Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 52



Najla memeluk erat Jemima sepulangnya sang sahabat dari kantor polisi. Ia menunggu di kantor Magnolia karena Jemima mengabarinya akan ke sana setelah diperiksa. Tak ayal sedari pagi Najla sudah bersiap dan berangkat ke kantor Magnolia meski barus menunggu lama.


"Hiks...hiks...hiks..." Najla terisak memeluk Jemima.


"Hey...stop. I'm fine now," ujar Jemima menenangkan Najla.


Najla lalu melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata yang tak kuasa ia bendung. Jemima yang melihatnya menangis malah tertawa karena wajah Najla terlihat menggemaskan.


"Apa kau begitu menyayangiku, anak PAUD?" goda Jemima sambil mencubit pipi Najla.


Najla memanyunkan bibir. "Ya! I love you. I love you so much. Kau sahabat terdekatku. Aku rasanya akan memilih ikut mati jika kau mati!"


Kata-kata Najla sebenarnya begitu dalam dan menyentuh. Tapi karena dia mengatakannya sambil mengusap mata, tawa Jemima kembali pecah karena Najla benar-benar terlihat seperti anak kecil walaupun air matanya pun mengalir.


"Kalau begitu mari kita menikah, sayangku," ucap Jemima usil.


"Baiklah. Aku yang menjadi mempelai wanitanya,"


"Tidak. Kau lebih cocok jadi mempelai pria dengan otot lenganmu ini," timpal Jemima sambil menepuk pelan kedua lengan Najla bergantian.


Najla dan Jemima lalu tertawa terbahak-bahak dengan kekonyolan yang mereka ciptakan.


Beberapa detik kemudian Mahen masuk ke ruangan dan menyapa dua gadis itu. Ia memang mempersilahkan Najla dan Jemima untuk menggunakan ruangannya untuk bertemu secara privat setelah kedatangan Jemima disambut seluruh staff dan artis Magnolia yang sengaja berkumpul untuk menemuinya.


"Well. Senang sekali rasanya melihatmu dalam keadaan baik seperti ini setelah otakku dihantui dengan pikiran negatif tentang keadaanmu kemarin," ucap Mahen pada Jemima.


"Aku bahkan tidak bisa tidur," timpal Najla yang kemudian duduk di sofa setelah dipersilahkan Mahen.


"Aku selamat berkat kalian. Thankyou so much..." ucap Jemima tulus.


"Jika bukan karena Najla yang curiga pada supirmu, kejahatan Kalina dan komplotannya tidak akan terbongkar. So maybe you're not here now," balas Mahen.


"Akhirnya kebiasaanku yang sukar percaya pada orang berguna juga," sahut Najla tersenyum.


Mahen tertawa. Ia lalu membetulkan letak kacamata sebelum melanjutkan ucapannya.


"Jemima...aku pikir aku harus tau apa rencanamu setelah kejadian ini. Aku tidak akan mengintervensi,"


Najla menoleh pada Jemima yang terdiam beberapa detik setelah mendengar kalimat Mahen. Ia pun penasaran.


"Aku...aku berencana hiatus," pungkas Jemima ragu-ragu.


Najla menghela nafas. Ternyata prediksinya benar. Jemima akan memilih istirahat karena tak akan mudah baginya untuk menghilangka trauma atas kejadian penculikannya. Media pasti akan terus memberitakannya, apalagi ini menyangkut kasus korupsi pejabat negara. Sudah pasti media akan gila-gilaan mengeksposnya.


Mahen mengangguk. "Silahkan. Kau butuh waktu untuk menenangkan diri. Terserah kau menentukan waktu. Popularitasmu tidak akan terganggu. Kau sudah bekerja keras untuk dirimu dan Magnolia. Take your time," balas Mahen bijak.


Najla memeluk Jemima erat. Dalam hati ia berharap Jemima tak akan hiatus dan pergi terlalu lama. Najla tidak ingin sendirian. Ia memang masih memiliki Brie dan Calla yang juga dekat dengannya. Tapi Jemima paling spesial karena mereka dekat sejak menjadi trainee si Magnolia dengan kisah hidup yang sama-sama menyedihkan.


Mahen lalu berjalan mendekati Jemima dan memeluk gadis itu erat sebagai tanda mereka akan  berpisah cukup lama.


"I'm gonna miss you," ucap Mahen.


"Me too, Mahen,"


Sementara Najla tersenyum haru melihat mereka berdua.


***


"Tidak bisa, Om. Maksudku, Prof," ucap Neil pada Romel, ayah Alezo.


Saat ini mereka sedang bertemu di sebuah coffee shop atas undangan Romel. Dari awal sebenarnya Neil ingin menolak karena  sudah mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh Romel yang notabene adalah guru dan atasannya di Global Medika.


"Panggil aku Om jika di luar," ralat Romel sambil menatap tajam Neil.


"Baik, Om," jawab Neil kikuk. Ia meraih gelas lattenya lalu menyeruputnya pelan.


Neil tersedak hebat. Ia terbatuk berkali-kali hingga matanya memerah. Sementara Romel hanya melihatnya sambil melipat kedua tangan di dada, tak berniat membantu menepuk punggung Neil atau sekedar menyodorkannya air putih.


"Om...please. It's...it's crazy. Om, cita-citaku hanya menjadi dokter. That's it. Tidak ada embel-embel menjadi CEO rumah sakit," ujar Neil memelas.


