
Guuuyss please bgt yang baca jangan lupa tinggalin likes kalian yah buat penyemangat akuš„² Makasiiii
Najla keluar dari ruang periksa dokter bersama Farel. Hari ini jadwalnya memeriksa kondisi kepalanya setelah operasi. Najla dapat bernafas lega karena tak ada masalah serius yang muncul. Rasa pusing yang ia rasakan selama ini ternyata adalah sebuah sinyal jika ia kelelahan, sehingga ia memang harus membatasi aktivitasnya. Sayangnya untuk ingatannya yang hilang, dokter mengatakan tak dapat membantu banyak. Dokter hanya menyarankan agar Najla tak memaksakan diri.
"Najla...ehm...ada yang harus ku katakan," ucap Farel saat mereka sedang berada di ruang tunggu farmasi untuk menunggu obat yang diresepkan.
"Ada apa?" Tanya Najla yang menangkap gelagat gelisah Farel.
"Itu...aku...harus kembali ke kota asalku. Sudah seminggu ibuku sakit. Sepertinya aku harus pulang dan membawanya ke rumah sakit di sini," jawab Farel.
Najla melotot. "Oh my God Farel, kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Kenapa tidak sejak awal ibumu sakit? Astaga...." omel Najla.
"Aku khawatir tidak ada yang mengurusmu jika aku pergi,"
Najla terhenyak. Memang benar Farel yang mengurusinya sejak ia di rumah sakit hingga pulang dan kini ia berobat jalan. Ia tak punya siapapun yang bisa diandalkan selain Farel sang manager. Namun Najla tentu tak tenang setelah mengetahui Farel mengorbankan waktu untuk orangtuanya yang sakit demi Najla.
"Farel. Waktu untuk orangtuamu lebih penting. Aku hanya orang lain. Utamakan keluargamu. Ah, kau membuatku merasa buruk," ucap Najla cemberut.
Farel dengan cepat mengibaskan kedua tangannya. "No, no. Ini murni keinginanku. Mana mungkin aku bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Aku akan mati karena rasa bersalah jika melakukan itu,"
"Farel...you are too sweet," tukas Najla tersenyum. "Sekarang pergilah. Aku bisa mengurus obatku. Aku akan pulang dengan taksi,"
"Maafkan aku...Ibuku benar-benar memintaku pulang kali ini..."
"Stop. Jangan meminta maaf atau aku memotong bonusmu," gurau Najla yang disambut tawa oleh Farel.
"Baiklah. Aku akan pulang mengurusi ibuku. Semoga tak akan lama karena aku juga tak tenang kau sendirian. Ah, andaikan keluargamu menyayangimu..."
Najla terhenyak mendengar kalimat terakhir Farel. "Maksudmu?"
"Ya. Andai hubunganmu dan keluargamu baik kau tak akan sendirian begini. Aku selalu tak habis pikir bagaimana kedua orangtua dan kakakmu begitu tega menolakmu..."
"Wait. Apa hubunganku dengan keluarga buruk? Mereka menolakku? Bagaimana maksudnya?" Tanya Najla kebingungan.
"Najla...kau tak ingat sama sekali apa yang terjadi dengan keluargamu?"
Najla menggeleng. Ia tak ingat apapun tentang keluarganya. Dadanya seketika bergemuruh, menerka-nerka kalimat yang meluncur dari mulut Farel.
"Ow...baguslah. Menurutku memang lebih baik kau melupakannya. Aku bahkan masih sakit hati jika mengingat ceritamu," ucap Farel sambil melirik arlojinya.
"Oh Tuhan, aku akan ketinggalan kereta. Najla, I have to go. Take care of your self, oke? I'll call you. Aku akan mengingatkanmu minum obat. Bye,"
Usai berkata demikian Farel segera beranjak dan berlalu meninggalkan Najla yang masih terpaku.
Najla termenung mengingat ucapan Farel yang menyiratkan bahwa hubungannya dengan keluarganya ternyata buruk. Najla padahal masih berusaha berpikir positif saaf ayah dan kedua kakak-kakaknya bersikap dingin saat pemakaman sang ibu. Najla mengira mereka hanya canggung, walaupun ia bertanya-tanya kenapa diponselnya tak tersimpan nomor ponsel ayah dan kedua kakaknya itu. Apa itu karena memang hubungan mereka tak baik? Apa yang terjadi? 'Oh Tuhan tolong kembalikan ingatanku,' batin Najla memohon.
