Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 27



POV : Alezo


"I'm sorry but...aku benar-benar tidak bisa," ucap Alezo pada seseorang di ujung telepon.


Alezo lalu meletakkan dumbbell yang sedang ia gunakan ke lantai. Ia sedang melakukan workout saat Keenan tanpa henti meneleponnya. Alezo menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar Keenan, seorang sutradara yang dulu pernah bekerjasama dengannya memohon kepada Alezo untuk menerima peran sebagai tokoh utama pria di filmnya. Ini sudah ketiga kalinya Keenan merayunya dan dua sebelumnya Alezo sudah menolak.


"Come on, Alezo. Kau satu-satunya yang terlintas di benakku saat menggarap skenario ini," ujar Keenan tak menyerah.


"Listen, Keenan. Aku bukan tidak ingin membantumu. Tapi aku tidak bisa mengambil peran itu karena you know aku tidak terbiasa berakting dengan adegan mesra sebanyak itu," balas Alezo mulai frustasi karena Keenan terus memaksa.


"You can do it, Man. Nothing wrong with that, rite? You're an actor you can do anything. Aku tidak bisa memikirkan aktor manapun selain kau,"


Alezo menghela nafas karena kehabisan kata-kata untuk menolak Keenan padahal ia sudah mengatakan alasan yang sebenarnya. Ia tak ingin beradegan ranjang yang mendominasi naskah film yang Keenan berikan kepadanya.


"It still no for me, Keenan. Mungkin kita akan bekerja sama lagi di proyek filmmu yang lain,"


"Oh, Man...You hurted me," sahut Keenan kecewa.


Alezo pun lalu memutus sambungan setelah tak terdengar lagi suara Keenan dan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menggelengkan kepala. Sebagai aktor Alezo paham betul ia harus profesional dan bisa memainkan peran apa saja. Namun ia benar-benar selektif menerima peran yang ditawarkan. Alezo hanya menerima jika ia menyukai jalan cerita pada naskah yang diberikan. Tidak dipungkiri dalam setiap drama dan filmnya selalu ada adegan mesra dengan lawan main wanitanya. Namun hanya sekedar berciuman, dan baru di film Salju Pertama Desember bersama Jemima ia berciuman dengan bertelanjang dada memamerkan otot perut dan lengannya. Itu pun karena di dalam cerita punggungnya terluka dan Jemima mengobati lukanya. Apalagi orangtuanya selalu menonton semua drama dan film Alezo. Apa jadinya jika mereka melihat Alezo beradegan ranjang?


Bukan tidak mungkin Reno akan mencoret Alezo dari kartu keluarga setelah menggebuknya terlebih dahulu. Di tambah lagi kini ia memiliki Jemima. Alezo bahkan sudah berpikir ia akan mengurangi proyek film atau drama dengan adegan mesra. Entah kenapa ia merasa tidak akan nyaman melakukannnya karena ia telah memiliki Jemima.


***


"Albar, cepatlah!" Pekik Alezo memanggil Albar yang tak kunjung keluar dari kamarnya.


Ia sudah menunggu lebih dari lima menit seperti yang adiknya itu janjikan. Mereka akan pergi ke restoran Prancis untuk makan malam merayakan anniversary pernikahan orangtua mereka yang ke tiga puluh dua tahun.


"I'm coming!" Sahut Albar yang seketika muncul dari kamarnya.


Alezo memperhatikan penampilan Albar dari atas kepala hingga ujung kaki.


"Apa yang membuatmu lama?" Tanya Alezo heran.


"Aku bingung memilih warna sweater yang akan kupakain," jawab Albar santai. "Apa navy cocok untukku?"


Alezo memutar matanya. Mereka hanya akan makan malam bersama kedua orangtua namun Albar seolah akan menghadiri pertemuan besar.


Mereka berdua lalu berjalan menuju mobil Alezo yang sudah terparkir di depan rumah. Alezo lalu melemparkan kunci mobil pada Albar untuk menyetir.


"Selalu aku yang jadi supirmu," gerutu Albar namun tak urung menerima kunci yang dilemparkan.


