
Jemima menarik nafas panjang sebelum mengetuk ruang kerja Ibra. Tangannya terasa dingin dan jantungnya berdebar kencang. Dari pagi saat Tita mengatakan bahwa Ibra ingin bertemu dengannya perasaan Jemima sudah tidak enak. Ia berpikir apa jangan-jangan Ibra sudah mengetahui bahwa ia berpacaran dengan Alezo dan kini sang CEO akan memarahinya. Jemima pun lalu mengetuk pintu dan memejamkan mata menunggu respon Ibra.
"Masuk,"
Perlahan Jemima membuka pintu dan mendapati Ibra yang sedang sibuk membaca berkas di meja kerjanya.
"Hai," sapa Jemima kikuk. Ia memaksakan sebuah senyum yang ia yakini terlihat aneh.
Ibra tak menjawab. Ia memberi isyarat agar Jemima duduk di kursi di hadapannya. Jemima tanpa menunggu lama langsung duduk dan memastikan posisi duduknya tegak lurus, seperti yang selalu diajarkan saat masa trainee.
"Ada apa memanggilku?"
"Kenapa gelagagatmu seperti orang yang baru melakukan kesalahan?"
Pertanyaan Ibra langsung menusuk sanubari Jemima. Ia menelan ludah. Habislah aku, jerit Jemima dalam hati.
"Jemima Tsamara. Sudah berapa lama kau di Magnolia?" Tanya Ibra sambil melipat tangannya dan menghujani Jemima dengan tatapan tajamnya.
"Ehm...sepuluh tahun. Ya...sepuluh tahun dari sejak awal aku menjadi trainee," jawab Jemima gugup.
"Kontrakmu di sini masih lama. Lima tahun lagi, bukan?"
Jemima mengangguk. Oh Tuhan, Ibra sudah membahas hal paling sensitif. Apa kontraknya dengan Magnolia hari ini akan berakhir? Ah jangan sampai. Ia ada jadwal launching Album tahun ini. Jemima sungguh-sungguh berdoa dalam hati meminta pada Tuhan agar itu tak terjadi.
"Aku masih mengingat jelas saat kau menjalani audisi. Kau datang dengan baju seadanya yang membuatku hampir saja menolakmu," ujar Ibra.
"Namun akhirnya aku memberimu kesempatan karena melihat tanganmu bergetar. Dan ketika ku tanya kenapa, kau menjawab itu karena kau belum makan,"
Jemima terdiam. Ia pun masih mengingat jelas momen itu. Menjadi peserta terakhir dengan penampilan jauh di bawah peserta sebelumnya. Hanya bermodal doa dan hafalan dialog drama saat mata pelajaran Bahasa Indonesia karena ia audisi untuk menjadi aktris.
"Jika aku tak mendengarkan hati kecilku untuk membiarkanmu mengikuti audisi, mungkin aku tidak akan mencetak seorang diva fenomenal," lanjut Ibra. Kali ini dengan tatapan yang lebih hangat.
"Kau datang sebagai kepompong. Lalu menjelma menjadi kupu-kupu paling indah di Magnolia,"
Mata Jemima tiba-tiba terasa hangat pertanda air matanya mendesak keluar. Sekuat tenaga ia mencoba menahannya. Entah apa maksud Ibra, yang jelas Jemima merasa terenyuh karena membuatnya teringat akan perjuangannya yang tak mudah untuk mencapai titik seperti saat ini.
"Jemima...kau sudah bekerja sangat keras. Aku tahu kau tersiksa saat aku malah menjadikanmu penyanyi. Aku melihat kau menangis setiap selesai latihan karena kesulitan. Aku mendengar suaramu berlatih sendiri saat orang-orang sudah pulang..."
Dada Jemima terasa sesak. Ia tidak tau Ibra memperhatikannya. Kala itu ia hanya berpikir Ibra sangat kejam karena memaksanya bernyanyi, padahal ia ingin berakting sebagai aktris.
"Kerja kerasmu berbuah manis. Lihatlah dirimu sekarang. Kupu-kupu yang ku rawat bahkan menjelma menjadi peri,"
Jemima tidak tahan lagi. Air matanya mengalir deras di hadapan Ibra. Memori ia berjuang saat trainee sebelum berhasil debut seketika memenuhi otaknya dan menyesakkan ketika dikenang. Bukan karena beratnya latihan, namun alasan kenapa ia memilih melakukannya.
"Aku menjadikan kau penyanyi karena pertama kali mendengar suaramu saat bicara terdengar begitu lembut. Suaramu indah. Aku hanya perlu memolesnya," lanjut Ibra.
