
Jemima terbangun saat sinar matahari menerobos tirai jendela kamarnya. Ia menggeliat pelan dan tiba-tiba tersentak karena ada tangan yang melingkari pinggangnya. Sepersekian detik kemudian ia baru tersadar bahwa itu adalah tangan Alezo. Ia pun tersipu malu mengingat bahwa mereka kini adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Jemima meminta Alezo untuk tidak pulang karena rasanya berat untuk berpisah ketika mereka telah mengakui perasaan masing-masing. Beruntung hari ini jadwalnya dan Alezo kosong sehingga tidak perlu terburu-buru. Sejenak Jemima lupa akan kejadian menakutkan yang ia alami kemarin. Ia merasa dunianya baik-baik saja karena kini Alezo bersamanya.
Jemima menatap wajah Alezo yang masih tertidur pulas. Ia tidak dapat menahan senyum memperhatikan wajah kekasihnya yang tetap terlihat tampan. Rasanya seperti mimpi saat ini ia dan Alezo tidur di ranjang yang sama, mengingat betapa gundahnya Jemima karena menahan perasaan pada Alezo yang ia kira tak akan berbalas. Mereka tidur berpelukan sepanjang malam tanpa ingin melepaskan satu sama lain. Rasanya begitu nyaman dan hangat berada dalam dekapan tubuh kekar Alezo.
"Apa wajahku begitu tampan sampai kau terpesona?"
Jemima terperanjat ketika tiba-tiba Alezo membuka matanya. Ia pun menghujani Alezo dengan cubitas gemas. Alezo mengulurkan kedua tangan, pertanda ia menginginkan Jemima ke dalam pelukannya.
"Apa wajahmu sudah secantik ini saat bangun tidur?" Puji Alezo menatap wajah Jemima yang kini berada di atasnya.
"Berhenti menggombal," cetus Jemima
"Tidak. Aku akan terus mengatakan kau cantik karena selama ini aku hanya mengucapkannya dalam hati,"
Jemima tersenyum. Ia tidak menyangka Alezo akan semanis ini.
"Biar ku liat dari sisi ini,"
Alezo lalu membalikkan tubuhnya dan kini ia berada di atas tubuh Jemima. Mereka saling bertatapan dan kemudian ia mengelus lembut pipi Jemima.
"Kau jauh lebih cantik dilihat dari sisi ini,"
Jemima tidak tahan. Ia tertawa melihat mata Alezo yang berbinar-binar karena terpesona akan wajahnya. Jemima kemudian bangkit dan duduk bersandar pada sandaran kasur.
"Tidurku benar-benar nyenyak tadi malam," ucap Jemima riang.
Alezo tersenyum. Ia lalu merangkul Jemima dan menyandarkan kepala kekasihnya itu di bahunya.
"Apa kau masih merasa pusing? Kau harus ke dokter memeriksakan kesehatanmu," tukas Alezo.
Jemima menggeleng, pertanda ia tidak lagi merasa sakit kepala. Namun kejadian kemarin yang membuatnya terkejut masih melekat dalam benaknya.
"Jujur aku masih belum merasa tenang. Apa ada orang jahat yang sedang mengintaiku?"
Alezo lalu memposisikan Jemima menghadapnya.
"Apa kau merasa punya masalah dengan orang lain?"
Jemima berpikir sejenak. Rasanya selama ia hidup di dunia tidak pernah bermusuhan dengan seseorang. Ia bukan tipe orang yang mencari masalah dengan orang lain.
"Aku rasa tidak," jawabnya. "Kecuali jika ada yang tidak suka padaku. Namun aku tidak memiliki bayangan siapapun,"
"Public figure seperti kita memang beresiko memiliki haters, dan itu tidak terhindarkan. Baiknya kau mulai hari ini harus didampingi bodyguard," ucap Alezo.
"Ya. Aku akan bicara pada Ibra tentang hal ini,"
Mendengar nama Ibra, Alezo seketika menegang. Ia tahu betul bos Magnolia itu protektif pada artis-artisnya, apalagi Jemima sang diva kebanggaan mereka. Sudah menjadi rahasia umum jika Magnolia melarang artis-artisnya berpacaran untuk menghindari skandal. Magnolia bahkan tak segan memutus kontrak mereka jika terlibat skandal serius yang dapat menganggu reputasi agensi nomor satu itu. Seketika Alezo takut jika keputusan mereka bersama akan merusak karir Jemima yang sedang bersinar.
"Hey, kau kenapa?" Tanya Jemima ketika Alezo tiba-tiba terdiam.
Alezo tidak menjawab. Ia justru meraih tubuh Jemima ke dalam pelukannya.
"Apa tidak akan menjadi masalah bagimu jika kita berpacaran?"
