
POV : Neil
Neil meregangkan tubuhnya ketika pasien terakhir keluar ruangan. Rasanya tubuhnya benar-benar remuk setelah jaga malam lalu lanjut praktek. Satu-satunya yang terpikirkan di benak Neil adalah pulang ke rumah dan berhibernasi.
"Apa Dokter lapar? Mau saya bawakan roti?" Tawar Mita, perawat yang bertugas bersamanya.
Neil menggelengkan kepala cepat. "Tidak. Aku ingin makan nasi dengan lauk dan sayuran. Lengkap!" tukasnya.
"Oh...baik, Dok. Perlu saya pesankan dari kantin?"
"No. Aku tidak berselera makan makanan kantin," tolak Neil lagi.
Ia lalu membereskan tasnya dan beranjak keluar ruangan diikuti Mita yang menenteng berkas pasien. Neil melambaikan tangan pada perawat di nurse station sebagai tanda berpamitan, tanpa mengetahui bahwa ia sedang menjadi perbincangan.
"Kira kira dokter Neil punya pacar atau tidak?" Tanya Vivi, perawat junior.
"Pasti sudah. Mustahil pria tampan dengan titel dokter tidak memiliki kekasih," timpal Resti yang sedang sibuk di depan komputer.
"Sekalipun belum kita tidak akan masuk daftar seleranya," cetus Mita yang baru bergabung.
Sontak Vivi dan Mita menoleh sinis pada senior mereka itu.
"Kau datang-datang langsung menghancurkan mimpi kami," ujar Vivi mendengus.
Mita tertawa. "Aku hanya ingin realistis,"
"Tapi dokter Neil benar-benar ramah dan sopan pada wanita sampai-sampai banyak yang salah menyangka," timpal Vivi.
"Benar. Kau tau Ana perawat pediatri? Ia sudah percaya diri dokter Neil menyukainya hanya karena di antar pulang padahal katanya Ana sudah menolak karena tidak enak tapi dokter Neil memaksa," sahut Resti memelankan suaranya.
"Padahal itu karena dokter Neil kasihan padanya karena ia membawa banyak barang dan kebetulan dokter Neil memang ada keperluan ke arah rumah Ana," lanjutnya tertawa kecil diikuti Vivi yang juga merasa geli hati.
Mita tiba-tiba berdehem menghentikan tawa kedua rekannya.
"Apa kalian selalu bergosip seperti ini?" Tanyanya dingin.
Vivi dan Resti terdiam dan saling berpandangan. Mereka lalu kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sementara Mita menggelengkan kepalanya heran.
***
"Uhuk...uhuk..." Neil tiba-tiba tersedak saat menenggak air minum di mobilnya. Ia terbatuk beberapa kali hingga matanya memerah.
"Pasti ada yang sedang membicarakanku," gumamnya.
Ia lalu menyalakan mesin mobil dan menginjak gas meninggalkan Global Medika yang sudah menjadi rumah kedua baginya. Bahkan ia lebih sering berada di rumah sakit daripada di apartemennya. Lagipula ia tinggal sendiri. Rasanya akan kesepian jika berdiam diri di rumah. Neil sebenernya memiliki seorang adik yang berprofesi sebagai polisi wanita. Namun Maura sang adik memilih untuk tinggal di asrama polisi dibandingkan dengan kakaknya.
"Tidak mau. Kau pasti akan menyuruhku bersih-bersih dan banyak melarangku,"
Itu alasan Maura saat berkali-kali Neil memintanya untuk tinggal di apartemen yang baru ia beli. Maura tak tergoda dengan fasilitas mewah di apartemen Neil.
"Kalau begitu datang dan menginaplah saat kau libur atau apalah itu istilahnya di kepolisian," ucap Neil gemas.
"Baiklah. Kau juga bisa mengunjungiku di asrama. Jangan mendadak. Kau harus mengabari dulu," sahut Maura saat itu.
Nyatanya tidak satupun dari mereka saling mengunjungi karena kesibukan masing-masing yang tak terelakkan. Neil yang sibuk praktek dan operasi, sementara Maura sibuk dengan tugasnya di satuan narkoba.
Neil segera memarkirkan mobilnya begitu tiba di apartemen. Ia bergegas menuju unitnya karena ia tidak sabar untuk segera beristirahat dan memesan makanan. Pintu lift berhenti dan terbuka di lantai unit Neil. Ia langsung melangkah keluar tak sabar. Tak lama kemudian ia berpapasan dengan seorang wanita yang mengenakan topi dan masker. Mereka hampir bertabrakan.
