Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 18



POV : Jemima


Jemima meletakkan ponsel ketika sambungannya terputus. Ia menelan ludah. Daisy, sekretaris Ibra yang kini bekerja untuk Kalina menghubunginya untuk segera datang ke Magnolia karena sang CEO ingin bertemu dengan Jemima.


"Kau bisa ke sini sekarang, bukan? Urgent,"


Ucapan Daisy membuat jantung Jemima berdebar tak karuan. Ada apa gerangan Kalina ingin bertemu dengannya. Ia tidak dekat dengan Kalina karena wanita itu memang menjaga jarak dengan para artis dan staff.


Jemima membuka akun instagram Spill The Tea, khawatir ada fotonya di sana dengan berita yang tidak mengenakkan atau ka kembali tertangkap kamera saat bersama Alezo. Jemima lalu mengusap dadanya karena lega tidak menemukan foto maupun berita tentang dirinya. Sejurus kemudian ia bergegas bersiap-bersiap mengganti baju dan memoles riasan tipis.


"Apa kau mau ku antar?" Tanya Alezo yang sejak tadi bergeming melihat Jemima yang panik.


"Hmm...sebaiknya aku naik taksi. Terlalu riskan jika kau mengantarku," tolak Jemima. Ia akan ke agensi yang belum mengizinkannya berkencan, lalu ia datang bersama kekasihnya. Bukankah itu namanya bunuh diri?


"Lalu kau mempertaruhkan keselamatanmu dengan naik kendaraan umum? Mima, kejadian kaca mobilmu pecah dan kado boneka hancur baru seminggu yang lalu. Kita belum tau maksud dari kejadian kemarin," cecar Alezo tak sabar.


Jemima mengerjapkan mata. Alezo benar. Ia masih belum aman berpergian sendiri. Meski beberapa hari ini tidak ada hal buruk, ia tidak bisa memprediksi yang akan terjadi hari ini.


"Aku akan mengantarmu dengan mobil Albar," cetus Alezo. Ia lalu masuk ke kamar dan berganti pakaian.


Jemima menahan nafas ketika Alezo keluar dengan mengenakan kaos dan topi hitam. Aura Alezo tidak main-main jika mengenakan outfit hitam. Ia tampak begitu berkharisma dan seperti memiliki kekuatan karena otot lengannya terekspos. Apalagi saat Alezo sedang mengenakan arloji seperti ini. Ia bak seorang model yang sedang berpose.


"Come on,"


Jemima tersentak ketika Alezo bersuara mengajaknya pergi.


"Ah...iya. Ayo," ucap Jemima tergagap. Ia merasa malu jika Alezo tau ia terpesona.


Mereka berdua lalu naik ke mobil. Setelah memanaskannya sebentar, Alezo segera menginjak gas dan memacu mobilnya memuju kantor Magnolia.


Saat diperjalanan tiba-tiba perut Jemima berbunyi. Ia memegang perutnya dan menoleh ke arah Alezo yang sontak tertawa karena ia juga mendengarnya.


"I think I'm little bit hungry..." aku Jemima.


Ini memang sudah jam makan siang dan ia belum memakan apapun karena ia terburu-buru. Alezo lalu membelokkan mobil ke restoran cepat saji yang menyediakan layanan drive thru.  Ia pun langsung memberikan Jemima sebuah burger begitu menerimanya dari pelayan drive thru.


"Ini makanlah," ucap Alezo.


Jemima menerimanya dan langsung membuka bungkusan burger. Ia lalu mengigitnya. Burger itu terasa sangat enak karena ia sedang kelaparan.


"Kira-kira apa yang akan dibicarakan Kalina padaku?" Tanya Jemima sambil mengunyah burgernya.


"Tentu saja soal pekerjaan," jawab Alezo berusaha menenangkan meski ia pun merasa janggal. Untuk apa CEO agensi memanggil artisnya begitu urgent?


Jemima menghela nafas. "Entahlah. Perasaanku tidak enak,"


Ia  kembali menggigit burgernya yang baru berkurang setengah namun ia sudah merasa kenyang.


Alezo meraih tangan Jemima dan menggenggamnya erat, seolah ingin memberikan Jemima kekuatan.


"Everything is gonna be OK. Mungkin memang ada hal mendesak yang harus segera diselesaikan,"


Jemima dapat sedikit tenang setelah mendengar ucapan Alezo. Semoga memang hanya sekedar tentang pekerjaan. Otaknya sibuk memikirkan  pekerjaan yang sudah ia kerjakan, mengira-ngira apakah ada sesuatu yang salah.


