
Alezo terbangun saat matahari pagi yang menembus jendela menerpa wajahnya. Ia membuka mata dan mendapati Jemima yang terlelap di pelukannya. Lengannnya menjadi bantal bagi Jemima dan tangan gadis itu melingkari di pinggangnya. Alezo tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Jemima. Beruntung Jemima tak terbangun karenanya.
Alezo kembali terbayang cumbuan mereka semalam. Ia dan Jemima sama-sama tak bisa menahan diri hingga hal itu terjadi. Mereka saling meneriakkan nama masing-masing lalu mengulangnya lagi dan lagi hingga akhirnya Alezo mengalah karena Jemima sudah sangat kelelahan dengan kenikmatan yang mereka reguk bersama.
Jemima tiba-tiba menggeliat pertanda ia sudah terjaga.
"Hey...kau sudah bangun?" Ucap Alezo sambil mengelus lengah Jemima.
"Hmm..." jawab Jemima. "It still hurt..." keluhnya sambil mendongkakkan kepala memandang Alezo.
Alezo mengerti. Jemima tentu masih merasakan sakit karena pertama kali melakukannya.
"I'm sorry. Harusnya aku melakukannya lebih pelan," tukas Alezo lalu mengecup cepat bibir Jemima.
Jemima tersipu. Ia kembali menyurukkan wajahnya di dada Alezo. Sepertinya ia pun kembali terbayang pergumulan mereka.
Sentuhan kulit mereka menggoda Alezo untuk kembali menyatukan tubuhnya dengan Jemima. Bagaimanapun ia adalah pria dewasa yang tak akan bisa menahan diri dengan posisi tak berbusana dengan seorang gadis, apalagi yang ia cintai. Dengan cepat ia membalikkan tubuh Jemima hingga kini berada di atas tubuh gadis itu.
"Again?" Tanya Jemima.
"May I?" Alezo balik bertanya. Ia tetap membutuhkan izin Jemima.
Jemima tak menjawab. Namun pipinya memerah pertanda hasratnya pun mulai terasa.
"Do it slowly..."
Alezo tersenyum. Tubuh mereka pun kembali menyatu.
***
Jemima mendatangi kantor polisi dengan kawalan empat bodyguard bersenjata. Wartawan yang sudah menunggunya serta merta berbondong mengampirinya. Jemima yang didampingi Tita dan Mahen terus berjalan tanpa sepatah kata pun dan memilih bersuara saat konferensi pers.
Tak lama berselang Alezo pun tiba dengan didampingi sang manager Tara, CEO Hexagon, agensinya dan dua orang bodyguard. Tentu saja ia pun tak luput dari kejaran media yang mengharap beberapa kalimat darinya. Seperti Jemima, ia memilih bungkam.
Mata Jemima dan Alezo tak sengaja bertemu saat mereka sedang menunggu untuk diperiksa sebagai saksi. Jemima yang mengenakan kacamata hitam sepersekian detik langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia harus fokus dengan pemeriksaan yang sepertinya membutuhkan waktu lama.
Jemima diperiksa terpisah dengan Alezo. Ia menarik nafas panjang sebelum memberikan keterangan pada polisi yang memeriksanya. Sejujurnya ia masih menyimpan trauma, namun ia harus menguatkan diri agar para penjahat dan orang-orang dibaliknya dapat dihukum dengan kurungan penjara. Usai memberikan keterangan, Jemima kemudian bersiap untuk konferensi pers, dimana Kalina dan para tersangka lainnya juga akan ditampilkan.
Jemima sudah duduk di kursinya bersebelaham dengan Alezo dan kepala humas kepolisian yang akan memimpin konferensi pers. Para wartawan yang berada di hadapan mereka bagaikan serdadu yang mengangkat kamera sebagai senjata.
