Alezo doesn’t like it,” jelas Jemima.


“Got it. Aku bahkan sudah membayangkannya di sini,” ucap Magica sambil menunjuk dahinya.


“Satu lagi. Aku akan membayar ini. Jangan memberiku gratis!” tegas Jemima.


“Unfortunately aku tidak bisa. Ini adalah hadiah dariku untukmu,”


“No, please,” ucap Jemima.


“Jemi, listen to me. Gaunku memang mahal. But, setelah kau kenakan dan orang-orang tahu ini adalah buatanku, aku jamin aku akan kewalahan menerima pesanan gaun persis seperti punyamu,”


“Begitukah?” tanya Jemima takjub.


“Ya! So, aku tak mau menerima bayaranmu. Please, Jemi. Biarkan aku memberi hadiah untumu,”


Jemima menyerah. Magica benar-benar tak mau menerima bayaran. Setidaknya Jemima sudah menolak sebelumnya, tidak serta merta dengan senang hati setuju menerima secara gratis.


***


Jemima menikmati pijatan Alezo di kepalanya. Mereka baru saja pulang dari meeting dengan vendor pernikahan. Jemima yang kelelahan memilih pulang karena ingin segera merebahkan diri. Kali ia menginap di rumah Alezo karena sang kekasih merasa kesepian sejak Albar pindah ke rumah baru bersama Louisa.


“Babe…” panggil Jemima.


“Yes,” jawab Alezo yang masih memijatnya.


“Karena kita akan menikah satu bulan lagi…aku ingin bertanya padamu,”


“What is that?”


“Hmm…apa kau punya mantan kekasih?” tanya Jemima hati-hati.


Ia dan Alezo selama ini tak pernah membahas cinta masa lalu masing-masing. Namun Jemima penasaran, apakah Alezo pernah mencintai wanita lain di masa lalunya.


“Ya…punya,”


“Who? Tell me. Aku hanya penasaran,”


Jemima menoleh karena Alezo tak kunjung menjawab. Sang kekasih terlihat sedang berpikir.


“Hey,”


“Ah…ya. Mantan kekasihku…hmm…Mahika,” jawab Alezo yang membuat Jemima bangkit dari posisinya.


“Mahika? Kau pernah berpacaran dengannya?”


Sungguh Jemima tak menyangka Alezo pernah berpacaran dengan Mahika, supermodel sexy papan atas. Ia bahkan kerap tampil di majalah dewasa memamerkan tubuh indahnya. Bagaimana Alezo bisa berpacaran dengannya? Ah tidak, bagaimana bisa tak tercium oleh media?


“Yap. But it was only for three or four months. Two years ago,”


“I mean…how come? Kau selalu memarahiku jika aku berpakain sexy!” protes Jemima yang mendadak merasa kesal.


“Dia sepupu temanku. Kami berkenalan saat bermain jet sky di Thailand. Lalu kami lebih sering bertemu setelah itu dan sepakat berkencan,”


“You must be happy mengencani supermodel seperti dirinya,” tukas Jemima yang tiba-tiba merasa panas hingga sampai mengibaskan tangannya.


“Well saat itu iya karena kami sama-sama menyukai jet sky,” jawab Alezo yang tak sadar perubahan suasana hati Jemima.


“Wah. Bermain jet sky artinya hanya mengenakan bikini, bukan? Wow so hot,”


“Begitulah,”


“Kau pasti bahagia melihat tubuh sexynya bukan? Sungguh menyegarkan mata,” sinis Jemima yang tak bisa mengontrol nada bicaranya.


“Hey…don’t say that. Kau membuatku seolah seperti pria mesum,” ucap Alezo terkekeh sambil mencubit pipi Jemima.


“Aku hanya tidak menyangka,” elak Jemima.


“Hmm…hubungan kami hanya sebatas nyaman karena memiliki kesenangan yang sama. Ternyata kami tidak benar-benar jatuh cinta saat itu. So we decided to broke up,” jelas Alezo.


