Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 53



Kabar Jemima yang akan hiatus tanpa ada keterangan waktu hingga kapan kini menjadi berita setelah Magnolia mengumumkannya melalui konferensi pers. Para Jemiers, penggemar Jemima untungnya memahani keadaan sang diva. Mereka justru mendukung dan akan setia menunggunya kembali berkarya.


Jemima tak kuasa menahan air mata melihat betapa luar biasa  dukungan penggemar kepadanya. Hari ini ia trending di seluruh platform berita. Jemima rela meluangkan waktunya beberapa lama untuk membalas komentar penggemar di akun instagram karena setelah ini berencana menarik diri dari media sosial. Ia butuh menenangkan diri dari hiruk pikuk dunia pekerjaannya. Jemima ingin menikmati waktu sendiri tanpa memikirkan hal lain selain menemukan kebahagiaannya.


"Apa kau yakin akan pergi sendiri?" Tanya Tita ragu.


Jemima menoleh lalu tersenyum. "Ya. Tanpa ragu sedikitpun,"


"Aku sudah meminta Mahen menyiapkan bodyguard yang akan menjagamu di sana,"


Jemima terkesiap. "What? Apa aku akan dibuntuti oleh pria-pria berwajah garang dan bertubuh besar selama perjalananku? Oh no, aku tidak mau!" Protesnya.


Tita menghela nafas. "Tenanglah. Aku sudah jelaskan juga bahwa mereka cukup memantaumu dari jauh hingga kau bahkan tak sadar akan keberadaan mereka,"


"Artinya tetap saja gerak gerikku diawasi,"


"Setidaknya kau aman, Jemi. Please, jangan protes. Ini demi kesalamatanmu," jelas Tita.


Jemima menghela nafas. Ucapan Tita ada benarnya. Lagipula ia tidak berencana melakukan hal aneh, sehingga tak akan membuatnya risih karena dipantau.


"Kau yakin tidak akan memberitahu Alezo kemana kau pergi?" Tanya Tita hati-hati.


Jemima terdiam beberapa detik. Ia melemparkan pandangan ke jendela.


"Jangan beri tahu meski dia memaksa dan memohon. Katakan saja kau tidak tahu," tukas Jemima tanpa menoleh pada Tita.


"Baiklah," balas Tita. Ia lalu kembali memasukkan barang-barang Jemima ke dalam koper.


Jemima menerawang membayangkan hubungannya dengan Alezo. Sungguh ia tidak bisa mendustai perasaannya. Ia mencintai Alezo dan rasa itu tetap sama meski rasa sakit hatinya pada orangtua Alezo sebegitu besarnya. Jemima tidak mungkin bisa terus bersama Alezo dengan masih menyimpan perasaan dendam pada kedua orangtua pria itu. Ia pun tak bisa serta merta melupakan kesalahan mereka pada ibunya di masa lalu. Sudah paling benar rasanya mereka harus berpisah meski menyakitkan.


Cumbuannya dengan Alezo biarlah menjadi perpisahan mereka yang cukup untuk dikenang. Jemima berharap perjalanan dan liburannya mampu mengusir bayangan Alezo hingga ketika ia kembali tak akan ada lagi rasa itu. Mereka akan kembali seperti semula, hanya saling mengenal tanpa terikat perasaan apa-apa.


"Pesawatmu tiga jam lagi. Ayo kita berangkat sebelum macet," ujar Tita membuyarkan lamunan Jemima.


Jemima lalu beranjak dan meraih tasnya sementara Tita berjalan duluan membawa kopernya.


Di perjalanan Jemima mengganti nomor ponsel dan menghapus semua aplikasi media sosialnya. Bahkan Tita pun tak ia berikan nomor ponselnya meski sang manager memohon.


"Tidak akan kuberikan. Kau akan melakukan video call setiap malam. Aku yakin itu," ujar Jemima yang tetap tidak goyah meski Tita merengut.


"Ah ya, apa kadoku untuk Najla sudah dikirim?"


"Sudah. Harusnya bahkan sudah tiba," jawab Tita.


"Katakan padanya aku minta maaf tidak bersamanya di hari ulang tahunnya kali ini. Tapi semoga kadoku cukup membuatnya senang,"


"Jam tangan satu milyar lebih dari cukup untuk membuatnya senang," sela Tita gemas.


