Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 72



Makan malam yang hangat tentu membawa kebahagiaan bagi Kamila. Ia tak berhenti tersenyum sambil memperhatikan semua orang, hingga akhirnya Alezo menyadarinya.


"Kenapa mama terus tersenyum?" tanya Alezo penasaran.


Kamila meletakkan sendok dan garpunya sebelum menjawab pertanyaan anak pertamanya itu.


"Ah...ya. Mama bahagia sekali rumah ini ramai," jawabnya.


"Dulu mama ingin memiliki banyak anak. Namun karena pekerjaan yang begitu menyita waktu akhirnya impian itu mama pendam. Cukup dua anak, Alezo dan Albar. Namun ternyata Tuhan mewujudkan mimpi mama sekarang dengan kehadiran kalian..."


Ucapan Kamila membuat semua orang tersenyum, turut merasakan ketulusan wanita paruh baya itu.


"Satu dua tiga empat....delapan," ucap Kamila menghitung sambil menunjuk satu-satu Alezo dan yang lainnya.


"Ah...jumlah kalian akan bertambah jika sudah menikah kelak dan punya anak. Syukurlah rumah ini memiliki banyak kamar,"


Mendengar kalimat Kamila, Alezo refleks menoleh ke arah Jemima yang duduk di sampingnya. Benar saja. Sang kekasih seketika menunduk pertanda ia terusik dengan ucapan Kamila.


"Ehm...jadi mama sudah siap menjadi grandma?" Goda Albar.


"Of course. Mama sangat menantikannya,"


"Namun yang terpenting sekarang berjanjilah kalian akan sering datang mengunjungi kami yang sudah renta ini,"


"Sure, Mom..." sahut Alezo


"Sepertinya kalian harus membuat agenda khusus untuk berkunjung ke sini," kali ini Romel turut menimpali karena ia pun senang dengan kedatangan Alezo dan yang lainnya.


Makan malam kemudian berlanjut hingga makanan yang terhidang habis. Setelah mengobrol dan melepas tawa beberapa saat, Kamila dan Romel kemudian bersiap untuk beranjak karena ingin beristirahat.


"Nikmati waktu kalian. Kami sudah tidak kuat untuk ikut minum bersama," ucap Kamila.


Sepeninggal orangtuanya, Alezo mengajak yang lainnya untuk ke roof top untuk bercengkrama dan menikmati wine. Ia tersenyum senang karena suasana akrab terjalin di antara mereka. Benar-benar terasa seperti keluarga.


Alezo baru menyadari Jemima tak bersama mereka. Ia pun turun ke bawah dan mendapati Jemima baru keluar dari kamar mandi.


"Hey...aku minta maaf atas ucapan Mama. Apa kau merasa tak nyaman?" Tanya Alezo khawatir.


"I'm fine," jawab Jemima tersenyum.


Namun Alezo tau itu hanya kamuflase. Jemima pasti terusik, namun tak ingin membebani pikiran Alezo.


"Tenanglah. Mama hanya terlalu bahagia dan tidak sadar dengan ucapannya. Tidak masalah jika kelak kita tidak memiliki anak. Mama pun tidak akan menuntutmu. Trust me..." ucap Alezo.


Jemima menggeleng, menampik ucapan Alezo.


"Aku lebih memikirkanmu. Bagaimana jika hanya kau yang tidak menjadi ayah. Sementara yang lain kelak akan bermain dengan anak mereka..."


"Not a big deal, Mima. I'm okay. Totally okay,"


Jemima tertawa kecil mendengar ucapan Alezo.


"Lucu sekali. Percakapan kita seperti akan menikah besok," canda Jemima.


Alezo tersenyum. Ia lalu menarik tangan Jemima dan menggandengnya menuju roof top.


"Cheers," seru mereka sambil bersulang lalu menyesap wine yang diberikan Romel untuk mereka.


Mereka lalu terlibat obrolan hangat. Albar dan Habayazi kekasih Maura bahkan sudah sangat akrab. Siapa sangka Albar yang petakilan bisa nyambung dengan Habayazi sang perwira polisi yang terlihat dingin. Sementara para gadis kompak menyiapkan cemilan dan menatanya di meja. Louisa dan Maura yang awalnya kikuk karena bertemu dengan idola mereka, Jemima dan Najla, sekarang sudah seperti teman.


Maura baru saja akan mengangkat kembali gelas winenya dari atas meja ketika tanpa sengaja menyenggol Louisa sehingga menumpahkan wine di dress putihnya.


"Oh my God!" Seru Louisa terkejut sambil memandang dress mahalnya yang kini terkena noda wine.


"Ow...astaga. I'm sorry. Aku tidak sengaja," ucap Maura tak kalah panik.


Ia lalu cepat-cepat meraih tisu dan hendak menyeka dress Louisa, namun tangannya dengan cepat ditepis oleh gadis itu.