Pertanyaan Alezo seketika membuat Jemima menelan ludah. Ia mengerti maksud pertanyaan Alezo, apalagi jika bukan terkait agensinya. Sungguh Jemima pun sebenarnya ragu. Dulu ia memang di larang keras berpacaran saat awal meniti karir. Namun ketika karirnya menanjak dan bertahan hingga saat ini, agensinya tidak lagi membahas tentang larangan yang biasa selalu diwanti-wanti padanya itu. Ibra pun demikian. Ia tidak marah atau bereaksi berlebihan saat awal rumor Jemima dan Alezo berpacaran. Apa itu berarti saat ini ia bebas menentukan pilihan?
"Hmm...sebenarnya aku pun belum yakin..." ucap Jemima lirih. "Tapi aku tidak ingin saat bersamamu seperti ini berakhir,"
"Me too. Aku tidak ingin melepasmu,"
"Agensimu sendiri?"
"Agensiku bahkan memperbolehkanku menikah baru-baru ini," jawab Alezo tergelak.
"Apa kau tidak keberatan kita menjalani hubungan secara diam-diam? Maksudku, cukup orang terdekat kita yang mengetahuinya hingga nanti Magnolia memberiku lampu hijau untuk berhubungan," tukas Jemima.
"Asal kau menjadi milikku, apapun aku bersedia," balas Alezo yakin. "Aku tidak ingin menyulitkanmu,"
Jemima merasa lega dan mengencangkan pelukannya pada Alezo. Sungguh mereka berdua saling tergila-gila dan menjadi candu satu sama lain. Tidak rela rasanya jika mereka tidak bisa bersama setelah sekian lama frustasi menahan perasaan masing-masing hanya karena larangan agensi . Alezo rela harus merahasiakan hubungannya dengan Jemima entah sampai kapan. Namun itu jauh lebih baik daripada ia dan Jemima harus dipisahkan.
"Apa kau mengunggah pesawat kertas karena ulang tahunku?" Tanya Jemima memastikan. Ia baru ingat Alezo belum memberinya ucapan selamat ulang tahun.
"Ternyata kau cukup peka," jawab Alezo.
"Aku iri dengan orang-orang yang dengan bebas mengunggah foto dan mengucapkan ulang tahun padamu. Jadi aku unggah pesawat kertas itu. Aku kira rang-orang akan menganggap aku hanya sekedar promosi film. Tapi ternyata mereka menebak dengan benar bahwa aku mengunggah itu sebagai ucapan untukmu,"
"Kenapa kau tidak langsung mengucapkannya padaku?"
"Aku....malu....hehe..."
Jemima terperangah melihat ekspresi wajah Alezo yang berubah menjadi menggemaskan, apalagi ia sambil menggaruk kepalanya. Alezo yang tampan dan kekar ternyata bisa seimut ini? Jemima tidak tahan untuk mencubit pipi Alezo lalu mengecup cepat kekasihnya itu.
"Apa kau benar-benar Alezo? Kenapa kau bisa semenggemaskan ini?" Canda Jemima sambil memegang kedua pipi Alezo.
Keduanya saling tertawa dan kemudian berpelukan. Alezo kembali merebahkan tubuh mereka berdua dan memposisikan kepala Jemima di lengannya. Jemima pun langsung melingkarkan tangannya di dada bidang Alezo.
"Happy birthday, sweetheart," ucap Alezo lalu mengecup kening Jemima.
"Rasanya aku tidak ingin ini berakhir," tukas Jemima mengeratkan pelukannya.
"Tidak akan berakhir. Kita akan seperti ini selamanya," balas Alezo lalu mengceup pucuk kepala Jemima. Harum cytrus dari sampo yang dipakai Jemima membuatnya ketagihan.
Alezo lalu menarik selimut dan menutupi tubuh mereka yang menempel. Mereka berdua terus berpelukan berbagi kenyamanan.
***
Mobil Alezo memasuki pekarangan rumah setelah satpam yang bekerja di rumahnya membukakan pagar. Ia masih terus beryanyi pelan hingga masuk ke dalam rumah. Suasana hatinya sedang baik layaknya orang yang dimabuk asmara. Dengan berat hati ia harus pulang dari apartemen Jemima karena kekasihnya itu harus menghadiri sebuah acara talkshow sebagai bintang tamu. Sungguh ia merasa khawatir dengan jadwal Jemima yang padat. Ia khawatir gadis itu akan kelelahan dan jatuh sakit, walaupun Jemima terlihat bahagia menjalankan pekerjaannya. Jemima yang bekerja keras membuatnya begitu menarik bagi Alezo.
Alezo membuka kulkas dan meraih sekaleng minuman soda lalu membukanya. Ia membuka minuman tersebut lalu menenggaknya sambil berdiri masih di depan kulkas.
"Dor!!!"
