
POV : Alezo
"Astaga!!!"
Alezo tersentak mendengar pekikan Jemima yang tiba-tiba. Ia hanya melongo ketika kekasihnya itu seketika melompat turun dari kasur.
"Ada apa?" Tanya Alezo penasaran melihat Jemima yang terlihat begitu panik.
"Aku lupa hari ini jadwalku latihan pilates! Pelatihku akan tiba sepuluh menit lagi. Kau harus pergi sekarang," jawab Jemima lalu menarik tangan Alezo untuk turun dari kasur.
Alezo hanya bisa pasrah menuruti Jemima. Tentu saja ia paham bahwa ia tak boleh ada di sini. Alezo lalu meraih hoodie dan maskernya di meja. Ia pun bersiap pergi setelah mengenakannya untuk menyamarkan jati diri.
"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengusirmu," sesal Jemima dengan wajah memelas.
Alezo tersenyum. "Tidak masalah. Aku mengerti," ujarnya.
Alezo baru saja akan membuka pintu ketika Jemima memeluknya dari belakang yang membuatnya seketika tertahan. Tangan Jemima melingkar erat di pinggangnya.
"Aku...aku mencintaimu,"
Ungkapan Jemima serta merta membuat tubuh Alezo membeku. Dunianya seolah berhenti berputar mendengar suara merdu Jemima yang mengungkapkan cinta padanya.
"Aku benar-benar mencintaimu," ulang Jemima sambil menyandarkan tubuhnya di punggung Alezo.
Alezo tak tahan lagi. Ia melepas tangan Jemima lalu berbalik dan memeluk kekasihnya itu dengan erat. Alezo memuaskan dirinya menghirup aroma Jemima yang selalu membuatnya candu. Entah kenapa hatinya terasa mencelos mengetahui bahwa Jemima mencintainya.
"Me too. I love you more, sweetheart," balas Alezo setelah pelukan mereka terlepas.
Ia lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir Jemima sebelum akhirnya benar-benar pergi.
***
Alezo segera turun dari mobil begitu sampai di rumahnya. Ia membuka pintu lalu masuk dengan langkah gontai. Alezo menghempaskan tubuh kekarnya di atas sofa dan menatap langit-langit rumahnya dengan tatapan kosong. Pikirannya menerawang mereka ulang apa yang baru ia alami dengan Jemima.
Jemima mengajaknya ke apartemen saat Alezo menanyakan apakah mereka dapat bertemu. Jadwalnya sedang kosong dan satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah menghabiskan waktu dengan sang kekasih. Beruntung Jemima juga sedang tidak ada jadwal pekerjaan sehingga tanpa membuang waktu Alezo meluncur ke apartemen Jemima dengan membawa segenap kerinduan.
Jemima menunjukkan foto kenangan orangtuanya semasa hidup seperti yang dijanjikannya. Alezo terpana karena kemiripan Jemima dengan sang ibu. Hatinya terasa sakit saat Jemima mengatakan ia membuang semua foto ayahnya karena sang ayah lah yang membuat ibunya pergi meninggalkan dunia. Alezo yang hanya sekedar mendengar cerita sampai begidik ngeri, apalagi Jemima kecil yang menyaksikan langsung bagaimana sang ayah menyakiti ibunya. Sehingga rasanya wajar Jemima memaki dan mengumpat pada kekasih dan sahabat sang ibu yang berkhianat.
Sampai kemudian Jemima menunjukkan foto kekasih sang ibu yang berkhianat, yang masih ia cintai hingga penghujung hidupnya. Foto pria tak setia itu remuk karena bekas remasan.
"Tadinya aku akan membuang foto pria brengsek ini. Tapi ada tulisan tangan ibu di baliknya. Rasanya aku sayang membuang kenangan sekecil apapun yang ibu tinggalkan," jelas Jemima seolah membaca pikiran Alezo yang ingin bertanya kenapa ia masih menyimpannya.
Alezo bak tersengat listrik ketika Jemima menyodorkan foto tersebut padanya. Ia tercenung menatap foto tersebut beberapa detik. Ia berkali-kali memaksa otaknya untuk membantah bahwa sosok dalam foto itu bukanlah orang yang ia pikirkan.
Alezo tersentak ketika mendengar deru mesin mobil di depan rumahnya. Ia baru saja berdiri dan akan beranjak ketika pintu rumahnya terbuka bersamaan dengan munculnya kedua orangtuanya.
"Surprise!" Teriak Kamila begitu mendapati Alezo yang sedang berdiri kaku.
"Mama...Papa..." ucap Alezo yang terkejut dengan kehadiran kedua orangtuanya yang tidak memberitahu sebelumnya.
Kamila dan Reno lalu duduk di sofa, sementara Alezo kikuk memperhatikan Kamila dan Reno yang kini duduk di dekatnya.