'Tunggu, berarti yang diceritakan Neil padanya itu benar?' Batin Najla. Seketika ia merasa bersalah karena membentak pria itu karena menuduh Neil mengarang cerita tentang keluarganya. Padahal rasanyak tak mungkin Neil memiliki niat melalukan hal yang tidak penting itu.
Najla selesai membayar obatnya lalu berjalan menuju lobby rumah sakit. Ia berencana duduk di sofa sambil menunggu taksi yang sudah ia pesan. Tiba-tiba ia melihat sebuah mobil berhenti dan sang supir turun membukakan pintu belakang. Kemudian seorang pria berjas rapi turun dan berjalan menuju pintu masuk. Pria itu diikuti oleh seorang perempuan muda yang berjalan di belakangnya. Najla menyipitkan matanya untuk memastikan ia tak salah melihat.
"Apa itu Neil?" Gumam Najla.
Ia keheranan kenapa semua staf rumah sakit kompak membungkukkan tubuh saat Neil lewat. Apa dia sangat hebat hingga begitu dihormati?
Najla seketika tersadar saat seseorang duduk di sebelahnya. Beruntung ia mengenakan masker hingga wajahnya tak akan dikenali.
Melihat Neil membuatnya teringat akan buku harian yang ia temukan di laci meja riasnya tadi malam. Najla sendiri tak percaya bahwa ia ternyata masih menulis buku harian. Namun dari tulisannya Najla yakin bahwa benar ia yang menulisnya sendiri.
Omg I think I fallin in love with Neil. Tapi rasanya terlalu cepat, memang. Astaga, aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya!
Can't believe Neil is a good kisser. He is so hot. To be honest aku malu sekali karena itu ciuman pertamaku dan aku sangat menikmatinya. Dan otot tubuhnya, astaga! Ternyata dia merawat
tubuhnya dengan baik. I love that abs.
Najla terhenyak saat membaca tulisannya tersebut tadi malam. Itu artinya ia dan Neil ada sepasang kekasih? Kenapa pria itu tidak langsung mengatakannya pada Najla? Pantas saja ada hoodie milik Neil yang tertinggal di lemarinya. Apa Neil memang sering mengunjungi unitnya?
"Tapi aku tidak ingat apapun. Bagaimana aku bisa bersikap seperti seorang kekasih padanya, keluh Najla.
Tentu saja bukan hal mudah baginya karena ia sendiri lupa akan hubungannya dengan Neil, dan pria itu pun tak mengatakannnya pada Najla. Yang jelasĀ Najla paham pastiĀ Neil terluka, apalagi sikapnya pada Neil tempo hari. Apa itu artinya hubungan mereka sudah berakhir?
Najla terperanjat saat ponselnya berbunyi. Ternyata taksinya sudah tiba. Ia pun bergegas beranjak berjalan menuju pintu keluar. Sejujurnya ia merasa berat meninggalkan rumah sakit. Hati kecilnya berteriak ingin bertemu dengan Neil meminta penjelasan akan hubungan mereka dan cerita tentang keluarganya. Sayangnya nyali Najla menciut, kalah dengan rasa malu yang menyelimutinya.
***
Neil keluar dari ruang auditorium dengan kepala yang terasa panas. Ia menjadi pembicara utama seminar bedah kardiotoraks sebagai dokter termuda yang berhasil melakukan operasi sulit setara profesor. Setelah menjadi pembicara kemudian ia harus memimpin rapat direksi. Sungguh Neil tidak berbohong saat ini kepalanya berdenyut.
"Jadwal Anda hari ini sudah selesai. Anda mau pulang sekarang?" Tanya Friska.
"Ya. Aku akan pulang sekarang. Astaga melelahkan sekali," jawab Neil sambil melepas kacamata lalu memijat matanya.
"Supir Anda sudah menunggu di depan lobby,"
"Ow...ya, baiklah. Thankyou, Friska,"
"My pleasure, Dok. Sudah tugas saya," ucap Friska.
Neil baru saja berjalan beberapa langkah ketika ia menyadari bahwa Friska mengikutinya.
"Friska...uhm. Tidak perlu mengantarku," tukas Neil.
"Ah, baiklah. Di mobil sudah saya siapkan ice latte dan beberapa kudapan. Semoga bisa mengurangi rasa lelah Anda," sahut Friska tersenyum.
Neil mengangguk. Sungguh Friska benar-benar totalitas dalam pekerjaannya. Neil sangat merasa terbantu dengan sekretarisnya itu. Ia bisa pusing sendiri jika Friska tak cekatan membantunya. Gadis itu bahkan menyiapkan kebutuhan pribadinya tanpa ia minta, dan Neil terkejut Friska tahu kegemarannya.
