Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 71



Najla mengemas barang-barang Neil dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah dirawat selama tiga hari akhirnya Neil diperbolehkan pulang. Najla sejujurnya masih dipenuhi perasaan bersalah meski Neil berkali-kali mengatakan 'tidak apa-apa' setiap Najla meminta maaf. Apalagi Najla baru mengetahui bahwa Neil ternyata CEO rumah sakit ini. Pantas saja ia ditempatkan di ruangan president suite dan perawat serta dokter yang memeriksa Neil terlihat segan padanya. Seorang CEO pasti sibuk, dan Najla sudah pasti membuat pekerjaan Neil terbengkalai karena harus dirawat karena sakit.


Najla menoleh saat pintu kamar mandi terbuka dan sosok Neil keluar dengan rambut basah setelah mandi. Tanpa sadar Najla menelan ludah melihat Neil yang walaupun masih mengenakan piyama rumah sakit namun terlihat begitu berdamage. Wangi sabun tercium saat Neil semakin mendekat dan Najla refleks menghirup nafas dalam-dalam.


"Hey. Kenapa kau melamun?" Tanya Neil sambil melambaikan tangannya ke wajah Najla.


"Ow...ehm...aku memikirkan apakah ada lagi yang tertinggal," jawab Najla tergagap, malu karena terpesona.


"Maaf membuatmu harus menungguiku di sini,"


Najla menghela nafas mendengar ucapan Neil. Ia sontak menghentakkan tas yang ia pegang lalu berbalik menghadap Neil.


"Neil. This is my fault. Aku yang harusnya meminta maaf, bukan kau. Kau membuatku semakin tidak enak hati," tukas Najla dengan wajah cemberut.


'Kenapa Neil harus meminta maaf sementara ia sendiri hampir sekarat karenaku', batin Najla.


"Harusnya kau berhenti memakan masakanku setelah mencicipinya," lanjut Najla lagi.


Bola mata Najla mengikuti Neil yang kini memilih duduk di tepi ranjang, di samping Najla.


"Kau sudah berusaha keras. Aku akan merasa buruk jika tidak memakannya. Aku tidak ingin membuatmu kecewa," jelas Neil.


"Dan mengorbankan dirimu? But...Neil, why did you do that?"


Najla menunggu jawaban Neil karena pria itu tak langsung menjawab.


"Aku tidak akan melakukannya jika aku tidak mencintaimu,"


Jawaban Neil seketika membuat Najla tiba-tiba merasa membeku. Ternyata benar adanya orang akan rela melakukan apapun demi cinta.


Najla tak menolak saat Neil memeluknya. Harum segar tubuh Neil seketika memenuhi hidung Najla dan membuatnya refleks membalas pelukan Neil.


"I'm sorry, Neil," ucap Najla lirih.


"No, no. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Ah, nyaman sekali seperti ini," balas Neil semakin mengeratkan pelukannya pada Najla dan menghirup ceruk leher Najla.


Najla tersenyum. Neil benar-benar bisa membuatnya tersipu.


"Bersiaplah. Kita akan pulang," ucap Najla setelah pelukan mereka terlepas.


Neil menurut. Ia kemudian beranjak dan mengambil baju ganti yang sudah Najla siapkan di meja.


"Mau kemana?" Tanya Najla saat melihat Neil menjauh.


"Aku akan berganti pakaian di kamar mandi,"


"What? Aku sudah melihat seluruh tubuhmu hingga hafal jumlah otot perutmu dan kau masih malu berganti pakaian di depanku?"


Neil terhenyak mendengar ucapan Najla, tak menyangka sang kekasih berkata demikian.


"Ah...kau bisa melihatnya lagi nanti. Not in here," sahut Neil jahil sambil mengedipkan sebelah matanya dan berlalu.


Najla tertawa kecil mendengar ucapan Neil. Ia memegang pipinya yang entah kenapa terasa hangat. Tiba-tiba rasanya ia tak sabar untuk pulang.


'Apa nanti aku menginap di unit Neil untuk menjaganya? Atau dia yang di unitku? Astaga, apa sebaiknya kami tinggal bersama saja?' batin Najla.


***


"Terimakasih sudah mengantarkan aku dan Najla," ucap Neil pada Alezo dan Jemima yang menjemput mereka di rumah sakit setelah tiba di unitnya.


"No problem," jawab Alezo.


"Maafkan aku tidak sempat menjengukmu dan baru datang saat kau sudah boleh pulang," timpal Jemima.


