
POV : Jemima
Jemima membuka matanya perlahan ketika merasakan sinar matahari dari jendela menerpa wajahnya. Ia mengerjapkan mata lalu menguap. Jemima merasa sangat segar karena tidurnya begitu nyenyak. Tiba-tiba ia terkejut ketika mendapati ia masih mengenakan dress saat tampil tadi malam. Ia semakin terkesiap ketika menyadari ini bukan kamarnya.
"Kamar Alezo? Bagaimana aku bisa di sini?" Gumamnya yang belum bisa mengingat.
Jemima kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah standing mirror di dekat jendela. Ia berteriak karena melihat wajahnya masih mengenakan riasan tebal. Itu berarti ia tidur tanpa membersihkan wajah. Tentu saja itu petaka bagi Jemima. Wajahnya yang sensitif bisa dipenuhi jerawat karenanya. Teriakan Jemima membuat Alezo seketika muncul di kamar.
"Ada apa?" Tanya Alezo cepat. Wajahnya terlihat panik karena khawatir terjadi sesuatu pada Jemima.
Jemima berbalik dan kini berhadapan dengan Alezo.
"Aku...bagaimana bisa aku tidak menghapus make up tadi malam. Aku harus mencuci mukaku. Dimana tas ku?"
Jemima melihat Alezo menunjuk dengan jari telunjuknya. Ternyata tas dan koper kecil Jemima ada di atas nakas. Ia segera meraih tasnya dan mengeluarkan sabun pencuci muka.
"Aku sudah menyiapkan handuk dan baju ganti jika kau ingin mandi," tukas Alezo.
"Ah...tidak perlu. Aku sudah membawanya di sini," ujar Jemima sambil menunjuk kopernya.
"Oke. Mandilah. Sarapanmu sudah menunggu,"
Jemima mengangguk. Ia sebenarnya penasaran kenapa Alezo membawanya ke sini bukan ke apartemen. Tapi rasa panik akan wajahnya yang masih penuh riasan membuatnya lebih memilih cuci muka dan mandi terlebih dahulu.
***
Jemima keluar kamar setelah menghabiskan dua puluh menit untuk mandi dan bersiap-siap. Ia tampak santai mengenakan kaos kebesaran dan legging yang membentuk kaki jenjangnya. Jemima bersyukur kebiasaannya membawa peralatan mandi dan baju ganti di koper setiap show ternyata berguna. Ia tidak perlu khawatir untuk membersihkan tubuhnya saat tiba-tiba berada di rumah Alezo. Tidak terbayang jika Jemima tidak membawanya saat ini. Ia akan mengenakan pakai dalam dan baju yang sama. Menjijikkam sekali, pikir Jemima begidik geli.
Jemima memperhatikan sekitar untuk mencari letak dapur. Rumah Alezo yang luas tertata begitu apik sehingga benar-benar terasa homey. Ia yakin Alezo adalah tipe orang yang sangat menjaga kebersihan dan kerapihan karena Jemima tidak menemukan sesuatu yang tergeletak asal. Semuanya berjejer rapi berada pada tempatnya. Mata Jemima kemudian tertumbuk pada foto keluarga Alezo yang terpajang di tembok. Ia tersenyum mengagumi betapa harmonisnya keluarga kekasihnya itu. Senyum mereka di foto begitu menyiratkan kebahagiaan pertanda keluarga mereka berlimpah kasih sayang. Jemima lalu menelusuri foto keluarga saat Alezo masih kecil yang terpajang rapi di rak. Dahi Jemima berkerut ketika melihat sebuah foto lama. Ia seperti familiar dengan sosok yang berpose berdiri dengan memasukkan tangan di kantong celana. Jemima baru saja akan meraih foto tersebut ketika Alezo muncul dan mengecup pipinya cepat.
"Astaga kau mengagetkanku!" Ucap Jemima setelah menarik tangannya dari bingkat foto tersebut. Ia lalu berbalik ke arah Alezo dan mendapati sang kekasih mengenakan celemek. Jemima tidak tahan karena Alezo terlihat begitu menggemaskan.
"Jadi...apa yang mau buat untuk sarapan?" Tanya Jemima sambil melipat tangannya di dada, seolah sedang menguji Alezo.
"Your favorite," jawab Alezo bangga.