Dua puluh menit kemudian mereka tiba di Magnolia Entertainment. Jemima segera turun dengan tergesa bahkan tanpa berpamitan pada Alezo, padahal kekasihnya itu ingin memeluknya sebentar. Tiba-tiba Jemima berbalik dan berjalan ke arah mobil Alezo saat kekasihnya itu baru saja akan menginjak gas.


"Aku hanya ingin melihat wajahmu lagi untuk menenangkan diri," ujar Jemima ketika Alezo membuka jendela.


Alezo tersenyum. Sungguh senyuman Alezo mampu membuat Jemima tenang.


"Pergilah. Tidak akan ada hal buruk," cetus Alezo lagi.


Jemima lalu berjalan meninggalkan Alezo menuju pintu masuk Magnolia. Ia berpapasan dengan para member Blossom di lobby. Jemima baru akan menyapa ketika mereka justru berpura-pura tidak melihatnya. Jemima bertanya-tanya mengapa Blossom yang notabenenya adalah junior namun bersikap seperti itu. Bukan Jemima gila hormat, namun sudah menjadi budaya di Magnolia-agensi manapun-bahwa para junior harus menghormati senior mereka. Setidaknya dengan menyapa lebih dulu. Blossom memang baru debut namun popularitas mereka melesat karena visual para member yang sangat cantik dan lagu mereka diterima dengan sangat baik. Sama-sama di produseri Arfan, harusnya ia dan Blossom dapat berhubungan baik. Namun kesan pertama yang ia terima justru berbanding terbalik.


Jemima tiba di depan pintu ruangan CEO yang kini ditempati Kalina. Ia seperti mengulang memori saat ia masuk ke ruangan ini untuk bertemu Ibra. Jemima mengetuk pintu dan tidak lama kemudian terdengar suara Kalina yang menyuruhnya masuk. Jemima terperangah melihat interior ruangan yang berubah total. Benar-benar jauh berbeda seolah tidak ada lagi jejak peninggalan Ibra. Kalina mengubahnya menjadi lebih feminin dengan dominasi warna putih dan peach.


"Duduklah," titah Kalina yang menghentikan mata Jemima yang memperhatikan ruangan.


Jemima langsung duduk di hadapan Kalina yang tidak menunjukkan ekspresi bersahabat sama sekali. Tentu saja Jemima merasa terintimidasi dan semakin menduga-duga apa yang akan Kalina katakan padanya.


Pertanyaan Kalina sontak membuat Jemima terperanhah. Bagaimana tidak. Hampir semua orang mengatakan tubunnya terlihat lebih kurus dan faktanya ia memang kehilangan berat badan sebanyak dua kilogram.


"Oh..tidak. Berat badanku stabil," jawab Jemima gugup.


"Tapi pipimu terlihat berisi. Dietlah," cetus Kalina yang membuat Jemima refleks memegang kedua pipinya. Apa ini karena  burger dan soda yang ku konsumsi tadi, pikirnya


Jemima tak menjawab. Sungguh sebuah pembuka yang tidak menyenangkan, dan Jemima dapat mengira apa yang akan terjadi selanjutnya pasti tidak akan beda jauh.


"Aku selalu penasaran hubunganmu dengan Ibra," ujar Kalina sambil menyandarkan tubuh di kursi dan melipat tangannya.


Jemima mengernyitkan dahi. Ia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan tentang Ibra.


"Maksudmu?"


Kalina menghela nafas. "Apa kau berpura-pura bodoh?"


Jemima tersentak. Sungguh ia tidak menyangka Kalina mengucapkan kata-kata kasar. Apalagi untuk pertanyaan ia sendiri tidak mengerti.


"Dari sejak awal kau menjadi trainee aku perhatikan Ibra memperlakukanmu berbeda. Kau selalu mendapat perhatian lebih. Ibra bahkan mengatur segalanya untukmu sehingga karirmu melesat," jelas Kalina dengan tatapan menusuk.


"Berbeda? Aku merasakan sendiri tidak ada perlakuan spesial padaku. Aku menjalani masa-masa trainee sama seperti lainnnya," tukas Jemima yang sekuat tenaga menahan getar suaranya.


Kalina mendengus. "Memang. Tapi itu hanya kamuflase. Di balik itu Ibra selalu membahasmu dan memberi instruksi agar kami memperlakukanmu sebaik mungkin,"


Jemima terhenyak. Apa benar Ibra seperti itu? Ia sendiri tidak merasakannya. Justru yang ia rasakan adalah ia tersiksa karena selalu mendapat latihan lebih lama baik vokal maupun fisik. Jemima pernah hampir menyerah karena ia harus work out dua jam sehari. Tapi memang kemampuan vokalnya lebih unggul serta tubuhnya terbentuk sempurna. Bahkan ia memiliki abs di perut dan lengannya sehingga sangat menunjang visualnya. Apa 'penyiksaan' itu yang dimaksud oleh Kalina sebagai perhatian lebih Ibra?