"Sepertinya kau memang masih dendam padaku, Maura!" pekik Louisa.


Semua orang terkejut lalu menghentikan aktivitas mereka dan menoleh ke arah Louisa dan Maura. Tak terkecuali Jemima. Ia terperanjat mendengar suara nyaring Louisa yang membentak Maura.


"What? Aku benar-benar tidak sengaja. Lagipula kau berdiri terlalu dekat denganku!"


'Apa ini. Maura membalas ucapan Louisa tak kalah galaknya,' batin Jemima sambil bergantian melihat mereka berdua. Sementara Najla yang berdiri di sampingnya pun terpana melihat teman baru mereka.


Louisa tertawa sinis lalu melipat tangannya di dada.


"Kau tidak berubah. Selalu tidak mau mengaku salah,"


Jemima melirik ke arah para pria yang kompak memasang wajah bingung. Sepertinya harapan Jemima agar mereka melakukan sesuatu tidak dapat terwujud.


"Lalu apa Louisa si pembohong apa sudah berubah?" ketus Maura yang tak ragu mengangkat dagunya.


Albar kemudian mendekat untuk menghentikan suasana panas yang terjadi antara dua gadis itu.


"Girls. What's wrong? It's seems like kalian saling mengenal sebelumnya. Apa yang terjadi?"


Maura tak menjawab, ia hanya memutar bola matanya pertanda gerah dengan suasana yang tak nyaman.


"Dia menuduhku merebut kekasihnya. Padahal mereka sudah putus!" Seru Louisa yang membuat mata Maura terbelalak.


"What? Kami belum putus saat kalian berdua makan siang bersama,"


"Mario sudah memutuskanmu hanya saja kau belum menerima!"


Tanpa mereka sadari, Habayazi kekasih Maura sudah berada di samping Neil dan turut memperhatikan Maura dan Louisa.


"Jadi...kalian bertengkar karena the guy named Mario? When was that?" Tanya Habayazi.


"Kelas tiga SMP!" Maura dan Louisa kompak menjawab.


Semua orang seketika serentak menghela nafas. Bagaimana bisa dua gadis dewasa bertengkar hanya karena masalah cinta monyet saat SMP.


"Tiba-tiba aku sangat penasaran dengan Mario yang kalian sebut. Apa dia masih hidup? Apa dia tampan? Ah, apa dia masih mengingat kalian?" Cecar Albar yang membuat kedua gadis itu terdiam dan saling memandang.


"Apa dia murid tertampan di sekolah kalian? Apa dia pintar or...atlet or something?" Kali ini Habayazi yang bertanya.


"Habay, sepertinya kita kalah dari Mario hingga mereka masih memperebutkannya hingga saat ini," tukas Albar.


Habayazi mengangguk, sependapat dengan Albar.


"Apa kita harus mencari Mario lalu membawanya ke sini?" Tukas Habayazi dengan nada menyindir.


"Good idea," jawab Albar dengan muka sebal.


Tiba-tiba bahu Albar dan Habayazi ditepuk oleh Neil yang berdiri di belakang mereka.


"Tenang. Ini urusanku,"


Setelah berkata demikian Neil mendekati Louisa dan Maura lalu melipat tangannya di hadapan mereka sehingga gadis itu merasa terintimidasi. Tanpa sadar mereka saling berpegangan tangan karena takut dengan Neil yang menatap mereka tajam. Semua orang penasaran dengan apa yang akan dilakukan Neil.


"Kalian...."


"Aaaaw....!!!"


Louisa dan Maura berteriak saat Neil menjewer telinga kedua gadis itu. Mereka meminta ampun namun Neil tak mengindahkannya.


"Apa aku harus kembali mengasuh kalian setelah dewasa, hah? Kenapa kalian masih bertingkah seperti anak kecil?!"


"Aw...sakit. Ampun, Neil. Lepaskan,"


"Kak Neil, sakiiiit!"


Neil kemudian melepaskan tangannya. Louisa dan Maura refleks memegangi telinga mereka yang memerah.


"Neil...apa yang kau lakukan?" Tanya Alezo yang panik melihat kedua gadis itu kesakitan.


Neil menghela nafas lalu membenarkan kacamatanya sebelum menjawab.


"Dengar. Mereka berdua adalah sahabat saat SMP. Aku sering menjaga dan mengasuh mereka saat mereka belajar dan bermain bersama. Mereka seperti saudara kembar. Namun akhirnya buyar gara-gara Mario the guy," jelas Neil.


Semua orang kompak membulatkan mulutnya mendengar penjelasan Neil. Ternyata mereka sudah bersama saat kecil dulu, dan Neil sudah seperti kakak bagi Louisa.


Maura dan Louisa saling pandang, merasa tak enak dengan semua orang karena perkelahian mereka.


