
POV : Neil
Neil meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Hari ini pasiennya penuh dan ada dua operasi yang ia kerjakan. Seperti dikerjai, ternyata ia juga harus berjaga malam. Neil hanya bisa berdoa tidak ada pasien darurat sehingga ia bisa tidur di ruangannya.
Neil menghempaskan tubuh di sofa setelah merasa cukup melemaskan ototnya. Ia lalu membuka kacamata dan menggosoknya pelan. Neil baru saja dari ruangan Jemima di rawat namun ia hanya bertemu Tita karena kekasih sahabatnya itu sedang tidur. Ia lalu memastikan tanda vitalnya stabil dan mengabarinya pada Alezo yang tak henti mengiriminya pesan.
Neil menerawang menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Jemima dan Alezo. Sahabatnya itu hanya mengatakan Jemima syok dan pingsan mendengar sebuah berita buruk sehingga membuatnya bertanya-tanya. Meski penasaran, Neil urung bertanya lebih jauh karena Alezo terlihat enggan mengatakannya. Neil meyakini pasti ada sesuatu yang besar terjadi di antara hubungan mereka berdua yang baru seumur jagung.
Neil melirik arlojinya yang baru menunjukkan pukul sepuluh malam lalu meringis.
"Astaga pagi masih lama," keluhnya.
Ia lalu berjalan menuju meja kerjanya untuk menyalakan lagu di komputer. Neil dengan suka cita mengetik nama Najla di kolom pencarian. Akhir-akhir ini ia sedang menyukai lagu-lagu milik Najla dan hampir setiap hari ia memutarnya di mobil. Ia merasa bodoh kenapa selama ini tidak menyadari bahwa lagu-lagu Najla benar-benar easy listening dan video klipnya selalu mengagumkan. Pantas Maura, adiknya begitu menyukai Najla dan menangis ketika ia tidak dapat hadir di konser Magnolia tempo hari.
Neil bersenandung mengikuti lirik lagu sambil memainkan ponselnya. Ia tak menyadari bahwa Dira, perawat yang satu divisi dengannya masuk dan berdiri di hadapannya.
"Dok...Dokter...Dokter Neil," sapa Dira beberapa kali karena Neil tak kunjung merespon.
"EmDokter Neil!" Panggil Dira lagi kali ini dengan suara lebih kencang.
Neil terperanjat. Ia sontak mengangkat kepalanya dan hampir mengumpat karena terkejut melihat Dira yang tersenyum menahan tawa.
"Ehm, ada apa?" Sahut Neil berusaha tetap santai dan tenang.
"Saya membawa berkas pasien yang dokter minta," jawab Dira sambil menyerahkan berkas yang ia pegang..
Neil langsung meraih dan berpura-pura serius membaca berkas tersebut. Namun ternyata Dira masih tersenyum melihatnya.
"What's wrong?" Tanya Neil.
"Ehm...ternyata Dokter penggemar Najla Sabitha,"
Neil menelan ludah, bingung mencari jawaban yang tepat.
"Aku hanya baru-baru ini mendengarkannya," ujar Neil. Dia tidak berdusta, bukan?
"Ah begitu. Saya kira Dokter juga Najlalovey,"
Dahi Neil berkerut. "Apa itu Najlalovey?"
"Sebutan untuk penggemar Najla, Dok," jelas Dira berbinar.
Neil membulatkan bibirnya. So, am I a Najalovey?
"Dokter tahu tidak, ternyata Najla berpacaran dengan Zega! Ah mereka cocok sekali, sama-sama swag. Mereka berdua idola saya!"
Neil mengerjapkan mata melihat Dira yang tiba-tiba begitu ceria. Tidak tidak, ia fokus pada kalimat 'Najla berpacaran'.
"Suster Dira...apa kau serius membicarakan artis denganku?" Tanya Neil sambil menatap tajam Dira.
Dira terkesiap. Ia buru-buru pamit dan berlari kecil meninggalkan ruangan Neil.
Sepeninggal Dira, Neil terdiam memikirkan sesuatu. Neil lalu mengetik nama Najla di mesin pencarian internet, dan artikel terbaru yang muncul adalah tentang Najla yang tertangkap kamera sedang berada di coffe shop bersama seorang pria. Mereka berdua sama-sama mengenakan kacamata hitam, mungkin untuk menyamarkan identitas di tempat umum. Meski hanya sebuah foto low quality, Neil meyakini itu benar Najla.
Neil lalu meletakkan ponselnya. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di hatinya. Seperti sebuah rasa kecewa, dan tidak rela.
