
POV : Jemima
Jemima mengompres matanya dengan kapas yang ia masukkan ke freezer. Ia berharap trik yang ia dapatkan dari internet itu berhasil mengatasi matanya yang bengkak karena menangis semalaman. Sepulang dari Magnolia ia menangis sendirian di apartemen. Perkataan Kalina benar-benar menusuk dan membuatnya overthinking. Jemima khawatir akan masa depan karir dan kehidupan pribadinya selama kepemimpinan Kalina sebagai CEO. Wanita itu jelas-jelas tidak menyukai Jemima dan tidak ragu membatalkan pekerjaan bergengsinya di luar negeri. Belum lagi ultimatum Kalina tentang skandal berkencan. Bisa jadi Kalina memutus kontrak dengan Jemima jika muncul pemberitaan tidak mengeenakkan tentang hubungannya dengan Alezo.
"Oh Tuhan..." keluh Jemima di depan cermin, entah mengeluhkam matanya yang tak kunjung kembali normal atau nasibnya yang menggantung. Kedua-duanya patut untuk dikeluhkan.
Jemima tidak akan panik jika ia tidak ada jadwal pekerjaan hari ini. Sialnya ia ada pemotretan dengan Alezo untuk sebuah brand tas. Ia tidak menghubungi Alezo sama sekali sejak pulang dari Magnolia kemarin dan tidak menjawab panggilan sang kekasih karena pikirannya begitu kalut. Alezo pasti akan mencecarnya dengan pertanyaan, apalagi jika melihat matanya yang bengkak.
Jemima yang putus asa akhirnya ke luar dari unit apartemennya setelah Tita meneleponnya untuk segera turun. Sang manager dengan drivernya sudah siap dengan mobil di depan lobby. Begitu sampai ia lansung masuk ke mobil dan menyandarkan tubuhnya. Perjalanan menuju lokasi pemotretan memakan waktu satu jam tiga puluh menit. Mustahil matanya akan segera normal saat tiba di sana.
"Pakai ini," ujar Tita menyodorkan sebuah kacamata hitam.
Jemima tak menjawab. Ia hanya meraih kacamata tersebut dan memakainya. Tita menghela nafas. Ia tentu sudah tau apa yang terjadi pada Jemima saat kemarin bertemu dengan Kalina. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa selain ikut menerima keputusan sang CEO. Sebagai manager ia tidak mempunyai power apapun untuk membela Jemima dan sejujurnya itu membuat Tita terluka. Kalina memang keterlaluan. Jemima tidak salah apa-apa tapi harus kena getahnya.
Selama perjalanan hanya suara radio yang terdengar karena tidak ada yang mau berbicara. Jemima bahkan mengabaikan ponselnya yang berdering beberapa kali. Pasti Alezo, pikirnya. Perasaan Jemima yang tak menentu membuatnya gusar jika berbicara dengan Alezo. Ultimatum Kalina tentang berkencan benar-benar menggangu pikirannya. Jemima takut ia tidak bisa melanjutkan hubungan degan kekasihnya itu sementara perasaannya sudah terlanjur dalam.
Mobil perlahan memelankan kecepatan saat hampir tiba di lokasi pemotretan. Jemima kemudian turun dari mobil di ikuti Tita. Ia tidak menyadari bahwa semua kru terpana melihat kedatangannya. Jemima yang lekat dengan image anggun dan lembut seketika berubah menjadi swag hanya karena memakai kacamata hitam, dimana ia tidak pernah sebelumnya. Apalagi Jemima mengenakan cardigan abu-abu yang dipadukan dengan kaos crop sehingga pusar dan abs perutnya terekspos.
"Dia seperti seorang putri mafia," ucap seorang kru pada rekannya.
"Ini pertama kali aku melihat Jemima mengenakan sunglasses. Damagenya luar biasa!"
"Aku merinding melihat absnya,"
Jemima terus melangkah menuju studio pemotretan. Sekuat tenaga ia mengatur perasaannya yang masih belum stabil. Orang-orang akan curiga jika ia bersikap dingin karena biasanya ia selalu ceria. Dari tadi otaknya memikirkan apa yang akan ia jawab jika ada yang bertanya kenapa matanya bengkak.
"Bilang saja kau haid hari pertama dan kau sakit perut," cetus Tita tiba-tiba seperti membaca pikiran Jemima.
Jemima menoleh dan mengangguk. "Baiklah,"
Pasangan artis dan manager itu pun lalu masuk ke dalam lift. Tita menekan tombol lift sementara Jemima berdiri melipat tangannya. Baru saja tertutup tiba-tiba pintu lift terbuka. Jemima terkesiap ketika mendapati Alezo berdiri di depannya.
"Hey. Kau juga baru tiba rupanya," ucap Tita berbasa-basi lalu menggeser posisinya agar Alezo dapat berdiri di samping Jemima.
Jemima tertunduk karena merasa bersalah pada Alezo yang ia abaikan kemarin. Dari ekor matanya ia dapat melihat Alezo menoleh ke arahnya.
"I think we need to talk later," ujar Alezo pelan.
Jemima tak menjawab. Ia menelan ludah membayangkan bagaimana memberitahu Alezo tentang pertemuannya dengan Kalina kemarin.
Pintu lift terbuka dan mereka keluar berbarengan. Jemima dan Alezo di sambut hangat oleh kru yang selalu antusias jika mereka berdua menjadi muse.
"Kalian berdua bagai Barbie dan Ken," puji Marissa, perwakilan brand tas internasional yang menjadikan Jemima dan Alezo sebagai Brand Ambassador.
"Ow. Apa aku barus mewarnai rambutku agar lebih mirip?" Canda Jemima yang mengundang derai tawa.