Jantung Jemima berdebar kencang ketika Kalina muncul dengan digiring oleh polisi mengenakan pakaian narapidana. Dada Jemima terasa sesak menahan amarah yang rasanya sudah memuncak. Sungguh jika tak menggunakan akal sehatnya Jemima ingin sekali memaki dan menjambak wanita itu hingga ia berteriak minta ampun. Sungguh tidak ada perasaan iba sama sekali di hati Jemima ketika Kalina tertunduk lesu berdiri di belakangnya bersama dengan dua penculiknya dan beberapa orang lain yang terlibat, termasuk Pak Dudi supirnya. Hati Jemima teriris menatap Pak Dudi yang terlihat begitu menyesal dari sorot matanya sata mata mereka bertemu. Kenapa orang yang percayai bahkan Jemima memperlakukannya dengan sangat baik justru tega melakukan hal buruk. Jemima kemudian beralih memandang Kalina yang perlahan mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Jemima dengan tatapan tak berdaya. Kemana perginya Kalina yang angkuh dan selalu merasa paling berkuasa?
Jemima tidak menyadari ekspresi murkanya memandang Kalina tergambar jelas dan diabadikan oleh kamera wartawan. Sang diva yang biasanya tersenyum manis kini berubah bagaikan seorang ratu berhati dingin yang siap mengeluarkan kekuatannya. Jemima bahkan tak sedikitpun menoleh ke arah Alezo yang sejak tadi beberapa kali melihat ke arahnya.
"Are you ok?" Tanya Alezo yang peka dengan gestur tak nyaman Jemima.
Jemima hanya mengangguk kecil menjawab pertanyaan Alezo. Ia lalu kembali mendengarkan penjelasan polisi yang membeberkan kronologi kejadian dan barang bukti yang ditemukan. Jemima menggelengkan kepala ketika mendengar Kalina diberi uang sebesar satu milyar dan emas batangan untuk menyerahkannya. Tentu saja wanita itu tidak menolak, seru Jemima dalam hati. Ia lalu berbalik dan memandang pria bertubuh besar yamg berdiri di samping Kalina ketika polisi menyebutkan bahwa ia adalah orang bayaran Menteri Wilayah Perbatasan untuk melakukan berbagai tindakan ekstrim, termasuk menculik Jemima untuk pengalihan isu korupsi. Manusia-manusia brengsek, umpat Jemima dalam hati.
Jemima kemudian meraih mikrofon setelah ia dipersilahlan untuk berbicara terkait kasus yang menimpanya itu.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ketika orang-orang di belakangku ini merencanakan penculikanku. Dan ketika mereka berhasil membawaku, pasti mereka berpesta pora setelahnya,"
"Sayangnya rencana yang mereka kita berjalan lancar harus berantakan karena keputusan bodoh mereka sendiri dengan turut membawa Alezo. Kami berdua berhasil melarikan diri dan mengetahui tentang skema penculikanku adalah sebuah rencana politik dari mulut salah satu dari mereka,"
Jemima menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Tapi yang paling menyakitkan tentu fakta bahwa Kalina, CEO yang ku hormati ternyata berkomplot dengan mereka. I know she hates me. Dia sudah membatalkan pekerjaanku di luar negeri, memaksaku menunda album, dan mencecarku dengan atas skandal yang beredar. Aku berusaha tidak mempermasalahkannya. Namun kali ini keterlaluan. Yang dia lakukan adalah krimimal. Aku tidak berpikir untuk memaafkannya saat ini atau suatu hari. Aku menyerahkan semuanya pada kepolisian, aku yakin ada hukuman maksimal untuk mereka," tutup Jemima.
Ia tak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan wartawan yang masih penasaran. Jemima memilih mematung dan mendengarkan Alezo yang kali ini berbicara.
"Ini akan terdengar aneh but I have to say it. Mereka membawaku karena terpaksa dan terdesak karena aku berada di tempat yang sama dengan Jemima. Tapi aku justru merasa itu lebih baik daripada mereka hanya membawa Jemima. Kita tidak tahu hal buruk apa yang akan menimpa Jemima jika ia sendiri saat itu,"
Jemima terpaku mendengar ucapan Alezo. Dalam hati ia pun merasa bahwa Alezo adalah penyelamatnya. Jika sendirian ia tak mungkin mampu mengungkap dalang dan motif penculikannya.
