Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 57



Ga tahan buat update Alezo dan Jemima walaupun idung meler terus 🥲 Selamat membaca yaa readers tersayang.


"Mumpung sedang berada di sini. Tidak akan jadi masalah," ucap Jemima di depan cermin.


Ia mengenakan bikini berwarna peach yang belum pernah ia kenakan sejak awal membelinya. Jemima tentu akan dihujat jika ketahuan memakai bikini itu jika di negaranya. Padahal ia pun ingin sesekali memamerkan tubuh indah hasil kerja kerasnya merawat diri.


Jemima lalu meraih outer dan segera keluar dari kamar hotel. Resort yang ia tempati tepat berada di sisi pantai hingga Jemima hanya perlu berjalan sedikit. Begitu tiba, ia langsung berlari kecil mengejar ombak yang seolah melambai-lambai padanya.


Tidak seperti kemarin, hari ini suasana pantai cukup ramai meski tetap ada space luas bagi Jemima untuk menyendiri. Ia lalu duduk di sebuah bean bag lalu membuka outernya hingga tubuhnya yang hanya berbalut bikini terekspos. Jemima melepaskan pandangannya ke lautan luas, berhayal apakah ia bisa berenang di sana. Sayangnya Jemima tak bisa berenang, padahal rasanya pasti menyenangkan.


Pandangan Jemima tiba-tiba terhalang oleh sosok pria bertubuh tinggi. Jemima pria kira hanya lewat, namun ternyata ia berdiam diri depan Jemima.


"Excuse me..." ujar Jemima sambil mendongkakkan kepalanya.


Seketika Jemima terdiam saat memandang pria yang juga sedang menatapnya. Gadis itu menyipitkan matanya untuk memastikan ia tidak salah lihat dan sejurus kemudian ia terperanjat.


"Alezo! Hah?!" Seru Jemima sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Bagaimana kau ada di sini?"


Alezo tak menjawab. Ia justru memeluk Jemima erat dan membuat Jemima tak berkutik. Pelukan Alezo bertahan beberapa detik hingga Jemima menarik dirinya dari rengkuhan Alezo.


"Akhirnya aku menemukanmu," ucap Alezo dengan tatapan lega.


Sementara perasaan Jemima tak karuan. Ia sudah pergi sejauh ini namun Alezo bisa menemukannya. Jemima bahkan hanya mengatakan ke Australia pada Tita, tidak mendetail menyebutkan tujuannya. Lalu bagaimana Alezo bisa muncul tepat di hadapannya seperti ini?


"How come...." gumam Jemima masih diliputi rasa penasaran.


"Kenapa kau pergi tanpa memberitahuku?" Tanya Alezo.


Jemima menelan ludah. Wajah dingin dan suara bariton Alezo benar-benar terasa mengintimidasinya. Ia melihat jelas raut kecewa yang tergambar. Jemima mengalihkan pandangan karena tak sanggup menerima sorot mata tajam Alezo. Ia takut tenggelam di dalamnya.


"Apa kau membenciku?" Lagi-lagi Alezo bertanya, namun Jemima pun tak kunjung menjawab.


Alezo lalu meraih outer Jemima lalu memakaikannya pada gadis itu. Jemima tercekat. Ia baru sadar hanya mengenakan bikini minim di hadapan Alezo.


"Aku...aku ingin menenangkan diri," jawab Jemima tergagap.


"Tanpa memberitahuku setelah apa yang kita lakukan?"


Jemima terhenyak. Apa yang dimaksud Alezo adalah saat intim yang mereka rajut di apartemen Jemima? Sungguh Jemima malu mengingatnya.


"Mima...please. Jangan seperti ini. Aku...aku merasa gila karena kau pergi tanpa kabar. I can't..."


Jemima tak mampu berbicara mendengar kalimat Alezo. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang mendesak keluar. Sejujurnya Jemima ingin berteriak bahwa ia pun sama tersiksanya dengan Alezo. Ia setengah mati berusaha menyingkirkan perasaan cintanya pada pria itu yang nyatanya begitu sulit. Jemima pun menginginkan Alezo, namun ia tak bisa melupakan kejadian masa lalu orangtua mereka. Ia tak ingin ibunya di atas sama kecewa karena Jemima justru mencintai anak sahabat dan mantak kekasihnya yang berkhianat.


"Cukup, Alezo..." ucap Jemima sejurus kemudian.


Ia kemudian berjalan menuju pantai meninggalkan Alezo. Jemima terus melangkah hingga air laut mencapai dadanya. Ia tak tahan lagi. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan tumpah. Jemima menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia merutuk dalam hati kenapa Alezo justru datang saat ia sudah sejauh ini untuk melupakannya.


Tiba-tiba Jemima merasakan pelukan seseorang dari belakang. Ia pun menoleh dan mendapati Alezo bertelanjang dada dengan tangan yang melingkari tubuh Jemima.


"Don't go, Mima. Aku akan melakukan apapun agar kau tetap bersamaku," lirih Alezo.


Jemima menarik nafas mencoba menenangkan diri. Ia kemudian berbalik dan menghadap Alezo. Tatapan Alezo yang memelas membuat dadanya terasa sesak. Secinta itukah Alezo mencintainya?


