
POV : Jemima
Konser Magnolia selalu luar biasa dengan ribuan penonton dan penampilan artis yang memukau. Apalagi penampilan Jemima yang berduet dengan Najla sungguh sebuah kejutan. Siapa yang tidak terkesima melihat Jemima yang anggun dengan lagu-lagu sendu tiba-tiba muncul dengan gaya swag lalu menari bersama Najla bak dancer profesional? Sungguh sebuah kejutan bagi penggemar Jemima dan seluruh penonton. Bahkan setelah penampilan mereka usai pun penonton masih berteriak memanggil Jemima dan Najla.
"We want more!"
"Bring back Jemima Najla!"
Jemima bergegas kembali ke belakang panggung setelah menutup konser bersama para artis lainnya karena ia merasa sangat kehausan. Untungnya Tita sudah siap dengan sebotol air mineral yang langsung ditenggak habis oleh Jemima.
Seperti biasa suasana belakang panggung setelah konser Magnolia selalu ramai dengan para orangtua artis yang menyambut anak mereka. Jemima tersenyum getir melihat pemandangan indah namun juga menyakitkan baginya. Aku pun ingin merasakannya, batin Jemima.
Jemima baru akan meninggalkan belakang panggung bersama Tita ketika ia mendapati sosok Neil dari kejauhan seperti mencari seseorang. Ia baru saja akan menghampiri Neil ketika tiba-tiba Najla mendatangi pria itu. Jemima memastikan pandangannya tidak salah bahwa mereka berdua benar Najla dan Neil yang terlihat akrab. Ternyata mereka memang berteman baik, pikir Jemima. Ia lalu memutuskan untuk berjalan tanpa menyapa mereka berdua karena sudah kelelahan.
***
Sudah Jemima duga, Kalina akan memanggilnya membahas Tita yang tertangkap kamera Spill The Tea bersama Alezo. Hari masih menunjukkan pukul sembilan pagi ketika Jemima dan Tita sudah berada di ruangan Kalina dengan perasaan tidak tenang. Tita yang dari kemarin berkali-kali meminta maaf sampai-sampai tak mampu lagi mengeluarkan suara sangking begitu gelisahnya.
"Sebuah pemandangan aneh, bukan, seorang manager artis bertemu dengan artis lain yang berbeda agensi?"
Suara Kalina seketika memecah keheningan.
Jemima dan Tita saling pandang, berharap bisa saling mengirimkan kekuatan untuk menjawab Kalina.
"Tita memang berteman dengan Alezo. Dia mendampingiku selama syuting waktu itu sehingga mereka menjadi akrab," jawab Jemima setenang mungkin menahan deburan jantungnya yang tak karuan.
"Lalu otakmu tidak berpikir jika kau ketahuan bertemu dengan Alezo itu akan menambah rumor kencan Jemima dengannya?" Tanya Kalina sengit pada Tita yang seketika tertunduk.
"Aku...menyesal," ucapnya pelan.
Sungguh Jemima merasa kasihan pada Tita yang begitu ketakutan.
"Sudah ku katakan. Aku tidak ingin ada berita kencan yang muncul. Terutama kau, Jemima. Berita tentangmu selalu mengalihkan perhatian netizen sehingga mengganggu proyek lain,"
Proyek Blossom maksudmu, hah, batin Jemima. Ia mengunci mulutnya, tak berselera menanggapi ucapan Kalina.
"Aku tidak mau lagi ada berita apapun muncul di Spill The Tea. Mengerti?" Sentak Kalina sengit.
"Ya," jawab Jemima dan Tita bersamaan.
Mereka berdua lalu keluar setelah membungkuk memberi hormat pada Kalina yang masih menatap sinis pada mereka.
***
"Aku heran pada Kalina. Dia seperti ada dendam kesumat padamu," ujar Tita saat mereka sudah berada jauh dari ruangan sang CEO.
"Entahlah. Dia benar-benar menunjukkan tidak menyukaiku. Padahal aku tidak melakukan apapun," sahut Jemima yang juga tak habis pikir dengan sikap Kalina padanya.
"Dia masih kesal karena kau diberi perhatian khusus oleh Ibra. Toh sudah berakhir, kenapa dia masih begitu?" Gerutu Tita.
