Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 61



Mantan CEO Magnolia, Kalina Roseline dituntut dua puluh tahun penjara atas kejahatannya dalam upaya penculikan Jemima Tsamara. Tidak hanya itu, Kalina juga didakwa atas kejahatan berencana bersama Tanaya Rodriga, leader girl grup Blossom yang mencelekai Najla Sabitha hingga mengalami cedera kepala berat.


Najla terpaku menonton berita yang ditayangkan di televisi. Walaupun sebelumnya Farel, managernya sudah menceritakan kronologi penyerangan yang menimpanya, Najla tetap berdebar. Apalagi saat Kalina, Tanaya dan orang bayaran mereka dimunculkan ke hadapan media. Najla benar-benar tak menyangka mereka tega mencelakainya karena ingin menyingkirkan Najla demi popularitasnya.


Sayangnya Najla tak ingat siapa mereka. Dalam pikirannya CEO Magnolia adalah Ibra, dan ia terperanjat ketika Farel menceritakan bahwa Ibra sudah meninggal. Ia juga tak mengingat Tanaya apalagi Blossom. Sungguh, kehilangan ingatan ternyata begitu menyiksa. Ada banyak hal penting yang terjadi di dalam hidupnya namun Najla tak mampu mengingatnya.


"Bagaimana caranya agar ingatanku kembali..." gumam Najla sambil mengusap kepalanya.


Ia lalu beranjak dari sofa menuju kamar. Bahkan di kamarnya sendiri pun Najla merasa asing hingga ia tak dapat tidur lelap. Ia ingin kembali ke kamar sebelumnya di rumah lama, namun tentu saja mustahil.


Najla kemudian melepas kausnya dan berganti mengenakan piyama. Saat akan menuju tempat tidur, ia tiba-tiba teringat pada Neil. Najla merasa bersalah karena membentak pria itu kemarin. Ia tau Neil berusaha perhatian sebagai seorang teman. Namun Najla yang tak mengingatnya merasa asing dan canggung. Baginya Neil adalah orang lain yang baru ia kenal, dan Najla butuh waktu untuk dapat menjalin hubungan dengan baik.


"Apa sebaiknya aku meminta maaf?"


***


Neil menguap setelah keluar dari ruang operasi dan membersihkan diri. Hari ini rekor baginya mengoperasi sebanyak tiga kali dan semuanya adalah operasi rumit. Dua operasi terjadwal dan satu operasi mendadak yang membuatnya kembali masuk ke rumah sakit padahal ia sudah di dalam mobil untuk pulang. Beruntung operasi berjalan lancar hingga Neil tinggal menugaskan para dokter residen untuk memeriksa pasien secara berkala.


"Astaga aku lapar sekali," gumam Neil sambil berjalan ke arah nurse station.


"Dokter Neil! Apa dokter sudah makan?" Tanya Sinta, perawat yang bertugas.


"Kami akan membeli sandwich untuk makan malam. Apa dokter mau?" Tawarnya.


Neil mengangguk cepat. Ia rasanya hampir tidak kuat menahan perutnya yang keroncongan.


"Aku ingin tuna, spicy beef, dan chicken sandwich. Ah satu lagi coca-cola. Bayarlah dengan ini," ucap Neil menyebutkan pesanannya sambil memberikan id cardnya untuk membayar.


"Dokter memesan tiga sandwich? Apa tidak terlalu banyak?" Tanya Sinta ragu, mengingat ukuran satu buah sandwich sudah cukup besar.


"Sinta...aku sedang sekarat sekarang karena kelaparan. Jadi cepatlah beli sesuai pesananku atau aku akan merepotkan kalian karena pingsan," ucap Neil dengan mata sayu.


"Ow...baik. Baik, aku akan memesannya sekarang. Dokter pergilah ke ruangan, aku akan mengantarnya ke sana," ucap Sinta lalu melesat untuk pergi membeli sandwich.


Neil kemudian berjalan menuju ruangannya untuk tidur sejenak. Ia harus mengumpulkan tenaga agar bisa konsentrasi menyetir saat pulang nanti.


"Semoga tidak ada pasien darurat," gumam Neil yang sudah merebahkan diri di sofa.


"Oh Tuhan nikmat sekali seperti ini,"


Neil berusaha memejamkan mata namun sayangnya ia justru teringat Najla. Bayangan gadis itu terus memenuhi pikirannya. Meski ia sudah menghajar si  pelaku penyerangan dan memenjarakannya, tetap saja tidak merubah keadaan Najla. Fakta Najla tidak ingat dengannya tetap sama.