"Dan yang paling keterlaluan. Aku menemukan bukti Ibra membayar dua ratus juta kepada Spill The Tea untuk menghentikan berita skandalmu,"


Jemima terperangah. Ia benar-benar terkejut mengetahui fakta yang diungkapkan Kalina. Spill The Tea memang tidak lagi menunggah berita apapun tentang dirinya padahal beberapa hari ini ia cukup sering bertemu Alezo. Biasanya akun tersebut selalu berhasil menangkap foto meski sang artis menutupi identiasnya dengan masker, topi atau apapun itu. Lalu apakah selama ini ia aman karena Ibra membayar Spill The Tea?


"Lalu memperkerjakan Gery untukmu. Apa kau tau betapa mahalnya membayar bodyguard terlatih dan memiliki izin membawa senjata seperti Gery?" Kalina semakin meninggikan suaranya.


Jemima tak berkutik. Ia merasakan nafasnya menjadi cepat seiring detak jantung yang semakin tak karuan.


"Kau sepertinya tidak sadar jika perlakuan istimewa itu merugikan artis lain. Kecuali kau memang bermimpi untuk bersinar sendiri,"


"Tidak," potong Jemima cepat. Ia sama sekali tidak pernah menyimpat pikiran seperti yang dituduhkan Kalina.


Kalina tersenyum sinis. "Say good bye to everything you got from him. Semuanya tidak berlaku padaku,"


Jemima merapatkan gigi menahan gejolak di dada. Kalina benar-benar menabuh genderang perang dengannya. Jemima padahal tidak mengetahui apapun tentang apa yang dilakukan Ibra namun ia disalahkan atas segalanya.


"Ah ya. Satu lagi. Aku membatalkan semua undangan dari luar negeri untukmu,"


"What? Kau tau mereka mengundangku sejak lama dan Magnolia sudah mengkonfirmasi kehadiranku. Bagaimana mungkin kau membatalkan semuanya?" Cecar Jemima panik.


Ia memang di undang untuk menghadiri launching produk kosmetik sebuah brand internasional di Paris dan bertemu dengan produser rekaman di New York untuk membahas proyek duetnya dengan Andrew McKenzie, seorang solois pria pendatang baru namun karyanya mendunia. Jemima juga dijadwalkan untuk beryanyi dan membacakan award di sebuah acara penghargaan di Korea Selatan. Lalu semuanya dibatalkan begitu saja oleh Kalina?


"Ku dengar kau mengalami teror," tukas Kalina kemudian. Ternyata ia juga mengetahui kejadian yang menimpa Jemima. "Berarti kau sedang tidak aman"


"Tetapi bukan berarti kau membatalkan pekerjaanku di luar negeri!" Jemima refleks berdiri karena ia tidak terima dengan keputusan Kalina.


"Watch your attitude," ujar Kalina dingin dengan tatapan penuh peringatan.


Jemima menantang mata Kalina. Di undang ke acara bergengsi di luar negeri adalah pencapaian penting dalam karirnya. Jika ia membatalkan tentu akan berdampak dalam jangka panjang karena sebelumnya ia sudah dikonfirmasi hadir. Bisa-bisa Jemima tak lagi di undang.


"Satu lagi. Apa kau berkencan dengan Alezo?"


Jemima merasakan tubuhnya bergetar mendengar pertanyaan Kalina.


"Karena ku dengar Ibra mulai memberimu lampu hijau untuk berkencan sebelum kepergiannya,"


Apalagi ini, pikir Jemima gusar.


"Ku ulangi. Apa yang kau dapat dari Ibra tak akan kau dapatkan dariku. Kau tahu aku membenci skandal. Kau pasti mengerti,"


Suara Kalina terdengar bagai sebuah ancaman. Jemima tak tahan lagi. Ia berbalik dan ke luar ruangan menahan air matanya yang sudah mendesak ingin keluar. Dalam hati ia mengumpat Kalina yang seenaknya membatalkan pekerjaannya dan mengultimatumnya tentang berkencan. Ia tak menyangka sang CEO tidak ragu memperlakukannya demikian. Jemima tidak pernah merasa paling istimewa di Magnolia meski karirnya jauh mengungguli rekan-rekannya dan tentu menjadikan ia sebagai penyumbang terbesar Magnolia secara finansial. Harusnya hal terakhir bisa ia jadikan senjata, namun ia kehilangan selera menghadapi Kalina. Bagaimanapun ia masih tau diri untuk menjaga sikapnya.