Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 81



Maaf menunggu lama yaaa readers tercinta huhu. Update tipis tipis dulu ya🥲


"Pergilah, Alezo! Aku tidak suka bau parfummu!"


Alezo mengerjapkan mata mendengar ucapan Jemima yang mengusirnya dari tempat tidur. Ia menatap nanar punggung Jemima yang berbalut piyama satin rancangan desainer ternama itu.


"Sayang...apa aku tidak boleh tidur di sini lagi malam ini?" Tanya Alezo lirih.


"Ya! Parfummu membuatku mual!" tegas Jemima tanpa membalikkan badan.


"Tapi aku tidak memakai parfum..."


"Tetap saja hidungku mencium aromanya!" ketus Jemima yang kali ini sudah berselubung di balik selimut.


Alezo menggaruk kepalanya melihat kelakuan Jemima. Ini sudah hari ketiga Jemima tidak ingin mereka tidur bersama karena entah kenapa Jemima tiba-tiba alergi pada parfum Alezo.


Sang istri seketika mual saat mencium parfumnya. Alezo mencoba mengerti itu adalah bawaan hamil. Tapi ternyata ia merasa miris karena Jemima tak mau berdekatan apalagi tidur berpelukan seperti biasa.


"Aku akan mengusap punggungmu," ucap Alezo sambil bergeser mendekati Jemima.


"Tidak!"


"Baiklah. Kalau begitu aku akan memijat kakimu. Kau pasti pegal karena berkeliling mall,"


Alezo baru saja akan menyentuh kaki Jemima namun sang pemilik dengan cepat memindahkannya.


"No, thanks,"


"Kalau begitu..."


"Just go, Alezo! Leave me alone!"


Alezo terhenyak. Ia merasa menjadi pria paling menyedihkan di dunia karena di tolak oleh istrinya sendiri. Jangankan untuk mengelus perut Jenima, mendekat saja tidak bisa karena parfum sialan.


"Baiklah...aku tidur di sofa,"


Usai berkata demikian Alezo turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Sungguh siapapun akan menertawakan wajah lunglai Alezo yang menyedihkan.


Bagaimana tidak. Ia harus menahan rindu dan hasrat pada Jemima padahal mereka tinggal bersama. Sudah beberapa hari ia tidak bisa berinteraksi dengan Jemima yang memilih ditemani oleh Rena, salah satu pelayan di rumah mereka. Bahkan ketika Jemima muntah di pagi hari, ia tak ingin di dekati Alezo. Hanya Rena yang boleh membantunya.


Niat untuk merebahkan diri di sofa seketika ia urungkan karena suara di perutnya. Alezo baru sadar ia belum makan sejak pulang dari lokasi shooting tadi sore. Ia lalu berjalan menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan.


Wajah Alezo mendadak cerah ketika mendapati mie cup di pantry. Terakhir ia makan mie cup saat di apartemen Najla bersama Neil. Sungguh mie dengan banyak penyedap itu adalah makanan terenak sedunia bagi Alezo.  Tak menunggu lama ia segera menyeduh mie tersebut dengan suka cita.


"Ffuuuhh...ffuhh..."


Alezo meniup mie sebelum memasukkan ke mulutnya. Rasa nikmat yang menjalar membuat Alezo seolah lupa nasib malangnya yang tak bisa berdekatan dengan Jemima.


Benar saja, tak cukup satu bagi Alezo. Ia meraih cup ke dua untuk memuaskan seleranya. Alezo menyeruput habis sisa kuah mie cup nya yang terasa begitu nikmat. 'Sial, aku masih lapar,' batin Alezo.


Akhirnya mie cup ketiga pun ia raih. Tak butuh waktu lama bagi Alezo menghabiskn separoh dari isi cup mie tersebut hingga tiba-tiba ia terperanjat mendapati sosok wanita berambut panjang berdiri tepat di depannya.


"Alezo..."


"Astaga! Oh Tuhan Jemima kau membuatku terkejut," ucap Alezo yang merasakan darahnya berdesir karena terkejut.


"Sayang, kau terbangun? Kau merasa mual?" Tanya Alezo yang menyingkirkan mie cup nya.


Jemima tak bersuara. Ia hanya memandang Alezo dengan mata sayu.


"Hiks...hiks..."


Alezo sontak berdiri dan mendekati Jemima karena sang istri tiba-tiba menangis.


