Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 31



POV : Neil


"Kerja bagus semuanya," ujar Neil setelah operasi selesai.


"Terimakasih atas kerja kerasnya, Dokter," sahut rekan-rekan dokter dan perawat yang membantunya.


Neil kemudian keluar ruang operasi dan membuka jubah beserta sarung tangannya yang terkena bercak darah. Ia pun mencuci bersih tangannya sebelum keluar dan bertemu dengan keluarga pasien.


"Bagaimana operasi istri saya, Dokter?" Tanya suami pasien begitu Neil muncul dari balik pintu.


Pria paruh baya itu menatap Neil penuh harap.


"Operasinya berjalan lancar. Tidak ada komplikasi. Sekarang istri Bapak sedang di ruang pemulihan dan setelah itu baru akan diantar ke ruang rawat inap," jelas Neil.


"Oh Tuhan, syukurlah. Terimakasih, Dokter," ucap pria tersebut penuh kelegaan sambil meraih kedua tangan Neil.


Neil tersenyum. Ia pun pamit dan kemudian berjalan menuju ruangannya untuk beristirahat. Neil menyempatkan berbalik ke belakang. Pria itu terlihat sedang sibuk menghubungi seseorang dengan ponselnya. Tidak ada yang aneh dari gelagatnya, namun siapa sangka pria itu tega membuang dan tidak mengakui anak kandungnya sendiri. Pria itu adalah ayah Najla.


Neil berjalan sambil mereka ulang cerita Najla saat mereka berada di sebuah club. Usai konser ia menemui Najla di belakang panggung bermodalkan undangan yang ia bawa. Tadinya ia akan datang bersama Maura, namun sang adik sedang bertugas jaga sehingga tidak bisa pergi. Neil yang tidak ingin mengecewakan Najla memutuskan untuk datang sendiri. Neil masih mengingat jelas bagaimana ekspresi wajah Najla saat melihatnya datang. Mata gadis itu berbinar seolah ia menemukan sesuatu yang berharga. Ah ya, itu adalah hal pertama baginya, didatangi seseorang yang bangga menonton penampilannya.


"Ternyata kau datang!" Seru Najla saat itu dengan tersenyum lebar.


"Of course. Aku datang untuk menonton temanku...tetanggaku," balas Neil.


Neil menyesal tidak membawa sesuatu untuk diberikan pada Najla seperti orang lain yang ternyata menyiapkan hadiah. Padahal itu dapat lebih membuat Najla bahagia malam itu.


Neil bahkan dikenalkan pada Farel, manager Najla. Pria kemayu itu memperhatikan Neil dari pangkal rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh selidik. Baru setelah Najla mengatakan ia adalah seorang dokter, barulah Farel bersikap ramah padanya.


"Farel memang protektif padaku. Dia penuh curiga dengan orang-orang baru. Tapi dia benar-benar menjagaku," jelas Najla.


Neil dengan setia menunggu Najla berganti pakaian setelah gadis itu mengiyakan ajakan Neil untuk pulang ke apartemen bersama. Toh mereka bahkan tinggal di lantai yang sama dengan unit yang berdekatan, sehingga mudah bagi Farel untuk mengizinkannya. Neil sekuat tenaga menjaga image dan menahan perasaannya yang bergejolak melihat para artis yang biasanya hanya ia liat di layar kaca atau sosial media. Matanya begerak mencari Jemima, namun ia tidak menemukan kekasih sahabatnya itu.


"Aku belum ingin pulang," ujar Najla saat mereka sudah berada di dalam mobil Neil.


"Apa kau tidak lelah?" Neil keheranan.


Najla menggeleng. Neil pun tak dapat menolak ketika Najla mengajaknya ke sebuah club privat yang biasa di hadiri oleh para artis atau siapapun yang memiliki banyak uang dan butuh privasi ketat.


Neil menebak Najla cukup sering ke sana karena ia terlihat akrab dengan beberapa bartender. Sebenarnya Neil bukanlah penikmat alkohol, dan tidak pernah dengan sengaja meminumnya sendirian. Neil hanya akan minum jika ada ajakan.


"Apa tidak masalah kau banyak minum?" Tanya Neil khawatir melihat Najla yang berkali-kali menuang ke gelas dan menenggaknya.


"Ah...besok aku tidak jadwal. Jadi aku bisa tidur nyenyak malam ini sampai besok," jawab Najla santai.


Neil mengangguk. Baiklah kalau begitu tidak masalah, pikir Neil. Ia pun menuruti Najla menuangkan lagi minuman gelasnya.


"Kau sendiri, aku kira dokter hanya minum air putih atau minuman kesehatan," cetus Najla yang membuat Neil tertawa.


"Seperti dewa, begitu?" Gurau Neil. "Aku hanya akan minum secukupnya karena aku akan mengoperasi ibumu besok,"


Usai Neil berkata demikian, raut wajah Najla berubah sendu. Tentu ia teringat akan ibunya. Apalagi Neil mendengar semua percakapan mereka saat di rumah sakit. Neil menyimpulkan Najla dan keluarganya menghadapi masalah yang sangat pelik. Dan disini Najla yang tersakiti karena Neil dengan jelas mendengar ia di usir oleh ayah dan kedua kakaknya.