"Lagipula jika kau berkencan dengan Alezo tidak akan merugikan Magnolia toh tidak ada komentar jahat tentang kalian. Yang ada malah netizen benar-benar ingin kalian bersama di dunia nyata,"
Jemima terdiam. Ia tentu memikirkan sikap Kalina yang terasa keterlaluan padanya. Selama ia di Magnolia baru kali ini merasakan perlakuan tidak adil, padahal ia masih berada di puncak pemberi sumbangan terbesar bagi perusahan yang menaunginya itu. Kalina seolah ingin menahan langkahnya untuk maju dengan maksud tertentu dan membelenggunya dengan terlalu mengurusi urusan pribadinya. Come on, Jemima sudah cukup lama di Magnolia dan sudah tidak masalah jika ia berkencan selama tidak terjadi skandal.
"Blossom," ucap Jemima tiba-tiba sejurus kemudian yang membuat Tita menoleh ke arahnya.
"Kalina saat ini sangat fokus pada Blossom. I know ini pertama kalinya Magnolia memiliki girl group dan debut mereka sukses. Tetapi apa rasanya dia terlalu terobsesi untuk membesarkan Blossom?"
Tita mengangguk pertanda ia mengerti maksud ucapan Jemima.
"Ya, aku merasa Kalina ingin Blossom menjadi girl group nomor satu,"
"Tapi kenapa sampai harus mengorbankan aku?" Geram Jemima gusar. "Dan attitude mereka, astaga benar-benar memuakkan!"
Tita mengusap punggung Jemima yang menggerutu. Ia paham betul apa yang dialami Jemima namun sayangnya ia tak dapat berbuat apa-apa selain berjanji tetap berada di sisi Jemima untuk mendampinginya.
***
Jemima membuka pintu apartemennya dengan suka cita karena ia sudah tahu siapa yang ada di baliknya.
"Masuklah!" Cetus Jemima tak sabar sambil menarik tangan Alezo.
"Give me a hug," ucap Alezo sambil merentangkan tangan.
Jemima tersenyum lebar lalu menghambur ke pelukan Alezo. Ia membenamkan wajahnya di dada Alezo dan menghirup aroma kekasihnya itu. Jemima baru saja akan melepaskan pelukannya namun ternyata Alezo malah mendorong tubuhnya ke tembok.
"Hey..." tegur Jemima keheranan. Kini ia bersandar di tembok dan terkurung di antara lengan kekar Alezo.
Jemima tak berkutik ketika Alezo menangkup pipinya dan memangkas jarak di antara wajah mereka. Sedetik kemudian bibir mereka menyatu. Jemima tak melawan ketika Alezo menahan tangan kirinya dan menempelkannya di tembok tepat di samping kepalanya. Ia begitu terbuai dengan cumbuan Alezo yang terasa agak memaksa, namun Jemima tak berniat menolaknya. Akal sehat Jemima menggila ketika tiba-tiba Alezo menyudahi ciumannya. Dadanya naik turun menahan gejolak yang masih menginginkan cumbuan. Jemima meraih leher Alezo lalu melingkarkan tangannya dan mendekatkan kembali bibir mereka. Alezo tidak tinggal diam. Ia memeluk pinggang Jemima lalu perlahan membawanya ke sofa. Kini Jemima berada di pangkuan Alezo dengan bibir mereka masih saling bertaut.
"Ah..."
Jemima refleks mendesah ketika Alezo beralih mengecup lehernya. Tiba-tiba Jemima seperti tersadar lalu secepat kilat turun dari pangkuan Alezo dan menutup mukanya dengan bantal sofa.
"Astaga aku pasti sudah gila!" Pekik Jemima yang membuat Alezo kebingungan hingga menggaruk kepalanya.
"Apa kau marah? Aku minta maaf,"
Jemima mengintip dari balik bantal dan hampir tertawa melihat wajah Alezo yang begitu innocent karena merasa bersalah.
"Aku...aku hanya...malu," jawab Jemima sambil meletakkan bantal yang ia pegang.
Kini justru Alezo yang tertawa karena tingkahnya. Jemima pasrah ketika Alezo mengacak-acak rambutnya karena gemas.
"Aku menonton streaming konsermu. What an amazing performance. Kau yang terbaik," puji Alezo sambil mengacungkan dua jempolnya.
Jemima tersipu. Ia sudah sering menerima pujian tapi entah kenapa selalu terasa berbeda jika Alezo yang melakukannya.