Alezo terperanjat karena suara dan tepukan kencang di punggungnya. Kaleng minumannya terguncang hingga isinya tumpah ke lantai. Ia menoleh dan mendapati Albar sedang tersenyum membentuk 'peace' dengan dua jarinya. Anak setan, umpat Alezo dalam hati.
"Kenapa kau ada di sini?" Tanya Alezo heran. Albar datang ke rumahnya tanpa mengabari terlebih dahulu.
"Aku baru menemui klien di hotel dekat sini. Lalu aku teringat sudah lama tidak mengunjungi kakakku ini," jawab Albar santai. "Aku akan menginap di sini. Aku mempelajari resep baru. Akan kubuatkan untukmu,"
"Berapa?" tanya Alezo gemas pada Albar yang sedang asyik mengunyah coklat. Tentu saja itu milik Alezo yang ia ambil tanpa izin.
"Hah? Apa maksudmu?" Albar keheranan mendengar pertanyaan Alezo.
Alezo mendengus. "Aku sudah hafal gelagatmu kalau minta uang,"
Albar terhenyak. Ia mengedipkan matanya beberapa kali pertanda tak menyangka dengan pertanyaan Alezo.
"Apa ada tulisan di jidatku kalau aku minta uang?"
"So lalu apa? Aku tidak terbiasa dengan sikap manismu," ketus Alezo.
Albar menghela nafas. Ia meletakkan coklatnya dan berjalan mendekati Alezo. Tinggi mereka yang sepentaran serta tubuh yang sama-sama kekar berotot menjadikan mereka terlihat mirip. Padahal wajah mereka jauh berbeda. Alezo mewarisi wajah Kamila, sementara Albar adalah salinan Reno.
"Alezo. Apa kau lupa aku sudah menjadi arsitek dan mendirikan kantorku sendiri? Apa kau tidak tahu sekarang aku adalah CEO?" Ucap Albar sambil melipat tangannya di hadapan Alezo.
"Tapi uangku lebih banyak,"
Albar terdiam. Ia menarik nafas sebelum membalas kalimat Alezo. "Ya...kalau itu memang benar..."
"Well cepat katakan. Aku tahu kau ada maksud tertentu,"
"Ah, ya. Jadi...ehm...begini. Kau tahu kantorku baru berdiri dan aku tentu perlu melakukan publikasi secara meluas untuk menjaring klien dan meningkatkan reputasi perusahaanku,"
"And then?"
"Aku...ehm...aku ingin...menyewa kau untuk iklan. Hehe..." jawab Albar cengengesan. Luntur sudah kesombongan yang tadi ia lakukan.
Alezo menaikkan sebelah alisnya. Sungguh ia tak menyangka adiknya berpikiran akan menggunakan jasanya sebagai aktor untuk promosi perusahaan arsitekturnya. Tentu ia senang karena Albar ternyata bersungguh-sungguh dengan perusahaan yang ia bangun dari nol hingga kini memiliki beberapa klien. Pastinya Alezo akan dengan senang hati membantu. Namun ia terikat dengan agensi sehingga Albar harus membayarnya dengan profesional.
"Kau bisa bicarakan dengan Tara. Agensiku tidak memandang keluarga jika ingin mengontrakku. So, yeah. Kau harus membayar,"
"I know. Itu sudah kupikirkan," jawab Albar. "Pertemukan aku dengan Tara untuk membicarakannya,"
Alezo mengangguk lalu menepuk bahu adiknya itu. Ia lalu berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat namun Albar kembali memanggilnya.
"Hey. Apa kau berniat membangun sebuah rumah atau villa? Akan lebih meningkatkan expusure jika perusahaanku membuatkan design rumah untukmu hingga benar-benar terbangun sempurna,"
Alezo berpikir sejenak. Ia memang berencana membangun sebuah rumah baru namun tidak untuk saat ini. Alezo baru saja akan menjawab ketika handphonenya berbunyi. Bibirnya otomatis tersenyum membaca nama Jemima di layar.
"Bagaimana?" Ulang Albar.
"Ah...bangun rumah? Ya, aku memang akan membangun rumah. Aku percayakan padamu. Buatkan design yang seestetik mungkin, oke?" Balas Alezo riang. Ia bergegas naik ke tangga sambil menjawab telfon Jemima meninggalkan Albar yang keheranan.
"Wow. Padahal aku hanya bercanda tentang membangun rumah tapi dia langsung setuju. Uangnya pasti banyak sekali si kampret!"
***
Jemima menyapukan lipstik peach favoritnya sebagai sentuhan terakhir. Tubuh rampingnya kini berbalut atasan turtle neck hitam dan celana jeans yang memamerkan kaki jenjanganya. Tidak lupa ia melengkapi penampilannya dengan ankle boots senada dengan warna bajunya. Ia lalu menguncir rambutnya sehingga lehernya terekspos dan tangannya sudah siap menenteng shoulder bag.