Jemima menaikkan alis matanya, pertanda ia tidak yakin dengan jawaban Alezo. Sejurus kemudian tangannya di tarik oleh Alezo untuk menuju dapur. Alezo lalu mempersilahkan Jemima duduk di kursi bar sementara ia menyiapkan sarapan.
"Wow...Hot choco!" Seru Jemima saat Alezo menghidangkan segelas coklat panas dengan toping marshmellow.
Jemima lalu menyeruput pelan coklat panasnya. Bagaimana Alezo bisa tau dia sangat menyukai minuman ini, pikir Jemima. Belum habis rasa penasarannya, Jemima kembali terkejut ketika Alezo datang dengan omelet isi daging giling dengan taburan keju. Ini benar-benar sarapan favoritnya!
"Bagaimana kau tau ini semua?" Tanya Jemima dengan mata berbinar pada Alezo yang kini duduk berhadapan dengannya.
"Padahal aku belum memberitahumu apapun," cetus Jemima keheranan.
Alezo tertawa kecil. "Aku...aku adalah Jemiers," ucap Alezo sambil menggaruk telinganya. Jemima bersumpah ia melihat telinga Alezo memerah.
"Kau...Jemiers?" Tanya Jemima menahan tawa. Jemiers adalah sebutan untuk penggemar Jemima. Lalu Alezo menyatakan bahwa dia Jemiers. Is that true?
Alezo mengangguk sambil tertawa geli. Lagi-lagi ia menggaruk telinganya, gestur yang tanpa sadar ia lakukan ketika salah tingkah.
"Kalau begitu...coba buktikan kalau kau benar-benar Jemiers," tantang Jemima sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Alezo sambil memangku dagunya dengan kedua tangan.
"Ehm...Jemima Tsamara. Kau lahir tanggal 3 Januari 1995. Golongan darahmu A. Tinggi badanmu 162 sentimeter dan beratmu 45 kilogram. Kau pencinta makanan pedas. Kau lebih senang menghabiskan waktu sendiri dan saat kecil kau bercita-cita menjadi pelukis atau penulis,"
Jemima menutup mulutnya setelah mendengar Alezo dengan lancar menyebutkan tentang dirinya.
"Aku bisa melanjutkannya jika kau mau," tukas Alezo lagi.
"No no, cukup," sahut Jemima sambil mengibaskan tangan kanannya. Ia lalu meraih kedua tangan Alezo lalu menggengammya.
"Baiklah...dengan ini aku nobatkan kau sebagai Jemiers paling berharga di dunia. Tolong berikan selalu dukungan dan cintamu padaku dan karya-karyaku," ujar Jemima bak ratu yang memberi petuah pada hulubalangnya.
"I'll do it from the deepest of my heart, Majesty," balas Alezo.
Tawa mereka begitu riang terdengar di pagi hari. Beruntung hari ini mereka sedang tidak ada jadwal sehingga tidak khawatir terburu-buru waktu.
***
"Astaga aku pasti terlihat aneh saat tertidur seperti itu," cetus Jemima saat Alezo menceritakan alasan kenapa membawa Jemima ke rumahnya
"Kau tetap terlihat cantik,"
Jemima lalu meninju pelan perut six pack Alezo. Ia selalu merasa malu setiap Alezo memujinya. Suara bariton Alezo yang menyebut kata cantik terdengar begitu seksi di telinga Jemima.
"Sebenarnya ada yang mengganjal pikiranku," ucap Jemima kemudian. Ia membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman.
"Apa itu? Jangan ragu menceritakannya padaku,"
Jemima menghela nafas. Ia memikirkan kata-kata yang akan ia ungkapkan pada Alezo.
"Sebelum meninggal, aku sempat bertemu dengan Ibra. Dia memanggilku ke ruangannya. Aku kira dia akan memarahiku karena berita kencan kita. Namun ternyata..."
Jemima menggelengkan kepala seolah sanggup melanjutkan ucapannya. Matanya mulai terasa panas pertanda air matanya telah bersiap untuk mendesak keluar. Ia tak menolak ketika Alezo merangkul pundaknya dan mendekatkan tubuh mereka.
"Selama ini dia menganggapku anaknya karena ia memiliki anak perempuan namun sudah meninggal saat kecil. Tahun lahirnya sama denganku. Selama ini aku sering kesal dengan Ibra karena dia begitu protektif. Ternyata ia melakukannya karena menyayangiku" lanjut Jemima tertahan.
Ia lalu meraih tisu yang diberikan Alezo dan mengelap air matanya.
