Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 74



Haiiii readers selamat lebaraaaaan 💕 Mohon maaf lahir bathin yaaa. Maafin aku lama ga update hiks. Insyaa Allah aku akan rutin lagi lanjutinnya. Tipis-tipis dulu nih hehe. Selamat membaca yaaa.


Alezo menggelengkan kepala membaca artikel yang memberitakan tentangnya dan Jemima di sela waktu istirahat syuting. Hampir semua media infotainment menjadikan mereka sebagai headline, tentu saja lengkap dengan foto. Yang membuat Alezo tertegun adalah ekspresi wajahnya ternyata terlihat begitu kesal di depan kamera sejak awal ia membantu Jemima hingga masuk ke mobil. Dahinya berkerut dan wajahnya cemberut. Tentu saja hal itu tak luput dari komentar netizen.


'Lihatlah Alezo begitu marah karena Jemima terjatuh saat dicecar wartawan!'


'Oh Tuhan...Alezo si manusia dingin bahkan sampai tidak bisa menutupi kekesalannya karena Jemima terganggu'


'All I can say is...Alezo benar-benar pria sejati!'


'Jemima beruntung sekali mendapatkan Alezo. Ah tidak-tidak, mereka sama-sama beruntung!'


'Aw...puppy eyes Jemima saat Alezo berada di sampingnya benar-benar menggemaskan!'


Alezo berhenti membaca karena komentar netizen terus bertambah tanpa henti. Ia kemudian menekan nomor ponsel Jemima untuk menanyakan keadaan gadis itu setelah melihat berita tentang mereka.


Sayangnya hingga panggilan ke tiga Jemima tak kunjung menjawab. Seingatnya hari ini Jemima tidak ada jadwal pekerjaan. Hanya latihan pilates, itu pun sudah selesai sejak tiga jam lalu terakhir mereka berkomunikasi.


Alezo tersentak saat seseorang menepuk keras bahu kanannya. Ia refleks mengaduh lalu menoleh ke arah orang yang sungguh ingin ia timpuk karena sudah membuatnya terkejut. Namun niatnya harus ia pendam karena pelakunya adalah Sean, sang kapten timnas sepakbola yang juga adalah satu sohibnya.


"Sean? Bagaimana kau ada di sini?" Tanya Alezo heran.


Tentu saja. Bagaimana seorang pemain bola ada di lokasi syuting, bukannya Sean seharusnya ada di lapangan?


"Bagaimana kabarmu, bro?" Ucap Sean membuka obrolan sambil duduk di samping Alezo.


"Fine. As you see," jawab Alezo. Sejujurnya ia merasa cangggung karena sempat cemburu pada Sean saat ia terciduk bersama Jemima di taman beberapa waktu lalu.


'Tunggu, pernah? Tidak, sampai sekarang aku masih cemburu padanya!' batin Alezo.


Apalagi Sean adalah teman lama Jemima yang lebih dulu mengenal sang kekasih. Rasanya cukup wajar jika Alezo merasa was-was.


"Kau memandangku seperti melihat hantu!" seru Sean yang terganggu dengan tatapan aneh Alezo.


"Ow...ya. It's weird to see you here. Kenapa kau ada di sini?"


"Ah...aku kira kau sudah tahu. Aku menjadi cameo di film ini. Mendadak memang. Aku sempat menolak tapi ternyata timnas justru mendukungku mumpung sedang libur," jelaw Sean.


Alezo terpana mendengar penjelasan Sean. Kenapa harus Sean sementara ada banyak aktor lain? Apa karena popularitasnya yang bahkan bisa dikatakan mengimbangi para selebriti?


"Begitu rupanya. Good," tukas Alezo sekenanya.


Ia kemudian pura-pura membuka buku naskah yang ia pegang menghindari obrolan lebih lanjut dengan Sean. Alezo tak nyaman. Entah kenapa ada ketakutan bahwa Sean lebih mengenal Jemima ketimbang dirinya dan itu membuat Alezo terusik. Ia khawatir Sean akan menggunakan cerita masa lalunya dengan Jemima untuk mendekati kekasihnya itu.


'Apa aku harus menikahi Jemima besok agar pria ini tak berani mendekati kekasihku?' Seru Alezo dalam hati.


"Hey bro. What's wrong?" Tegur Sean yang menyadari sikap aneh Alezo.


Padahal mereka cukup akrab dan berada dalam satu circle pertemanan walau jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.


"What? Aku hanya berkonsentrasi membaca naskah," dusta Alezo.


Tak disangka Sean merampas buku naskah tersebut lalu meletakkannya agak jauh dari Alezo.


"Bro. Let say I can read your mind. Apa ini karena Jemima?"


Alezo sontak menoleh ke arah Sean yang menatapnya, terheran ternyata ia begitu peka.


"Kau...merasa aku akan menjadi pengganggu hubungan kalian karena aku memberitahumu bahwa dia adalah cinta pertamaku?"


"I didn't say that," sahut Alezo setenang mungkin padahal darahnya berdesir karena ucapan Sean benar.


