Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 24



POV : Alezo


Alezo tersentak mendengar teriakan Albar dari arah dapur. Ia yang sedang melaukan treadmill seketika berhenti dan bergegas menuju dapur. Sungguh sejak ia mengizinkan Albar tinggal di rumahnya selalu saja ada kehebohan yang dilakukan adiknya itu.


"Ada apa? Kenapa kau beteriak?" Tanya Alezo dengan wajah cemas pada Albar yang memakai celemek sambil memegang ponselnya.


"Aku merinding...." jawab Albar dramatis. Ia lalu berjalan mendekati Alezo dan menunjukkan ponselnya yang tak berhenti menerima notifikasi instagram.


"Orang-orang tiba-tiba mengikuti instagramku! Ada apa ini?!" Albar melempar pelan ponselnya ke atas pantry. Ia mengusap kedua tangan dan lehernya seolah benar-benar ketakutan.


Alezo menghela nafas. Ia lalu membuka ponsel dan menunjukkannya pada Albar.


"Pasti karena ini," ucapnya memperlihatkan foto yang baru ia unggah di instagramnya tadi pagi.


Albar menyipitkan mata karena ia tidak dapat melihat dengan jelas tanpa mengenakan kacamata.


"Oh my God!" Seru Albar ketika menyadari bahwa Alezo mengunggah foto mereka berdua saat liburan di Kroasia tahun lalu.


"Kenapa kau upload yang ini?! Aku tidak pake baju, bodoh!" protes Albar setelah melihat foto dimana ia hanya mengenakan celana pendek karena akan berenang sementara Alezo berpakaian lengkap.


"Bukannya kau senang memamerkan absmu? Kau bahkan menguploadnya di instagrammu. Kenapa protes?" Tanya Alezo keheranan.


Albar menggelengkan kepala. "Maksudku. Ada poseku yang lebih baik dari ini,"


Alezo mendengus mendengar ucapan Albar.


"Lalu ada angin apa kau mengunggah foto denganku?" Tanya Albar penasaran.


Alezo kembali menunjukkan ponselnya ke depan muka Albar. "Baca captionnya, bodoh,"


Albar meraih ponsel Alezo lalu membacanya. Lagi-lagi ia berseru heboh.


"Happy brthday lil bro. Hah hari ini aku berulang tahun?!"


Sungguh Alezo ingin menjitak kepala adiknya yang entah berapa kali ia berteriak memekakkan telinga itu. Ia lalu merampas ponselnya dari tangan Albar.


"Dasar. Happy birthday. Semoga kau semakin dewasa dan kaya raya," ucap Alezo sambil mengulurkan tangan mengajak Albar bersalaman.


Albar tak menyambut tangan Alezo, ia justru melompat memeluk kakakknya itu. Alezo pun sontak menghempas badan Albar karena adiknya itu mengecup pipinya.


"Albar!!!" Sentak Alezo yang risih dengan kelakuan ajaib Albar sementara sang adik tertawa puas.


"Ah, ayo sarapan. Aku memasak ayam goreng dengan bumbu ciptaanku. Enak sekali!"


Kedua kakak beradik itu lalu sarapan bersama di meja makan, tanpa Albar tahu bahwa Alezo sudah menyiapkan sebuah mobil baru untuk hadiah ulang tahun Albar. Meski sering kesal degan keusilan dan kekonyolan Albar, Alezo sebetulnya sangat menyayangi adiknya itu. Bahkan dalam setiap pidatonya saat memenangkan award ia tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Albar selain kedua orangtuanya. Hanya saja ia tidak bisa mengeskpresikan rasa sayangnya seperti Albar yang tanpa malu terang-terangan selalu mengatakan ia menyayangi Alezo. Tidak aneh jika mereka sepasang kakak dan adik perempuan. Tapi karena mereka berdua laki-laki, Alezo merasa sedikit geli.


***


Alezo tiba di sebuah cafe mewah milik rekannya sesama aktor, Tezavio, yang selalu menjadi pilihan Alezo untuk bertemu seseorang karena privasinya terjamin. Tidak akan ada kamera Spill The Tea karena saat masuk akan melalui pemeriksaan, kecuali rekan-rekan sesama aktor yang sudah dikenal oleh security.


Alezo mengaduk minuman dengan sedotan sambil melirik arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Sudah lewat sepuluh menit tapi orang yang memiliki janji dengannya untuk bertemu tak kunjung datang. Ia baru saja akan menelepon namun tiba-tiba matanya menangkap sosok yang ia tunggu sedang berjalan ke arahnya.


"Sorry aku terlambat," ucap Tita sambil menarik kursi di depan Alezo dan duduk di atasnya.


Ya, Alezo mengajak Tita untuk bertemu tanpa sepengetahuan Jemima. Beruntung sang manager bersedia walaupun sebelumnya ia ragu.


