Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 55



"Brengsek!!"


Mahen tak dapat menahan umpatannya setelah mengetahui kabar Najla yang celaka. Ia menggebrak meja sehingga Farel yang duduk di hadapannya terperanjat.


"Kenapa penjahat di luar sana mengincar artis-artis kita!" Serunya gusar.


Mahen lalu menyandarkan tubuh ke sandaran kursi.


"Kasus Jemima baru saja selesai lalu sekarang Najla. What the hell.  Apa setahumu Najla pernah punya masalah dengan orang lain sebelumnya?"


Farel menggeleng. Najla tidak pernah berurusan dengan orang lain. Ia hanya bergaul seperlunya. Bahkan teman-temannya hanya artis-artis Magnolia.


"Atau dia pernah berkencan dengan pria lalu berpisah?"


"Ku pastina seribu persen tidak pernah," jawab Farel yakin.


Farel tau betul Najla tidak pernah tertarik untuk berkencan. Jangan ditanya apa ada pria yang mendekatinya. Banyak, baik dari kalangan artis, pengusaha, bahkan atlet. Namun Najla tidak pernah menolak dengan menyinggung mereka. Najla memberi pengertian bahkan meminta maaf karena tidak bisa membalas perasaan mereka. She's an angel.


Farel bahkan benar-benar terkejut saat Najla berhubungan baik dengan Neil. Meski awalnya menutupi akhirnya Najla mengaku padanya mereka sedang dalam tahap pendekatan. Bahkan saat Najla celaka, Neil orang pertama yang mengabarinya karena ia turut mengantar Najla.


"Lambat laun sepertinya media akan mengetahui kabar Najla," tukas Farel kemudian.


Mahen menggeleng cepat. "Tidak. Jika media tau maka berita tentang Najla akan mengalihkan kembali kasus korupsi Menteri Wilayah Perbatasan. Lagi-lagi artis kita yang menjadi tameng. Tidak akan kubiarkan," ucap Mahen tegas.


"Bagaimana jadwal dan kontrak pekerjaan Najla?"


"Jadwalnya kosong dan semua kontrak sudah diselesaikan," jawab Farel.


"Syukurlah. Kita tidak akan menerima pekerjaan dulu untuknya meski sudah banyak yang mengantri.  Atur skenario Najla pergi berlibur agar media tidak mengetahui kabarnya," titah Mahen yang disambut anggukan kepala oleh Farel.


***


Ucapan Evan yang mengatakan Najla mengalami amnesia yang membuatnya lupa kejadian dan orang di masa lalu terus terngiang-ngiang di telinga Neil. Ia bahkan harus berhenti untuk menenangkan diri beberapa detik sebelum kembali ke ruang rawat Najla.


Neil meraih gagang pintu dan mendorongya. Ia kemudian masuk dan menghampiri Najla yang memandangnya.


"Najla...kau tidak mengingatku?" Tanya Neil getir.


Najla mengerjapkan mata beberapa kali seolah sedang berusaha mengingat sesuatu.


"Kau...kau bukan dokterku?"


Neil menggeleng lemah. "Bukan,"


"Aku berat mengatakan ini tapi kau harus tau..." ucap  Neil walau sebenarnya ia merasa belum siap untuk memberitahu Najla tentang kondisinya.


Apalagi melihat wajah Najla yang terlihat kuyu dengan sorot mata yang redup.


"Cedera kepalamu cukup berat. Meski sudah dioperasi dan akan segera pulih namun...namun kau kehilangan ingatanmu," ucap Neil lalu mengalihkan pandangannya dari Najla.


Najla terhenyak. Tentu ia terkejut mendengar ucapan Neil. Ia merasa baik-baik saja kecuali kepalanya yang terasa pusing. Ternyata ada hal krusial yang terjadi pada kepalanya.


"Tapi...tapi aku mengingat diriku. Aku Najla Sabitha. I'm a singer. Agensiku Magnolia. Umurku dua puluh tujuh tahun..." cerocos Najla.