"Kenapa wajahmu? Apa kau tidak senang Mama dan Papa datang?" Tanya Reno yang tidak tahan dengan ekspresi wajah Alezo yang melongo.
"Ah...Bukan...Astaga," jawab Alezo terbata sambil mengibaskan kedua tangannya.
"Aku...tentu saja aku terkejut Mama dan Papa datang tiba-tiba. Bukankah Papa paling anti meninggalkan pasien?" Kilah Alezo.
Kamila tertawa. "Kau paling tidak bisa berbohong, Alezo. Telingamu memerah, I can see that," ujarnya sambil menunjuk ke telinga Alezo. "Artinya kau sedang berdebar karena menutupi sesuatu. Itu kebiasaanmu,"
Alezo terhenyak. Ia lupa bahwa Kamila hafal gerak geriknya sejak dulu.
"Apa kau membawa wanita ke sini?" Tanya Reno.
"Oh Tuhan. Apa kau membawa Jemima ke sini? Apa dia di kamarmu? Ow...astaga..." timpal Kamila dramatis sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Papa...apa Alezo akan memberi kita cucu lebih awal?"
Alezo sontak mengibaskan kembali tangannya membantah ucapan asal Kamila.
"Tidak ada siapa-siapa di sini,"
Kamila dan Reno saling berpandangan.
"Padahal aku akan pulang jika memang kau sedang bersenang-senang bersama Jemima di sini," cetus Reno yang disambut tawa oleh Kamila, merasa puas karena menggoda anak pertama mereka itu.
Reno menghela nafas melihat tingkah kedua orangtuanya itu.
"Papa ada seminar besok pagi di hotel Havana. Akan lebih dekat jika berangkat dari sini," jelas Kamila sebelum Alezo bertanya.
Alezo mengganguk. Sejurus kemudian Reno beranjak untuk beristirahat di kamar, meninggalkan Alezo dan Kamila yang masih betah di sofa.
"Mama merindukan Jemima. Apa hari ini dia bekerja? Bisakah kau mengundangnya ke sini?" Tanya Kamila.
Alezo terdiam. Kamila sepertinya benar-benar menyukai dan menerima Jemima sebagai kekasih Alezo.
"Ehm...dia bekerja hari ini," dusta Alezo. Kali ini ia sedang tidak ingin mempertemukan Kamila dengan Jemima.
"Ah sayang sekali. Pasti akan menyenangkan jika dia ke sini dan membuat cake bersama mama," ucap Kamila kecewa.
Alezo memaksakan sebuah senyum yang ia yakini pasti terlihat aneh.
***
Kamla tidak menyia-nyiakan dapur Alezo yang menganggur. Ia menyulap emua bahan makanan di kulkas menjadi menu makan malam yang lezat dan kini sedang dinikmati oleh keluarganya.
Kamila tersenyum. Ia lalu menambahkan potongan ayam ke piring anak bungsunya itu.
"Papa apakah ingin menambah salad?' Tanya Kamila pada Reno.
Ia pun mengisi piring Reno dengan salad setelah suaminya itu mengangguk mengiyakan.
Alezo sejak tadi membisu memperhatikan interaksi keluarganya. Ia tidak benar-benar menikmati makanannya. Butter roasted chicken buatan Kamila adalah kesukaannya, namun ia tak bersemangat menyuapkan ke mulutnya bak sedang patah selera.
Ia melirik ke arah Albar yang makan dengan lahapnya, lalu beralih ke kedua orangtuanya yang sesekali bercengkrama di tengah suapan mereka. Makanan lezat dan keluarga harmonis. Suatu kombinasi sempurna.
Pikiran Alezo menerawang membayangkan Jemima. Kekasihnya itu menghubunginya beberapa kali, namun tangannya begitu berat untuk menjawab panggilan video darinya meski hatinya meronta ingin mendengar suara dan melihat wajah Jemima.
"Alezo, kenapa makananmu belum habis?" Tanya Kamila saat menyadari piring Alezo masih penuh dengan nasi dan ayam.
Alezo terperanjat. Ia sontak meraih ayam lalu memakannya cepat. Sayangnya ia malah tersedak hingga terbatuk berkali-kali.
"Astaga Alezo!" seru Kamila sambil beranjak dan mendekati Alezo.
Ia lalu memberi minum dan menepuk-nepuk pelan punggung anak pertamanya itu.
"I'm fine, I'm fine," ucap Alezo setelah batukny terhenti.
"What's wrong with you? Kau seperti sedang memikirkan sesuatu," kali ini Reno yang bertanya.
Alezo mengangguk cepat. "Nothing," jawabnya.
Alezo lalu lanjut menghabiskan makanannya agar orangtuanya tak lagi bertanya-tanya meski ia berusaha keras untuk dapat menelannya.