"Maaf," ucap Neil. Namun wanita tersebut tidak menjawab dan terus berjalan.
'Bug!'
Tiba-tiba terdengar seperti sesatu terjatuh. Neil berbalik dan terkejut melihat wanita tadi jatuh dan pingsan. Ia segera menghampiri untuk memberikan pertolongan.
"Oh Tuhan bagaimana ini," ucap Neil panik. Ia tidak mengenal dan tidak tahu nomor unit wanita ini
Apa boleh buat, Neil lalu menggendong wanita tersebut dan membawanya ke unitnya. Neil meletakkan tubuh wanita itu di sofabed dan membuka topi serta maskernya agar dapat bernafas dengan baik. Sejurus kemudian Neil memeriksa wanita yang terlihat sangat pucat itu dengan stetoskop dan tensimeter. Pantas saja dia pingsan, tensinya sangat rendah, pikir Neil. Ia mengatur posisi bantal sang wanita yang mendadak jadi pasiennya itu. Setelah memastikan si wanita dalam posisi nyaman, Neil bergegas mandi agar saat sang wanita sadar ia ada di sana untuk menjelaskan kondisinya.
Neil menghela nafas saat ia selesai mandi dan berpakaian si wanita belum sadar. Sejujurnya ia memikirkan bagaimama reaksi si wanita saat sadar. Pasti ia akan bertanya-tanya. Neil membuka pintu saat belnya berbunyi. Ia bersorak karena makanan yang ia pesan saat sebelum mandi datang dengan cepat.
Neil baru saja selesai membuka bungkusan makanan dan menatanya di meja ketika si wanita tersadar. Neil hampir menjatuhkan sendok yang ia pegang karena terkejut melihat si wanita tiba-tiba duduk.
"Dimana ini...apa yang terjadi" Gumam si wanita lemah.
"Hey,kau sudah sadar rupanya," ucap Neil sambil menghampiri si wanita yang menatapnya dengan tatapan bingung.
"Kau siapa? Kenapa aku ada di sini? Tanya si wanita sambil terus memperhatikan sekeliling interior apartemen yang tidak ia kenali.
"Calm down..." ucap Neil menenangkan si wanita. "Kita berpapasan saat di lorong dan kau pingsan. Aku tidak punya pilihan selain membawamu ke unitku. I don't know your name, apalagi nomor kamarmu,"
Wanita itu hanya diam mendengar penjelasan Neil. Ia memejamkan mata dan mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan.
"Bagaimana caramu membawaku kesini?"
Neil mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan aneh wanita itu.
"Aku...mengangkat...maksudku ya menggendongmu," jawab Neil.
Wanita itu mendesis. "Berarti kau menyentuh tubuhku?!" Ia lalu memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangan.
Neil tersentak. Jadi ini yang ia dapatkan karena membantu si wanita yang pingsan, bukannya ucapan terimakasih.
"Aku tidak tega jika harus menyeretmu," ketus Neil.
"Aku dokter," sahut Neil cepat.
Wanita itu lalu menoleh kearahnya dengan tatapan menyesal. "Oh...sorry..."-
Neil memutar bola matanya. Ia lalu beranjak mendekati wanita itu.
"Tensimu rendah sekali. Apa kau sering mengalaminya?"
Wanita itu mengangguk. "Aku mengidap anemia. Harusnya aku minum obat tapi aku lupa,"
"Jangan sampai lupa apalagi jika kau memiliki banyak kegiatan," ucap Neil serius.
Wanita itu mengangguk. Ia kemudian ingin beranjak namun Neil refleks menahan tubuhnya.
"Kau belum stabil. Tunggulah beberapa saat," ucap Neil kikuk dan segera menarik kedua tangannya dari bahu wanita itu.
"Tapi aku harus ke rumah sahabatku. She needs me," tukas wanita itu lagi bersikeras ingin pergi.
"Sahabatmu akan mengerti dengan keadaanmu. Cobalah berkaca. Kau masih sangat pucat," cegah Neil. Ia tidak akan membiarkan pasiennya melakukan sesuatu yang akan memperburuk keadaannya sendiri.
Wanita itu terdiam seolah menuruti perkataan Neil. Neil lalu memberikan sekotak sushi yang tadi ia beli pada wanita itu.
"Feelingku mengatakan kau pasti belum makan. Ini makanlah," ujar Neil.
Wanita itu meraih kotak sushi yang diberikan Neil padanya dan memakannya pelan. Tidak lupa Neil menuangkan air mineral ke gelas untuk wanita itu.
