Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 5



POV : ALEZO


Matahari masih malu-malu ketika Alezo sudah sibuk di gym rumahnya. Ia bangun lebih awal dan langsung memutuskan untuk berolahraga melatih ototnya. Tidak heran jika tubuh Alezo tegap sempurna karena ia benar-benar disiplin berolahraga. Tidak hanya menganggap tubuhnya adalah aset selama menjalani karir sebagai aktor, Alezo juga sadar bahwa menjaga tubuhnya tetap bugar adalah demi kesehatannya di masa depan.


Alezo melenguh setelah selesai melakukan pull up sebanyak lima set. Peluh membanjiri seluruh tubuhnya. Ia mengatur nafas sebentar lalu beranjak ke kamar mandi. Guyuran air hangat dari shower terasa begitu menyegarkan bagi Alezo. Tak berlama-lama, ia langsung menyudahi mandinya setelah memastikan tidak ada lagi busa ditubuhnya. Setelah mengenakan baju ia segera turun ke bawah dan berharap sudah ada sarapan di meja makan.


Alezo sontak bersyukur dalam hati ketika mendapati dua piring nasi goreng dengan telor mata sapi kesukaannya terhidang di meja makan. Tanpa berpikir panjang ia segera melahap sepiring nasi goreng karena perutnya sudah keroncongan.


"Bagaimana nasi goreng buatanku? Enak, bukan?" Tanya sebuah suara yang mengejutkan Alezo.


Ia menoleh dan mendapi Albar, adiknya mengenakan celemek dan memegang spatula tersenyum lebar.


"Kau memasak? Apa tidak salah?" Alezo balik bertanya keheranan.


Albar tertawa. Ia lalu duduk di samping Alezo.


"New york memaksaku untuk berhemat sehingga aku mati-matian belajar masak agar tidak boros,"


Alezo terkekeh. Albar memang baru selesai kuliah di New York dan saat ini sedang merintis karir sebagai arsitek. Lagi-lagi Romel, ayah mereka harus menerima kenyataan bahwa tidak satupun anaknya yang menjadi dokter.


"Baguslah. Kau bisa membuka kedai nasi goreng di depan kantormu," gurau Alezo sambil terus menyuap.


Mereka berdua lalu sarapan bersama dengan saling bertukar cerita. Usia yang terpaut delapan tahun justru membuat hubungan mereka hangat. Albar sangat menghormati Alezo sebagai kakak dan panutan. Begitupun Alezo yang selalu perhatian pada adik satu-satunya itu.


"By thw way. Bagaimana rasanya mencium bibir Jemima?"


Alezo yang sedang minum tersedak. Ia terbatuk-batuk dan hidung terasa perih. Albar pun membantu menepuk punggung sang kakak meskipun tidak membantu apapun.


"What a silly question," umpat Alezo setelah mereda.


"Hey. Jemima adalah national girlfriend. Semua pria di Indonesia menyukainya. She's so pretty and pure. Lalu kesuciannya kau renggut. You broke my heart, bro!" Albar semakin dramatis.


"Awww!" Albar berteriak karena Alezo menimpuk kepalanya dengan sendok.


"Itu hanya film, bodoh,"


"Tetap saja. Jemima yang polos harus dipeluk dan dicium olehmu. Bahkan kau tidak memakai baju. Memamerkan ototmu, huh?"


"Itu tuntutan naskah, bodoh. Kata-katamu seolah aku penjahat kelamin," umpat Alezo gemas.


"Bagaimana aromanya? Apa rambutnya halus? Apa tangannya lembut? Apa kau salah tingkah?"


Alezo tak tahan lagi. Albar benar-benar tidak mengerem pertanyaannya. Ia lalu beranjak meninggalkan Albar yang masih terus bertanya tentang Jemima. Alezo tidak pernah tahu sebelumnya bahwa Albar ternyata penggemar Jemima. Patah hati katanya, cih, pikir Alezo.