***
"Hai," sapa Jemima sambil melambaikan kedua tangannya.
Alezo terpana karena mendapati Jemima sudah berdiri di depan pintu rumahnya sepagi ini. Gadis itu menenteng sebuah kotak makan yang Alezo tebak itu berisi makanan menu sarapan untuknya.
"Kau...kenapa tidak memberitahuku akan datang? Kau datang dengan siapa?" Tanya Alezo yang belum sadar ia hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana tidur bermotif Captain America.
"Kejutan, hehe..." jawab Jemima cengengesan. "Aku dengan supir,"
Alezo menggelengkan pelan kepalanya, menyadarkan dirinya yang sempat-sempatnya terpana memandang Jemima yang begitu natural tanpa riasan namun bibirnya tetap terlihat pink menggoda. Alezo belum sempat mengajak Jemima masuk ketika tiba-tiba suara Kamila terdengar.
"Oh my God my dear Jemima!" Seru Kamila riang karena mengetahui kedatangan Jemima.
"Ah...hai, Tante," sahut Jemima. Alezo dapat melihat keterkejutan Jemima yamg ia sembunyikan dengan senyumnya.
Alezo hanya melongo melihat Jemima yang digandeng oleh Kamila untuk masuk ke dalam rumah. Ia lalu mengikuti langkah mereka menuju ruang keluarga.
"So happy to see you, Jemima," ucap Kamila membelai rambut Jemima.
Jemima tersenyum. "Aku...aku hanya ingin memberikan ini pada Alezo," ucap Jemima sambil menunjukkan kotak makan yang ia bawa.
"Ow...so sweet...Tante jadi rindu masa-masa muda. Dulu tante juga sering membuatkan papanya Alezo makanan saat kami berpacaran," ujar Kamila.
Alezo masih tak berkutik memperhatikan interaksi Jemima dan Kamila. Ia hanya diam seolah sedang menonton sebuah film.
Jemima lalu membuka kotak makan yang berisi nasi goreng buatannya dan meminta Kamila menyicipinya.
"Apa tante mau mencoba? Aku selalu percaya diri dengan nasi goreng buatanku," ucap Jemima riang.
"Tentu," Kamila lalu menyuapkan nasi goreng ke mulutnya dan seketika berseru.
"Astaga enak sekali! Berjanjilah padaku kau akan membuatnya lagi," seru Kamila.
Jemima menganggukkan kepalanya riang. Alezo menangkap jelas binar mata Jemima yang menunjukkan rasa senangnya.
Sejurus kemudian Reno yang sudah siap untuk berangkat ke seminar muncul. Ia pun menyapa Jemima lalu meminta Kamila agar mereka segera berangkat.
"Bye lovebirds," pamit Kamila pada Alezo dan Jemima. "Ah rasanya masih ingin bercengkrama denganmu, Jemima,"
Sepeninggal orangtuanya, Alezo lalu menghampiri Jemima dan duduk di sebelahnya.
"Menyenangkan sekali pagi-pagi merasakan suasana keluarga," ucap Jemima tersenyum lebar.
"Orangtuamu begitu hangat dan terlihat sekali saling menyayangi,"
Alezo terdiam. Apa yang dikatakan Jemima benar, dan itu membuat hatinya mencelos.
"Aku ganti baju dulu," tukas Alezo sambil berdiri namun tiba-tiba Jemima menghambur ke pelukan Alezo.
"Aku merindukanmu karena kau tidak menjawab telepon dan pesanku," ujar Jemima semakin mengeratkan pelukannya.
Alezo mematung. Perlahan tangannya mulai melingkari tubuh Jemima yang begitu mungil dibandingkan tubuhnya.
"Maafkan aku...aku ketiduran," dusta Alezo menahan debur di dadanya.
Jemima lalu berjinjit dan susah payah menggapai dahi Alezo lalu mengecupnya. Alezo menatap nanar Jemima yang tersenyum manis. Ia pun tak berkutik ketika Jemima kembali memeluknya.
Alezo memejamkan mata. Batinnya berteriak. Jemima, andai kau tahu bahwa sahabat ibumu yang berkhianat merebut kekasihnya adalah ibuku, dan pria tak setia itu adalah ayahku, aku yakin kau tak akan sudi memelukku seperti ini. Bahkan mungkin kau akan meludahiku karena aku adalah anak dari pria brengsek yang membelenggu hati ibumu sampai ia mati.
Alezo tak kuasa menahan sesak dari sejak awal ia menyadari bahwa foto yang ditunjukkan Jemima adalah Reno, ayahnya. Meski remuk, Alezo sangat mengenali sosok itu karena ia pun punya foto yang sama di album keluarga. Ternyata orangtuanya lah penyebab ibu Jemima menderita, lalu menjadikan Jemima sebatang kara.
Jemima...apa yang harus aku lakukan?