"Terimakasih,"
Neil mengangguk. Ia pun mulai menyuapkan sushi ke mulutnya. Laparnya sudah tidak tertahankan sejak ia pulang dari rumah sakit tadi.
Neil berhenti mengunyah saat bel kembali berbunyi. Ia berpikir sejenak mengira-ngira siapa yang datang. Sementara wanita itu pun meletakkan makananya di meja dan melihat ke arah pintu.
"Surprise!!!!!!"
Pekik Maura begitu Neil membuka pintu. Ternyata Maura diam-diam datang ke apartemen Neil tanpa memberitahu.
"Hey...Maura...kau mengejutkanku," ucap Neil terbata karena Maura memeluk tubuhnya dam meloncat-loncat.
Neil lalu membawa Maura masuk beserta tas bawaannya. Maura tiba-tiba berhenti dan menutup mulutnya karena melihat sang wanita yang sedang menjadi pasien kakaknya itu.
"Astaga....."
"Jangan berlebihan. Dia pasienku. Dia juga tinggal di apartemen ini," ucap Neil panik yang sudah mengerti isi pikiran Maura. Adiknya pasti mengira ia membawa pacar ke apartemen.
"Bagaimana Najla Sabitha menjadi pasienmu?"
Neil mengernyitkan dahi. Wanita itu adalah Najla Sabitha? Penyanyi hip-hop nomor satu?
"Hai, Najla. Kenalkan aku Maura, adik Neil. Hehe..." ucap Maura malu-malu.
Najla tersenyum. "Hai," sapanya balik.
Sementara Neil hanya mematung. Bagaimana ia tidak sadar kalau wanita itu adalah Najla Sabitha, salah satu artis yang lagu-lagunya mengisi playlist Neil.
"Maafkan kebodohan kakakku yang tidak mengenalimu," tukas Maura melirik ke arah Neil.
"Ah tidak. Kakakmu menyelamatkanku. I owe him," balas Jemima yang membuat Neil terpaku.
Beberapa saat lalu Najla bahkan mencurigainya. Namun sekarang gadis itu mengatakan ia berhutang pada Neil.
"Sepertinya aku sudah merasa lebih baik. Aku harus kembali ke unitku," ujar Najla sambil beranjak dari sofa.
"Ah, ya. Kau harus istirahat. Tunda dulu untuk bertemu dengan temanmu dan minum obat anemiamu," sahut Neil. Sebagai dokter tentunya ia harus mengedukasi pasiennya.
"Ya. Baik, Dokter," ujar Najla kemudian berdiri. Tak lama kemudian ia pun menghilang di balik pintu.
Sepeninggal Najla, Maura melompat duduk di sebelah Neil.
"Bagaimana kau begitu bodoh tidak mengenali Najla?!"
Neil mendelik. Ia memang tidak sempat memperhatikan wajah Najla karena ia hanya fokus memberikan pertolongan pertama. Baru saat tadi ia menahan gadis itu duduk, Neil terpikir seperti familiar dengan wajah Najla.
"Dan aku ikutan bodoh karena tidak mengajaknya foto bersama! Apa kau tau nomor unitnya?" seru Maura lagi. Ia mengacak-acak rambut bobnya.
Neil menoyor kepala Maura gemas. "Bodoh. Dia sedang sakit dan kau ingin berfoto dengannya,"
Maura merengut menahan rasa kecewa. Dia adalah penggemar Najla dan bertemu sang idola tanpa sengaja adalah momen langka sehingga harusnya ia mengabadikannya.
"Anyway. Kenapa kau datang tanpa memberitahuku?" tanya Neil kemudian.
"Aku sengaja ingin memberimu kejutan. Apa kau tidak senang aku datang?"
Neil menggeleng. "Bukan begitu. Aku belum mempersiapkan apapun. Kulkasku kosong," jelas Neil.
"Sudah kuduga," ucap Maura sambil mencebikkan bibirnya. Ia lalu meraih tas besar yang ia bawa.
"Dasar bujangan," cetus Maura sambil menenteng tasnya menuju kulkas. Ia lalu mengeluarkan berbagai macam makanan dan minuman lalu menatanya di kulkas.
Neil tertawa kecil melihat adiknya itu. Maura ternyata sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang perhatian padanya. Padahal rasanya baru kemarin ia mengantarkan Maura ke sekolah dan menyuapinya makan. Namun kini adiknya bahkan berhasil menjadi seorang polisi wanita yang berwibawa.
"Bu, aku berhasil membesarkan dan menjaga Maura," gumam Neil dalam hati.