***


"Sering-seringlah pulang jika kau sedang tidak sibuk," ujar Kamila sendu saat Alezo pamit pulang.


"Jangan mentang-mentang rumahmu sekarang lebih mewah," sindir Romel.


Alezo terbahak. Ia memang baru membeli sebuah rumah setelah sekian lama tinggal di apartemen. Bukan tanpa alasan, ia sengaja membeli rumah mewah di sebuah kawasan elit sebagai bentuk apresiasi terhadap dirinya sendiri yang sudah bekerja keras. Toh nantinya bisa untuk ia tinggali bersama keluarga jika ia menikah nanti. Tunggu dulu. Menikah? Dengan siapa? Bahkan saat ini dekat dengan seseorang pun tidak.


"Bagaimana kalau papa cuti lalu kalian berdua menginap di rumahku beberapa hari?"


"Meninggalkan pasien-pasien papa maksudmu? Tidak," jawab Romel pasti.


Alezo dan Kamila saling melirik lalu mengangkat bahu masing-masing, pertanda sudah paham betul dengan Romel.


"Baiklah, aku pamit sekarang. See you mom, dad," ucap Alezo lalu masuk ke mobilnya.


***


Perjalanan menuju rumahnya memakan waktu sekitar dua jam. Alezo menikmati perjalanannya ditemani lagu-lagu dari radio. Ia lalu terhenyak ketika lagu Jemima di putar. Suara lembut khas Jemima terasa begitu nyaman di telinga. Tanpa sadar Alezo membesarkan volume, pertanda ia sangat menikmatinya.


Bisakah kau sejenak berhenti


Mendengar suara kalbu yang tertatih


Merayu dan memanggil namamu


Karena kau bertahta di hatiku


Hanya Tuhan dan aku yang tahu


Sungguh menginginkan dirimu


Yang tak tergapai olehku


Entah sejak kapan lagu Rahasia Hati milik Jemima menjadi lagu favoritnya. Padahal sebelumnya ia hanya sekedar tahu lagu-lagu Jemima. Namun sekarang ia bahkan meresapi setiap lirik yang mengalun dari lagu-lagu sang diva. Bagaimana bisa ia baru membuka mata akan karya-karya Jemima yang luar biasa? Pantas saja ia memiliki penggemar fanatik di seluruh Indonesia.


Hari sudah menunjukkan pukul satu siang. Alezo yang merasa lapar pun lalu mampir ke sebuah cafe yang tak jauh dari rumahnya. Tidak lupa ia mengenakan topi dan masker sebelum masuk agar tidak ada yang mengenalinya. Sungguh Alezo sebenarnya tidak keberatan melayani penggemar, namun di waktu yang tepat. Tidak di saat ia sedang ingin menikmati waktu secara privat.


Alezo duduk di sudut yang masih kosong. Ia lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan.


"Ice americano, iga bakar rica-rica dan air mineral," ucap Alezo. Kali ini lidahnya ingin menikmati makanan pedas kesukannya.


Setelah pelayan pergi, Alezo menyapu pandangannya di sekililing cafe. Matanya lalu tertumbuk pada seorang perempuan yang sedang menikmati makanannya. Entah sangking enaknya si perempuan bahkan sampai menggoyangkan kepalanya setiap suapan. Ia menyipitkan matanya untuk memastikan sosok yang terasa tidak asing itu. Ah ternyata benar itu dia, pikir Alezo. Tanpa sadar ia tersenyum sambil terus memperhatikan gerak-geriknya sang wanita yang tak lain adalah Jemima. Kenapa dia sendirian, apa dia menyetir sendiri, apa agensinya mengizinkan princess mereka berjalan-jalan sendiri? Bertubi-tubi pertanyaan muncul dalam benak Alezo


Makanan Alezo baru saja tiba ketika ia melihat Jemima berdiri pertanda ia sudah selesai makan. Hatinya seketika mencelos. Alezo mengira Jemima akan lebih lama di sana karena ia berniat menghampiri meja Jemima, berpura-pura tidak sengaja berjumpa.