Jemima beranjak dari kursinya setelah konferensi pers selesai. Ia langsung disambut oleh Tita yang sudah siap dengan air mineral untuk Jemima. Tanpa mempedulikan wartawan yang masih mengejar dan mencecarnya dengan pertanyaan, Jemima melenggang menuju mobilnya yang sudah menunggu. Bodyguard bertubuh tinggi besar yang mengawalnya dengan sigap melindungi Jemima yang diam seribu bahasa. Sesaat sebelum masuk ke mobil, Jemima menoleh ke arah Alezo yang bertepatan sedang melihat ke arahnya. Jemima tahu bahwa Alezo pasti bertanya-tanya kenapa ia menghindar darinya, padahal mereka baru saja menjalin keintiman lagi setelah sebelumnya hubungan mereka berakhir karena tergambar jelas dari sorot mata Alezo yang kebingungan. Sejurus kemudian Jemima masuk ke dalam mobil, meninggalkan kerumuman media yang masih memanggil-manggil namanya.
***
Alezo membisu dalam perjalanan pulang dari kantor polisi. Ia memilih memasang airpod di kedua telinga dan melempar pandangan ke jendela mobil. Tara yang mengerti dengan sikap diam Alezo turut bungkam karena tak ingin mengganggu pria itu.
Perasaan Alezo berkecamuk memikirkan sikap Jemima yang terkesan menghindarinya. Gadis itu bahkan tak menyapa, apalagi berbicara dengannya seolah mereka adalah orang asing. Padahal saat Alezo pulang dari apartemennya, Jemima memeluk Alezo erat seolah tak rela ditinggal. Ia bahkan pasrah ketika Jemima mencumbu bibirnya lama sebelum ia membuka pintu untuk keluar. Bahkan ciuman Jemima membuat Alezo kewalahan karena gadis itu mendorongnya ke dinding lalu melingkarkan tangannya di leher Alezo. Lalu setelah semua keintiman yang mereka lakukan kenapa sikap Jemima berubah dingin?
Alezo masih mencoba berpikir positif bahwa Jemima bersikap demikian karena ada banyak kamera wartawan yang menyorotinya. Ia berharap hubungannya dengan Jemima memang telah kembali seperti sedia kala. Masalah kedua orangtua mereka di masa lalu biarlah menjadi history, dan Alezo siap menggantikan kesedihan Jemima menjadi kebahagiaan yang mungkin bahkan tak pernah terpikirkan oleh gadis itu. Jika perlu Alezo akan memberikan seluruh dunia bagi Jemima.
Alezo tiba di rumah dan langsung disambut oleh kedua orangtuanya. Kamila sang ibu menangis tersedu-sedu memeluk Alezo setelah mengetahui bahwa anak pertamanya yang ia kira ke luar kota ternyata menjadi korban penculikan. Apalagi memar di wajah Alezo yang masih terlihat jelas semakin membuat hati Kamila mencelos.
"Alezo...mama tidak bisa membayangkan apa yang mereka lalukan hingga wajahmu seperti ini," isak Kamila sambil mengelus wajah Alezo.
"I'm fine, Mom. Hanya memar biasa dan akan hilang. Sudah tidak sakit sama sekali," ujar Alezo menenangkan Kamila.
"Kau harus di ronsen. Apa mereka juga memukulimu? Mama khawatir ada sesuatu yang terjadi di dalam tubuhmu,"
Alezo menggeleng. Kamila yang seorang mantan dokter spesialis penyakit dalam tentu khawatir. Tapi Alezo yakin tubuhnya tidak ada masalah berarti sehingga tidak membutuhkan pemeriksaan dokter.
"Bagaimana keadaan Jemima?" Tanya Romel setelah mereka duduk di sofa.
"Dia sedikit trauma. Namun dia terlihat baik dan tidak ada luka," jawab Alezo.
"Lalu...bagaimana hubungan kalian?" Tanya Kamila hati-hati.
Alezo menghela nafas. "Aku tidak ingin membicarakannya," tukas Alezo.
Ia pun beranjak dan berlalu meninggalkan orangtuanya itu dan masuk ke kamar. Pikiran dan perasaannya tidak tenang. Otaknya terus memikirkan Jemima dan hatinya tak berhenti ingin bertemu dengan gadis itu.
"Jemima...you make me crazy," gumam Alezo.
***