"Hey, apa kau menangis?" Tanya Neil panik ketika melihat Najla yang tiba-tiba terisak.


Gadis itu tak menjawab. Ia justru menenggak kembali minumannya.


"Neil...kau dan orang-orang mungkin melihatku sebagai seorang bintang,"


"Yes you are," sahut Neil cepat. Memang kenyataannya Najla adalah seorang superstar.


Najla menghela nafas panjang. "Namun bagi keluargaku aku hanya seonggok sampah,"


Neil tercekat. Sungguh ia ingin segera mendesak Najla untuk menceritakan apa yang terjadi dengan keluarganya sehingga ia dianggap sebagai sampah. Teganya, umpat Neil dalam hati.


"Aku bodoh, Neil. Aku tidak pernah juara saat sekolah karena aku tidak pernah bisa mengerti dengan pelajaran seperti kakak-kakakku yang bahkan masuk kelas akselarasi," ujar  Najla dengan suara bergetar.


Neil mendengarkan dengan seksama cerita Najla. Ia mendekatkan posisi duduk mereka, bersiap jika tangis Najla pecah sehingga ia dapat segera menenangkannya. Beruntung Najla memilih tempat room VVIP sehingga tidak akan ada yang mendistraksi.


"Aku suka menari, Neil. Aku selalu juara saat kompetisi menari. Aku bahkan mewakili sekolahku ke tingkat nasional. Tapi...tapi orangtuaku tidak menganggap itu berarti karena nilai pelajaranku selalu buruk,"


"Aku di cap bodoh, memalukan dan melawan orangtua...sampai akhirnya aku tidak tahan dan pergi dari rumah.


Neil meraih tisu lalu memberikan pada Najla yang sudah tak dapat membendung air matanya. Ia pun tak kuasa melarang ketika gadis itu menuangkan lagi minuman ke gelasnya entah untuk ke berapa kali. Setidaknya ia membiar Najla melakukan apapun yang dia inginkan.


"Sejak saat itu aku tidak lagi dianggap anak oleh mereka. Kakak-kakakku tidak satupun berpihak padaku. Bahkan ketika aku sudah di posisi saat ini, mereka tetap tidak mau menerimaku..."


Dada Neil terasa sesak mendengar cerita keluarga Najla. Ia mengalihkan pandangan untuk meredakan debur jantungnya yang berdetak tak karuan. Bagaimana keluarnya bisa sekejam itu pada Najla hanya karena ia tidak pintar saat sekolah? Bahkan itu tak terbayar walaupun Najla berprestasi dalam bidang lain. Orangtua macam apa yang tega melepaskan anak mereka sendiri? Beribu pertanyaan bersarang di otak Neil menanti untuk ia lontarkan.


"Aku tidak punya siapa-siapa, Neil. Aku sendiri di dunia ini,"


Neil refleks memeluk Najla karena tangis gadis itu pecah. Ia membawa Najla ke pelukannya berusaha memberikan ketenangan walau tak mampu menyelesaikan masalahnya. Neil sendiri merasakan tubuhnya menegang membayangkan betapa kesulitannya Najla saat ia terus di hina oleh orangtuanya sendiri. Sama menyakitkankannya dengan Neil yang harus bertahan hidup saat kedua orangtuanya meninggal. Sungguh kehidupan masa kecil tanpa kasih sayang rangtua benar-benar berat adanya.


"Neil...terimakasih sudah menjadi temanku," ujar Najla masih dalam pelukannya.


Neil menepuk punggung Najla lembut. Ia berusaha mengendalikan pikirannya yang terbuai dengan aroma menenangkan parfum Najla, sehingga membuatnya sedikit enggan melepaskan pelukannya.


Najla kemudian menarik tubuhnya sehingga pelukan mereka terlepas dan menyisakan sedikit kekecewaan bagi Neil.


"Ya, tanpa sadar kau sudah minum banyak sekali," tukas Neil sambil menunjuk dua botol minuman yang hampir habis.


Najla tertawa. "Apa aku yang menghabiskannya? Oh Tuhan...aku akan tertidur sampai besok siang,"


Mereka lalu pulang setelah hari menunjukkan pukul dua belas malam. Apalagi Neil harus mengoperasi besok sehingga ia harus tidur cukup.


"Berjanjilah kau akan mengabariku setelah operasi ibuku selesai," ucap Najla saat mereka di dalam perjalanan.


Neil mengangguk. Ia terus memacu mobilnya agar segera tiba. Untungnya jalanan sepi sehingga dapat memangkas waktu. Neil menoleh ke arah Najla yang ternyata sudah tertidur. Ia pun lalu menekan tombol kursi untuk merebahkannya agar posisi Najla lebih nyaman. Neil tidak menyangka di balik sosok Najla yang begitu enerjik dan ceria di setiap penampilannya sebagai seorang bintang ternyata menyimpan luka yang begitu dalam. Gadis itu sekuat tenaga enutupi kerapuhannya, namun Neil yakin selalu ada masa di mana Najla merasa terpuruk dan rindu kepada orangtuanya.


