
Surprise!!!! Double up for today hihi. Jangan lupa like ya readers tersayang🤍
Alezo bertepuk tangan setelah Neil menyelesaikan pidatonya. Ia tersenyum bangga karena sang sahabat akhirnya menjabat sebagai CEO di rumah sakit milik keluarganya. Ia yakin Neil mampu menjalankan tanggung jawabnya sebagai pucuk pimpinan Global Medika, menggantikan Romel, ayahnya.
"Wow, bro. Ketampananmu meningkat drastis dengan titel sebagai CEO," puji Alezo saat acara peresmian selesai.
Neil tersenyum kecil. "Aku memang lebih tampan darimu sejak dulu,"
"Oh ****. Tidak. Tetap aku yang paling tampan,'
Mereka lalu berdua lalu terbahak bersama. Alezo kemudian mengajak Neil ke cafeteria rumah sakit setelah berbincang sejenak dengan para direksi. Romel, ayahnya memeluk Neil erat karena akhirnya ia bisa pensiun dengan tenang.
"So. Apa yang membuatmu berubah pikiran menerima tawaran ayahku?" Tanya Alezo penasaran.
Bagaimana tidak. Neil awalnya menolak keras dan ia tahu betul sahabatnya itu tidak akan pernah merubah keputusan yang telah ia ambil. Sudah pasti ada sesuatu yang membuatnya bersedia menjadi CEO.
"Aku hanya ingin menantang diriku sendiri," jawab Neil sambil menyeruput iced latte kesukaannya.
"Something happened?" Tanya Alezo yang jeli menangkap ekspresi wajah Neil.
Neil terdiam menatap Alezo, ragu-ragu untuk menjawab alasannya yang sebenarnya.
"Apa kau akan marah jika aku mengatakan bahwa aku bersedia menjadi CEO Global Medika sebagai pelarian?"
Alezo tertegun. Benar dugaannya. Ada sesuatu yang membuat Neil mengubah keputusannya.
"Dari Najla?" Tanya Alezo. Neil mengangguk.
"Aku harus menyibukkan diri agar aku bisa melupakannya atau...."
"Benar. Aku tidak ingin lagi melihat dirimu seperti saat berpisah dengan Zura," potong Alezo yang kembali teringat bagaimana hancurnya Neil saat ditinggal Zura.
"Ya. Tapi aku berjanji akan memberikan kemampuan terbaikku menjalankan Global Medika. Aku tidak akan mengecewakan Prof Romel dan kau,"
Alezo tersenyum. Ia bersikap seolah sedang baik-baik saja. Padahal ia pun sama hancurnya. Jemima benar-benar meninggalkannya dan sudah tak ada harapan bagi Alezo. Di mata Jemima ia tak ubahnya seorang anak dari pengkhianat, yang tak pantas ia cintai. Sampai kapanpun Jemima tak akan bisa melupakan rasa sakit yang disebabkan kedua orangtuanya di masa lalu. Meski rasanya tak adil, mau tidak mau karma memilihnya untuk menanggung kesalahan orangtuanya dengan patah hati yang amat sangat.
"Ah, ya. Apa kau jadi ke Amerika?" Tanya Neil membuyarkan lamunan Alezo.
Alezo mengangguk. Ia memang berencana untuk pergi ke New York dan beruntung Hexagon, agensinya mengizinkan Alezo untuk berlibur selama satu bulan. Ia akan tinggal di sana untuk menyembuhkan hatinya yang masih menginginkan Jemima.
"Broken heart, huh?" Goda Neil tersenyum.
"We are same," sahut Alezo tertawa kecil.
"Tidak pernah terbayangkan kita akan mengalami hal ini bersama, bukan?"
"Ya. Setidaknya aku tidak merasa menjadi pria paling menyedihkan di dunia karena kau juga sama," ucap Alezo yang disambut tawa oleh Neil.
Mereka berdua tertawa, namun sebenarnya tau masing-masing sedang menahan perihnya patah hati.