Sungguh ia tak habis pikir dengan Romel yang begitu menginginkan ia untuk menggantikan posisinya, sementara ada banyak dokter senior yang menduduki jabatan direksi. Kenapa tidak dari mereka saja? Kenapa harus Neil yang saat ini menjabat sebagai Kepala Departemen Bedah Jantung yang itu pun terpilih karena paksaan para seniornya?


Romel menghela nafas. Pria paruh baya itu lalu meraih tisu dan mengelap mulutnya.


"Sudah saatnya Global Medika dipimpin oleh anak muda, bukan kakek-kakek berumur hampir kepala enam," cetus Romel.


"Global Medika harus bergerak, berinovasi, berkontribusi dalam bidang kesehatan untuk negara, dan ini butuh semangat anak-anak muda sepertimu,"


Neil mengusap wajahnya gusar. Ia lalu memperbaiki posisi duduknya lalu berdehem.


"Well. Ehm. Aku akan berbicara sebagai sahabat anak Om kali ini. Bukan sebagai dokter Global Medika," ujar Neil yang direspon dengan anggukan kepala Romel.


"Aku tidak mau, Om! Aku tidak mau! Jangan paksa aku. Please, Om. Gajiku sudah cukup. Aku tidak perlu menambah penghasilanku lagi dengan menjadi CEO!" Ucap Neil gemas.


"Neil..."


"Ya...."


Romel lalu mengetuk kepala Neil dengan garpu yang membuatnya refleks mengaduh.


"Kenapa kau sama seperti dua anakku yang tidak mau mewarisi Global Medika?"


Neil terdiam karena wajah Romel mendadak sendu. Tiba-tiba ada perasaan simpati dalam hati Neil mengingat tak satupun anak Romel yang menjadi dokter sepertinya. Lalu karena Neil bersahabat dekat dengan Alezo dan menjadi dokter, apalagi satu spesialis dengan Romel, ia lalu menaruh harapan pada Neil. Apalagi kemampuan bedah Neil sudah terbukti mumpuni dan diakui para dokter bedah jantung senior.


"Aku...aku lebih senang berada di ruang operasi dan ruang praktek," tukas Neil kemudian.


"Kau tetap bisa melakukan operasi dan praktek. Tidak ada larangan untuk itu," sahut Romel.


"Tapi pasti akan lebih sedikit karena aku harus membagi waktu mengurusi rumah sakit. Pasienku banyak, Om,"


Romel terdiam. Ia kehabisan kata-kata sementara Neil merasa menang karena argumennya tak bisa dijawab oleh Romel.


"Pikirkanlah, Neil. Hanya kau yang kupercaya dan kuharapkan meneruskan Global Medika yang ku bangun dari nol,"


Perasaan menang yang dirasakan Neil mendadak lenyap. Ia merasa bersalah karena wajah Romel mendadak muram dan langsung beranjak dari kursinya.


"Prof...ehm maksudku Om..."


Romel tak merespon. Ia terus berjalan menuju pintu keluar coffee shop meninggalkan Neil yang kebingungan.


***


Najla meraih ponselnya di atas nakas untuk memeriksa notifikasi begitu terbangun dari tidurnya. Sayangnya ia menelan kecewa. Najla tersenyum miris. Ia harusnya sudah tau bahwa tak akan ada ucapan selamat ulang tahun dari keluarganya seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun entah kenapa Najla masih saja berharap. Sekedar pesan singkat pun tak masalah baginya. Selalu hanya Jemima yang menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Najla bahkan sudah menebak sahabatnya itu akan mengirimkannya banyak hadiah seperti tahun-tahun sebelumnya.


Najla turun dari tempat tidur lalu membuka gorden. Cahaya matahari pagi langsung menerpa wajahnya. Semilir angin pun terasa saat Najla membuka daun jendela. Ia menghirup udara pagi yang terasa menyegarkan. Tinggal di lantai yang tinggi memberinya pemandangan matahari terbit yang mengagumkan. Setidaknya matahari menyambutnya hangat di hari ulang tahunnya ini.


Najla beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi. Ia berencana untuk lari pagi sejenak untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya. Najla segera keluar setelah siap dengan pakaian olahraga. Begitu tiba di jogging track fasilitas apartemennya Najla melakukan pemanasan setelah memasang airpod di kedua telinganya. 'Tumben sepi sekali,' pikir Najla yang heran karena tak melihat banyak orang untuk berolahraga hari ini. Ia pun mulai berlari sambil bersenandung dalam hati.


Najla berencana tak akan lama, cukup tiga puluh menit dan ia akan kembali ke apartemen untuk berendam air hangat. Awal yang menyenangkan untuk mengawali hari ulang tahunnya meski tak ada ucapan selamat dari keluarga yang ia rindukan. Biasanya nanti Farel akan tiba dengan membawa hadiah dari penggemarnya yang dikirimkan ke kantor Magnolia lalu mereka akan makan malam bersama.


Najla terus berlari sambil mengatur nafas. Keringat mulai membanjiri tubuhnya. Gadis itu tak mendengar apapun selain lagu yang mengalun dari airpodnya.


"Aaargh..."


Najla tersungkur bersimbah darah setelah seseorang menghantamkan batu ke kepalanya. Pandangan Najla mulai kabur namun samar-samar ia melihat langkah kaki seseorang yang berjalan menjauh. 'Tuhan...apa aku akan mati,' batin Najla. Lalu semua berubah gelap.


***