Neil tak terkejut mendengar ucapan Najla. Evan memang sudah menjelaskan bahwa Najla masih ingat tentang dirinya. Namun ia kemungkinan tidak ingat dengan beberapa peristiwa dan orang-orang di masa lalu. Sayangnya Neil termasuk yang dilupakan oleh Najla.


"Lalu...apa kau temanku? Kau bukan bagian dari Magnolia..." tanya Najla.


"Ya. Aku Neil. Kita berteman. Kita bahkan bertetangga di apartemen," jawab Neil menahan gemuruh di dadanya.


"Apartemen? Bukankah aku menyewa sebuah rumah?"


"Kau sudah pindah sejak satu bulan lalu,"


Najla menelan ludah. Ia tampak begitu kebingungan dan hal itu membuat Neil iba. Neil lalu duduk di kursi di samping ranjang Najla.


"Sudahlah. Jangan memaksakan dirimu untuk mengingat apapun saat ini. Yang paling penting sekarang lukamu sembuh dan kesehatanmu pulih," ujar Neil berusaha menyunggingkan sebuah senyum untuk menenangkan Najla.


Najla terdiam. Ia lalu menarik nafas panjang dan bersandar pada bantal yang menopang tubuhnya. Gadis itu terlihat begitu tak berdaya dan rapuh. Sungguh saat ini Neil sangat ingin memeluk Najla dan mengatakan semua akan baik-baik saja dan ia akan segera sembuh.


"Apa aku perlu menghubungi orangtuamu?" Tanya Neil kemudian.


Meski hubungan mereka buruk tapi Neil merasa orangtua Najla harus mengetahui kondisi putri mereka saat ini. Neil berharap keluarga Najla setidaknya dapat bersimpati dengan keadaannya yang membutuhkan dukungan.


"Orangtuaku?" Ulang Najla. Neil mengangguk


"Aku tidak ingat orangtuaku..." lirih Najla yang membuat Neil tercekat.


***


Alezo meletakkan ponselnya di meja seteah menerima telepon dari Neil. Ia memijit kepalanya sambil mencoba mencerna kembali ucapan Neil yang mengatakan bahwa Najla mengalami amnesia.


Gadis itu melupakan Neil dan keluarganya. Ia hanya mengingat jati diri,  pekerjaannya, dan Magnolia . Selebihnya ia tidak ingat apapun. Alezo dapat merasakan bagaimana paniknya Neil saat ini. Bagaimana tidak. Alezo dapat melihat bahwa sahabatnya itu mencintai Najla. Jika Najla melupakan Neil, tentu ia harus kembali memulai dari awal untuk mendapatkan hati Najla.


Yang paling mengusik hati Alezo adalah ternyata Najla juga tak mengingat bahwa ia dan Jemima bersahabat. Saat Neil bertanya, Najla menjawab Jemima adalah teman satu agensinya dan merasa tidak ada kedekatan di antara mereka. Alezo yakin Jemima akan sedih jika mendengar fakta Najla melupakannya. Jemima harus tahu kondisi Najla saat ini. Namun bagaimana cara memberitahunya?


***


"Oh my God, Alezo. Bagaimana kau tau rumahku?!" Seru Tita terkejut saat membuka pintu dan mendapati Alezo berdiri di hadapannya.


"Tita aku mohon padamu. Beri tahu aku kemana Jemima," ucap Alezo dengan wajah datar.


Tita melenguh gusar. "Berapa kali kukatakan aku tidak bisa memberitahumu,"


"Aku harus bertemu dengannya, Tita. Apa kau tidak merasa cemas membiarkannya sendiri setelah kejadian yang menimpanya?" Desak Alezo.


"Ada bodyguard yang menjaga dan memantaunya di sana," jawab Tita.


Alezo terdiam. Dalam hati ia lega namun tetap saja ia tak bisa menahan untuk menunggu kabar tak pasti dari Jemima.


"Tita, listen. Ada hal penting yang harus Jemima ketahui dan ini mendesak,"


"Ada apa?" Tanya Tita. "Ah, sekalipun kau memberitahuku aku tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tak memberi nomor ponselnya padaku,"


Astaga. Lalu bagaimana cara Alezo untuk memberitahu Jemima tentang Najla? Alezo mengusap wajahnya gusar.