Jemima tercenung. Meski dengan mata yang basah ia beranikan diri menatap Ibra. Ia sendiri saat itu tidak menyadari bagaimana suaranya dan tidak pernah berpikir untuk bernyanyi. Bibirnya bersenandung pertama kali saat diterima di Magnolia setelah selama ini ia hanya bisa meratap.
"Dan aku memberimu kesempatan bermain film karena merasa berhutang padamu. Mimpimu adalah menjadi aktris, bukan?"
Jemima tak menjawab. Ia menelan ludah. Dalam hatinya memang ia ingin menjadi aktris yang berkarya dengan akting. Namun bernyanyi juga mengantarkannya menggapai impiannya. Dan ia bersyukur saat diberi kesempatan bermain film.
"Terimakasih untuk itu," jawab Jemima sejurus kemudian.
Jemima mendengar Ibra menghela nafas. Pria baruh baya itu lalu berdiri dan berjalan mendekatinya. Ibra kini berdiri di hadapan Jemima dengan posisi bersandar di mejanya. Kedua tangannya ia letakkan di saku celana.
"Apa kini kau bahagia?"
Pertanyaan Ibra seketika membuat Jemima terhenyak. Jemima dapat membaca sorot mata Ibra yang menyiratkan maksud dari pertanyaannya.
Sepuluh tahun lalu...
"Apa motivasimu mengikuti audisi ini?"
Jemima menarik nafas mendengar pertanyaan juri saat ia mengikuti audisi Magnolia. Ia melihat satu persatu kelima juri yang kini menghujaninya dengan tatapan menunggu.
Jemima merasakan lidahnya kelu. Suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Otaknya berpikir keras mencari jawaban kenapa dia berada di sini.
"Bagaimana kami bisa meloloskanmu jika kau kebingungan akan motivasimu sendiri!" Sentak seorang juri perempuan berkacamata.
Jemima terkesiap. Tangannya terasa dingin. Ia lalu meremas ujung baju lusuh yang ia kenakan, sayangnya itu baju yang menurutnya paling memungkinkan untuk digunakan. Matanya tak mampu beralih dari ujung sepatunya yang mulai terkelupas. Hingga akhirnya ia mendengar teriakan dari juri.
"Hey kau. Jawab pertanyaan kami dan kau akan kuberi kesempatan,"
Jemima perlahan mengangkat kepalanya. Ia manatap juri laki-laki yang berkata demikian. Dengan hati-hati Jemima menjawab meski dengan suara bergetar.
"Aku...aku ingin bahagia," jawab Jemima tergagap. "Aku ingin...aku ingin...memperbaiki kehidupanku dan berbahagia..."
Setelah menjawab demikian Jemima kembali menunduk sehingga ia tidak melihat juri yang saling berpandangan. Bahkan Juri pria yang tadi bersuara menatapnya dengan perasaan iba. Semua peserta menceritakan mimpinya untuk menjadi entertainer saat para juri bertanya motivasi mereka. Sementara Jemima si peserta terakhir hanya menjawab ia ingin bahagia. Kehidupan apa yang dijalani gadis ini sehingga ia mengadukan nasibnya di Magnolia untuk sekedar bahagia, pikir sang juri yang tak lain adalah Ibra.
"Kau diterima," ucap Ibra kala itu yang membuat Jemima terkejut yang tak menyangka.
Gadis yang terlihat murung dengan wajah sendu itu seketika terlihat begitu cantik dengan mata yang berbinar dan senyum yang merekah. Ibra menutup telinga dari protes rekan-rekannya sesama juri yang mengatainya sembarangan menerima orang. Namun Ibra tetap pada pendiriannya, meloloskan Jemima dan berjanji akan membuat gadis itu bahagia dengan mimpinya bersama Magnolia.
Jemima tak kuasa menahan tangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ibra hanya diam menatap Jemima yang tersedu-sedu. Jika ia tak menahan diri, ingin sekali ia memeluk Jemima dan berterimakasih atas perjuangannya. Berkat Jemima lah Magnolia berkembang dengan pesat. Meski dulu ia yang menerima Jemima, kini gadis itu lah yang berkontribusi besar untuk agensinya. Oleh karena itulah Ibra hampir tidak tidur setelah mendapat kabar Jemima mendapat teror terkait mobil dan hadiah menyeramkan yang dikirim ke apartemennya. Tanpa menunggu lama Ibra langsung mengutus Gerry sang bodyguard untuk bertugas menjaga Jemima.
"Semua berkat kau. Kau yang menerimaku di sini. Aku...aku hanya bekerja untuk menghidupi diriku," ujar Jemima di sela isak tangisnya.