***
Jemima bangun tidur dengan mata bengkak. Ia masih saja menangis setiap mengingat Alezo. Rasanya hidupnya terasa begitu menyedihkan. Padahal harusnya ia tak boleh begini karena ia sendiri yang memutuskan hubungan mereka agar tak mengecewakan ibunya di atas sana.
"Ibu...maafkan aku," gumam Jemima sambil menoleh ke arah foto sang ibu di atas nakas.
"Aku sudah meninggalkannya. Aku tidak mungkin bersamanya, bukan?"
Jemima kemudian bangkit dan segera menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower dan menikmati sentuhan air hangat yang mengenai tubuh telanjangnya. Setidaknya ia merasa tenang walau sesaat. Setelah membilas tubuhnya dari sabun dan sampo, Jemima segera meraih bathrobe dan keluar untuk mengeringkan tubuh.
Jemima menguncir rambutnya setelah berpakaian. Ia berencana mengunjungi makam sang ibu untuk bercerita dan menenangkan diri. Saat di depan cermin Jemima teringat bahwa Alezo pernah mengatakan ia tidak boleh menguncir rambut karena terlihat seksi. Alezo bahkan membuka kuncirannya saat itu, ketika pertama kali mereka bertemu dengan kedua orangtua Alezo.
Jemima menggelengkan kepala. Ia kemudian melepaskan kunciran dan membiarkan rambutnya tergerai. Jemima kemudian keluar dari unitnya setelah memesan taksi dan memberitahu Tita bahwa ia akan pergi ke makam. Seperti biasa Tita memaksa ikut namun Jemima dengan tegas menolak. Ia ingin sendiri kali ini.
"Dinar...ini aku Kamila,"
Deg. Darah Jemima sontak berdesir. Bagaimana ibu Alezo ada di sini? Kenapa ia begitu berani untuk datang? Jemima baru saja akan menegur ketika Kamila kembali bersuara.
"Maaf aku baru datang ke sini. Aku benar-benar tidak mendengar kabar apapun tentang dirimu, Dinar. Aku menyesal, harusnya aku berusaha mencarimu saat kau masih hidup,"
'Cih. Air mata buaya,' umpat Jemima dalam hati. Lalu apa yang akan Kamila lakukan jika datang saat ibunya masih hidup? Memamerkan kehidupan bahagianya dengan laki-laki yang ia rebut?
"Dinar...anakmu Jemima tumbuh dengan sangat baik. Ia menjadi seorang penyanyi terkenal, bahkan aku mengidolakannya. Rasanya bangga sekali pada putrimu yang begitu dicintai banyak orang. Dia cantik sekali, Dinar. Anakmu...anakmu begitu sempurna. Hingga anakku jatuh cinta padanya,"
Jemima tercekat. Kini Kamila membawa nama Alezo.
"Dinar...ampuni aku dan Romel. Kami tidak bermaksud menyakitimu. Kami pun menyesal, Dinar. Harusnya...harusnya kami meminta maaf padamu, berlutut di hadapanmu...Oh Tuhan Dinar..."
Tanpa terasa air mata Jemima mengalir mendengar ucapan Kamila yang terbata karena menangis.
"Aku akan menebus kesalahanku, Dinar. Aku akan membayarnya. Anakku...anakku begitu mencintai Jemima. Namun Jemima mengetahui tentang kita dan meninggalkan Alezo, anakku. Mereka saling mencintai, Dinar. Aku rela...aku rela pergi sejauh mungkin agar Jemima tidak melihatku dan mereka dapat bersama. Aku rela menukar apapun di hidupku agar anakmu bahagia, Dinar. Aku tidak ingin hidup dalam belenggu penyesalan. Aku...aku akan melakukan apapun agar Jemima bahagia..."
Buket bunga yang di pegang Jemima terlepas. Kamila sontak menoleh dan terkejut mendapati Jemima berdiri di belakangnya dengan bersimbah air mata.
"Jemima..." panggil Kamila sambil berdiri mendekati gadis itu.
Jemima bergeming. Ia hanya diam menatap Kamila yang berusaha meraih pipinya.
"Jemima...Jemima...maafkan Tante. Tante akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan tante di masa lalu. Katakan...katakan, Nak. Kau ingin tante pergi? Tante akan lakukan...."