"Kalian sudah memiliki pasangan bahkan akan menikah. Lalu masih bertengkar karena Mario yang hanya kalian lihat wujudnya saat masih bocah SMP. Come on girls,"


Ucapan Neil benar-benar mengenai batin Maura dan Louisa. Dalam hati mereka sama-sama menyesal, dan mengakui sebenarnya ada perasaan rindu karena sekian lama tak bertemu.


"I'm sorry, Lou..." ujar Maura lebih dulu.


Louisa yang mendengar ucapan Maura tiba-tiba langsung memeluk Maura dan tangisnya pecah.


"Maura...I miss you. Hiks...I'm sorry..."


Neil menghela nafas lega melihat kedua adiknya itu berdamai. Ia menggelengkan kepala lalu tersenyum kecil karena Louisa dan Maura benar-benar terlihat seperti anak kecil yang baru saja berdamai karena berkelahi.


"Mereka menggemaskan sekali..." ucap Jemima tersenyum.


"Apa kita pernah menyukai pria yang sama seperti mereka?" Bisik Najla kemudian.


Jemima menggeleng. "Tidak. Selera kita berbeda. Satu-satunya yang sama adalah kita menyukai pria kaya," jawab Jemima asal.


"Ah...I see..." sahut Najla terkekeh.


Setelah tangisan mereka mereda, Maura dan Louisa melepaskan pelukan lalu menatap kekasih masing-masing yang masih memandang mereka dengan wajah datar.


"Ehm...Habay. Sepertinya kita harus melanjutan membahas tentang desain rumah yang kau inginkan tadi," ucap Albar.


"Ah, benar. Sebaiknya kita bicarakan di dalam agar lebih detail," sahut Habay yang mengerti maksud Albar.


Mereka berdua lalu berbalik dan berjalan meninggalkan rooftop, tidak mempedulikan Maura dan Louisa yang terpana melihat kepergian mereka.


"Albar!"


"Habay, tunggu!"


Kedua gadis itu lalu berlari mengejar kekasih mereka bahkan hingga tak sempat berpamitan pada Alezo dan lainnya.


"Astaga mereka seperti bocah," cetus Alezo tertawa.


"Dan bocah-bocah itu lucunya akan menikah," timpal Neil.


Tak lama kemudian mereka pun memutuskan untuk pulang karena hari telah larut. Apalagi alkohol yang mereka nikmati mulai bereaksi. Tentu tak baik jika menyetir dalam keadaan pengaruh alkohol.


Neil dan Najla pulang lebih dulu. Tinggal di apartemen yang sama tentu mudah bagi mereka. Berbeda dengan Alezo yang harus mengantar Jemima yang berlawanan arah dengannya.


"Ah sepertinya aku mulai kecanduan alkohol," ucap Jemima yang sebelumnya memang tak biasa mengkonsumsinya.


"Tapi kau hanya boleh minum jika bersamaku," ujar Alezo sambil terus melajukan mobilnya.


"Kalau begitu mari kita lanjutkan di apartemenku. Aku masih ingin minum,"


Kalimat Jemima tentu membuat Alezo terkejut. Ia kira Jemima sudah cukup mabuk ternyata gadis itu masih mengingkannya.


"You sure?"


"Sure,"


Benar saja. Setibanya di apartemen Jemima langsung membuka kulkas dan mengeluarkan beer yang ia beli tadi siang.


"Jemima...you drunk," ucap Alezo saat menyadari wajah Jemima memerah.


Jemima menggeleng. Ia lalu mendekatkan jari telunjuk dan jempolnya sebagai isyarat. "Hanya sedikiiiiiit," ucapnya.


"Ah nikmatnya..." ucap Jemima yang ingin meraih kaleng ketiga namun Alezo menepis tangannya.


"Enough..."


Jemima kecewa. Ia yang sudah setengah sadar beranjak dan mendekati Alezo lalu melingkarkan tangannya ke tubuh kekasihnya itu.


"Come on...Satu lagi dan aku akan berhenti,"


"No way, sweetheart," sahut Alezo lalu meletakkan minumannya dan memposisikan Jemima di pangkuannya hingga mereka berhadapan.


Sungguh wajah Jemima setengah mabuk dengan pipi yang merona merah terlihat begitu seksi di mata Alezo. Ia lalu membelai punggung Jemima dan perlahan mendekatkan bibir mereka. Tak disangka Jemima menerima bibir Alezo lalu ********** asal, namun entah kenapa terasa begitu menyenangkan bagi Alezo. Ia membiarkan Jemima melakukan apapun yang ia inginkan, termasuk melucuti kemeja yang Alezo kenakan.


"Let me be," cegah Alezo saat Jemima mulai membuka kancing blousenya.


Hingga akhirnya mereka saling mengejar hasrat dengan Jemima yang memimpin permainan dan membuat Alezo kewalahan.


***