"Sayang, kau sakit? Perutmu sakit? Apa yang kau rasakan?" Cecar Alezo panik sambil menyentuh kedua bahu Jemima dengan ragu.


Takut jika Jemima mual mencium aroma tubuhnya.


"Hiks...hiks...hiks..."


Tangisan Jemima bukannya mereda, namun semakin kencang. Tentu Alezo semakin panik dan pikiran berkecamuk.


Syukurlah Jemima tak menolak di peluk oleh Alezo. Ia membiarkan sang istri menangis dalam pelukannya. Mungkin Jemima mimpi buruk, atau merasa tak enak badan. Ah, sungguh Alezo ingin segera tau jawabannya.


"Alezo..." ujar Jemima lirih.


"Yes, honey. Ada apa, sayang?"


"Kau...kau tega!" Ketus Jemima yang membuat Alezo mengerutkan dahi.


"Lepaskan!" Sentak Jemima melepaskan diri dari pelukan Alezo.


Alezo terdiam. Sungguh ia merasa bergemuruh membayangkan apa dia melalukan kesalahan besar yang tanpa segaja ia lakukan.


"Sayang, aku tidak mengerti..."


"Kenapa kau memakan mie cup ku?! Kau menghabiskan semuanya. Hiks...hiks...padahal aku meminta Rena untuk membelinya. Tapi hiks...kau malah memakannya hiks..."


Alezo mengerjapkan mata, mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir ranum Jemima. Penyebab istrinya menangis sedih adalah karena mie cup yang ia makan? Entahlah, Alezo bingung harus merasa lega atau merasa bersalah.


"Ehm...sayang. Aku...aku tidak tahu kau sengaja membelinya. Aku lapar dah...ehm aku menemukan ini dan memakannya..."


Alezo tergagap mencoba menjelaskan pada Jemima perkara mie cup yang sudah berpindah ke perutnya.


"Aku sangat ingin memakannya...hiks..." ucap Jemima yang masih terisak pelan.


"Tapi sudah habis...huaa....hiks..."


"No no no, sayang. Masih ada, aku belum menghabiskannya. Masih tersisa banyak. Lihatlah,"


Alezo meraih mie cup nya yang masih berisi dan menunjukkannya pada Jemima. Dalam hati ia bersyukur belum sempat menghabiskannya.


"Benarkah?" Tanya Jemima memastikan


"Of course.  Makanlah, mau aku suapi?"


Alezo bernafas lega karena Jemima menurut. Mereka kini duduk berhadapan di depan pantry.


"Ffuuh...ffuh..."


Alezo menyuapkan mie kepada Jemima setelah memastikannya tak lagi panas.


"Hmm....enak sekali," tukas Jemima.


Alezo tersenyum memandang ekspresi wajah Jemima yang begitu menikmati makanannya.


Ia kembali menyuapkan Jemima yang disambut dengan suka cita oleh wanita paling cantik di dunianya itu.


"Besok akan ku belikan lagi. Maafkan karena kau hanya bisa makan sedikit..."


Alezo pasrah ketika Jemima meraih mie cup di tangannya. Sang istri memilih untuk menyuapkannya sendiri bahkan menyeruput habis kuahnya.


"Ah...."


"Wow..." Alezo tergelak melihat Jemima menghabiskan mie cup nya tak bersisa.


Tak lupa ia menyodorkan gelas berisi aie putih untuk istrinya minum.


"Apa mie cup ini permintaan twins?" Tanya Alezo sambil mengelus perut Jemima.


"Sepertinya. Aku tidak pernah ingin memakan mie cup," jawab Jemima tersenyum.


Wajah ceria Jemima seolah memberi lampu hijau pada Alezo. Sepertinya malam ini mereka bisa tidur bersama.


"Sayang...ehm...setelah ini...apa aku boleh tidur di kamar?" Tanya Alezo ragu-ragu.


Jemima yang tak langsung menjawab membuat Alezo berdebar. Dan ia harus bersabar karena Jemima menggelengkan kepala.


"Not tonight. Aku baru saja memasukkan makanan untuk anak-anakku. Aku tidak mau memuntahkannya karena mencium aroma parfum mu," tukas Jemima datar.


Alezo pun tak mampu berkata-kata ketika Jemima akhirnya berlalu, meninggalkannya di pantry sendiri. Menghela nafas panjang satu-satunya yang bisa ia lakukan saat ini.