Di perjalanan Alezo menyalakan radio dan tepat sekali sedang menyiarkan lagu Jemima. Seketika ia menaikkan volume untuk mendengarkan suara sang kekasih.


"Dasar budak cinta," ledek Albar sambil melirik ke arah Alezo yang senyam senyum.


Alezo tak menggubris ucapan Albar yang meledeknya. Ia mendengar suara Jemima sambil memandang jendela dengan pikiran menerawang. Hari ini Jemima belum menghubunginya sama sekali. Alezo mengira Jemima sedang sibuk sehingga ia pun tak berani menghubungi sang kekash. Tentu ia tak ingin mengganggu konsentrasi Jemima yang mempersiapkan album barunya seperti yang ia ceritakan kemarin. Tapi apa sampai malam pun Jemima tidak sempat sama sekali mengabarinya?


Dua puluh menit kemudian mereka tiba di restoran Prancis yang merupakan favorit Reno dan Kamila sejak dulu untuk merayakan anniversary mereka. Saat turun dari mobil, Alezo dan Albar tampak bagaikan CEO muda dengan outfit smart casual yang mereka kenakan. Dua kakak beradik itu seolah berjalan di atas runaway dengan semua mata memandang kepada mereka. Bahkan pelayan perempuan yang mengantarkan mereka ke ruang VVIP pun sampai salah tingkah sangking terpana dengan pesona Alezo dan Albar yang tidak main-main.


"Hai, Mam, Pap," sapa Alezo begitu masuk ke ruang VVIP dan mendapati Kamila dan Reno sudah berada di sana dengan makanan yang sudah terhidang.


"Happy anniversary!" Seru Albar sambil merentangkan tangannya.


"Hai, kids," sahut Reno lalu berdiri dan memeluk kedua anak laki-laki kebanggaannya itu.


"My boys..." Kali ini Kamila yang menyambut anak-anak tampannya itu.


Mereka lalu duduk bersama dengan Alezo bersebelahan dengan Albar menghadap kedua orangtuanya yang duduk berdampingan.


"Mama senang sekali kalian bisa meluangkan waktu untuk hari ini," ucap Kamila sambil mengiris steak di hadapannya.


"Sudah seharusnya. Anniversary Mama dan Papa selalu masuk ke daftar acara penting bagiku," sahut Alezo.


"Ow...so sweet," ucap Kamila terharu.


Alezo sudah terbiasa dari kecil merayakan anniversary pernikahan kedua orangtuanya. Awalnya ia merasa biasa saja, tidak mengerti makna yang sebenarnya. Alezo hanya tahu Kamila dan Reno sekedar merayakan hari jadi, namun setelah dewasa ia mengerti akan cinta yang begitu erat antara kedua orangtuanya. Reno selalu terlihat begitu mencintai Kamila dan begitupun sebaliknya. Mereka berdua tampak selalu tergila-gila satu sama lain dan tak pernah ingin terpisah. Cinta mereka tentu dirasakan juga oleh Alezo dan Albar yang menerima curahan kasih sayang tak bertepi hingga mereka tumbuh menjadi anak yang berhati lembut dan sangat menyayangi kedua orangtuanya.


Sungguh Alezo ingin kelak menemukan pasangan yang dapat mencintainya seperti Kamila pada Reno, dan tentunya ia pun akan mencintai wanitanya persis seperti Reno kepada Kamila.


"Ini sudah tahun ke tiga puluh dua kita bersama, dan masih belum ada penambahan anggota keluarga," ujar Reno tiba-tiba yang membuat Alezo dan Albar saling berpandangan, sangat mengerti maksud ucapan sang ayah.


"Ah, sepertinya perayaan tahun depan Mama sudah tidak menjadi yang paling cantik lagi, karena Jemima akan bergabung di sini sebagai menantu," timpal Kamila tersenyum ke arah Alezo.


Alezo terhenyak. Ia menggaruk telinganya padahal tidak gatal. Hatinya tersipu mendengar ucapan Kamila. Membayangkan Jemima duduk bersama mereka di sini tentu sungguh hal yang indah dan menggemberikan bagi Alezo. Tunggu, Kamila bilang menantu? Oh Tuhan mengapa begitu menggoda kalbu.