"It's OK. Kau pasti sibuk," sahut Neil tersenyum.


"Tapi pasti sahabatku ini menjadi suster yang baik untukmu, bukan?" Goda Jemima sambil merangkul bahu Najla yang duduk di sampingnya


"She's the best. Mungkin aku akan merekrutnya menjadi suster di Global Medika," ucap Neil yang disambut tawa oleh mereka semua.


"Ah ya. Lusa datanglah ke rumahku untuk makan malam bersama. Albar berencana menikah, dan dia akan memperkenalkan kekasihnya," ujar Alezo.


"Really? What a good news. Maura juga akan menikah dua minggu lagi," sahut Neil.


"Ah ya. Jangan lupa mengajak Maura. Ibuku kemarin menanyakan kabarnya,"


Neil mengangguk. Seingatnya Friska sang sekretaris sudah mengatur cuti untuknya hingga lusa, sehingga ia tidak akan praktek.


"Najla. Aku akan berbelanja hari ini. Ayo pergi bersamaku," cetus Jemima tiba-tiba.


"Hey. Dia harus menjaga Neil," potong Alezo cepat.


"Ah...ya. Padahal tas yang kita inginkan kemarin sedang diskon..."


"Benarkah? Ayo!" Tak di duga Najla justru semangat.


"Kau akan pergi denganku? Yes!" Seru Jemima.


Sementara Alezo dan Neil terpana melihat para gadis yang seketika terlihat seperti anak kecil kegirangan.


"Neil, aku akan segera kembali. Tas incaranku tidak bisa menunggu. Kau beristiratlah, oke?" Ucap Najla yang hanya mampu disambut dengan anggukan kepala oleh Neil.


Najla dan Jemima pun berlalu sambil terus membicarakan tas yang ingin mereka beli meninggalkan kekasih mereka yang saling memandang satu sama lain.


"Ehm...sepertinya hubunganmu dengan Najla kembali membaik," tukas Alezo sepeninggal para gadis.


"Aku harap begitu. Jujur aku masih merasa was-was ini hanya sementara," ucap Neil.


"Kau tidak tahu bagaimana paniknya Najla saat kau collaps. Dia bahkan tak ingin pulang atau ditemani saat menjagamu. Apa namanya kalau bukan karena dia mencintaimu?"


Neil terdiam mencerna ucapan Alezo. Benar juga. Untuk apa Najla repot-repot mengurusnya jika memang tak memiliki rasa. Najla mengatakan ia bersedia mencoba mencintai Neil kembali dari awal, bukan? Apakah sekarang cinta untuknya sudah tumbuh di hati gadis itu?


"Tugas kita sebagai pria adalah berjuang memenangkan hati mereka. Aku tidak perlu mengajarimu, bukan?" Goda Alezo.


"Cih...dasar sombong," cetus Neil sebal.


"Dan kau tau apa artinya melihat mereka berdua terlihat begitu berapi-api untuk membeli tas yang harganya tidak masuk akal itu?" Tanya Alezo yang membuat Neil mengernyitkan dahi.


"What?"


"Kita harus bekerja keras menghasilkan banyak uang untuk mereka,"


"Benar juga..." sahut Neil sambil menggaruk kepalanya.


"Kalau begitu katakan pada ayahmu naikkan gajiku,"


Kali ini Alezo yang berdecih. "Gaji dan tunjanganmu sebagai CEO ditambah biaya jasa layananmu yang mahal itu apa masih kurang?"


"Tapi tentu tak sebanyak uangmu," kilah Neil. "Kau lebih kaya!"


"Salahmu tidak ingin menjadi aktor. Padahal aku sudah menawarimu,"


Neil menggeleng. Ia bisa berhenti bernapas berada di depan kamera. Bahkan ia hampir tidak pernah berfoto dengan ponselnya.


"Sahammu juga dimana-dimana. Jangan berlagak miskin, brengsek," seru Alezo sambil melemparkan bantal pada Neil


"Apa kau tak berniat pulang?" Geram Neil.


Alezo menggeleng sambil merebahkan tubuhnya di sofa.


"Aku akan menjagamu di sini, sayang," jawab Alezo sambil memanyunkan bibirnya memberi isyarat kecupan yang membuat Neil begidik ngeri.


"Aku akan tidur di kamar. Terserah kau ingin melakukan apapun," ketus Neil sambil meninggalkan Alezo menuju kamarnya.