Neil tidak punya pilihan selain menggendong Najla di punggung dan membawanya  ke unitnya karena gadis itu tak kunjung bangun meski Neil berkali-kali membangunkannya. Ia merebahkan tubuh Najla ke kasur kamar tidurnya, sementara ia tidur di sofa. Hingga tadi pagi Neil berangkat ke rumah sakit, Najla masih belum terbangun. Neil bahkan memerika nadinya memastikan gadis itu masih bernyawa karena ia benar-benar tertidur seperti orang mati.


***


Neil meraih jas snelinya dan segera keluar dari ruang praktek begitu pasien terakhir keluar. Ia kemudian menghampiri nurse station sebelum menuju ruang rawat inap. Kali ini akan melakukan visit pada pasien Widy, ibu Najla yang ia operasi tadi pagi.


"Siapa yang akan visit bersama saya?" Tanya Neil pada para suster


"Saya, Dok," sahut Mira, sang suster yang bertugas.


Neil lalu memberi kode untuk segera mengikutinya. Mira pun bergegas mengikuti Neil yang selalu berjala cepat seolah selalu berpacu dengan waktu.


"Selamat Sore," sapa Neil setelah masuk ke ruangan.


Langkah Neil seketika terhenti ketika mendapati Zura sedang berada di ruangan bersama Sabri, ayah Najla.


"Sore, Dokter..." sahut Sabri ramah.


Sementara Zura hanya diam menatap Neil yang mendekati ranjang Widy. Neil menghindari tatapan Zura meski ia pun penasaran kenapa gadis itu ada di sini.


"Kondisi pasien dalam keadaan stabil dan tanda vitalnya aman. Tidak ada reaksi yang mengkhawatirkan pasca operasi. Pasien akan berada di sini sampai pemulihannya benar-benar stabil sampai bisa dinyatakan untuk rawat jalan," jelas Neil setelah memeriksa Widy yang terbaring.


"Terimakasih sudah melakukan yang terbaik untuk tante saya, Dokter," ucap Zura tiba-tiba, seolah ingin menjelaskan pada Neil alasannya berada di sana.


Tantenya? Berarti Zura adalah sepupu Najla? Sungguh dunia benar-benar sempit!


"Ah, ya tentu. Sudah kewajiban saya," balas Neil kikuk.


Ia pun lalu berpamitan setelah merasa cukup memberikan penjelasan.


Neil baru saja berjalan beberapa langkah ketika ia mendengar Zura memanggilnya.


"Dokter Neil..." panggil Zura.


Neil memberi isyarat pada suster Mira untuk pergi duluan.


"Ya, ada apa?" Tanya Neil setenang mungkin.


Zura menghela nafas. "Sebuah kebetulan sekali kau menangani tanteku," ujar Zura tersenyum.


Neil mengangguk, bingung ingin merespon seperti apa. "Ya,"


"Neil...apa kau ada waktu kali ini?" Tanya Zura yang lagi-lagi berusaha ingin berbicara dengan Neil.


"Tidak. Aku ada janji," tegas Neil. Ia lalu berbalik dan berlalu, mengabaikan Zura yang menatap nanar punggungnya.


Sungguh Neil pun berperang dengan perasaannya sendiri. Bertemu dengan cinta lama yang dulu meninggalkannya tidak pernah mudah. Meski mulutnya menolak namun selalu ada sisi hati yang menjerit.


***


Neil tiba di apartemen dan tiba-tiba tersentak melihat Alezo berdiri di depan unitnya. Ia lalu bergegas mendekat dan lagi-laginia terkesiap karena ternyata Najla masih berada di unitnya dan sedang membuka pintu untuk Alezo yang baru tiba.


Neil tak berkutik ketika Alezo menoleh ke arahnya memandang dengan tatapan penuh tanya. Sementara Najla sama terkejutnya di ambang pintu dengan wajah bingung.


"Hah!!" Seru Neil lalu mendorong Alezo masuk ke dalam unitnya.


Neil lalu berbalik setelah engunci pintu, berbalik menghadap Alezo dan Najla yang kebingungan.


"Well. Kau tau aku dan Najla bertetangga," jelas Neil pada Alezo.


"Ow...ya. Tapi ini terlihat  kalau....ehm...kalian tinggal bersama," goda Alezo dengan senyum jahilnya.


"Aw!" Alezo tiba-tiba berteriak karena lengannya di pukul oleh Najla.


"Aku hanya menginap kareka aku ketiduran setelah minum. Lagipula Neil pagi-pagi sudah pergi. Jadi sejatinya aku sendirian di sini,"


Neil seketika menunjuk Najla dan menggangguk. "Benar-benar...ya seperti itu,"


"Kalian...minum bersama?" Tanya Alezo lagi sambil menunjuk Neil dan Najla bergantian.


"Well. Aku siap mendengarkan cerita kalian," ujar Alezo sambil duduk di sofa dan merentangkan tangannya.


Sementara Neil dan Najla saling pandang, berpikir keras bagaimana menjelaskannya pada Alezo yang tersenyum penuh kemenangan.


***