"Alezo akan mematahkan hati seluruh pria yang memuja Jemima jika mereka menikah. Pasti kau merasa bangga, bukan?" Goda Albar dengan wajah jahil.


"Shut up," tukas Alezo.


Kamila menggelengkan kepalanya sambil tertawa. "Jika Alezo dan Jemima menikah itu seolah menjadi ending bahagia dari film mereka yang berakhir tragis. Mama menangis tersedu-sedu menonton adegan kau mati setelah ditembak membabi-buta dengan Jemima memelukmu. Sungguh menyakitkan,"


Alezo tersenyum melihat Kamila yang begidik sambil mengusap tangannya.


"Padahal kau sempat akan menolak film itu, bukan? Jika begitu kau tak akan bertemu Jemima," lagi-lagi Albar menimpali.


Benar juga, pikir Alezo. Beruntung ia tidak jadi menolaknya karena akhirnya ia mendapatkan Jemima.


"Ah itu...Tidak bisa kupastikan. Jadwal Jemima sangat padat," jawab Alezo yang hatinya tiba-tiba merasa sesak mengingat cerita orang tua Jemima.


"Kau harus menjaganya dengan baik. Jemima pasti sebenarnya begitu rapuh. Katakan padanya dia boleh menganggap Mama sebagai ibunya sendiri,"


"Tentu," jawab Alezo.


Membicarakan Jemima membuat Alezo semakin merindukan kekasihnya itu. Ia lalu memeriksa ponselnya, berharap ada notifikasi dari Jemima, yang sayangnya tak ada.


***


Kehidupan Alezo akan selalu baik-baik saja kecuali jika pagi-pagi saat bangun tidur ponselnya sudah berbunyi tidak karuan. Puluhan panggilan tak terjawab, ratusan pesan dan ribuan notifikasi sosial media tiba-tiba memenuhi ponselnya. Alezo yang baru saja bangun dan belum sepenuhnya mengumpulkan nyawa tiba-tiba terlonjak dan matanya terbelalak.


"Oh Tuhan ada apa ini?!" Serunya lalu segera membuka sosial medianya dan mendapati fotonya bersama Tita, manager Jemima beberapa hari lalu di posting oleh akun Spill The Tea. Foto mereka saling melambaikan tangan saat berpisah di parkiran tersebar luas dan kini menjadi bulan-bulanan netizen. Bukankah Spill The Tea dibayar oleh Ibra agar tidak mengunggah apapun berkaitan dengan Jenima? Tita adalah manager Jemima, harusnya ia berkaitain dengan sang artis, bukan?


"Itu sudah pasti Tita manager Jemima!"


"Alezo terlihat seperti adik Tita. LOL,"


"Aku  semakin yakin Jemima dan Alezo benar-benar berkencan,"


"Aneh sekali jika Alezo bertemu dengan manager Tita jika ia tidak ada sesuatu dengan Jemima,"


Alezo menggaruk kepalanya sambil membaca komentar netizen yang entah kenapa selalu penuh asumsi. Ia sungguh tidak menyangka ternyata netizen benar-benar meginginkan mereka berdua berpacaran. Dan sekarang satu-satunya yang dipikiran Alezo adalah bagaimana ia akan menjelaskannya pada Jemima tentang pertemuannya dengan Tita. Ia pun terperanjat ketika ponselnya berdering dan nama Jemima tertera di layar. Dia pasti sudah melihat beritanya, pikir Alezo.


"Hey, Mima. Aku harus menjelaskan sesuatu padamu," ucap Alezo tergesa karena ia begitu tidak tenang, takut Jemima akan berpikiran macam-macam.


"Aku tidak tahu kau dan Tita sedekat itu sehingga kalian bisa pergi bersama tanpaku," Sahut Jemima datar di ujung sana.


"Apa kau di apartemen? Aku ke sana sekarang untuk menjelaskannya langsung,"


Alezo secepat kilat mematikan ponselnya setelah Jemima mengiyakan pertanyaannya dan bergegas menuju kamar mandi. Beruntung jadwal syuting iklannya hari ini baru mulai siang sehingga ia memiliki cukup waktu untuk bertemu Jemima.