"Tidak masalah. Aku juga belum lama," tukas Alezo.


"Aku harus menemani Jemima di pijit setelah penampilannya di Gedung Putih," jelas Tita sambil mengangkat tangannya memanggil pelayan. Ia lalu memesan ice americano dan red velvet cake.


"Gedung Putih? Ada acara apa di sana?" Tanya Alezo heran karena Jemima bernyanyi di gedung kepresidenan.


"Menyambut Sultan Brunei dan jajarannya. Sepertinya menteri, atau apalah itu aku tidka mengerti. Yang jelas aku bisa bertemu presiden!" Jawab Tita antusias.


Alezo tertawa. Dalam hati ia turut bangga pada Jemima yang tampil di depan presiden dan sultan.


"Kau harus tau betapa tegangnya Jemima. But she kill it as always,"


"She's so talented," sahut Alezo.


"Aku hampir gagal ke sini karena Jemima memintaku untuk tinggal di apartemennya. Untung dia bisa ku sogok dengan satu kilo stroberi," ujar Tita terkekeh.


"Stroberi? Dia suka stroberi?"


"She loves strawberry with all of her soul. Ia langsung menyuruhku pergi begitu pesanan stroberi untuknya datang,"


Percakapan mereka berdua terhenti ketika pelayan datang membawakan pesanan Tita.


"Well. Jadi apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Tanya Tita sambil memotong cake dan menyuapkan ke mulutnya.


Alezo menghela nafas. Sejujurnya hatinya masih berat untuk membahas hal ini karena tidak tega pada Jemima.


"Aku baru mengetahui Jemima tidak memiliki orang tua," ucap Alezo pelan yang membuat Tita meletakkan sendok dan berhenti memakan cakenya.


"Kau sudah tau rupanya," sahut Tita.


Alezo menggangguk. "Dan itu sudah sangat lama. I mean, orangtuanya meninggal saat ia masih kecil. Ada banyak yang ingin ku tanyakan tapi aku tidak tega melihat raut wajahnya yang sedih,"


Tita terdiam. Ia yang dari awal mendampingi Jemima saat di Magnolia tentu tau banyak hal tentang gadis itu termasuk keluarganya.


"Sesungguhnya hatiku pun hancur saat Jemima menceritakan kisah hidupnya," ujar Tita menerawang.


Suara Tita mulai bergetar, pertanda dadanya mulai bergemuruh.


"Pasti begitu menyakitkan baginya," timpal Alezo


"Sangat. Yang dia alami adalah mimpi buruk yang tak diinginkan siapapun di dunia ini. Kalau aku di posisinya mungkin aku sudah mengakhiri hidupku,"


Alezo menelan ludah. Tanpa Tita ceritakan ia dapat merasakan betapa putus asanya Jemima kecil menghadapi kehidupan yang berat.


"Aku selalu merasa hanya aku yang Jemima punya di dunia karena ia benar-benar tidak memiliki siapapun untuk bersandar. Aku mendedikasikan diriku tidak hanya menjadi sekedar manager, tapi juga kakak baginya." Kini air mata Tita mengalir tanpa bisa ditahan.


"Dan aku senang saat ia mengatakan kalian berkencan. Artinya orang yang berada di sisinya bertambah," lanjut Tita tersenyum


Alezo tertegun. Di balik popularitasnya yang sarat akan puja puji penggemar ternyata Jemima menyimpan cerita masa lalu menyedihkan karena ditinggal kedua orangtuanya. Alezo mungkin tak mengalaminya karena memiliki keluarga utuh dan harmonis. Namun ia dapat memahami dan merasakan bagaimana sakitnya Jemima kecil harus berjuang hidup sebatang kara tanpa kasih sayang orangtua.


"Apa yang terjadi pada orangtua Jemima? Sakit? Kecelakaan?" Cecar Alezo penasaran.


"Worse than that," jawab Tita tersenyum getir.


Alezo mengernyitkan dahi. Ia memastikan telinga mendengar dengan seksama suara Tita yang menceritakan bagimana kedua orangtua Jemima meninggal sampai ia tanpa sadar menggebrak meja setelah Tita mengakhiri ceritanya.


"Itu cerita kematian terburuk yang pernah kudengar," ucap Alezo yang seketika suasana hatinya menjadi tak karuan.


Rasanya ia ingin menemui Jemima dan memeluk gadis itu erat dan berjanji akan mengganti kepedihan yang ia alami dulu dengan kebahagiaan tanpa henti.


"Beruntung Tuhan menolongnya dengan mempertemukan Jemima dengan Magnolia. Ia menjelma menjadi berlian yang berharga. Aku benar-benar harap luka batinnya terobati sepenuhnya," ujar Tita tulus.


Alezo menarik nafas dalam setelah mendengar ucapan Tita. Dalam hati ia bersyukur akan takdir Jemima saat ini. Segala kepahitan yang ia alami berbuah manis berjuta kali lipat.