"Apa kau sudah mendengar Najla diserang oleh seseorang? Kepalanya dihantam dengan batu dan kini ia hilang ingatan?" Cecar Alezo.


Tita terkesiap. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Najla? Oh Tuhan. Apa separah itu? Dimana dia sekarang?"


"Apa kau masih akan menghalangiku untuk menghubungi Jemima untuk memberi tahu bahwa sahabatnya tidak dapat mengingatnya?"


Tita menggeleng pelan. Sungguh ia pun terkejut dan merasa sesak mendengar ucapan Alezo yang mengatakan Najla tidam mengingat Jemima. Mereka berdua adalah sahabat dekat. Jemim pasti akan sangat terluka.


"Then tell me where she is..." ucap Alezo kemudian setelah membiarkan Tita meresapi perasaan terkejutnya.


"I...I can't..."


"What?! Are you crazy? Artinya kau tidak mau memberitahu Jemima tentang keadaan Najla?" Seru Alezo.


"Aku sudah berjanji padanya..." lirih Tita serba salah. "Dia memintaku merahasiakan kemana ia pergi darimu apapun yang terjadi..."


Alezo menelan ludah. Jemima sengaja menjauhinya? Kenapa harus merahasiakan keberadaannya dari Alezo sedemikan ketatnya?


"Tapi ini tentang sahabatnya, Tita..."


Tita menggeleng. Dari matanya Alezo melihat ia pun sebenarnya kalut. Namun ia terikat janji pada Jemima.


"Aku tidak bisa..." cetus Tita dengan suara bergetar.


Alezo berdecih kesal. Ia menatap Tita kesal lalu berbalik dan meninggalkan rumah manager Jemima itu dengan perasaan gusar.


***


Pasir putih dan laut biru benar-benar menjadi penghibur bagi Jemima. Ia menyusuri tepian pantai dan membiarkan ombak menerpa kaki dan ujung dressnya. Suasana yang tak terlalu ramai terasa semakin sempurna bagi Jemima yang memang ingin menenangkan diri. Apalagi matahari tak terlalu garang hari ini.


Jemima menarik nafas panjang sambil memejamkan mata, memenuhi paru-parunya dengan udara hangat yang menenangkan. Ia bertekad ingin berlama-lama di sini hingga perasaannya kembali membaik seperti sedia kala. Terutama emima ingin menyembuhkan hatinya yang terluka karena hubungan menyedihkannya dengan Alezo.


Dari semua kesedihan yang ia alami, ternyata berpisah dengan Alezo adalah yang paling membuatnya rapuh. Benar kata orang. Patah hati adalah sakit yang paling menyakitkan dan menghancurkan. Ia dengan mudah melupakan kasus penculikan dan nasib tertindasnya di Magnolia sejak kehadiran Blossom. Bahkan ia mampu mengumpatnya. Namun tak semudah itu ia melupakan Alezo. Pria itu adalah cinta pertamanya, pria yang pertama kali menyentuhnya, bahkan Jemima dengan rela memberikan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Jemima tak menyesalinya karena ia pun menikmatinya.


Jemima membuka mata karena tak tahan dengan pikirannya yang justru mengingat cumbuannya dengan Alezo. Ia menggelengkan kepala karena terbayang bagaimana Alezo berada di atasnya dan ia berkali-kali meneriakkan nama pria itu di tengah-tengah desahannya. 'Oh tidak, aku sudah gila,' batin Jemima dalam hati.


Ia kembali berjalan menjauhi suasana ramai karena ada beberapa rombongan orang yang mendekat ke arahnya. Jemima kemudian mengambil gambar dengan kamera ponselnya dan melakukan selfie dengan tersenyum lebar. Setelah puas, ia memilih bersantai di kursi yang tersedia dan menikmati air kelapa. Di balik kacamata hitam yang ia kenakan, Jemima menangkap beberapa pria bertubuh besar yang sejak tadi memperhatikannya. Sudah pasti itu adalah bodyguard yang disewa Mahen untuknya.


"Just enjoy the beach, boys. Don't look at me," gumam Jemima kesal.


***