
POV : Alezo
Alezo tidak pernah sesemangat ini menghadiri acara award. Ia bersenandung kecil sambil memasang dasi di kerah kemejanya. Malam ini ia akan menghadiri drama award sebuah stasiun televisi dimana ia menjadi salah satu nominasi sebagai aktor terbaik dan pasangan terbaik untuk drama yang ia bintangi. Yang membuatnya sumringah adalah Jemima menjadi bintang tamu yang akan membuka acara tersebut. Ia tidak sabar untuk menyaksikan penampilan dan menikmati suara merdu kekasihnya itu secara langsung. Selama ini sejak ia menyimpan rasa pada Jemima, Alezo hanya menonton penampilan Jemima dari youtube. Bukan hanya itu, ia juga menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menonton reality show yang dibintangi Jemima dan menamatkan seluruh episode Jemima's House, dimana menayangkan keseharian dan cerita Jemima.
"Tipe pria idamanku adalah orang yang sangat menyukaiku dan memiliki senyum yang indah," ungkap Jemima di salah satu episode yang terus diingat oleh Alezo.
Sejak saat itu, Alezo mengklaim dirinya sebagai penggemar nomor satu Jemima. Karena banyaknya acara yang mengundang Jemima, tidak sulit bagi Alezo untuk mengetahui banyak hal tentang Jemima.
Alezo meraih jas tuxedo yang sudah ia siapkan dari walking closetnya. Ia segera mengenakan dan merapikannya sedikit di depan cermin. Setelah meraih ponselnya, ia lalu keluar kamar menuju garasi. Ia baru saja akan menyalakan mesin ketika Albar mengetuk kaca jendela mobilnya.
"What?" Tanya Alezo setelah membuka jendela.
"Ehm...apa kau tidak berniat mengajakku?"
Alezo mengernyitkan dahi. Tidak biasanya Albar tertarik dengan kegiatannya.
"Aku melihat di iklan televisi kalau ada Jemima di acara award yang kau datangi. Aku ingin menonton kakak iparku," cetus Albar dengan mata berbinar.
Alezo mendengus. Lagi-lagi Albar bertingkah norak soal Jemima.
"Tidak," ketus Alezo. Ia lalu menyalakan mobil dan meninggalkan Albar yang mengumpat kesal.
"Huh akan kuhabiskan coklatmu!"
***
Alezo tiba di acara award dan disambut red carpet dan media yang siap meliput kedatangannya. Tidak ketinggalan para penggemar yang setia menunggu dan meneriakkan namanya. Setelah melambaikan tangan ia lalu berhenti sejenak untuk berpose dan menyapa awak media. Kilatan lampu blitz kamera yang menyilaukan mata sudah terbiasa ia hadapi sehingga ia tetap dapat tersenyum tenang.
Alezo lalu mencari meja yang bertuliskan namanya. Setelah menemukannya ia langsung duduk meski rekan-rekannya belum hadir. Sepertinya aku terlalu bersemangat, pikirnya. Tak lama kemudian seorang kru menghampiri Alezo dan mengatakan Alezo akan membacakan penghargaan pertama hingga ia harus berada di belakang panggung untuk briefing. Ia pun menurut dan mengikuti langkah sang kru. Di belakang panggung Alezo bertemu dengan Tita yang tergopoh-gopoh menenteng sebuah cup mie instan dan tumbler berisi air minum dan irisan lemon.
"Hey, Tita," sapa Alezo pada manager Jemima itu.
Tita menoleh. "Oh, Hey," jawab Tita yang tampak terkejut.
"Where is she?" Tanya Alezo lagi.
"Ah, dia sedang di ruang make up. Aku akan kesana membawakan ini," balas Tita mengangkat kedua tangannya yang penih.
"Mie instan cup? Untuk Jemima?" Alezo terheran.
"Ya. Kau harus tau kebiasannya sebelum tampil adalah memakan mie instan cup pedas untuk memanaskan suara. Entah teori darimana itu," ujar Tita sambil memutar matanya.
Alezo tertawa kecil. Sungguh ia baru tahu kebiasaan Jemima yang satu itu. Padahal rasanya ia sudah hafal kebiasaan-kebiasaan Jemima dari video sang kekasih di youtube. Setelah berpisah dengan Tita, Alezo kembali menuju ke mejanya. Ternyata rekan-rekan satu drama dengannya sudah tiba. Celine, lawan mainnya langsung berdiri menyambut sang aktor lalu memberikan pelukan. Alezo terkejut karena tidak menyangka Celine melakukan kontak fisik sedekat ini karena sebenarnya mereka tidak begitu dekat. Chemistry mereka memang menakjubkan saat di drama, namun aslinya Alezo menjaga jarak karena kurang nyaman dengan sikap Celine manja bahkan beberapa kali terlihat arogan. Hanya saja Alezo mengakui kemampuan sang aktris yang memulai karirnya sebagai model itu.