Satu jam kemudian Alezo sudah berdiri di depan pintu apartemen Jemima menunggu sang kekasih membukanya setelah ia menekan bel. Tak lama kemudian pintu terbuka bersamaan munculnya sosok Jemima yang mengenakan piyama.


Alezo segera masuk begitu Jemima melebarkan pintu. Ia dengan tak sabar membuka topi dan maskernya.


"Tita sebenarnya sudah meneleponku dan menjelaskannya," ujar Jemima yang membuat Alezo menelan ludah.


"Ah begitu rupanya. Tapi..tapi aku tetap ingin bertemu denganmu langsung untuk menjelaskannya.


Jemima tersenyum. Ia lalu duduk di sofa dan Alezo mengikutinya.


"Jadi kau sudah tahu tentang keluargaku," ujar Jemima.


Alezo dapat merasakan kepedihan di mata Jemima yang membuatnya tak sanggup menatapnya.


"I'm sorry. Harusnya aku menahan rasa penasaranku. Kau boleh marah padaku tapi jangan menyalahkan Tita. Aku yang memaksanya," tukas Alezo penuh penyesalan.


Jemima menggeleng. "Tidak masalah. Aku memang berencana memberitahumu suatu hari. Namun kau akhirnya tahu lebih awal,"


Alezo tercenung. Ia sungguh tidak mengerti harus mengatakan apa lagi.


"Keluargaku begitu menyedihkan, bukan? Sungguh kontras dengan keluargamu yang hangat dan harmonis. Latar belakang kita sungguh jauh berbeda," ucap Jemima sambil tertunduk.


Hati Alezo hancur mendengar ucapan Jemima. Benar, keadaan keluarga mereka berbeda. Alezo sejak lahir di dilimpahi kasih sayang orangtua yang bergelimang harta berbeda jauh dengan Jemima yang harus berjuang sendiri menghadapi dunia setelah orangtuanya pergi dengan tragis. Namun hal tentu tak mengubah pandangan dan perasaan Alezo pada Jemima. Ia justru semakin ingin bersama Jemima agar bisa menjadi tempat bersandar bagi kekasihnya itu.


Alezo menggeser posisi duduknya agar lebih dekat degan Jemima lalu membawa gadis itu ke pelukannya.


"Biarkan seperti ini," ucap Alezo.


Sejurus kemudian Alezo merasakan tubuh Jemima bergetar. Dadanya menghangat terkena air mata Jemima yang merembes. Alezo mengelus rambut Jemima mencoba menenangkan kekasihnya itu.


"Aku tidak pantas bersamamu. Sebaiknya kita tidak bersama,"


Ucapan Jemima sontak membuat Alezo terkesiap. Ia lalu melepaskan pelukannya untum menatap wajah Jemima.


"No. Kenapa kau mengatakan itu? Tidak ada hubungannya dengan apa yang kita jalani sekarang,"


"Kau terlalu sempurna untukku, Alezo. Harusnya dari awal aku sadar diri dengan cerita keluargaku,"


Alezo menggeleng cepat. "Cukup, Jemima. Kau tidak boleh merendahkan dirimu seperti itu. You are Jemima Tsamara. A diva. An idol. You're perfect. Masa lalu tentang orangtuamu tidak serta merta membuatmu rendah, Jemima,"


"Kau salah jika mengira aku akan meninggalkanmu setelah mengetahuinya,"


Jemima mengangkat wajahnya setelah mendengar ucapan Alezo.


"Aku semakin ingin terus bersamamu. Menjagamu, melindungimu dan menjadi tempat bersandar bagimu..." ucap Alezo sungguh-sungguh.


Alezo lalu meraih tangan Jemima dan mengcupnya bergantian.


"Satu-satunya yang menghalangiku untuk bersamamu hanya Magnolia," gurau Alezo.


Sungguh ia benar-benar lega setelah Jemima mulai menyunggingkan senyum.


"I'll protect this beautiful smile,"