"Apa aku bisa menemuinya saat ini?" Tanya Alezo memelas seolah meminta izin pada Tita untuk bertemu Jemima.


"Ya, tentu. Dia tidak ada jadwal lagi. Tapi berpuralah kau tidak mengetahui apa-apa. Biarkan Jemima yang bercerita sendiri nantinya,"


Alezo mengganguk pertanda ia mengerti.


"Thanks, Tita,"


***


Alezo turun dari mobil setelah tiba di apartemen Jemima. Tentunya ia tidak lupa ia mengenakan topi dan masker. Ia sengaja tidak memberitahu Jemima karena ingin memberikan kejutan. Alezo segera keluar dari dari lift setelah pintunya terbuka. Saat berjalan di koridor ia berpapasan dengan seseorang yang mengenakan masker dan kacamata hitam yang berjalan kencang dan tanpa sadar menabrak Alezo


"Sorry," ucapnya lalu lanjut berjalan.


Alezo menggelengkan kepala. Ia hampir sampai unit Jemima ketika mendapati ada sebuah kardus setengah terbuka tergeletak di depan pintu. Alezo yang penasaram lalu mengintip isi kardus tersebut dan betapa terkejutnya Alezo ketika mendapati sebuket mawar hitam yang sudah layu.


"Orang yang tadi menabrakku..." gumamnya.


Alezo lalu mengambil kardus tersebut dan  berlari menuju lift untuk mengejar sosok pria yang tadi menabraknya. Setelah tiba di lobby Alezo membuang kardus tersebut lalu bergegas keluar mencari jejak si pria berkacamata hitam itu. Ia yakin pria itu lah yang meletakkan kardus berisi mawar hitam layu itu di depan unit Jemima.


"****!" Umpat Alezo karena ia tidak menemukan petunjuk apapun untuk menemukan pria itu.


Alezo kemudian kembali masuk dan tergesa menaiki lift. Ia benar-benar khawatir pada Jemima. Kekasihnya kembali menerima teror yang entah dari siapa. Ia cemas Jemima akan ketakutan dan akan mempengaruhi kesehatan mental dan tubuhnya.


Alezo menekan bel begitu tiba di depan pintu unit Jemima. Tak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka dari dalam dan Jemima muncul di hadapannya.


"Hai," sapa Alezo yang di balas senyuman manis dari Jemima.


Ia kemudian masuk setelah dipersilahkan oleh Jemima. Alezo salah tingkah karna Jemima mengenakan kaus kebesaran dan celana pendek yang hanya menutup setengah pahanya. Entah kenapa Jemima terlihat lebih cantik dengan berpenampilan seperti ini. Apalagi wajahnya polos tanpa riasan sehingga membuatnya terlihat begitu natural.


"Kenapa tidak memberitahu kau akan datang?" tanya Jemima sambil duduk di sofa lalu menyilangkan kakinya membuat Alezo semakin panas dingin.


"Kejutan," jawab Alezo sambil tersenyum kaku.


"Apa kau baik-baik saja? Maksudku, apa kau mengalami sesuatu?" Tanya Alezo memastikan keadaan Jemima setelah ia menemukan kardus..


"Hmm...aku baik-baik saja. Sejak pulang perform aku menonton serial dan makan stroberi," jawab Jemima santai.


Alezo seketika merasa lega. Berarti si pengirim kardus tidak melakukan apapun pada Jemima. Setidaknya Jemima aman untuk saat ini.


"Tunggu sebentar, aku akan mengganti baju," ujar Jemima sambil beranjak dari sofa.


Alezo refleks menahan tubuh Jemima dengan memeluknya.


"No. Jangan ganti baju. Aku suka melihatmu seperti ini," larang Alezo.


"Tapi ini pakaian teburukku, " Protes Jemima.


"No. Aku sudah sering melihatmu berdandan dengan pakaian indah. Sekarang aku ingin menikmati sisimu yang satu ini," jelas Alezo setelah melepaskan pelukannya.


Alezo membenarkan leher kaus Jemima yang bergeser dan merapikan rambut kekasihnya itu. Ia lalu menangkup pipi Jemima dengan kedua tangan dan mendekatkan wajah mereka berdua.


"Cantik. Bagaimana kau bisa secantik ini?"


Alezo menerima cubitan dari Jemima karenca ucapannya. Padahal ia benar-benar terpana dengan kecantikan gadis itu. Alezo lalu memeluk Jemima erat untuk menhentikan cubitannya. Ia mengecup rambut Jemima dan membelai lembut punggungnya. Cerita Tita tentang kepergian tragis orangtua Jemima masih terngiang di telinganya sehingga membuat Alezo semakin mengeratkankan pelukannya. Tanpa terasa air mata menggenang di sudut mata Alezo.


"Jemima, I love you and I'll always protect you,"


***