Ibra tersenyum hangat. Ia tahu betul Jemima saat ini bergelimang harta dari kerja kerasnya. Tapi ia pun paham Jemima tidak pernah menyentuh kehidupan hedonisme selama ini. Jemima tetap dengan gaya hidupnya yang sederhana meski ia kini adalah seorang idola.
"Aku merasa harus mengatakan hal ini karena telah lama aku menyimpannya," ujar Ibra kemudian.
"Aku tidak ingin lagi membatasimu saat ini. Aku akan menutup mata tentang kehidupan pribadimu. Kau bisa memilih seseorang untuk menjadi pasanganmu,"
Jemima mengernyitkan dahi pertanda ia belum mengerti maksud ucapan Ibra.
'Jadi, Ibra memperbolehkan aku untuk menjalin hubungan? Artinya aku dan Alezo dapat berkencan tanpa khawatir?' Pikir Jemima dalam hati.
"Kenapa...ehm...maksudku apa yang membuatmu mengatakan hal ini?" Selidik Jemima.
"Agar kau bahagia, anakku,"
Ucapan lembut Ibra membuat Jemima ternganga. Ia menatap sang CEO yang kini tersenyum hangat padanya. Entah kenapa kali ini Jemima melihat Ibra bagaikan sesosok ayah yang begitu mencintai putrinya.
"Dari dulu aku berhayal kau memanggilku ayah. Karena aku seperti melihat putriku yang sudah tiada di dalam dirimu," ujar Ibra dengan mata berkaca-kaca.
Setelah lama memendam perasaannya, akhirnya ia dapat mengungkapkannya pada Jemima. Alasannya menerima dan melatihnya begitu keras tidak lain karena kasih sayangnya sebagai seorang ayah yang ingin putrinya berhasil di masa depan. Ia memendamnya dalam diam karena tak ingin membuat Jemima risih.
"Kau...." ucap Jemima lirih.
Seketika Jemima merasa bersalah telah berprasangka pada Ibra selama ini. Ia selalu merasa Ibra menyiksanya karena begitu keras melatih dan mengatur kehidupan pribadinya. Ternyata Ibra memandangnya sebagai seorang anak.
"Maafkan aku jika pernyataanku membuatmu risih..."
Jemima tak bisa berkata-kata. Ia pun selama ini kehilangan sosok ayah. Mendengar ucapan Ibra yang menganggapnya anak sungguh menyentuh hati sanubarinya. Tanpa berpikir panjang Jemima bangkit mendekati Ibra. Ia lalu memeluk pria paruh baya itu yang terkesiap karena reaksinya.
"Aku berada di titik ini berkat kau. Terimakasih, Ayah..."
Ucapan Jemima sontak membuat Ibra menitikkan air mata. Ia membalas pelukan Jemima dengan perasaan lega. Bayangan Rininta, putrinya yang telah tiada memenuhi relung hatinya. Ibra lalu bercerita ia tidak sempat membuat putrinya bahagia karena ia sempat merugi saat membangun Magnolia. Ia bahkan tidak sanggup membawa Rininta berobat karena demam berdarah. Akhirnya sang putri pergi, meninggalkan penyesalan yang mendalam bagi Ibra. Saat itulah Jemima datang dan membawa keberuntungan bagi Magnolia. Sayangnya Rininta tak dapat menikmati hasil kerja keras sang ayah. Maka dari itu Ibra berjanji akan mewujudkan mimpi Jemima sebagai pengganti Rininta.
"Mengapa tidak dari awal kau menceritakan ini padaku? Aku akan dengan senang hati menjadi anakmu," ucap Jemima sendu.
Ibra tertawa. "Itu akan mengganggumu. Aku ingin kau fokus menjadi seorang diva,"
"Berjanjilah kau akan mengenalkan dan membawa pria beruntung itu padaku kelak," ucap Ibra setelah Jemima melepaskan pelukannya.
"Ah...ya. Pasti akan ku lakukan," jawab Jemima sambil menghapus air matanya dengan tangan.
Ia ingin langsung mengatakan bahwa ia dan Alezo sudah berkencan, namun ia tidak mau merusak momen di antara mereka berdua yang baru saja terjadi. Mungkin beberapa hari lagi, pikir Jemima.
"Sekarang pergilah. Aku tau jadwalmu padat. Jaga kesehatanmu," tukas Ibra kemudian.
Jemima mengangguk. Ia lalu menarik nafas dan memastikan wajahnya tetap segar walaupun sehabis menangis. Jemima berbalik dan menuju pintu keluar. Sebelum melangkah ia menoleh ke arah Ibra.