***


Kamila tampak sibuk menata makanan di meja makan untuk persiapan dinner. Ia memaksa Alezo agar dinner yang mereka rencanakan diadakan di rumahnya, bukan di rumah Alezo.


"Rumah mama sudah terlampau sepi. Kalian yang harus datang ke sini," begitu alasan Kamila yang ia sampaikan pada Alezo dan Albar.


"Nyonya, biar saya saya yang menyiapkannya. Nyonya sebaiknya beristirahat," ujar Bi Nani, asisten rumah tangga Kamila.


Kamila menggeleng, menolak berhenti melakukan aktivitasnya.


"Ini makan malam spesial. Anak-anakku akan datang bersama pasangannya jadi aku harus menyiapkan semuanya dengan tangannku sendiri," jawab Kamila.


Setelah selesai Kamila bergegas mandi dan berdandan mengenakan pakaian indah yang membuat Romel keheranan.


"Kenapa kau terlihat seperti akan menghadiri gala dinner?" Tanya Romel.


Kamila menghela nafas, merasa terusik dengan pertanyaan sang suami.


"Papa. Kekasih anak kita bukan orang biasa. Yang satu artis, yang satu lagi anak konglomerat. Kekasih Neil juga seorang artis. Lalu adiknya, Maura akan datang bersama calon suaminya seorang perwira dan anak jenderal. Lalu papa berharap mama berdandan biasa saja? Oh no..." cerocos Kamila.


Romel terdiam mendengar ucapan istrinya. Ia memilih beranjak tak ingin melanjutkan percakapan.


***


Alezo dan Jemima menjadi yang pertama hadir. Tentu saja kedatangan mereka, terutama Jemima disambut hangat oleh Kamila dan Romel.


Baru saja Kamila akan mengobrol dengan Jemima, sejurus kemudian Albar dan Louisa, sang kekasih tiba. Karena ini pertama kali bertemu, Kamila langsung menyambut ramah Louisa yang terlihat gugup.


"Halo, Louisa. Nice to see you, young lady. Putraku beruntung sekali menjadi kekasihmu," ucap Kamila tulus setelah berpelukan dengan Louisa.


"Ah, tante. Terimakasih," jawab Louisa.


Tiba-tiba mata Jemima dan Louisa beradu pandang. Jemima sontak tersenyum dan menganggukkan kepala menyapa Louisa. Tak disangka gadis itu justru terpaku, seperti tiba-tiba membeku menatap Jemima tak berkedip.


Beruntung Albar yang berdiri di sampingny mengerti lalu menarik tangan Louisa untuk mendekati Jemima.


"Nuna, Louisa adalah penggemarmu. Dari awal dia sudah gugup karena akan bertemu denganmu," ucap Albar.


"Ah benarkah. Terimakasih sudah menyukaiku. Tenanglah, aku tidak menggigit," canda Jemima sambil memegang tangan Louisa


"I adore you so much, eonni. Aku seperti mimpi berhadapan denganmu sedekat ini,"


Jemima tertawa, merasa tersanjung dengan ucapan Louisa.


"But...haruskah kalian berdua memanggilku nuna dan eonni? Kita seumuran...."


"Kau akan menjadi kakak ipar kami "


Jemima mengerjapkan mata mendengar Albar dan Louisa menjawab serempak.


"Ow...baiklah..." ucap Jemima pasrah.


Tak lama kemudian terdengar deru suara mobil. Mereka semua menebak itu suara mobil Neil. Benar saja. Tak lama kemudian Neil muncul bersama Najla. Tentu saja lagi-lagi Kamila menyambut mereka dengan suka cita. Apalagi Neil memang sudah seperti anaknya sendiri.


Setelah saling menyapa, pasangan terakhir pun tiba. Maura dan Habayazi, kekasihnya muncul  dan langsung menyapa semua orang.


"Baiklah. Karena sudah berkumpul, mari kita makan," ajak Kamila yang berjalan menuju dapur dan diikuti oleh yang lainnya.


"Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini, Maura," ketus Louisa yang sengaja berjalan mendekat pada Maura agar tak ada yang mendengar ucapannya.


Maura tersenyum sinis, risih dengan ucapan Louisa.


"Aku tidak ingin merusak suasana makan malam. Jadi simpan tenagamu setelah ini," balas Maura tak kalah sengit.


Tanpa mereka sadari Neil memperhatikan gerak gerik mereka dari kejauhan dengan tatapan was-was.


Ada apa antara Maura dan Louisa?