"What's wrong with me," gumam Neil.
***
Neil keluar ruangan setelah mencuci muka dan menyikat gigi. Akhirnya aku bisa pulang, soraknya dalam hati. Tak lupa ia menyapa para suster di nurse station yang sudah berganti shift.
"Pagi," sapa Neil.
"Pagi, Dokter," jawab para suster kompak seperti sebuah paduan suara.
Neil tidak sabar menuju parkiran ketika tiba-tiba ia teringan pesan Alezo yang memintanya untuk mengabarkan keadaan Jemima. Ia pun lalu berbalik untuk menuju ruang rawat inap Jemima.
Neil mengetuk pintu sebelum membukanya. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika mendapati Najla juga ada di sana.
"Hm...hai," sapa Neil kikuk pada Jemima dan Najla yang melihat ke arahnya.
Jemima ternyata sudah terlihat segar. Ia sedang duduk bersandar di ranjang dan disuapi buah oleh Najla.
"Hai," balas Najla tersenyum, sementara Jemima hanya menoleh lemah.
"Apa sudah ada dokter yang memeriksa?" Tanya Neil kemudian.
"Sudah, sekitar sepuluh menit yang lalu. Jemima sudah bisa pulang nanti siang," jawab Najla lagi.
"Syukurlah. Kau begitu aku pamit," ucap Neil lalu berbalik untuk meninggalkan kamar.
***
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Neil sibuk dengan pikirannya yang terus-terusan mengingat Najla. Ia menertawakan dirinya sendiri yang menduga ia menyukai gadis itu. Rasanya tidak mungkin. Najla sama sekali bukan tipe perempuan yang akan dijadikan kekasih olehnya. Dari dulu ia menyukai gadis yang feminin dengan rambut panjang dan tidak banyak bicara, seperti Zura. Sementara Najla lebih komunikatif dan selera fashion yang swag, ditambah rambut sebahu dengan poni. Namun kenapa ia merasa resah dengan berita Najla yang berkencan?
"Neil,"
Neil berbalik. Ia terkesiap mendapati Zura berada di belakangnya.
"Kau...bagaimana kau ada di sini?" Tanya Neil heran. Bagaimana Zura tahu tempat tinggalnya?
"Neil, kali ini aku memaksa. Aku ingin berbicara denganmu. Please," ucap Zura memohon dengan muka memelas.
Neil mengalihkan pandangannya. Tentu ia tidak dapat menolak kali ini. Otaknya masih waras dan tidak ingin menjadi pria brengsek yang mengusir seorang wanita.
"Baiklah," jawab Neil singkat.
Ia lalu masuk ke dalam lift dan memberi kode agar Zura mengikutinya. Mereka berdua pun terjebak keheningan. Neil seketika merasa lega ketika lift berhenti dan terbuka. Tak menunggu lama ia segera keluar tanpa menoleh pada Zura yang menurutinya.
"Masuklah," ucap Neil setelah membuka pintu unitnya.
Zura pun lalu masuk dan duduk di sofa setelah dipersilahkan. Neil kemudian berjalan menuju pantry untuk membawakan minuman. Ia pun kembali dengan membawa satu botol kopi dari brand terkenal dan menyuguhkannya pada Zura.
"Ada apa?" Tanya Neil setenang mungkin menutupi rasa gugupnya berhadapan dengan Zura.
"Kenapa kau dingin sekali padaku, Neil?" Tanya Zura.
Setelah mencampakkan Neil di masa lalu dan membuatnya terpuruk, bisa-bisanya Zura masih bertanya, batin Neil.
"Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa kepadamu," jawab Neil datar.
Zura menghela nafas. Gadis itu jelas sekali sedang menahan sesak di dadanya.
"Aku...aku ingin meminta maaf atas kesalahanku di masa lalu. Aku salah mengorbankan hubungan kita demi menuruti keinginan ayahku. Harusnya...harusnya aku tetap bersamamu," ucap Zura penuh penyesalan.
Neil tertegun menatap Zura. Bayangan ketika dunia terasa runtuh saat Zura meninggalkannya seketika berputar di otaknya. Neil hampir tidak sanggup melanjutkan pendidikan spesialis sangking ia merasa tidak sanggup melanjutkan hidup tanpa Zura di sisinya. Jika bukan karena Alezo yang menyadarkannya, ia mungkin tidak akan pernah menjadi dokter spesialis seperti impiannya. Lalu setelah ia berhasil menata hidup, semesta menghantarkan kembali Zura ke hadapannya.
