Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 15



POV : Jemima


Suasana kantor Magnolia yang biasanya penuh hiruk pikuk kali ini terasa suram. Padahal saat ini tengah ramai karena semua artisnya berkumpul. Meski saling menyapa namun tak ada wajah ceria. Semuanya tengah berduka karena kepergian Ibra, CEO mereka. Para artis dan staff Magnolia bersama-sama beradan di ballroom untuk mengenang Ibra serta berdoa untuknya.


Jemima tiba tepat sebelum acara di mulai. Ia langsung menuju tempat duduk yang sudah disiapkan Najla untuknya. Mereka lalu duduk berderetan dengan Brie dan juga Calla. Mata mereka sama-sama sembab karena tangisan kehilangan.


"Aku masih belum percaya Ibra sudah tidak ada," ucap Najla pelan pada teman-temannya.


"Begitu mendadak..." timpal Brie menghela nafas.


"Aku merasa bersalah sering mengumpatnya dalam hati karena ia begitu keras padaku. Padahal dia melakukan itu untuk mendidikku agar lebih baik," sahut Calla gusar.


Jemima menarik nafas dalam. Semalam ia tidak bisa tidur setelah di antar pulang oleh Alezo. Ia masih teringat akan percakapan terakhirnya dengan Ibra dan itu sungguh mengusik perasaannya. Apalagi ia pun sempat kesal karena merasa Ibra yang begitu protektif padanya. Padahal Ibra memiliki alasan yang begitu menyentuh dan sebenarnya Jemima yakin pasti ia pun tersiksa dengan perasaannya. Harusnya Jemima meminta maaf namun sayangnya Ibra pergi lebih cepat.


"Hey, are you OK?" Tanya Najla yang khawatir melihat Jemima mematung dengan tatapan mata kosong.


Jemima tersentak. "Ah...aku...hanya masih bersedih," ucapnya tergagap. Ia tidak mungkin bercerita pada teman-temannya.


Suasana kemudian hening ketika para direksi Magnolia masuk. Mereka lalu berdiri di depan menghadap para artis dan staff dengan wajah murung.


"Kepergian Ibra adalah duka bagi kita semua. Beliau mendirikan Magnolia dengan cucuran keringat, air mata bahkan darah sehingga menjadikan Magnolia sebagai rumah yang begitu megah bagi peraih mimpi sebagai bintang. Aku ingin kita terus mendoakannya dan aku berjanji akan terus menjaga Magnolia," ucap Mahen, direktur umum Magnolia terbata-bata.


Mahen adalah orang nomor dua di Magnolia. Berbeda dengan Ibra yang dingin, Mahen lebih membaur dengan para artis, bahkan seperti teman. Ia tidak memandang para artis sekedar karyawan yang bekerja di agensi, namun menganggap mereka rekan kerja yang sama-sama mencari nafkah di Magnolia.


"Sepertinya dia akan menduduki kursi CEO;" tebak Najla yang diamini teman-temannya.


"Dan untuk posisi CEO yang Ibra tinggalkan, akan diteruskan oleh Kalina," lanjut Mahen sambil menoleh pada sosok wanita yang berdiri di sebelahnya.


Seketika terdengar gemuruh dari para artis dan staff karena tidak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Kalina Roseline sang direktur keuangan akan menjadi CEO? Seketika semuanya memikirkan nasib masing-masing jika Kalina yang terkenal kaku dan stritch memimpin mereka.


"What? Kenapa harus dia?"


Samar-samar Jemima dapat mendengar pertanyaan frustasi di sekelilingnya. Ia pun sama paniknya. Sudah menjadi rahasia umum Kalina tidak pernah ramah kepada para artis dan staff. Ia benar-benar mendewakan peraturan dan tidak segan menegur siapapun yang melanggar.


"Ehm," Kalina berdeham dan seketika suasana langsung senyap.


Semua mata tertuju pada Kalina yang telah siap-siap untuk memulai pidatonya.


"Aku akan meneruskan perjuangan Ibra untuk Magnolia. I'll do my best untuk menjaga nama baik Magnolia. Dan aku harap kalian dapat bekerja sama," ucap Kalina dingin yang lebih terdengar seperti peringatan.


Tidak ada yang berani bersuara. Semuanya memilih tutup mulut tidak merespon Kalina. Dari sorot wanita berusia empat puluh tahun itu mereka dapat membaca bagaimana ia akan menjalankan Magnolia. Kalina selalu bereaksi setiap ada berita skandal sekecil apapun walaupun Ibra saat itu santai saja. Apalagi kini ia menjabat sebagai CEO. Dengan kuasa yang ia punya sudah terbayang apa yang ia lakukan jika ada berita skandal.