Sayangnya hal itu tak membuat Jemima lega. Membayangkan Alezo pasti pernah berpelukan atau berciuman dengan Mahika membuatnya kesal dan rasanya ingin kembali ke masa itu lalu menampar Alezo. Rasanya ia menyesal telah bertanya pada Alezo.


“Kau cemburu?”


“What? Nooo. Cemburu pada masa lalu? Lucu sekali,” dusta Jemima yang panik karena Alezo seolah membaca pikirannya.


Jemima lalu bergeser berniat beranjak dari tempat tidur meninggalkan Alezo. Namun sayang Alezo menahan tubuhnya hingga ia tak dapat bergerak.


“Giliranmu. Katakan padaku siapa mantan kekasihmu,”


Jemima menelan ludah. ‘Sial, dia membalasku,’ batin Jemima panik. Ia lalu ditarik oleh Alezo hingga kini ia terperangkap dalam pelukan sang calon suami.


“Katakan. Apa kau punya mantan kekasih?” ulang Alezo.


Jemima mengerjapkan mata, bingung bagaimana cara mengatakannya pada Alezo.


“Hmm…itu…aku tidak punya mantan kekasih. Hanya saja…aku menyukainya sejak lama,” jawab Jemima hati-hati.


“Really? Pria itu tau kau menyukainya?”


Jemima menggeleng. “Tidak. He never know. Aku tidak memberitahunya,”


“Dia baik sekali padaku. Aku jatuh cinta padanya namun takut ia risih jika mengetahuinya. So…ya…ehm…aku memendamnya,”


“You like that guy so much?”


“Ehm…begitulah. Aku menyimpan perasaan sejak SMP hingga aku debut. Kesibukan akhirnya membuatku melupakannya, padahal aku masih terus mencari tahu tentangnya saat masa training…” tanpa sadar Jenima bercerita dengan mata menerawang, mengingat bagaimana perihnya saat ia memendam perasaan pada seseorang yang bahkan tak mengingatnya.


“Dan pria itu adalah…” ucap Alezo.


Jemima menghela nafas, merasa berat menyebutkan nama sang pria masa lalu.


“Sean …”


“Sean? Sean kapten timnas?” Ulang Alezo.


Jemima terperanjat karena suara Alezo yang melengking. Ia sontak melepaskan diri dari pelukan Alezo lalu memandang sang kekasih yang terlihat pias.


Ia lalu kebingungan saat Alezo tiba-tiba berdiri lalu berkacak pinggang dan berjalan mondar-mandir.


“You frustated me!” seru Alezo.


“What’s wrong?”


“Mima…I hate this conversation. Katakan aku bodoh tapi aku cemburu padanya,” ucap Alezo.


“It’s over, Alezo. Kenapa reaksimu berlebihan?”


“Listen. Aku dan Sean berteman. Dia bahkan membuat pengakuan kalau kau adalah cinta pertamanya dan masih berharap bisa mendapatkanmu hingga kau debut!”


Jemima terhenyak. Jadi selama ini ia dan Sean saling menyukai dalam diam? Selama ini mereka berdua saling berharap dapat bersama? ‘Menyedihkan sekali,’ pikir Jemima.


“Ow…But it’s over!” Seru Jemima. “Kenapa kau membentakku?!”


“Sama-sama menjadi cinta pertama, huh?”


Jemima merasa kesal karena Alezo menjadi sinis. Ia kemudian berdiri dan turut berkacak pinggang berhadapan dengan Alezo.


“Berpacaran dengan model sexy, huh?!”


Jemima dan Alezo kini saling menatap dengan wajah cemberut, sama-sama meluapkan kecemburuan pada masa lalu masing-masing.


“Menyebalkan!” seru mereka berdua serentak lalu berbalik arah berjalan menjauh.


***