"Tenanglah. Aku atlet yang terbiasa dengan sportivitas. Aku tak akan melakukan apapun saat kalah selain menerimanya dengan besar hati," ujar Sean.


Alezo tertawa kecil. "Apa kita bertanding, huh?"


"You know what. Aku bertahun-tahun menyimpan perasaan dan mencari cara untuk mendekati Jemima setelah dewasa. Namun dia begitu tak tergapai, seolah berada di dunia yang berbeda. Lalu saat kami tanpa sengaja bertemu, aku kira itu jalan yang Tuhan siapkan untukku bertemu Jemima..."


Alezo mendengar dengan seksama cerita Sean meski hatinya terasa panas. Bagaimana mungkin Sean dengan leluasa menceritakan perasaannya pada Jemima di depan Alezo.


"Ternyata harapan itu langsung sirna ketika kau mendatangiku dan dengan tegas mengatakan Jemima adalah milikmu. Wow. Itu rasanya seperti dijatuhkan saat kau berada di titik tertinggi harapan. Ternyata memang sampai kapanpun Jemima tak bisa kumiliki,"


Alezo masih diam membisu, tak tahu harus merespon apa meski dalam hati ada rasa prihatin pada Sean karena kehilangan cinta pertama yang ia tunggu bertahun-tahun.


"I'm happy for you both. Aku yakin kau memang yang terbaik untuknya. Kalian dari dunia yang sama. Kau akan lebih bisa menjaga dan membahagiakannya," lanjut Sean.


"Of course I will," sahut Alezo cepat.


Sean tersenyum getir. "I know. Jemima saat bersekolah dulu sering sekali murung. Entah kau sudah tau atau belum, cerita keluarganya begitu menyedihkan. Bahkan aku turut menangis saat ia bercerita..."


Alezo terhenyak. Ternyata Sean mengetahui cerita keluarga Jemima. Ia seketika merasa ciut karena kisah menyedihkan yang mendera keluarga Jemima disebabkan oleh orangtuanya. Saat itu Alezo hidup berbahagia, sementara di belahan lain Jemima menderita, dan Sean yang menemaninya.


"Namun sekarang ia begitu bersinar. Dia menjadi bunga yang mekar dengan indahnya. She deserve all the love...she deserve you,"


Alezo tertegun mendengar kalimat Sean yang terdengar tulus. Helaan nafas panjang Sean menjadi bukti bahwa sebenarnya perasaannya hancur dan Alezo bersimpati akan itu. Ia yakin tak ada niat untuk merebut Jemima di hati Sean. Berteman cukup lama membuat Alezo menyimpulkan Sean adalah pribadi yang bijak selama mereka bergaul. Alezo lalu menepuk bahu Sean yang membuatnya menoleh.


Sean mengangguk dan tersenyum, merasa lega dengan perubahan sikap Alezo yang tak lagi dingin.


"We can be friend then," tukas Alezo lagi.


"Sounds good,"


***


Jemima membelalakkan mata ketika menonton televisi dan mendapati Mahen sedang dikerubuti media di depan kantor Magnolia. Ia lalu meraih remot untuk membesarkan volume suara.


"Apa alasan Anda memberi izin aktor dan artis Magnolia untuk berkencan terang-terangan?"


"Apa karena itu adalah permintaan Jemima, princess kalian?"


"Hubungan Alezo dan Jemima menjadi trending topic. Apa itu hal positif atau negatif bagi Magnolia?"


"Apa Anda tidak khawatir akan muncul skandal memalukan?"


"Bagaimama jika berkencan mengganggu performa para artis?


Jemima ternganga mendengar pertanyaan wartawan bagaikan peluru yang menyerah Mahen. Ia kira Mahen tak akan merespon, namun ternyata sang CEO mengambil ancang-ancang untuk menjawab. Jemima membenarkan posisi duduknya, bersiap mendengarkan jawaban Mahen yang sejak kemarin tak membalas pesannya itu.


"Well. Sebenarnya aku sudah menyiapkan waktu untuk membicarakan hal ini pada media. Namun karena aku melihat hampir semua media di sini, I will tell you all tentang keputusanku sebagai CEO Magnolia," tukas Mahen.


Sungguh, Jemima melihat jelas perubahan ekspresi wajah Mahen yang terlihat begitu masam dan mengintimidasi.


"Hampir separuh hidupku aku habiskan di dunia entertainment. Dari menjadi aktor hingga aku memimpin agensi besar. Aku lebih dulu mencicipi pahit manis bahkan getirnya dunia hiburan ini,"


Mahen Alhady, memang aktor top pada masanya. Ia seorang aktor, model dan memutuskan untuk bergabung dengan manajemen Magnolia setelah merasa cukup di usianya yang tak muda. Jika saat ini Alezo adalah aktor nomor satu, sematan itu dulu dipegang oleh Mahen. Bahkan Jemima pun mengenal Mahen saat kecil dulu karena sang ibu mengidolakannya.