"Sudah lama tidak bertemu denganmu ternyata membuatku rindu," ujar Celine tiba-tiba sambil memangku dagunya menghadap Alezo.
Alezo melirik kaku ke arah Celine. Ia bingung akan bereaksi seperti apa.
"Ah, ya. Rasanya rindu dengan suasana syuting," tukas Alezo.
"Maksudku...."
Ucapan Celine terpotong karena pembawa acara memberikan salam, pertanda acara akan di mulai. Alezo bersiap-siap karena sebentar lagi Jemima akan tampil. Ia dapat merasakan jantungnya berdebar seolah ia sedang menunggu idola yang akan konser.
"Oh Tuhan kenapa harus Jemima," gumam Celine yang dapat didengar oleh Alezo.
"Why? Aku menyukainya. Rasanya beruntung bisa menyaksikan penampilannya secara langsung," timpal Wena, second lead drama mereka.
"Aku muak karena orang-orang terlalu memujanya. Dia benar-benar biasa saja di mataku," cetus Celine lagi.
Alezo begidik mendengar ucapan Celine. Ternyata sesama wanita bisa saling membicarakan, bahkan mengumpat. Rasanya ia ingin sekali menegur Celine tapi tidak mungkin.
Pembawa acara kemudian meneriakkan nama Jemima pertanda sang diva akan segera tampil. Teriakan dan gemuruh tepuk tangan seketika membahana seiring terdengarnya suara Jemima menyanyikan lagu Clarity. Jemima yang biasa dengan musik popnya ternyata membawa lagu dengan genre EDM dengan standing mic. Tubuh indahnya berbalut dress selutut yang membuat penampilannya menghipnotis semua mata.
'Cause you are the piece of me I wish I didn't need
Chasing relentlessly, still fight and I don't know why
If our love is tragedy, why are you my remedy?
If our love's insanity, why are you my clarity?
Music EDM seketika pecah saat Jemima menyanyikan bagian reff. Semua orang bertepuk tangan dan menggerakkan tubuh mereka karena terbawa suasana. Sementara Alezo mematung karena begitu terpana dengan Jemima. Tanpa sadar ia tersenyum berkali-kali menyaksikan bagaimana Jemima begitu penuh energi berada di atas panggung. Kekasihnya itu bagaikan seorang ratu yang menguasai kerajaannya. And yes she is. Jemima memang seorang diva.
Semua orang kompak memberikan standing applause usai Jemima menyanyikan lirik terakhir. Penampilan sang diva benar-benar memukau dan mengundang decak kagum. Alezo tentu turut berdiri dan bertepuk tangan dengan bangga. That's my girl, teriaknya dalam hati. Sungguh rasanya Alezo ingin menyambut Jemima di belakang panggung memeluknya erat sebagai ucapan selamat dan membisikkannya 'aku bangga padamu'. Mungkin suatu hari, batin Alezo.
Alezo tidak melepaskan pandangannya pada Jemima hingga menghilang di balik panggung.
"She's pretty good," sahut Alezo senatural mungkin, berharap Celine yakin ia hanya sekedar menikmati penampilan Jemima.
Celine tertawa. "Kalau bukan berpasangan denganmu aku yakin dia tidak akan bisa berakting dengan baik. She owes you,"
Alezo tak habis pikir dengan kesinisan Celine pada Jemima. Apa mereka pernah ada masalah di masa lalu? Tiba-tiba seorang kru datang menghampiri Alezo untuk segera ke belakang panggung untuk membacakan award. Ia pun langsung beranjak karena merasa gerah dengan sikap Celine.
***
Alezo memboyong dua piala penghargaan dari acara award dimana ia menjadi nominasi. Meski sedikit risih dengan Celine, ia tak ragu menggandeng tangan rekannya itu saat mereka berdua naik ke panggung sebagai pemenang pasangan terbaik. Tuntutan pekerjaan, dalihnya.
Alezo menangkap sosok Tita saat acara usai dimana orang-orang perlahan beranjak meninggalkan ballroom. Ia segera menghampiri untuk menyakan Jemima.
"Hey. Dimana Jemima?" Tanya Alezo.
"Sudah duluan ke mobil. Dia kelelahan," jawab Tita.
"Apa sekarang aku bisa bertemu dengannya?
Tita mengigit bibirnya. Ia berpikir sejenak.
"Bagaimana kalau sekalian saja kau mengantarnya pulang? Aku was-was karena Gery tidak bersama kami,"
Alezo mengernyitkan dahi. Jemima beraktivitas tanpa kawalan Gery? Apa tidak berbahaya mengingat teror yang ia alami beberapa hari lalu.
"Kenapa?"
Tita tak menjawab. Ia hanya memberi kode pada Alezo untuk mengikutinya. Mereka lalu berjalan menuju parkiran dengan Tita berada di belakang Alezo agar tidak mengundang perhatian. Semua orang tau Tita adalah manager Jemima. Akan mengundang tanya jika dan Alezo terlihat dekat.