"Oh Gosh. Kontrakku masih empat tahun lagi," celetuk seseorang di belakang Jemima dan teman-temannya yang membuat mereka berbalik menoleh.


"Eh, hai kakak-kakak," sapa Zayn aktor muda yang saat ini sedang naik daun itu cengegesan. Ia tidak menyangka celetukannya terdengar oleh para seniornya di Magnolia.


"Jangan sok imut," sentak Najla dengan mata melotot.


Ia tidak terima dipanggil kakak oleh Zayn yang notabenenya seumuran dengan mereka. Hanya saja Zayn baru masuk Magnolia dua tahun setelah mereka.


"Hey, kalian semua belum mengikuti balik instagramku. Tega sekali!" Cetus Zayn sambil menunjuk mereka berempat.


"Aku tidak tahan membaca komentar penggemar yang memujamu seolah kau adalah dewa," ketus Calla.


"They love me," balas Zayn menunjuk dadanya yang membuat ia mendapat dengusan kesal.


Jemima tersenyum. Zayn yang sedang digandrungi para wanita karena imagenya yang cool dan memiliki boyfriend material aslinya usil dan petakilan. Hanya anak-anak Magnolia yang melihat sisi itu karena Zayn benar-benar menjaga imagenya di depan umum dan kamera.


Jemima menarik nafas panjang ketika Mahen dan Kalina keluar ruangan meninggalkan para artis dan staff yang masih kebingungan. Ia tiba-tiba memikirkan ucapan Ibra yang memberinya lampu hijau untuk berkencan. Namun karena kini Kalina yang menjadi CEO, tentu hal itu sudah tidak berlaku.


Jemima seketika terbayang wajah Alezo yang begitu sumringah saat ia menceritakannya di perjalan pulang kemarin. Kekasihnya itu begitu bahagia mendengar Jemima diizinkan berkencan oleh Magnolia yang artinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari hubunhan mereka. Namun mendengar pidato Kalina pagi ini, Jemima sangsi akan nasib hubungan mereka.


***


Jemima menelepon Gery yang belum kelihatan padahal ia dan Tita serta supirnya sudah menunggu di lobby Magnolia. Dua kali panggilan Jemima tidak direspon sementara ia harus segera menuju lokasi pemotretan sebuah brand milik desainer ternama.


"Ah tidak ada waktu. Kita berangkat sekarang," ucap Jemima pada supirnya.


Jemima terdiam. Ia pun sebenarnya belum merasa aman berpergian tanpa Gery. Bodyguardnya itu dilengkapi senjata api untuk melindunginya sehingga ia cukup merasa aman jika terjadi sesuatu di jalan. Bayangan kejadian buruk yang ia alami masih menghantui dan membuatnya kerap was-was.


"Gery sama sekali tidak mengangkat!" Pekik Jemima gusar.


"Baiklah. Kita jalan sekarang. Aku menyimpan beberapa alat tajam untuk berjaga-jaga," tukas Tita seraya masuk ke mobil diikuti Pak Dudi sang supir.


"Perkataanmu membuatku takut," sungut Jemima namun tak urung mengikuti Tita masuk ke mobil. Tuhan, lindungi aku, doa Jemima dalam hati.


Perjalanan menuju lokasi pemotretan memakan waktu satu jam. Jemima disambut hangat oleh para kru, terutama Dayana sang designer. Designer muda konglomerat yang karyanya sudah melenggang di runway dunia itu memeluk Jemima hangat lalu mereka saling menempelkan pipi.


"Satu lagi mimpiku terwujud. Menjadikan Jemima Tsamara sebagai modelku," ucap Dayana tulus.


"Apa kita berbagi mimpi?" Sahut Jemima yang mengundang tawa.


"Kau tau aku memohon pada Ibra agar aku diberi kesempatan bekerja sama dengan Jemima. Karena saat menciptakan koleksi ini aku hanya memikirkan kau yang pantas merepresentasikannya karena inner beautymu yang benar-benar menggambarkan keanggunan dan ketangguhan wanita Indonesia..."


Jemima tersipu mendengar ucapan Dayana yang terasa berlebihan.


"Aku tersanjung. I'll do my best walaupun aku bukan model sungguhan," candanya.


"Cara berdirimu saja sudah seperti berpose," timpal Dayana riang.