Mahen mengambil nafas lalu membisu beberapa detik, seolah mengumpulkan kekuatan. Tanpa sadar Jemima juga turut menarik nafas, tak sabar menunggu Mahen melanjutkan kalimatnya.


"Di masaku media dan netizen jauh lebih kejam karena undang-undang tak seketat sekarang. Media yang demi mengeruk keuntungan dari berita, tak segan mengkuliti selebriti hingga tulang-tulangnya hingga menjatuhkan korban,"


Wajah Mahen terlihat memerah seolah menahan marah dan kilatan matanya bagai ingin menerkam sesiapa. Tentu Jemima semakin berdebar karena seingatnya Mahen tak pernah marah.


"Aku tidak akan melupakan bagaimana saat aku ketahuan berkencan dengan seorang gadis lalu media dan netizen mencecarnya habis-habisan...terutama perusahaanmu," ucap Mahen sambil menunjuk ke salah satu wartawan di depannya.


Sontak kamera mengarah ke wartawan yang memegang mikrofon dengan label Spill The Tea.


"Aku harus hiatus beberapa tahun karena dianggap membuat skandal berpacaran dengan gadis biasa. Dan..."


"Catat baik-baik. Kekasihku bunuh diri karena menyalahkan dirinya atas kehancuran karirku,"


Usai berkata demikian para wartawan sontak terkejut bahkan suara mereka terekam jelas di televisi. Jangan tanya Jemima. Ia hampir jantungan sangking terkejutnya. Tubuhnya bahkan terasa membeku dan bulu kuduknya berdiri, merinding mendengar ucapan Mahen. Jemima tiba-tiba teringat akan sesuatu. Apa itu penyebab Mahen memutuskan tak menikah?


"Berita kematiannya bahkan tidak muncul di media manapun. Kalian terkejut, bukan? Silahkan cek arsip perusahaan kalian. Jelas-jelas aku memaki media yang meliputku dan meneriaki mereka pembunuh. Herannya tak satupun ada di televisi dan media cetak,"


Jemima mengusap air matanya yang tanpa sadar jatuh membasahi pipinya. Ia tak menyangka Mahen melalui hal yang tak mudah di masa mudanya. Tragis dan menyedihkan. Apa karena itu ia kemudian memutuskan memberi izin para artis Magnolia untuk berkencan?


"Selebriti berkencan bukan suatu skandal. Entah dengan siapapun. Mereka manusia dewasa yang berhak untuk jatuh cinta. Agensi hanya mengurusi bisnis, bukan pribadi. Apalagi media, kalian tidak punya hak atas kehidupan selebriti. Terutama bagi artis asuhan Magnolia. Don't disturb my children with trash news. I trust them," tegas Mahen.


"Oh Tuhan Mahen!" Seru Jemima usai Mahen menyelesaikan kalimatnya.


Rasanya Jemima ingin segera bertemu Mahen yang ternyata begitu peduli pada ia dan rekan-rekannya di Magnolia. Entah bagaimana caranya Jemima  berterimakasih. Yang jelas ia merasa harus memberikan sesuatu pada sang CEO atas kepeduliannya dan bentuk simpati atas masa lalu yang mungkin masih menyisakan luka di hati pria paruh baya itu.


***


Imbas pernyataan Mahen di media, akun Spill The Tea menghilang. Media yang fokus membuntuti para selebriti lalu merilis foto dan berita memancing seketika lenyap setelah netizen bereaksi melaporkan seluruh akun mereka. Ternyata netizen pun terganggu karena khawatir artis idola mereka akan mengalami hal yang sama dengan Mahen di masa lalu. Magnolia bahkan menjadi trending dengan pendukung yang salut akan kepedulian agensi kepada para artis sehingga tak akan ada lagi kabar artis yang depresi karena tersandung skandal. Saham Magnolia pun naik drastis sehingga tentu meningkatkan pendapatan perusahaan.


"So...sekarang kau bebas untuk berkencan?" Tanya Alezo saat berada di apartemen Jemima.


Jemima mengangguk cepat sambil mengunyah pizza.


"Ya. Kita bisa berkencan di cafe, coffeshop, bahkan di warung pinggir jalan!" Seru Jemima.


"Kita tidak harus di rumahmu atau di apartemenku. Membosankan, bukan?" Lanjutnya.


Alezo menggangguk. Setuju dengan kalimat Jemima. Selama ini mereka lebih sering bertemu di rumah atau apartemen agar leluasa dan tak terganggu media atau netizen.


"Bagaimana kita makan malam di luar?" Ajak Alezo yang tiba-tiba mendapat ide.


"Bagaimana jika kita juga mengajak Neil dan Najla?" Timpal Jemima.


"Ah, ide bagus. Aku juga sudah tidak lama bertemu Neil,"


Jemima kemudian meraih ponselnya untuk mengirimkan pesan pada Najla. Tak Najla membalas dan mengiyakan ajakan Jemima.


"Can't wait for the double date!' Seru Jemima riang.


***