Mereka tiba di parkiran dan ternyata mobil Alezo berderetan. Tita segera membuka pintu mobil untuk memberitahu Jemima. Tak lama kemudian Alezo melihat kepala-tentu bersama badannya-Jemima mengintip dari balik celah pintu mobil. Tita dengan gesit memindahkan barang-barang Jemima ke mobil Alezo. Untungnya posisi mereka di pojok dan belum terlalu ramai sehingga tidak ada orang yang melihat. Jemima lalu dengan tergopoh turun dan berlari kecil masuk ke mobil Alezo di kursi penumpang di belakang.
"Pergilah," suruh Tita sambil mengibaskan tangannya pada Alezo.
Alezo mengangguk. Ia segera menuju mobilnya setelah berpamitan pada Tita. Alezo membuka pintu mobil dan mendapati Jemima sudah pindah duduk di kursi penumpang depan.
"Hey," sapa Alezo begitu masuk ke mobil yang di balas senyuman oleh Jemima.
Badan mereka lalu saling condong dan menemukan bibir masing-masing. Mereka terbuai beberapa detik sebelum akhirnya Jemima menjauhkan kepalanya.
"Kau terlihat sangat lelah," ujar Alezo setelah menyadari mata Jemima terlihat sayu.
"Ya. Bernyanyi sambil menari ternyata begitu melahkan," keluh Jemima yang menyanyikan medley dua lagu miliknya yang di aransemen ulang lebih up-beat sambil menari.
"Ah ya. It was a surprise seeing you dancing. Tumben sekali,"
"Itu ide Arfan, produserku. Aku sempat menolak namun ternyata Ibra menyukai idenya. Kau tau aku berlatih dance selama sebulan untuk tampil hari ini," ujar Jemima tergelak.
"But it worth. Penampilanmu luar biasa. Semua orang terpukau dan memujimu," ungkap Alezo sungguh-sungguh.
"Syukurlah. Semoga Ibra di atas sana juga senang," tukas Jemima menghela nafas.
Alezo lalu menyalakan mesin mobil dan segera memacunya sebelum ada yang melihat ia dan Jemima. Apalagi ia melihat masih banyak awak media. Di perjalanan Jemima beberapa kali menguap karena mengantuk. Alezo merasa kasihan karena Jemima bekerja sangat keras. Saat mereka syuting pun Jemima kerap berusaha menahan kantuk. Ia tetap berusaha maksimal meski gerak tubuhnya tidak dapat berbohong bahwa ia butuh tidur.
"Aku harus membeli kopi," ucap Jemima tiba-tiba. Padahal Alezo mengira ia sudah tertidur.
"Aku tidak boleh ketiduran," lanjutnya.
"Hey, kau bisa tidur di sini. Tidurlah," ujar Alezo sambil merendahkan sandaran kursi Jemima.
"Apa tidak apa-apa?" Tanya Jemima dengan puppy eyes yang membuat Alezo gemas.
"Apa aku melarangmu?"
Jemima menggeleng. Ia lalu menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata. Alezo lalu menyelimuti tubuh Jemima dengan jas tuxedonya. Alezo tersenyum kecil ketika mendengar Jemima mendengkur pelan. Ternyata dia benar-benar lelah dan mengantuk, pikir Alezo.
Saat hampir tiba Alezo baru menyadari ia tidak mengetahui password kunci kamar Jemima. Ia mencoba membangunkan Jemima dengan memanggil namanya beberapa kali namun tidak ada sahutan. Alezo bahkan mengecek nafas dan denyut nadi Jemima karena gadis itu begitu lelap.
"Well, I have no choice, Mima," ujar Alezo yang langsung putar arah menuju rumahnya.
Alezo tiba di rumahnya dan segera memasukkan mobil ke garasi. Dengan hati-hati ia menggendong Jemima yang tak terusik sama sekali. Matanya masih tertutup rapat seperti di lem. Alezo menimbang-nimbang tubuh Jemima yang terasa begitu ringan. Ia bahkan tidak perlu terlalu mengeluarkan tenaga. Alezo berjalan menuju kamarnya dan susah payah meraih gagang pintu untuk membukanya. Ia lalu meletakkan tubuh Jemima di atas kasur, tidak lupa menyelimutinya agar gadis itu tetap hangat. Melihat Jemima yang terlelap memberikan ketenangan bagi Alezo. Gadis itu terlihat begitu damai bermain dengan mimpinya.
"Sweet dream, sweetheart," bisik Alezo lalu mengecup pelan pipi Jemima.
Alezo lalu keluar kamar dan menuju kamar tamu untuk beristirahat. Dalam hatinya ia ingin tidur di kasur yang sama dengan Jemima, namun Albar masih menginap. Ia tidak berselera membayangkan bagaimana ekspresi adiknya itu.