"Kami berencana mengundang kalian ke butik utama di New York. Semoga kami beruntung mendapatkan kesempatan dari agensi kalian," ujar Marissa lagi.
Jemima dan Alezo saling berpandangan.
"That would be great," sahut Alezo ramah.
"Ah, that's not a big deal dengan Hexagon. Tapi kalau Magnolia...." Marissa menggantung ucapannya dan melirik ke arah Jemima. "Kenapa agensimu begitu ketat dear," lanjutnya terkekeh.
Jemima turut tertawa. Sudah menjadi rahasia umum Magnolia begitu selektif menerima proyek untuk artisnya, terutama untuk Jemima. Ia memilih tidak berkomentar. Mau tidak mau Magnolia adalah agensi yang menaungi dan memfasilitasinya di dunia entertainment. Jemima tentu tidak ingin meludahi sumur yang ia minum airnya.
Jemima dan Alezo kemudian bersiap di ruang make up. Ia membuka kacamatanya dengan berdebar karena takut matanya masih bengkak. Untungnya sudah tidak terlalu bengkak meski jika dilihat dengan seksama masih agak sembab.
"Apa kau begadang? Matamu terlihat sayu," komentar sang make up artist.
"Ehm...ya. Aku menonton series di Netflix," jawab Jemima berdusta.
"Thankyou semuanya. Semoga kita bertemu lagi," pamit Jemima pada semua kru sambil melambaikan tangan.
"Bye Jemima...." balas semua kru hampir bersamaan.
Tak lama kemudian Alezo pun berpamitan menyusul Jemima yang keluar lebih dulu.
Jemima yang sedang berjalan sambil menguncir rambut tiba-tiba menoleh saat menyadari Alezo telah berada di belakangnya. Kaos crop yang kenakan otomatis terangkat hingga mencapai bawah dadanya. Ia lalu cepat-cepat menurunkan tangannya.
"Tita, Jemima akan pulang denganku," ucap Alezo pada Tita namun tatapannya tidak lepas dari Jemima.
"Oh...ya, tentu. Jemi tidak ada jadwal lagi hari ini," sahut Tita tergagap.
Jemima menelan ludah. Alezo bahkan tidak bertanya dulu padanya.
"Ayo," ajak Alezo.
Jemima lalu mengikuti langkah Alezo dengan menjaga jarak agar tidak mengundang curiga orang-orang sementara Tita dengan setia berjalan di sampingnya. Saat di lift tidak satupun ada yang bersuara sehingga suasana menjadi hening.
"Mobilku di basement," ucap Alezo tanpa menoleh.
Tita kemudian turun lebih dulu dan melambaikan tangan pada Jemima. Sepeninggal Tita, Alezo mundur satu langkah mensejajarkan posisinya dengan Jemima lalu menoleh ke arah Jemima yang salah tingkah.
"Bagaimana bisa kau tidak menghubungiku sama sekali? Kau tidak tahu aku begitu khawatir padamu," ucap Alezo tanpa menoleh namun ia menatap pantulan tubuh Jemima di pintu lift.
"Aku..." ucapan Jemima terpotong saat pintu lift terbuka. Beruntung suasana parkiran basement sedang sepi sehingga ia tidak perlu khawatir akan tertangkap kamera.
"Dimana mobilmu?" Tanya Jemima pada Alezo saat mereka sudah keluar lift.
Alezo menunjuk mobilnya yang tepat berada selurusan dengan mereka. Jemima lalu berlari menuju mobil Alezo dan memberi kode pada kekasihnya itu untuk membukakan pintu. Ia pun segera masuk setelah pintu terbuka. Tak lama kemudian Alezo pun masuk ke mobil.
"What was that?" Tanya Alezo yang keheranan melihat tindakan kocak Jemima.
Jemima menghela nafas. "Aku takut ada yang melihat," jawabnya dengan wajah memelas.
Suara Kalina masih terdengar jelas di telinganya sehingga ia begitu ketakutan jika ketahuan bersama Alezo.
Jemima baru saja akan memasan safetybelt ketika Alezo meraih tangannya.
"Kau belum menceritakan padaku apa yang terjadi di Magnolia kemarin,"
Jemima menejamkan matanya. Sungguh ia ingin segera memberitahu Alezo tapi ia terlalu takut tidak bisa mengendalikan diri. Ia pasti akan menangis dan ia tidak mau itu.
"Tunggu. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan lebih dulu," ujar Alezo.
Jemima hanya diam ketika Alezo mengatupkan cardigannya untuk menutupi perutnya yang terlihat. Ia pun pasrah saat Alezo meraih kunciran rambutnya lalu melepasnya. Apa maksudnya, pikir Jemima heran.
"Cukup kali ini kau memamerkan absmu. Aku tidak mau pria lain melihatnya," ucap Alezo yang membuat Jemima terhenyak.
"Lalu rambutmu. Please jangan mengikatnya seperti itu because you look so hot. Only show it to me, jangan pada orang lain,"
Jemima mengerjapkan mata mendengar ucapan Alezo. Apa itu artinya penampilannya hari ini begitu menggoda bagi Alezo? Jemima menundukkan kepala karena tidak tahan beradu pandang dengan Alezo yang hanya berjarak beberapa sentimeter dengannya itu.
"Aku tidak akan mengantarmu pulang," ucap Alezo tiba-tiba yang membuat Jemima terkejut.
"Lalu kita kemana?"
"Ke rumahku. Salahmu karena menggodaku," tukas Alezo lagi.
Jemima seketika melotot dan merekatkan blazernya. Apa yang akan Alezo lakukan, batin Jemima. Ia tidak mampu menghalau pikiran nakal yang terlintas di benaknya.
***