Alezo baru menikmati dua suapan makanannya ketika terdengar letupan kencang. Seketika api besar muncul dari dinding cafe diikuti teriakan panik pengunjung yang memekakkan telinga. Tak ayal ia langsung berdiri dan berlari untuk menyelamatkan diri. Alezo hampir  sampai di pintu keluar ketika ia mendapati Jemima yang tersungkur. Tanpa ragu ia langsung mengangkat tubuh Jemima dan membawa ke mobilnya.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Alezo panik.


Tidak ada jawaban. Jemima tak sadarkan diri.


"Oh ****," umpatnya. Ia segera menyalakan mobil dan langsung memacunya.


Satu-satunya dalam pikiran Alezo saat ini adalah memberikan pertolongan pertama pada Jemima yang terkulai lemah. Ia hampir belok ke rumah sakit namun seketika otaknya memberi sinyal. Pasti mereka akan menjadi incaran wartawan jika ada yang melihat ia dan Jemima datang bersama. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah membawa Jemima ke rumahnya dan memanggil Neil, sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter.


***


Bel rumah Alezo berbunyi dan secepat kilat ia membukanya. Ia langsung menarik tangan Neil dan membawa sahabatnya itu ke kamar untuk memeriksa Jemima.


"Bisa kah kau membiarkanku bernafas? Aku hampir menabrak karena kau mendesakku untuk cepat," omel Neil kesal.


"Sorry, sorry." ucap Alezo merasa bersalah.


Neil lalu mengeluarkan stetoskop dan tensimeter untuk memeriksa Jemima yang terbaring tak sadarkan diri.


"Tensinya rendah. Aku curiga ia memiliki serangan panik dari ceritamu tentang kejadian di cafe. Selebihnya tidak ada yang mengkhawatirkan. Aku akan memberinya infus," jelas Neil yang sudah menyiapkan alat infus untuk jaga-jaga.


Alezo menghela nafas lega. Setidaknya saat ini Jemima sudah tertangani.


"Aku akan di sini sampai dia sadar," ucap Neil setelah selesai memasang infus.


"Oke. Sudah seharusnya, bukan?"


Neil mendengus. Beruntung jadwal prakteknya malam sehingga ia bisa menunggu di rumah Alezo.


"She's such a beatiful lady," puji Neil saat mereka berdua menikmati kopi di ruang tengah.


Alezo menaikkan alisnya pertanda ia setuju. Rasanya tidak akan ada yang memungkiri kecantikan Jemima di dunia ini.


"Aku tidak menyangka Jemima menjadi pasienku," canda Neil. "Selama ini aku hanya melihatnya di televisi dan di atas panggung,"


"Apa kau berterimakasih padaku?" Tanya Alezo.


"Hmm entahlah. Aku senang bertemu Jemima namun ia dalam keadaan sakit,"


Tiba-tiba Neil meninju lengan Alezo kencang sehingga membuatnya terkejut dan meringis.


"Aku sakit hati karena kau mencium dan memeluknya di film,"


Alezo memutar bola matanya. Lagi-lagi ia mendengar kalimat yang sama. Apa semua orang membencinya karena ia yang beruntung menyentuh idola mereka?


Satu jam kemudian Alezo mengajak Neil untuk memerika Jemima. Ternyata Jemima baru tersadar saat ia datang. Raut wajah Jemima menggambarkan keterkejutannya. Alezo pun lalu menjelaskan apa yang terjadi, diikuti oleh Neil yang menjelaskan kondisi Jemima lalu menanggalkan infus yang sudah habis.


"Sebaiknya kau lanjutkan istirahat sampai merasa betul-betul fit. Apa kau ada jadwal pekerjaan hari ini?" Tanya Alezo.


Dalam hati ia lega karena Jemima menjawab ia sedang free. Artinya Jemima dapat melanjutkan istirahatnya. Alezo pun kemudian keluar kamar setelah memastikan Jemima kembali merebahkan tubuhnya untuk tidur.


***