Tanpa sadar air mata Neil menggenang. Ia mencintai Najla seperti dulu ia pada Zura. Bagaimana caranya kembali mendapatkan hati Najla sementara terakhir bertemu Najla justru membentaknya?


***


Najla terbangun saat mendengar suara bel yang ditekan berkali-kali. Ia merengut karena merasa terganggu.


"Astaga siapa yang datang sepagi ini," gerutunya.


Najla melangkah gontai menuju pintu lalu membukanya. Ia sontak mundur satu langkah saat mendapati  Neil berdiri di depan pintu dengan wajah panik.


"Najla, kita ke rumah sakit sekarang!" Seru Neil sambil meraih lengan Najla.


"Wait. What happen?" Tanya Najla refleks menarik tangannya.


"I'll tell you later. Ganti bajumu dan kita akan pergi bersama,"


Meski masih bertanya-tanya Najla menurut untuk berganti pakaian dan mencuci mukanya. Ia kembali menemui Neil dengan mengenakan jelana jeans dan hoodie.


"Ada apa?" Tanya Najla saat Neil memperhatikannya.


"Ow...ehm...hoodie itu milikku. Aku baru ingat ternyata ada padamu," jawab Neil yang membuat Najla seketika memandang hoodie berwarna navy yang ia kenakan itu.


'Bagaimana ini ada padaku,' pikir Najla. Mereka berdua lalu bergegas menuju lift untuk turun ke parkiran mobil. Di perjalanan, Najla kembali mendesak Neil tentang apa yang terjadi hingga mereka harus terburu-buru ke rumah sakit.


"Jelaskan padaku apa yang terjadi," ucap Najla sambil menoleh pada Neil yang menyetir.


"Ah...itu...ibumu...kecelakaan," jawab Neil gugup.


Najla terdiam. Apa ibunya yang dimaksud adalah wanita yang tempo hari datang menjenguknya di rumah sakit? 'Tapi aku tidak mengingatnya sebagai ibuku', jerit Najla dalam hati.


"Kecelakaan bagaimana? Apa kondisinya parah?"


Neil tak menjawab. Ia terus memacu mobilnya kencang hingga mereka tiba di rumah sakit. Najla tak menolak saat Neil menarik tangannya dan berjalan cepat menuju tempat ibunya di rawat.


"Ibumu sengaja menabrakkan diri di jalan raya," ucap Neil setelah Najla kembali bertanya saat mereka berada di dalam lift.


Najla tertegun. Berarti ibunya sengaja ingin menakhiri hidup? Seketika Najla merasa merinding membayangkan beban apa yang ibunya tanggung sehingga ia ingin pergi meninggalkan dunia.


Najla dan Neil tiba di depan ruang operasi. Di sana sudah ada ayah dan juga kedua kakaknya yang menunggu. Najla menatap wajah mereka satu persatu, sekuat tenaga mengingat bahwa mereka adalah keluarganya. Namun sayang tak sedikitpun terbayang.


"Kenapa kau ada di sini?" Tanya Najma, kakak pertama Najla.


Najla mengerutkan dahi, terkejut dengan pertanyaan Najma yang tak ramah.


Najla memilih diam sementara ayah dan kedua kakaknya terpaku menatap Najla yang kebingungan.


"Kau tidak mengingat kami?" Kali ini Najma yang bertanya.


Najla menggeleng lemah. Mereka hanya orang asing di mata Najla saat ini.


"Kalau begitu pergilah. Toh kau juga pasti tak mengingat ibu,"


Najla terhenyak. Kenapa kakaknya justru berkata demikian? Kenapa mereka bahkan tidak bertanya tentang keadaannya?


Najla baru saja akan berbalik ketika dokter yang bertugas mengoperasi Widy keluar dengan wajah lesu.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?"


"Hantaman di dadanya sangat keras hingga menyebabkan gumpalan darah di jantungnya. Terlebih istri Anda sudah memakai ring jantung sehingga pendarahan yang terjadi semakin memburuk. Kami sudah berusaha yang terbaik...namun istri Anda tidak bertahan,"


Najla menelan ludah mendengar penjelasan dokter. 'Apa itu berarti ibunya meninggal?' batin Najla. Seketika ia merasa suasana di sekitarnya menjadi hening dan ia seperti melihat bayangan ibunya yang tampak sedih.


"Maafkan ibu...."


Telinga Najla mendengar jelas lirih suara ibunya yang meminta maaf. Najla ingin menggapai tubuh sang ibu namun ia tersadar saat Neil merangkul bahunya. Bayangan sang ibu pun seketika lenyap.