"Astaha aku merasa seperti butiran debu di antara persahabatan mahal kalian,"


Jemima tertawa. Entah kenapa ia tertarik sekali membelikan Najla sebuah jam tangan cantik dengan harga selangit itu. Jemima bahkan bisa membayangkan bagaimana ekspresi Najla ketika mengetahui isi kadonya itu. Pertama ia pasti akan berteriak, lalu melompat, dan berakhir dengan mencium pipi Jemima seperti kebiasaannya selama ini.


"Hati-hati, Jemi. Aku akan merindukanmu. Cepatlah kembali," ujar Tita terisak ketika melepas Jemima yang akan masuk ke ruang tunggu bandara.


"Aku akan kembali. Tenanglah," ucap Jemima mengusap air mata Tita. Padahal ia pun menahan tangisnya.


Mereka lalu berpelukan lama bagaikan kakak dan adik yang akan berpisah. Jemima kemudian berjalan sambil menggeret kopernya dan kemudian berhenti sejenak untuk melambaikan tangan pada Tita.


***


Neil baru saja keluar dari lift dan seketika keheranan medengar suara ambulan yang begitu kencang. Aku lalu berjalan cepat menuju kerumunan orang-orang di sekitar jogging track apartemen.


"Ada apa?" Tanya Neil pada seorang pria seusianya di sana.


"Seorang gadis sepertinya diserang dengan batu di kepalanya. Oh Tuhan aku baru saja melihatnya dan darahnya banyak sekali," jelas pria itu.


Neil menelan ludah. Berarti hantaman yang terjadi begitu kencang jika banyak mengeluarkan darah. 'Sialan, siapa manusia brengsek yang dengan tega mencelakai seorang gadis,' batin Neil.


"Apa dia penghuni di sini?"


"Ya. Aku familiar dengan wajahnya," jelas pria itu lagi.


Neil mengangguk. Ia ingin segera pergi namun nalurinya sebagai dokter justru membuatnya berbalik dan mendekati ambulan yang sedang mengevakuasi.


"Hey jangan kesana. Kau tidak akan kuat melihatnya!" Seru pria itu pada Neil.


Neil mengabaikan pria itu lalu menghampiri tenaga medis yang baru saja mengangkat korban ke dalam ambulan. 


"Aku dokter. Bagaimana keadaan korban?"


"Pendarakan kepala cukup dan tanda vitalnya mengkhawatirkan. Harus segera ditangani di rumah sakit,"


Neil mengangguk. Ia lalu meminta izin untuk melihat korban dan segera masuk ke ambulan setelah dipersilahkan.


Neil mendekati korban yang tak sadarkan diri itu untuk memeriksa denyut nadi dan jantungnya. Ia baru saja akan mengulurkan tangan ke leher korban lalu matanya terbelalak dan darahnya berdesir kencang.


"Oh Tuhan...Najla!"


***


Alezo merengut ketika Romel tiba-tiba menyuruhnya ke rumah sakit untuk mengikuti rapat direksi. Sungguh Alezo tidak berselera karena ia tidak pernah tertarik untuk mengurusi Global Medika. Alezo  berkata pada Romel bahwa satu-satunya kontribusi yang bisa dia berikan pada Global Medika adalah dengan menjadi donatur, dan kepalanya langsung di ketuk dengan pulpen oleh Romel.


Alezo mengetahui bahwa Romel ingin pensiun dari jabatannya sebagai CEO namun sayangnya belum ada calon pengganti. Lucunya, para direksi Global Medika tak satu pun bersedia naik jabatan. Alasannya karena umur. Sudah saatnya anak muda yang memimpin, begitu kata mereka.


"Ehm...sebelum melanjutkan. Aku harap tidak akan ada kalimat yang menyarankanku untuk menjadi CEO di sini. Tidak akan," ujar Alezo memperingati Romel dan para jajaran direksi lainnya.


"Aku juga tidak mempercayaimu," ketus Romel yang membuat Alezo mengigit bibirnya sementara yang lainnya tertawa kecil.