"Aku pergi, Ayah," pamitnya, menciptakan senyum di bibir Ibra.
***
Alezo baru saja selesai menjalani pemotreran sebuah brand parfum pria. Ia segera menuju ruang ganti untuk mengganti pakaia. Alezo berencana untuk segera pulang karena ia merasa cukup lelah setelah menjalani dua pemotretan hari ini. Ia mulai berangkat dari rumah jam delapan pagi dan sekarang arlojinya menunjukkam pukul tujuh malam.
"Ini kopimu," Tara menyodorkan iced americano pada Alezo begitu ia keluar.
"Oh, God thanks Tara. You're the best," ucap Alezo yang langsung meraih kopi tersebut dan meminumnya.
"Jack mengajakmu makan malam. Apa kau mau?" Tanya Tara. Jack adalah pemilik brand parfum dimana Alezo menjadi musenya hari ini.
"Sepertinya lain kali. Aku sangat lelah,"
"Baik, akan kusampaikan. Apa kau masih membutuhkan bantuanku?"
"Tidak. Kau bisa pulang. Istirahatlah,"
Tara lalu pamit setelah Alezo berkata demikian. Dalam hati ia bersorak karena sebenarnya ia pun lelah. Menjadi manager artis tidak pernah semelelahkan saat mendampingi Alezo.
Alezo masuk ke mobil dan segera menyelakan mesin. Saat ini sungguh ia ingin makan malam dengan Jemima karena sejak mereka resmi berpacaran tiga hari lalu, mereka belum bertemu lagi. Kerinduannya terasa menggunung, dan Alezo tidak tahan lagi. Alezo lalu meraih handphone dan menelepon Jemima.
Dua kali mencoba menelepon tidak ada jawaban dari Jemima. Alezo mulai resah karena hari ini kekasihnya itu bahkan belum mengirimkan pesan. Ia pun berpikir untuk menghubungi Tita untuk menanyakan Jemima. Untung kemarin Jemima berinisiatif memberinya nomor Tita untuk jaga-jaga. Tak menunggu lama, Tita langsung menjawab.
"Halo,"
"Hei, Tita. Ini aku, Alezo,"
"Ah, ya. It's little bit weird menerima telepon darimu," ucap Tita di ujung telepon.
"Hm...apa kau sedang bersama Jemima?" Tanya Alezo.
"Kami sudah berpisah satu jam yang lalu setelah meeting di kantor Magnolia. Dia tidak menghubungimu?"
"Tidak. Apa dia langsung pulang ke apartemen?"
"Dia menginap di rumah Najla. Jangan khawatir. Gery pergi bersamanya,"
Alezo sedikit tenang mendengar jawaban Tita. Setidaknya Jemima aman dengan pengawalan bodyguard.
"Baiklah. Thanks Tita. I'll call her later,"
"Anytime,"
Alezo kemudian memutus sambungan telepon. Ia masih berpikir keras kenapa Jemima belum menghubunginya. Apa karena ia pergi bersama teman-temannya? Tak lama kemudian Alezo menginjak gas dan meninggalkan parkiran. Harapannya untuk bisa makan malam dengan Jemima pupus karena sang kekasih ternyata memiliki agenda lain. Ia memacu mobilnya membelah jalanan Jakarta yang padat dengan di temani lagu-lagu milik Jemima. Alezo tersenyum menertawakan dirinya yang dulu tidak ngeh dengan Jemima. Ia hanya sekedar tahu dan tidak tertarik mendengar lagu-lagu mellow Jemima yang menurutnya terlalu feminin. Namun sekarang justru ia merasa ada yang kurang kalau tidak mendengarkan lagu Jemima dalam sehari. Suara Jemima bak candu yang bisa mengobati rindu bagi Alezo.
Alezo menepi ketika mendengar suara gaungan ambulance. Beberapa saat kemudian ia tiba di kepadatan karena ternyata ada kecelakaan. Alezo berjalan pelan dan begidik ngeri melihat sebuah mobil hancur karena menghantam sebuah truk kontainer pengangkut bahan bakar yang sedang menepi di bahu jalan. Apalagi ia melihat korban yang bersimbah darah diangkut oleh tenaga medis. Tiba-tiba Alezo terkesiap ketika tak sengaja melihat plat nomor mobil tersebut. Ia mengucek mata untuk memastikan penglihatannya.
"Astaga!!" pekik Alezo panik.
Tanpa pikir panjang ia menepi dan menghampiri tenaga medis.
"Saya kerabatnya!"