"Ibu..." gumam Najla. Meski ia tak ingat namun ternyata batinnya terasa begitu sakit. Ia kehilangan wanita yang melahirkannya ke dunia.


"You gotta be strong," bisik Neil.


***


Najla terpaku membaca surat dari Widy untuknya yang ditemukan di saku baju sang ibu saat kecelakaan. Ia membaca kalimat demi kalimat yang membuat air matanya tak berhenti mengalir.


Usai dari pemakaman, Najla memilih pulang karena merasa asing berada di tengah-tengah keluarganya sendiri. Terlebih sikap mereka yang tak ramah membuat Najla jengah.


Anakku Najla. Maafkan ibu. Ibu gagal menjadi ibu yang baik bagimu. Ibu mana di dunia ini yang tega mengusir anaknya sendiri. Ibu terlalu bodoh mengorbankanmu karena buta akan cinta pada Ayah. Harusnya ibu membelamu, bukan membiarkanmu pergi. Ibu menyesal terlambat ingin kau kembali pada ibu. Rasanya menyakitkan sekali melihatmu terluka dan kini melupakan ibu. Najla sayang, andai ibu lebih cepat pasti kita akan sangat berbahagia. Sayangnya ibu terlambat dan kau tak mengingat ibu. Ibu tidak kuat hidup dalam penyesalan, anakku. Ibu harus menghadap Tuhan, mengakui kesalahan dan bersiap menerima hukuman. Najla, hiduplah dengan baik, sayang.


Najla melipat surat itu lalu menangis tersedu-sedu. Ia mengusap kepalanya berkali-kali merutuki kenapa ia harus kehilangan ingatan. Andai ia megingat ibunya pasti sang ibu tak akan mengakhiri hidupnya. Najla dengan sukarela menerima sang ibu toh ia pun tak ingat dengan kesalahaan sang ibu di masa lalu.


Najla mengusap air mata ketika belnya berbunyi. Ia bergegas membuka pintu dan mendapati Neil yang berdiri di sana.


"Are you OK?" Tanya Neil.


Najla lalu memberi isyarat agar Neil masuk ke dalam.


"Neil. Apa yang terjadi dengan keluargaku?" Tanya Najla pada Neil setelah mereka berdua duduk di sofa.


Neil tak langsung menjawab. Ia menatap Najla yang memandangnya dengan sorot mata penasaran. Neil menghela nafas. Mau tidak mau ia menceritakannya pada Najla meski ia sendiri merasa sakit dengan kisah Najla dan keluarganya itu.


"What? Mereka mengusir dan membuangku?" Seru Najla saat Neil selesai bercerita.


"Kau bilang mereka bahkan membenciku?"


Neil mengangguk lemah, mengiyakan ucapan Najla.


"Aku tidak percaya. Mana ada orangtua yang tega seperti itu, Neil. Kau mengada-ada!"


Neil terpaku mendengar ucapan Najla. Ia menceritakan yang sebenarnya namun Najla justru tak percaya.


"I tell the truth, Najla. Itu yang sebenarnya terjadi dengan keluargamu,"


Najla tersenyum sinis. "I don't believe you. Kau hanya mengarang cerita karena aku kehilangan ingatanmu. You trying to rewrite my past!"


Neil menelan ludah. Tuduhan Najla benar-benar membuatnya terkejut. Untuk apa dia melakukannya?


"Pergilah. Aku justru meragukan bagaimana kita bisa berteman. Kau hanya memanfaatkan keadaan!"


Neil mengepalkan tangan, menahan gemuruh di dadanya yang terasa begitu kencang.


"Baiklah. Kau tidak akan mempercayai apapun ucapan orang asing sepertiku, bukan?"


Usai berkata demikian Neil segera keluar dari unit Najla. Neil melangkah cepat menuju unitnya untuk menenangkan diri. Begitu tiba, ia langsung menjatuhkan diri di sofa.


"****!" Umpatnya kesal.


Tentu ia bukan kesal pada Najla, namun pada kenyataan yang begitu menyulitkannya. Kini ia di kira pembohong oleh Najla dan itu sungguh melukai sanubarinya.


Tiba-tiba ponsel Neil berdering dan ia segera mengangkatnya.


"Ya, halo," jawab Neil sambil membuka kacamata dan memijat kedua kelopak matanya.


Ia tertegun sejenak mendengar seseorang di ujung sana berbicara.


"Baik. Aku bersedia menjadi CEO," jawab Neil sejurus kemudian.


***