Neil tiba di apartemen setelah tiga puluh menit perjalanan. Ia berjalan menuju lift sambil menenteng ice lattenya yang masih tersisa setengah. Neil tak sabar untuk tiba di unitnya karena ia ingin menelepon Alezo.
"Alezo harus membantuku untuk bilang pada ayahnya kalau aku tidak butuh supir! Astaga aku lebih suka menyetir sendiri," gerutu Neil sambil berdiri di depan lift.
Pintu lift terbuka dan Neil refleks langsung melangkahkan kakinya untuk masuk. Saat ia akan menekan tombol, tiba-tiba terdengar seseorang yang berteriak.
"Tunggu...tunggu aku!"
Neil terpana ketika pemilik suara muncul di hadapannya. Ia hampir lupa bernafas ketika mendapati Najla yang hampir terpeleset karena berlari. Mata mereka bertemu, dan Neil seketika membeku.
Suasana canggung pun tak terelekkan. Baik Neil maupun Najla tak ada yang memulai untuk menyapa. Sebenarnya Neil benci keadaan seperti ini, tapi bibirnya terasa kelu untuk sekedar menyapa.
Pintu lift terbuka saat tiba di lantai unit Neil. Ia yang sudah berniat untuk menyapa dan menanyakan kabar Najla saat keluar harus gigit jari karena gadis itu secepat kilat keluar tanpa berbalik melihat Neil. Najla terang-terangan menghindari Neil, dimana hal itu sungguh menamparnya. Apa sekarang mereka benar-benar orang asing yang tak saling mengenal? Bahkan untuk berteman pun tidak bisa?
Seperti biasa. PerasaanĀ Neil menjadi tak menentu karena bertemu Najla. Ia sudah merasa baik-baik saja karena tak bertemu gadis itu beberapa hari. Namun ternyata pertemuan singkat membuatnya kembali goyah. Sekuat tenaga Neil mengontrol suasana hatinya agar tak berlarut memikirkan Najla. Sayangnya tak bisa.
"Aku harus pindah dari sini," gumam Neil.
***
Jemima tersenyum sumringah saat Alezo datang menjemput untuk pergi makan malam bersama keluarganya. Ia sengaja berdandan dan mengenakan dress terbaik yang ia miliki.
"Wow..." ucap Alezo yang begitu terpana dengan kecantikan Jemima.
Jemima tertawa kecil menanggapi Alezo yang menatapnya dengan wajah berbinar.
"Jangan menggombaliku. Ayo kita pergi," tukas Jemima lalu menarik tangan Alezo untuk keluar.
Di perjalanan Alezo menggeenggam erat tangan Jemima, seolah takut gadis itu akan pergi jika ia melepaskan tangannya.
"Hey, berhenti melihatku," tegur Jemima karena Alezo berkali-kali menoleh ke arahnya.
"I can't. You're so pretty. Astaga. Kau benar-benar cantik," sahut Alezo yang bagaikan tersihir dengan pesona Jemima.
Jemima tersenyum sambil memutar bola matanya, merasa gemas karena Alezo terus-terusan memujinya.
Mereka tiba di restoran setelah dua puluh menit perjalanan. Di sana telah menunggu Kamila dan Romel, juga Albar dan kekasihnya. Jemima tidak sabar untuk bertemu Kamila, ibu Alezo. Sejak pertemuan mereka di makam, Jemima merasa seperti melihat sosok ibunya dalam diri Kamila. Pelukannya terasa hangat dan membuat Jemima merasa terlindungi, persis seperti yang ia rasakan dulu saat memeluk ibunya.
"My dear Jemima..." sapa Kamila begitu Jemima muncul bersama Alezo.
Jemima lalu menyambut pelukan Kamila yang sudah menunggunya. Mereka berpelukan beberapa detik lalu Kamila mengecup kedua pipi Jemima saat pelukan mereka terlepas.
"Halo Om, Albar," sapa Jemima. Ia keheranan karena tak menemukan kekasih Albar di sana.
"Dimana pacarmu?" Tanya Alezo seperti membaca pikiran Jemima.
"Dia mendadak ada meeting tadi sore," jawab Albar lesu.
"Katakan padanya untuk menyusul setelah selesai," sela Kamila.
"Meetingnya di Singapura, Ma,"
"Ow..."
"Jemima...terimakasih sudah hadir di keluarga kami," tiba-tiba Romel yang sejak tadi diam bersuara.