Tidak lupa ia menelepon Alezo. Ia sudah rindu padahal mereka baru berpisah beberapa jam. Ah, Jemima benar-benar jatuh cinta. Tidak menunggu lama Alezo langsung menjawab panggilan videonya.
"Hey. Kau sudah siap?" Tanya Alezo.
Jemima mengangguk riang. "Apa aku berlebihan kalau aku mengatakan aku merindukanmu?"
Alezo tertawa. "Aku juga, sweetheart. Anyway, ini pertama kali aku melihat kau mengikat rambutmu,"
"Bagaimana menurutmu?"
"Apa lagi yang bisa kukatakan selain cantik?"
Jemima tersipu. Ia sering mendengar pujian akan kecantikannya. Namun entah kenapa hatinya berdebar jika itu keluar dari mulut Alezo.
Tak lama kemudian terdengar suara bel. Ia lalu memutus panggilan setelah say good bye pada Alezo. Feelingnya mengatakan itu adalah Tita karena mereka akan pergi ke kantor Magnolia.
"Hai, nyonya Alezo," sapa Tita riang begitu Jemima membuka pintu.
"Ssst...hey pelankan suaramu," tegur Jemima panik sambil meletakkan jari telunjuknya di mulut, khawatir ada yang mendengar.
Tita lalu menutup mulutnya. "Ups..."
"Aku terlalu bahagia mendengar kau dan Alezo berpacaran!" Serunya lagi setelah pintu tertutup.
Jemima tertawa. Ia sedikit merasa bersalah karena membohongi Tita tentang perasaanya pada Alezo.
"Maafkan aku tidak pernah bercerita padamu karena terlalu malu,"
"Tanpa kau bercerita aku sudah mengetahuinya dari mata dan gelagatmu,"
"Kau benar-benar seorang dukun,"
Mereka tertawa. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka lalu keluar menuju parkiran. Kali ini mereka memakai mobil Tita karena mobil Jemima baru akan keluar dari bengkel besok. Sore ini ia menjadi bintang tamu talkshow di sebuah stasiun televisi. Debutnya sebagai pemain film yang langsung mendulang kesuksesan benar-benar menjadi topik hangat dan membuat stasiun televisi berlomba mengundangnya.
"Mulai hari ini Gerry kembali bekerja untukmu," ujar Tita saat mereka akan menaiki mobil.
Jemima menoleh dan benar saja Gerry baru saja turun dari mobilnya dan berjalan menuju mereka. Bodyguard keturunan Turki itu benar-benar tampak mengintimidasi dengan tubuh kekar dan wajah dinginnnya. Pria itu hanya mengangguk sebentar lalu segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, tidak mempedulikan Tita dan Jemima yang terpaku.
"Ibra sangat panik ketika aku memberitahunya tentang kejadian dua hari lalu," ucap Tita di perjalanan.
"Sudah kubayangkan," balas Jemima. "Wajah Ibra memenuhi pikiranku saat itu terjadi. Kau tau sendiri kalau Ibra sangat protektif padaku,"
"Ya. Dia bagaikan seorang ayah yang panik seolah anaknya dalam bahaya. Tanpa banyak bicara dia langsung menyuruhku mengontrak Gerry untuk mengawalmu,"
Jemima menghela nafas. Sejujurnya ia masih takut membayangkan kejadian yang menimpanya. Terlintas dalam pikirannya apakah orang yang memecahkan kaca mobilnya adalah orang yang sama mengirmkan boneka beruang usang. Lalu kenapa dia melakukan itu? Jemima sempat terbersit keinginan untuk pindah apartemen, namun rasanya tidak mungkin karena ia baru saja membeli dan tinggal di sana selama enam bulan. Terlebih ia sudah nyaman tinggal di sana. Setidaknya saat ini ia akan lebih aman dengan pengawalan Gerry.
"Lalu apa kau akan bicara pada Ibra tentang hubunganmu dengan Alezo?" Tanya Tita berbisik.
"Hmm...aku terlalu takut untuk mengatakannya," jawab Jemima begidik.
Tita mengangguk. Ia pun tidak punya ide selain menutup rapat-rapat mulutnya agar hubungan Jemima dan Alezo tidak bocor. Bukan rahasia umum Ibra tidak pernah memberi izin bagi para artisnya untuk berpacaran agar tidak menjadi perbincangan netizen. Walaupun ada yang curi-curi kesempatan, akhirnya memilih untuk memutuskan hubungan mereka karena tidak tahan harus terus-terusan bersembunyi. Belum lagi komentar netizen yang akan menghantui jika mereka tidak disukai oleh penggemar masing-masing. Sungguh melelahkan. Padahal semua orang berhak untuk jatuh cinta.
***