"Dan kau tahu. Ibra mengizinkanku untuk berkencan. Dengan siapapun itu..."
Jemima lalu menoleh ke arah Alezo yang tercenung. Harusnya ini menjadi sebuah kabar gembira bagi mereka berdua. Alezo baru saja akan berbicara ketika Jemima kembali melanjutkan ucapannya.
"Sayangnya itu tinggal asa. Karena CEO Magnolia yang baru sangat anti dengan skandal,"
"Kalian sudah memiliki CEO baru? Who?" Tanya Alezo penasaran.
"Sudah. Kalina. Dia direktur keuangan sebelumnya. Tidak ada satupun dari kami yang menyukai wanita kaku itu. Entah bagaimana ia bisa menjabat sebagai CEO," gerutu Jemima.
"Artinya...kita masih harus terus merahasiakan hubungan...entah sampai kapan?"
Jemima mengangguk lemah. "Setidaknya sampai kontrakku berakhir tiga tahun lagi. Apa kita masih bersama saat itu?"
Alezo mengusap kepala Jemima lembut lalu mengecupnya.
"Tentu. Aku menjamin kita akan terus bersama hingga saat itu dan seterusnya,"
Jemima merasakan harapan pada suara Alezo. Dalam hati ia sungguh-sungguh mengaminkan perkataan kekasihnya itu.
"Lalu...kenapa Gery tidak lagi bersamamu?"
Jemima terdiam. Ia menelan ludah dan menghela nafas. Bayangan Gery yang menghindarinya tiba-tiba lalu tanpa sengaja melihat bodyguardnya itu mengawal artis lain membuat jantungnya berdebar. Setahu Jemima, Gery dipekerjakan oleh Ibra hanya untuk mengawal Jemima.
"Lalu sejak CEO barumu menjabat, Gery tiba-tiba bekerja pada Blossom?" Alezo mengulangi ucapan Jemima.
"There's maybe something wrong. Kenapa tidak memperkerjakan bodyguard baru saja,"
"Entahlah. Aku bingung..." tukas Jemima.
Alezo mengusap bahu Jemima yang masih bersandar di sisinya dan gadis itu pun semakin merapatkan tubuhnya pada Alezo. Tangannya melingkari pinggang Alezo.
"Hmm...apa kau ingin menonton ulang film kita?" Tanya Alezo tiba-tiba.
Jemima mengangkat kepalanya menatap Alezo. "Tidak. Terlalu menyedihkan," ucapnya menggeleng.
Film mereka Salju Pertama Desember memang berakhir tragis dan menyedihkan. Gala, tokoh yang diperankan Alezo meninggal di tembak secara brutal oleh lawan politik ayahnya tepat di hadapan Raya, kekasihnya yang tak lain diperankan oleh Jemima. Pada adegan itu Jemima berakting menangis histeris sambil memeluk Alezo yang berlumuran darah. Cerita film mereka memang bak Romeo Juliet, cinta yang terpisah karena maut. Jemima ingat betul ia masih terus menangis padahal sutradara sudah berteriak 'cut'. Ia tidak dapat menahan tangisannya karena dadanya begitu sesak dengan alur cerita yang begitu dalam dan kelam. Tokoh Raya yang ia perankan kehilangan kekasih, ibu dan juga kakak laki-laki yang semuanya karena persaingan politik sang ayah yang rela mengorbankan keluarga demi kekuasaan. Saat itu Alezo memeluknya erat untuk menenangkan Jemima meski baju mereka dipenuhi darah buatan. Lucunya, semua kru ikut menangis karena seolah melihat kejadian nyata.
"Di dunia nyata untungnya kita berakhir bahagia," tukas Alezo tersenyum.
"Sungguh aku tidak ingin mengalami hal seperti Raya," ujar Jemima bergidik.
"Tapi aku akan seperti Gala yang terus berjuang untuk melindungi dan mencintai Raya,"
Jemima tersipu. Alezo selalu berhasil membuatnya merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya.
"Kalau begitu. Aku juga akan selalu di sampingmu dalam keadaan apapun seperti Raya pada Gala," tukasnya.
Dua sejoli dimabuk cinta itu lalu saling mendekatkan wajah dan mempertemukan bibir mereka. Jemima merutuki dirinya yang seolah haus akan cumbuan Alezo. Namun bibir kekasihnya terlalu candu untuk ia lepaskan.