"Andai aku bisa mengundangmu..."
"Ya, aku iri pada Neil yang mendapatkan undangan dari Najla. Bisa-bisanya dia berteman dengan Najla. Neil tidak mudah berteman dengan lawan jenis setahuku," ujar Alezo.
Jemima mengganguk. Ia pun penasaran bagaimana mereka berteman meskipun memang bertetangga. Pasti ada sesuatu yang membuat pertemanan mereka bermula.
"By the way, apa yang terjadi padamu dan Tita setelah bertemu Kalina?" Tanya Alezo penasaran.
Jemima menarik nafas. "Dia hanya memperingatkan kami, terutama aku. Dia tidak ingin aku menggangu proyek artis lain dengan berita tentangku di Spill The Tea,"
"Ah, ya. Berita tentangmu selalu menyedot perhatian," sahut Alezo.
"Yang pasti....kita tidak akan bisa leluasa untuk bertemu," ujar Jemima sambil memanyunkan bibirnya.
Alezo tersenyum simpul. "Perks of dating a diva. Aku bahkan bertukar mobil dengan Albar jika ingin ke sini. Untung anak nakal itu berbaik hati," ujarnya.
Jemima tertawa. Andai mereka berdua orang biasa dan bukan artis terkenal, tentu hubungan mereka tidak akan serumit ini. Mereka akan bebas berkencan tanpa harus memikirkan larangan agensi atau penggemar. Tidak perlu harus sembunyi-sembunyi dan was-was dengan kamera Spill The Tea yang mengintai.
Ia lalu menyandarkan tubuhnya pada Alezo. Semuanya terasa baik-baik saja ketika ia bersama Alezo. Padahal nyatanya banyak hal yang membebani pikirannya. Terutama tentang nasibnya di Magnolia.
"Anyway. Kau berjanji akan memperlihatkanku foto-foto ayah dan ibumu," ucap Alezo mengingatkan Jemima.
"Ah, ya. Albumnya ada di kamarku," jawab Jemima.
Ia lalu menarik tangan Alezo untuk menuju kamarnya. Jemima tak sabar ingin menunjukkan foto kedua orangtua dan masa kecilnya dulu meski ia selalu menangis setiap melihatnya.
Jemima dan Alezo tengkurap bersebelaham di atas kasur sambil membuka album usang itu.
"Ternyata kecantikanmu turunan dari ibumu," tukas Alezo yang terpana melihat kemiripan Jemima dengan ibunya. Benar-benar bak pinang dibelah dua.
"Ya, tapi lesung pipi ibu tidak menurun padaku,"
Jemima lalu membolak-balik album sambil bercerita hingga Alezo bertanya karena tak menemukan satupun foto ayahnya.
"Aku tidak melihat foto ayahmu,"
"Aku membuangnya," jawab Jemima dingin.
Rasanya ia tidak sanggup melihat lagi foto sang ayah yang menghajar ibunya hingga meninggal dunia.
Alezo tak menanggapi lagi, pertanda ia mengerti. Lalu pada halamam terakhir terselip sebuah foto pria, namun itu bukan ayah Jemima.
Jemima lalu mengambil foto itu dan memperlikatkan pada Alezo.
"Pria ini...pria ini yang sangat ibu cintai namun direbut oleh sahabatnya sendiri," ucap Jemima lalu membalik foto tersebut dan menunjukka tulisan ibunya masih dapat terbaca dengan jelas.
"Hatiku selalu sakit setiap membaca ini. Andai sahabatnya tidak berkhianat, ibuku pasti masih hidup dengan pria yang dicintainya, meski aku mungkin tidak akan ada," ujar Jemima menerawang. Ia lalu memberikan Alezo foto tersebut.
"Aku penasaran apa pria ini dan pengkhianat brengsek itu masih hidup atau tidak. Rasanya aku tidak rela mereka hidup bahagia sementara ibuku berakhir tragis,"
Jemima tanpa sadar mengumpat karena hatinya selalu sakit jika mengingat kisah ibunya yang membawa mati rasa cintanya pada pria yang mudah tergoda. Ia menarik nafas panjang untuk melegakan dadanya yang mulai merasa sesak. Setidaknya ia tidak akan menangis sendirian karena saat ini Alezo ada di sampingnya.
***