"Ah, ya, Om. Aku yang harusnya berterimakasih karena kalian menerimaku..."
"Aku tidak bisa tidur begitu mengetahui cerita tentang ibumu. Rasanya seperti dikejar oleh sesuatu yang siap menerkamku. Aku lega...lega sekali kau berbesar hati memaafkan kami...lalu mencintai anak kami..."
Jemima dengan cepat menggelengkan kepala, seolah membantah semua kalimat Romel.
"Om, cukup. Masa lalu tidak dapat dirubah dan semua itu terjadi karena izin semesta. Aku juga minta maaf mewakili ibuku..." ujar Jemima.
Sesungguhnya Jemima sudah memperkirakan ada percakapan yang membahas ini. Untungnya ia sudah bersiap dengan jawaban bijaksana yang tak akan melukai siapapun.
"Ya. Lega sekali rasanya, Jemima. Kamila dan Dinar memang sahabat sejati. Buktinya Tuhan mengirimkan kau tepat di hadapan kami, bahkan dengan skenario kau akan menjadi anak perempuan kami..."
Jemima tersenyum mendengar ucapan Romel. Sungguh saat ini Jemima ingin memproklamasikan ke dunia bahwa ia adalah manusia yang paling bahagia saat ini.
"Ehm...apa kita bisa makan sekarang? Aku lapar," sela Albar yang sejak tadi hanya ternganga memperhatikan percakapan Jemima dengan kedua orangtuanya.
"Tunggu. Masih ada yang belum tiba," jawab Kamila.
"Siapa lagi yang akan datang?"
"There he is,"
Semuanya melihat ke arah Neil yang baru tiba dengan wajah bingung.
"Ah...Neil my bro!" Sambut Albar sambil berdiri lalu memeluk Neil.
"Our CEO," timpal Romel tersenyum.
Neil tersenyum kikuk, pertanda sebenarnya ia tak nyaman, namun tak urung ia menghampiri Romel dan Kamila untuk bersalaman.
"Jadi...apa ini makan malam merayakan hubungan Jemima dan Alezo?" Tanya Neil setelah duduk di kursinya.
"Bisa dibilang begitu," jawab Alezo asal yang membuat Jemima menyikutnya.
"Ah. Ini juga sekaligus merayakan pengangkatanmu sebagai CEO," sahut Romel sambil mengangkat gelas winenya.
Mereka semua lalu bersulang dan menyesap pelan wine mahal yang sengaja dipesan Romel.
***
Romel dan Kamila serta Albar memilih pulang setelah makan malam mereka usai. Sementara Jemima, Alezo dan Neil masih berada di restoran.
"Jadi...Najla tidak mengingat hubungan kalian sama sekali?" Tanya Jemima setelah mendengar cerita Neil
"Begitulah. Tidak ada obat untuk amnesia yang dialaminya. So...aku tidak bisa berbuat apa-apa,"
Tiba-tiba Alezo mengetuk kepala Neil dengan sendok.
"Aw...kenapa memukul kepalaku!" Seru Neil.
"Lalu kau menyerah dan tak ingin memperjuangkan kembali hubungan kalian? Come on, man," tukas Alezo.
"It's gettin worse karena dia...membenciku. Dia mengira aku mengarang cerita tentang keluarganya. Padahal..."
"Tunggu. Najla lupa tentang keluarganya?" Sela Jemima memotong ucapan Neil.
Neil mengangguk mengiyakan pertanyaan Jemima.
"I don't know but...aku justru senang kalau dia melupakan keluarga jahatnya itu. Mereka keterlaluan,"
Neil baru saja akan menanggapi kalimat Jemima saat Alezo menyelanya.
"You love her?"
"Of course. Aku hampir gila karena masih saja mengingatnya setiap hari,"
"Do something then!"
"Itu hanya akan membuatnya semakin membenciku karena ia sekarang bahkan tak sudi menyapaku saat kami bertemu di lift!"
Jemima dan Alezo seketika terdiam mendengar ucapan Neil yang terdengar frustasi. Tentu hal ini sangat sulit bagi Neil. Ia takut salah langkah namun tak berbuat apa-apa juga tak akan bisa merubah apapun.
"I have to go. Besok pagi aku ada seminar di luar kota. See you," ucap Neil berpamitan.
Alezo paham betul suasana hati Neil sedang buruk, hingga ia membiarkan sahabatnya itu pergi.
"Aku kira kita harus melakukan sesuatu untuk mereka," gumam Jemima melirik Alezo.
"Ya. Harus,"
***