Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 69



Alezo menggelengkan kepala melihat Jemima yang dengan lahap memakan mie instan pedas. Ia keheranan kekasihnya itu tampak baik-baik saja tanpa ekspresi kepedasan. Sementara ia sendiri  menyerah karena tidak kuat dan sudah menghabiskan satu botol air mineral dingin.


"Mima...wajahmu memerah," ucap Alezo ketika menyadari rona merah di pipi Jemima.


"Benarkah?" Tanya Jemima namun tetap tak berhenti menyeruput mie-nya.


"Ya...merah sekali. Apa kau tidak masalah makan sepedas ini?"


Jemima menggeleng. "Aku selalu baik-baik saja makan makanan pedas,"


Alezo mengerjapkan mata. Takjub dengan selera pedas Jemima.


"Oh my God..." cetus Alezo saat Jemima mengangkat mangkoknya lalu meminum habis kuah mie instannya.


"Ah...nikmat sekali!" Seru Jemima sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


Alezo lalu menyodorkan air mineral pada Jemima untuk gadis itu minum karena ia khawatir melihat bibir Jemima yang memerah dan sedikit terlihat bengkak.


"Kenapa?" Tanya Jemima saat melihat Alezo tertawa kecil.


"Kau menggemaskan," jawab Alezo sambil mencubit kedua pipi Jemima.


Jemima memanyunkan bibirnya lalu menenggak air mineral yang diberikan Alezo.


"Astaga perutku buncit!" Seru Jemima sambil mengelus perutnya.


Alezo bergeser melihat perut Jemima lalu berniat mengusapnya, namun tangannya seketika ditepis oleh Jemima.


"What? Apa aku tidak boleh menyentuhnya?"


Jemima menggeleng "No. Don't touch my cutie belly,"


"But...I even kissed it..." goda Alezo yang sontak membuat Jemima memukul lengannya bertubi-tubi.


"Don't say that!"


"You want that?"


"Alezo! Oh my God I'll kill you!"


Alezo beranjak dari kursinya menghindari pukulan Jemima. Tenti Jemima tak tinggal diam dan mengejar Alezo. Mereka berlarian di dapur rumah Alezo hingga tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan Albar yang terpaku melihat kakaknya berkejaran dengan Jemima.


"Apa kalian sedang bermain kucing-kucingan?" Tanya Albar. "Apa aku boleh bergabung?"


"Oh...hai Albar," sapa Jemima kikuk.


"Bukankah kau sedang ke luar kota?" Tanya Alezo yang berusaha stay cool walaupun sebenarnya ia malu.


Albar menghela nafas, lalu berjalan menuju meja makan.


"Klienku mendadak sakit dan di rawat, jadi jadwal pertemuannya diundur," jawab Albar.


"Whaaaat?!! Apa ini? Apa kalian memakan mie instan?" Seru Albar saat melihat dua mangkok bekas Jemima dan Alezo di meja.


"Ya..." jawab Jemima ragu.


"Apakah masih ada? Aku mau!"


"Baiklah akan kubuatkan untukmu," tukas Jemima.


"Thankyou, Nuna!"


Alezo sontak mendelik ke arah Albar yang tersenyum senang.


"Kau memanggilnya Nuna sementara kalian seumuran? Bahkan kau hanya memanggil namaku. Dasar," omel Alezo


Albar menjulurkan lidahnya meledek Alezo, sementara Jemima tersenyum sambil menyiapkan mie instan untuk Albar.


"Ini, silahkan dinikmati," ucap Jemima sambil meletakkan mangkok mie instan ke hadapan Albar.


"Woaah...astaga aromanya enak sekali. Nuna, you're the best," ujar Albar sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Berhentilah memanggilku nuna. Aku merasa tua," ucap Jemima.


Albar menggeleng. "You're my nuna now,"


Alezo lalu memandang Albar. Sepertinya adiknya itu benar-benar menerima Jemima sebagai kakak iparnya. Alezo seketika merasa bahagia karena keluarganya menerima kehadiran Jemima dengan suka cita. Artinya Jemima akan turut merasakan kasih sayang keluarga yang utuh saat mereka hidup bersama kelak. Kebahagiaan Jemima adalah satu-satunya tujuan hidup Alezo saat ini.


Tanpa sadar Alezo tersenyum menyaksikan interaksi Jemima dan Albar yang begitu hangat. Albar tak ragu bercerita pada Jemima tentang kekasihnya, dan Jemima tampak antusias mendengarkan. Derai tawa mereka pun pecah saat menceritakan hal lucu. Sungguh tak ada yang bisa menggantikan rasa senang Alezo saat ini.


***


"So, kau sudah siap untuk kembali?" Tanya Mahen ketika Jemima mengatakan ia berniat untuk mengakhiri istirahatnya.


Mahen tertawa mendengar ucapan Jemima. Ia kira Jemima setidaknya beristirahat selama enam bulan, atau paling lama satu tahun. Ternyata jauh lebih singkat.


"Well. Aku sangat senang tentunya kau akan kembali. Asal kau tahu aku kewalahan menerima tawaran proyek untukmu,"


Jemima tersenyum. Iya senang membayangkan akan kembali bekerja, entah itu di panggung maupun berakting. Rasanya ia memiliki energi besar yang harus segera dilampiaskan.


"I'm ready for everything now," tukas Jemima bersemangat.


Mahen mengangguk. "But first of all...proyek pertama yang akan kau kerjakan berasal dariku,"


Jemima mengernyitkan dahi, menunggu kelanjutan ucapan Mahen.