Hangatnya air laut menjadi saksi Jemima dan Alezo yang kini berpelukan. Jemima tak sadar outer yang ia kenakan terlepas dan hanyut karena Alezo kini mencumbu bibirnya dengan ganas hingga Jemima kewalahan. Jemima pasrah saat Alezo kemudian mengangkat tubuhnya dan otomatis gadis itu melingkarkan kakinya di pinggang Alezo. Bibir mereka terus bertaut hingga ciuman Alezo turun ke leher dan mendekati dada Jemima.


'Ini tidak benar. Hentikan. Ini sudah keterlaluan. Berhenti lalu pergi, tinggalkan pria ini,' pikir Jemima. Sayangnya ia tak mempu mengikuti akal sehatnya karena begitu terbuai dengan perasaan dan kenikmatan.


***


Jemima menyesap segelas wine sambil menikmati udara malam di balkon kamarnya. Ia memejamkan mata dan menarik nafas dalam mengingat apa yang terjadi dengannya dan Alezo.


Jemima menggelengkan kepala menyesali apa yang ia lakukan. Ia yang bertekad melupakan Alezo justru dengan mudahnya luluh dengan cumbuan pria itu. Apa ia terlihat seperti wanita murahan di mata Alezo.


Jemima tersentak ketika bel kamarnya berbunyi. Pasti Alezo, pikir Jemima. Pria itu memang kembali ke hotelnya untuk mengambil barang dan menginap di kamar yang sama dengan Jemima. Bukan, itu bukan keinginan Alezo. Justru Jemima yang memintanya, dan kini ia menyesal.


"Hey," sapa Alezo begitu masuk ke kamar.


Jemima membalasnya dengan senyum tipis. Ia masih merasa malu. Mereka berdua lalu duduk di balkon dan menikmat wine yang Jemima sediakan.


"Apa kau menyesal?" Tanya Alezo tiba-tiba.


"About what?"


"Setelah yang kita lakukan,"


Jemima terdiam. Ia menanyakan kembali pada dirinya. Apa ia menyesal? Entah kenapa jawaban yang memenuhi pikirannya adalah 'tidak'.


"I don't know..." jawab Jemima mencari aman.


"Aku minta maaf jika itu keterluan. Aku hanya...aku hanya benar-benar mencintaimu,"


Jemima tak menjawab. Ia pun sama. Gejolak perasaannya pada Alezo mendorongnya untuk menerima cumbuan pria itu di tubuhnya.


"Alezo...aku tidak yakin kita akan bisa terus bersama,"


***


Ucapan Jemima serta merta membuat Alezo menoleh ke arah gadis itu. Ia lalu bangkit dari duduknya lalu berlutut di depan Jemima.


"Hey...apa yang kau lakukan?"


Alezo bergeming. Ia tetap di posisinya lalu meraih kedua tangan Jemima.


"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kau tetap bersamaku?"


Tak ada gengsi bagi Alezo saat ini. Satu-satunya yang ada di benaknya adalah bagaimana agar Jemima tak lagi pergi meninggalkannya.


"Aku...aku hanya..." Jemima terbata.


"Aku tidak bisa menyingkirkan fakta bahwa ayah dan ibumu...mengkhianati ibuku..."


Alezo tercekat. Tentu ia tidak lupa akan hal ini. Namun apakah bisa ia menebus kesalahan orangtuanya dengan membahagiakan Jemima? Bisakah dia mengganti kesedihan Jemima di masa lalu dengan gelimang tawa jika mereka bersama?


"I know, I know..." Alezo tertunduk lemah di hadapan Jemima.


Genggaman tangannya melonggar lalu terlepas. Alezo kemudian bangkit dan berdiri menghadap lautan yang keindahannya bersembunyi di balik langit malam.


"Mungkin ini karma yang aku terima dari kesalahan orangtuaku. Aku mencintai anak seseorang yang mereka khianati, yang tidak mungkin bisa menerimaku..." ucap Alezo.


Ia membiarkan angin malam yang dingin menerpa wajahnya. Alezo sungguh tidak siap menghadapi patah hati yang begitu menyakitkan. Membayangkan malam ini adalah malam terakhirnya bersama Jemima membuat perasaannya kacau. Bagaimana ia akan menjalani realita dengan hati yang hancur? Apa ia tetap bisa profesional jika suatu saat ia dan Jemima bertemu dalam suatu pekerjaan? Apa ia bisa bersikap bisa saja jika suatu hari mendengar kabar Jemima berkencan dengan pria lain?


Alezo tersentak ketika merasakan tangan Jemima melingkari pinggangnya. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di punggung Alezo.


"Alezo...aku juga mencintaimu. Hanya saja..."


Alezo memotong ucapan Jemima dengan berbalik dan merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Ia mengeratkan pelukannya seolah tak ingin melepaskan gadis itu.


"Mima...tetaplah bersamaku. I'll do everything. Everything you want me to do. Biarkan aku menebus kesalahan orangtuaku. Aku mohon, Mima...aku mohon..."


Alezo memohon dengan sangat pada Jemima, berharap gadis itu akan menerima.


***