Jemima tak menjawab. Ia memilih berlutut dan memeluk nisan ibunya dan menangis meluapkan perasaannya.
"Ibu...."
Kamila menuruti Jemima berlutut lalu mengelus punggungnya.
"Jemima...Alezo begitu mencintaimu. Kau pun demikian, bukan? Tetaplah bersama, sayang. Alezo tidak bersalah. Tante...tante yang harus menanggung kesalahan ini. Tante yang akan pergi..."
Jemima tak mampu berkata-kata dan air matanya tak bisa ia tahan. Tak peduli terik matahari yang menyengat, Jemima bertahan memeluk nisan Dinar dengan Kalina yang setia di sampingnya.
"Jemima...tante menemukan sepucuk surat dari ibumu yang ia kirimkan dulu," ucap Kamila setelah tangis Jemima reda.
Ragu-ragu Jemima meraih selembar lipatan kertas yang disodorkan oleh Kamila.
Kamila. Sungguh aku tidak menyangka kau berpacaran dengan Romel. Salahku memutuskan pria sebaik Romel hanya karena dia tidak romantis. Aku memang sakit hati kalian justru berkencan. Namun kau sudah berusaha membujukku agar kembali pada Romel. Sayangnya aku terlalu bodoh tidak mengindahkan ucapanmu. Aku terlalu terbuai dengan rayuan kekasihku hingga akhirnya sadar ia hanya menyakitiku. Dan saat aku ingin kembali pada Romel ternyata kalian sudah merajut cinta. Sama sekali bukan salahmu, Kamila. Aku marah, aku benci, aku kesal, pada kalian berdua. Aku merasa terkhianati. Namun ini juga salahku yang tega meninggalkan Romel dan mengabaikan usahamu untuk membuat kami kembali. Kita tak lagi bisa bersahabat seperti dulu. Setelah kalian bersama entah kenapa aku justru semakin merindukan dan menginginkan Reno. Ini tidak benar, bukan? Aku yang mencampakkannya namun setelah kau pungut aku malah menginginkannya kembali. Aku akan pergi membawa hati yang patah ini. Aku harap kita tak akan pernah bertemu lagi dan sampai kapanpun aku akan terus mencintai Romel.
Jantung Jemima berdetak kencang membaca isi surat yang ditulis oleh ibunya di masa lalu. Tulisan tangan yang sama persis meyakinkan Jemima. Tangannya bergetar mengetahui fakta bahwa Kamila ternyata tak sepenuhnya mengkhianati ibunya, bahkan sang ibu mengakui kesalahannya yang lebih dulu mencampakkan mantan kekasihnya itu. Jadi selama ini ia salah menilai?
"Jemima...maafkan tante. Seharusnya tante tidak egois dengan menikahi mantan kekasih seorang sahabat, bukan? Ampuni tante, Jemima..." ujar Kamila lirih sambil tertunduk.
Jemima menoleh ke arah Kamila dan memandang wanita paruh baya itu dengan tatapan nanar. Ia tak sepenuhnya salah, ia tak sepenuhnya seorang pengkhianat. Ia tak merebut kekasih ibunya, melainkan mantan kekasih yang dicampakkan sahabatnya. Apa sebutan pengkhianat masih pantas Jemima sematkan pada ibu dari pria yang ia cintai?
"Tante..." gumam Jemima. Kamila perlahan mengangkat wajahnya memandang Jemima.
Sejurus kemudian Jemima menghambur ke pelukan Kamila. Tangis mereka berdua pecah, melepaskan beban perasaan yang telah menumpuk sejak lama. Sebegitu hebatnya semesta mempertemukan mereka dengan skenario tak terduga.
"Jemima...jadilah anakku, sayang..." lirih Kamila di sela-sela pelukan mereka.
Jemima tak menjawab. Ia mengeratkan pelukannya pada Kamila yang terasa hangat seperti pelukan ibunya dulu. Elusan di punggungnya semakin membuat Jemima merasa nyaman, seolah tak ingin menyudahi pelukan Kamila.
"Tante...aku mencintai Alezo..." gumam Jemima.
***