"Aku berencana menunjuk Dokter Neil untuk menjadi CEO. Semua dewan direksi menyetujuinya,"


"Wow. Good. Aku setuju. He's a great doctor, right?" Tukas Alezo yang turut senang karena Neil dipercaya untuk memimpin Global Medika.


"But the problem is dia tidak bersedia," lanjut Romel.


"So, karena kau tidak pernah berkontribusi untuk Global Medika, kali ini tolong kau bujuk dokter Neil agar bersedia menjadi CEO bagaimana pun caranya,"


Glek. Alezo menelan ludah. Neil adalah manusia paling konsisten yang ia kenal. Jika ia sudah mengatakan tidak, kecil kemungkinan untuk berubah pikiran.


Alezo pun segera keluar tanpa menunggu lama. Ia berencana ke apartemen Neil untuk menjalankan misi dari sang ayah. Alezo baru saja akan mengeluarkan ponsel ketika matanya menangkap sosok Neil berjalan tergesa dari arah IGD. Alezo pun bergegas menghampiri Neil yang wajahnya terlihat begitu kalut. 'Bukannya dia sedang cuti? Kenapa ada di rumah sakit,' pikir Alezo.


"Neil!" Panggil Alezo.


Neil langsung menoleh namun tak menghentikan langkahnya.


"Hey kau mau kemana. Ini aku, Alezo," ucap Alezo yang menarik maskernya karena mengira Neil tidak mengenalinya.


"Bro. What happen? Apa kau ada pasien darurat dan harus mengoperasi?" Tanya Alezo.


Neil menghentikan langkahnya lalu menarik nafas.


"Ini bukan pasienku. Najla. Ini Najla," jawab Neil.


"Najla...Najla Sabitha?"


Neil mengangguk. "Seseorang menghantam kepalanya dengan batu saat sedang lari pagi. Kepalanya pendarahan karena cedera berat dan sekarang harus dioperasi,"


Alezo terhenyak mendengar penjelasan Neil. Dalam hati ia begidik ngeri membayangkan seorang gadis seperti Najla mengalami kejadian yang begitu mengerikan.


Alezo menatap nanar punggung Neil yang berlalu menuju lift untuk ke ruang operasi di lantai tiga. Ia yakin Neil dan Najla memiliki hubungan sehingga sahabatnya itu terlihat begitu gusar bahkan matanya tak fokus saat berbicara.


Seketika Alezo merasa merinding karena ia dan Jemima baru saja terlepas dari penculikan, lalu sekarang terjadi lagi sesuatu yang mengerikan pada orang terdekat mereka. Ada apa sebenarnya?


***


Neil sontak berdiri ketika pintu ruang operasi terbuka. Ia langsung menyambut Evan, dokter spesialis saraf yang mengoperasi Najla.


"Bagaimana operasinya, Dok?" Tanya Neil penuh harap.


"Dimana wali pasien?" Tanya Evan keheranan mendapati Neil di sana


"Aku walinya," cetus Neil yang tentu membuat Evan bertanya-tanya.


"I can't tell anything else. Saat ini aku walinya, tidak ada yang lain," ucap Neil lagi.


Evan mengangguk. "Operasi berjalan lancar. Sebuah keajaiban tulang tengkoraknya utuh sehingga otaknya tidak  cedera. Pendarahan juga dapat dihentikan lebih cepat. Beruntung dia ditangani tepat waktu. Terlambat lima menit, aku tidak yakin dia masih hidup,"


Penjelasan Evan seketika membuat Neil membeku. Di satu sisi dia lega Najla selamat, satu sisi ia memikirkan bagaimana kondisi Najla kedepannya setelah mengalami cedera hebat pada kepalanya. Apa dia akan baik-baik saja?


"Baiklah. Terimakasih, Dok," tukas Neil.


"Dia adalah penyanyi, bukan? Najla Sabitha, anakku begitu mengidolakanya,"


Neil mengangguk mengiyakan.


"Aku rasa ia terpaksa rehat sejenak karena ia perlu pengobatan beberapa bulan untuk pulih seperti sedia kala," pungkas Evan.