"Sudahlah. Itu masa lalu, sudah berlalu," tukas Neil sambil melepas kacamatanya. "Aku sudah memaafkanmu,"
Zura tersenyum dengan air mata yang tergenang. "Kau memang baik, Neil. Bagaimana aku bisa begitu bodoh,"
"Tidak ada yang perlu disesali. Kau dan aku menjalankan kehidupan masing-masing dengan baik,"
Zura menggeleng. "Kehidupanku tidak baik-baik saja tanpamu, Neil,"
Neil terdiam. Bibirnya tak sanggup lagi mengeluarkan kalimat menanggapi Zura. Ia hanya bisa menyimak ketika Zura bercerita bagaimana ia mengalami kekerasan oleh pengusaha Dubai yang dijodohkan sang ayah padanya. Ternyata Salim, ayahnya memiliki hutang yang cukup besar sehingga memaksa Zura untuk berpacaran dengannya agar dapat bantuan dana. Zura sempat terbuai karena sang pria memperlakukannya bagai ratu. Namun ternyata hanya sebentar. Ia lalu menerima pukulan dan makian jika mereka bertengkar.
"Aku melaporkannya ke polisi karena dia hampir membunuhku dengan pistol hanya karena aku menghadiri pesta ulang tahun temanku," lanjut Zura dengan air mata yang berderai.
Neil terhenyak. Dalam hati ia mengutuk sang pria yang tega menyakiti Zura. Dia bukan manusia, pikir Neil.
"Dan aku terlalu malu untuk ingin kembali padamu sehingga aku tidak berani menemuimu..."
"Namun..namun kali ini aku tidak sanggup lagi, Neil. Aku ingin kembali padamu. I'm still loving you..."
Kalimat terakhir Zura seketika membuat tubuh Neil terasa membeku. Benteng pertahanan yang susah payah ia bangun kini terasa goyah dan Neil takut sebentar lagi akan runtuh. Neil tak mampu menghindar ketika Zura berpindah duduk di sebelahnya. Ia pun tak menolak ketika Zura meraih kedua tangannya.
"Neil...aku rela pergi dari ayahku demi kembali bersamamu," ujar Zura sungguh-sungguh.
Neil menoleh dan kini mata mereka beradu. Sisi hati Neil yang mengubur dalam-dalam perasaannya pada Zura terusik.
"No. Ini tidak benar, Zura," ujar Neil yang berusaha menggunakan logikanya.
Ia lalu beranjak dan berdiri meninggalkan Zura di sofa. Baru beberapa langkah tiba-tiba Zura memeluknya dari belakang.
"Neil, please. Kasi aku kesempatan. Izinkan aku menebus kesalahanku di mada lalu," ujar Zura memohon sambil mengeratkan pelukannya pada Neil.
"Lepaskan, Zura," titah Neil, namun Zura menolak.
Neil kemudian melepaskan tangan Zura lalu berhadapan dengan gadis itu. Mata Zura begitu basah dan nafasnya naik turun membuat Neil tidak tega.
"Apa...apa kau masih memiliki perasaan untukku?" Tanya Zura penuh harap..
Neil bungkam. Dulu ia mencintai Zura begitu dalam. Dan sekarang ia tidak yakin dengan perasaannya.
Neil tidak menolak ketika Zura kembali memeluknya. Tangannya melingkar erat di pinggang Neil. Ia pun tak sanggup bergerak ketika Zura mendekatkan wajahnya dan sedetik kemudian bibir mereka bertemu.
"Hey Neil kenapa kau tidak menutup pintu? Bagimana jika ada maling?!"
Tiba-tiba sebuah suara melengking mengagetkan Neil sehingga bibir mereka terlepas. Neil terkesiap ketika mendapati Najla berdiri terpaku melihatnya dengan Zura yang masih memeluknya.
"Najla..." ucap Zura yang tentu saja sangat mengenal sepupunya itu.
"Oh..maafkan aku mengganggu kalian. Aku...aku tidak sengaja masuk ke sini," ujar Najla tergagap. Gadis itu lalu berbalik dan dalam sekejap mengilang di balik pintu.
Neil refleks menarik tubuhnya. Ia mengutuk dirinya yang terbuai dengan Zura. Entah kenapa rasanya ingin berlari mengejar Najla yang pasti melihatnya berciuman. Ia ingin menjelaskan bahwa ia dan Zura tidak ada hubungan apa-apa dan itu tidak seperti yang ia lihat. Tunggu dulu, namun untuk apa?
***