"Aku mempersiapkan lagu duet untukmu dan...Najla,"


"What? Aku dan Najla akan duet? Oh my God!" Seru Jemima senang.


"Ya. I know kau terpukul Najla lupa akan persahabatan kalian, sementara aku tahu betul bagaimana kisah kalian berdua. So, yeah. Duet bersama mungkin akan membantu kalian semakin dekat," jelas Mahen.


Jemima mengangguk cepat. "Benar. Ah, Mahen. Bagaimana kau bisa memikirkannya. Aku tidak sabar. Kapan kita akan mulai?"


"Segera. Karena aku berencana merilisnya bertepatan pada anniversary Magnolia,"


'Artinya bulan depan,' batin Jemima. Ia tersenyum senang tak sabar ingin segera berduet dengan Najla sang sahabat. Meski ia tahu pasti ujung-ujungnya adalah untuk keuntungan Magnolia, tetapi ia merasa beruntung karena Mahen memberinya kesempatan untuk berkarya bersama Najla. Dulu mereka pernah memimpikannya, tak disangka ternyata akan segera menjadi nyata. Meski sudah pasti Najla takkan ingat momen saat mereka berdua membicarakannya.


"I'm so excited. Thankyou Mahen. You're the best," tukas Najla.


Setelah bertemu Mahen, Jemima kemudian memutuskan untuk pulang. Alezo menawarkan untuk menjemput namun Jemima memilih untuk pulang sendirian karena tak ingin merepotkan Alezo yang baru saja selesai script reading film terbarunya.


Jemima baru saja melangkahkan kaki keluar saat ia terperanjat karena ada banyak wartawan yang menunggu kedatanganya. Mereka seketika mendekat begitu Jemima keluar, namun security dengan sigap menghalangi dan melindunginya. 'Bagaimana mereka tau aku berada di sini,' batin Jemima.


"Jemima apa kau segera comeback?"


"Kenapa kau memutuskan untuk comeback begitu cepat?"


"Apa kau akan merilis album atau bermain film?"


"Kenapa kau belum terlihat go public bersama Alezo?"


Pertanyaan yang bertubi-tubi hanya dibalas senyuman oleh Jemima sambil terus berjalan menuju mobilnya. Beruntung Pak Karsa, supir baru yang dipekerjakan Alezo untuknya sudah siap menunggu tak jauh dari tempatnya saat ini.


"Jemima please. Say something for us,"


Jemima yang sudah masuk ke mobil kemudian membuka jendela, tak tega pada wartawan yang mungkin saja lelah karena menunggunya.


"Akan ada kejutan dariku. Mohon dukungan kalian semua. I'll do my best. Thankyou,"


Usai berkata demikian Jemima melambaikan tangan dan perlahan mobilnya bergerak meninggalkan halaman Magnolia dan wartawan yang bersuka cita karena mendapat jawaban darinya.


***


Neil tanpa sadar ersenyum melihat foto yang baru diunggah oleh Najla di instagram. Entah kenapa ia merasa lega melihat foto Najla bersama Jemima yang tersenyum riang. Ia bersyukur Najla kembali terlihat gembira setelah selalu terlihat murung. Najla memang berniat untuk memulai semua hubungannya dengan seseorang yang dekat dengannya dari awal, termasuk dengan Neil.


Neil buru-buru meletakkan ponsel ke atas meja saat mendengar pintu ruanganny diketuk.


"Masuk," ucap Neil.


Sepersekian detik kemudian Friska sang sekretaris masuk dengan membawa beberapa dokumen.


"Ini berkas laporan dari departemen keuangan dan IGD untuk Anda periksa, Pak," ujar Friska.


Biasanya sang sekretaris dengan percaya diri menghadapnya dan selalu dengan senyum manis. Namun kini Friska terlihat kaku dan menjaga jarak sejak pertemuannya dengan Najla beberapa waktu lalu di apartemennya. Sekretarisnya itu tetap bekerja dengan baik namun lebih irit bicara. Neil memilih tak membahasnya karena khawatir merusak hubungan profesional yang sudah berjalan. Meski sebenarnya Neil bertanya-tanya, jadi selama ini Friska menyukainya dan berniat lain saat ia datang ke apartemen?


"Oh, ya. Thanyou, Friska," tukas Neil.


Friska kemudian membungkukkan badannya sebelum berbalik untuk keluar ruangan. Namun beberapa langkah kemudian ia kembali menghadap Neil.


"Saya minta maaf atas kekeliruan saya mendatangi apartemen Anda sehingga mungkin membuat kekasih Anda tidak nyaman,"


Neil terhenyak mendengar ucapan Friska. Baru saja ia berpikir tak akan membahasnya, ternyata Friska yang lebih dulu membuka suara.


"Ah, ya. No problem. Dia mengerti," jawab Neil berdusta.


"Saya tidak menyangka Najla Sabitha adalah kekasih Anda. Saya...saya adalah penggemarnya. Rasanya seperti membeku saat bertemu langsung dengannya," lanjut Friska.


Neil memilih tersenyum mendengar kalimat Friska karena ia bingung harus menjawab apa.


Usai berkata demikian Friska lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan.


Sepeninggal Friska, Neil melanjutkan pekerjaannya. Ia berniat untuk pulang cepat hari ini karena Najla berjanji memasak untuk makan malam mereka. Baru membayangkannya saja Neil sudah tersenyum tersipu, tak sabar untuk segera petang.