Neil terhenyak. Najla harus segera sembuh agar tak mengganggu karirnya. Ia tahu betul Najla sangat mencintai pekerjaannya. Tentu ia harus sembuh dan sehat untuk terus melanjutkan karirnya, meski Neil ragu karena masih ada kemungkinan Najla akan mengalami komplikasi karena cedera kepala yang berat.


***


Alezo memandang Neil yang terduduk lemas di depannya. Mereka berdua saat ini berada di cafe rumah sakit dan hari sudah meunjukkan pukul sepuluh malam. Neil sama sekali tidak menyentuh makanannya yang sudah datang sejak tadi.


"Setidaknya kau mengisi perutmu dulu," ujar Alezo.


Neil menggeleng sambil melipat tangannya di dada.


"Tidak ada orang yang akan berselera makan jika berada di posisiku saat ini," sahut Neil.


Alezo diam beberapa detik setelah mendengar kalimat Neil.


"Kalian berpacaran?" Tanya Alezo penasaran. Neil tak akan sefrustasi ini jika ia dan Najla hanya sekedar teman atau tetangga.


Neil menghela nafas, memikirkan jawaban untuk pertanyaan Alezo dan akhirnya menggeleng.


"Baru akan memulai, namun sudah berakhir,"


Alezo mengernyitkan dahi pertanda tak mengerti.


"It was my fault. Aku salah memahaminya sehingga keliru dalam melakukan sesuatu yang krusial," lanjut Neil dengan mata menerawang membayangkan kejadia saat ia membela Najla di rumah orangtuanya tempo hari.


"You love her?"


"Keadaanku sekarang sepertinya sudah menjawab pertanyaanmu," pungkas Neil.


'You love her,' batin Alezo. Ia meraih kaleng soda dan membukanya. Sebenarnya ia membutuhkan alkohol, namun tidak memungkinkan.


Melihat Neil yang frustasi dengan keadaan Najla membuat Alezo teringat akan Jemima. Ia sudah melihat konferensi pers Jemima dengan Magnolia yang mengatakan gadis itu akan hiatus. Sayangnya saat Alezo menghubungi Jemima tak ada jawaban. Jemima menghindarinya entah untuk alasan apa setelah Alezo mengira hubungan mereka telah kembali.


Bahkan kini nomor ponsel Jemima tak aktif. Alezo nekat menelepon Tita untuk menanyakan Jemima namun manager Jemima tersebut tidak bisa memberitahunya kemana Jemima. Satu-satunya yang Tita beri tahu adalah Jemima pergi ke luar negeri. Alezo tentu bukan cenayang yang bisa menebak ke negara mana Jemima akan pergi.


Berkali-kali Alezo menyanggah fakta bahwa Jemima telah meninggalkannya, dan kali ini sepertinya tak ada lagi harapan. Ia hanya bisa berharap Jemima segera kembali dan Alezo berjanji akan memperjuangkan gadis itu jika perlu hingga ia mati.


"Kau akan menungguinya malam ini?" Tanya Alezo setelah hening sejenak.


"Tidak. Managernya yang akan menjagannya di sini. But...aku merasa berat untuk pulang," jawab Neil sambil mengusap wajahnya gusar.


Alezo terenyuh. Ia pun akan melakukan hal sama jika menjadi Neil.


"Pulanglah ke rumahku karena lebih dekat dari sini. Lagipula percuma kau di sini jika tidak bisa menungguinya,"


"I can't..."


"Bro. I know it is hard for you. Kau pasti sangat khawatir. But...setidaknya jangan lakukan hal yang sia-sia,"


"Aku benci mengatakan ini tapi...kita dalam keadaan yang sama sekarang. Jemima menghindariku setelah ku kira hubungan kami kembali dan kini dia pergi ke luar negeri, entah di mana," ujar Alezo yang membuat Neil refleks mengangkat kepalanya yang tertunduk.


"Kau dan aku sama-sama frustasi memikirkan orang yang kita cintai, Neil. I know it's hard. Tapi kita harus tetap mengendalikan diri,"


Kini Alezo mengutuk dirinya sendiri munafik. Padahal ia rasanya hampir gila memikirkan Jemima yang entah berada di belahan dunia mana.


Alezo dan Neil kini sama-sama membisu, tenggelam dalam pikiran dan perasaan masing-masing yang terombang-ambing.


***