Jemima lalu bersiap-siap untuk make up dan berganti pakaian. Koleksi Dayana kali ini benar-benar indah. Bahkan Jemima berniat dalam hati ingin membeli semua gaun yang ia kenakan karena begitu jatuh hati. Untuk pertama kali ia memuji diri sendiri di depan cermin karena merasa begitu cantik mengenakan dress berwarna biru dengan model sabrina yang mengekspos bahu indahnya.


Tiga jam berlalu akhirnya pemotretan pun usai. Jemima mulai merasa kelelahan karena beberapa berganti gaun. Tita dengan sigap menyodorkan air mineral pada Jemima yang langsung ditenggak habis.


"Kenapa tidak memberitahuku daritadi kalau kau haus?" Ketus Tita yang tidak tega melihat Jemima minum seperti orang yang sangat kehausan


Jemima hanya mengangkat alisnya. Ia buru-buru ke ruang ganti untuk segera berganti pakaian. Saat akan berpamitan pulang, Dayana menghampirinya bersama dua orang kru yang menenteng papper bag dengan logo brandnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu pulang tanpa membawa gaun yang kau suka," ucap Dayana ramah.


Jemima lalu terkejut ketika kru tersebut menyerahkan dua papper bag pada Tita.


"Hey, apa ini tidak berlebihan?" Cetus Jemima panik. Ia merasa tidak enak menerima gaun yang harganya sudah pasti mahal.


Dayana menggeleng. "Kau memuji semua gaunku yang kau kenakan tadi. Aku anggap itu sebuah penghargaan. Kau bisa memilikinya,"


"Oh Tuhan, Dayana. Kau cukup memberiku satu saja. Ini terlalu banyak," sahut Jemima yang terbelalak ketika mengetahui Dayana memberinya lima buah gaun termasuk gaun biru yang ia sukai tadi.


Dayana menggeleng. "Darling. Aku akan merasa sangat bahagia jika kau menerimanya,"


Jemima tak dapat mengelak. Ia pun mengucapkan terimakasih berkali-kali pada Dayana. Mereka lalu berpisah karena Jemima harus segera pulang setelah sebelumnya berjanji mereka akan bertemu lagi sebagai teman.


"Apa Gery sudah bisa dihubugi?" Tanya Jemima begitu mereka sudah berada di dalam mobil.


"Belum," jawab Tita cepat. "Aku yakin terjadi sesuatu," duganya.


Jemime menghela nafas. Tidak biasanya bodyguardnya itu menghilang dan susah dihubungi. Biasanya ia selalu standby bahkan tidak pernah lebih dari tiga detik untuk menjawan telepon Jemima. Apa benar ada sesuatu yang terjadi?


"Aku lapar. Apa kita bisa makan dulu di cafe?" Tanya Jemima sambil mengelus perutnya.


"Sure. Kau memang harus makan," jawab Tita.


Mereka lalu membelah jalanan menuju  restoran sushi sesuai permintaan Jemima. Dua puluh menit kemudian mereka sampai dan dengan tak sabar Jemima turun setelah mengenakan masker dan beanie. Perutnya sudah sangat lapar dan ingin segera menyantap sushi sebanyak-banyaknya. Langkah Jemima tiba-tiba terhenti ketika ekor matanya menangkap sosok yang tidak asing. Ia berhenti sejenak lalu pelan-pelan menoleh ke arah orang tersebut. Jemima terperangah ketika mendapati Gery yang sedang berdiri dan merokok di depan sebuah mobil. Apa maksudnya pria itu tidak menjawab teleponnya? Jemima baru saja akan mengayunkan kakinya untuk mendekati Gery namun urung ia lakukan karena melihat empat orang wanita keluar dari restoran dan berjalan menuju mobil tempat Gery berdiri. Jemima terbelalak ketika Gery membukakan pintu mobil untuk mereka. Gery masih bodyguardnya tapi kenapa ia bekerja untuk orang lain, pikir Jemima heran.


"Itu Blossom," ucap Tita yang ternyata juga memperhatikan Gery.


"Blossom? Girl Group yang baru debut?" Selidik Jemima.


Tita mengangguk. "Bagaimana bisa Magnolia memperkerjakan bodyguard yang sama untuk artisnya,"


Jemima terdiam. Gery pasti menerima perintah dari Magnolia untuk mengawal Blossom. Namun faktanya Gery sedang bekerja untuk Jemima. Apa yang terjadi? Kenapa bodyguardnya tiba-tiba di tarik? Lalu siapa yang akan menjadi bodyguardnya? Beribu pertanyaan bersarang di benak Jemima.